NovelToon NovelToon
Meant To Be

Meant To Be

Status: tamat
Genre:Angst / Beda Usia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

El Gracia Jovanka memang terkenal gila. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah melanglang buana di dunia malam. Banyak kelab telah dia datangi, untuk sekadar unjuk gigi—meliukkan badan di dance floor demi mendapat applause dari para pengunjung lain.

Moto hidupnya adalah 'I want it, I get it' yang mana hal tersebut membuatnya kerap kali nekat melakukan banyak hal demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sejauh ini, dia belum pernah gagal.

Lalu, apa jadinya jika dia tiba-tiba menginginkan Azerya Karelino Gautama, yang hatinya masih tertinggal di masa lalu untuk menjadi pacarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Oleh yang Dicintai, Ia Kembali Patah Hati

PRANK!!!

Bukan kerinduan, bukan sapaan penuh sayang, bukan juga pertanyaan apa kabar? yang Jovanka dapatkan setelah masuk ke ruang rawat ibunya. Alih-alih amarah yang meluap-luap, mendidih begitu hebat bak tampungan air yang dimasak dalam suhu lebih dari seratus derajat.

Pecahan gelas yang terbang ke udara, sampai salah satu serpihan mengenai pipinya hingga berdarah, bahkan bukan alasan yang membuat matanya kini terasa panas. Melainkan tatapan benci ibunyalah yang menggores hati Jovanka, bagai belati tajam yang dihujam tanpa ampun. Dari luar tampak tidak berdarah, tapi di dalamnya rusak parah.

"Pergi sana! Aku nggak mau lihat mukamu!" seru wanita dalam balutan baju rumah sakit itu. Tangannya menggapai-gapai meja, berusaha mencari hal lain yang bisa dilemparkannya untuk mengusir Jovanka dari hadapannya.

Tapi Jovanka geming. Kakinya seperti dilem ke lantai, tak berdaya untuk digerakkan menjauh. Meski hatinya remuk, tubuhnya menolak untuk pergi menyelematkan diri.

"Aku udah anggap kamu mati setelah kamu pergi dari rumah." Mamanya mengatakan itu dengan penuh penekanan. Seakan tidak masalah kalau putri satu-satunya yang sudah setahun lebih tidak ditemui, benar-benar mati. Seakan tidak ada lagi cinta kasih tersisa di hatinya sebagai seorang ibu, yang konon katanya, sepanjang masa. Seakan jauh sekali di lubuk hatinya, nama Jovanka beserta sosoknya sudah dihapus tanpa sisa.

"Ma,"

"Pergi!" Tidak dapat benda pecah belah, remote televisi pun dilempar sebagai ganti. Ayunanya kuat dan pasti, mendarat tepat mengenai kepala Jovanka, sebab ia sama sekali tidak berusaha untuk menghindar.

Dada yang terasa sesak, tenggorokan terganjal hebat, dan mata yang memanas, tidak cukup untuk membuat Jovanka melangkah pergi. Ia masih geming di sana. Menghadapi kemarahan ibunya dengan perasaan remuk redam.

"Pergi, sialan! Aku nggak butuh anak seperti kamu! Pergi!"

Sebelum benda lain terbang menghantam, Jovanka merasakannya lengannya disentak. Suara benda menghantam keras terdengar sepersekian detik setelahnya. Kejadiannya begitu cepat. Terlalu cepat bagi Jovanka yang sedang setengah sadar, untuk mencerna bahwa Karel baru saja mengorbankan punggung untuk melindunginya.

Wangi parfum lelaki itu yang menusuk hidungnya, barulah membuat kesadaran Jovanka terkumpul perlahan. Dia bergerak gelisah di dalam pelukan Karel, kepalanya berusaha menyembul, hendak memeriksa luka apa yang diderita Karel karena melindunginya. Namun, Karel tidak mengizinkan. Lelaki itu mendekapnya erat.

Sementara di belakang punggungnya, teriakan Mama masih terus terdengar. Kutuk dan sumpah serapah berurutan keluar tanpa henti. Suara David yang berusaha menenangkan hanya sesekali terdengar, kalah oleh amukan Mama yang seperti sedang kerasukan.

"Kita pulang aja," bisik Karel, masih tidak melepaskan dekapannya.

Jovanka tidak bisa mengatakan apa pun, pikirannya mendadak kosong setelah sebelumnya ribut sekali. Maka ia hanya bisa pasrah saat Karel mengurai pelukannya perlahan, menuntunnya keluar dengan memegang kedua bahunya dari belakang. Lelaki itu masih ingin menjadi tameng untuknya, bahkan setelah mereka keluar dan pintu kamar rawat ditutup.

Jika selama di dalam tadi kalinya terasa dilem, begitu keluar, otot-otot di kakinya terasa meleleh. Jovanka kehilangan kemampuannya menopang beban tubuh. Ia oleng, nyaris terjerembab di lantai jika saja tangan Karel tidak bertahan memegangi bahunya.

"Jov," Karel setengah berseru, terkejut diserang panik. "Nggak sanggup jalan, ya?"

Jovanka menatap Karel dengan tatapannya yang lemah. Kabut bening nyaris menutup seluruh permukaan matanya, perlahan-lahan membuat pandangannya memburam.

"Naik," kata Karel lagi. Dia berjongkok, meminta Jovanka naik ke punggungnya. Ia akan menggendong gadis itu ke mobil, tidak peduli meski punggungnya nyeri habis kena hantam tumblr alumunium kapasitas 1 liter yang masih penuh dengan air.

"Nggak usah." Dengan sisa energi yang dipunya, Jovanka menggeleng lemah. Membawa Karel sejauh ini, hanya untuk melihatnya diperlakukan begitu buruk oleh ibu kandungnya sendiri, sudah cukup membuat Jovanka tidak enak hati. Dia tidak ingin menyulitkan Karel lagi. Sekarang biar dia berusaha tetap menapak di atas kakinya sendiri. Agar tidak terlalu tampak lemah ia di mata lelaki itu.

"Lo nggak bisa," cegah Karel, begitu Jovanka hendak menyeret kakinya pergi. "Naik, Jov. Sekarang, biar kita cepat pulang."

Karena tidak tahu lagi bagaimana harus menolak, Jovanka akhirnya mengalah. Ia merendahkan tubuhnya, mengalungkan kedua lengan di leher Karel. Dalam sekali sentakan, lelaki itu berdiri. Kedua tangannya menumpu kaki Jovanka, menahan bobot tubuhnya seperti bukan apa-apa.

"Gue berat, kan." Jovanka berbisik. Tenggorokannya masih terasa mengganjal, dan basa-basi itu dikeluarkannya sebagai bentuk pengalihan.

"Enteng," balas Karel. "Lo harus makan lebih banyak mulai sekarang."

Jovanka menggigit bibir bawahnya, masih bersikeras menahan tangis.

"Gue tahu nggak berhak ngomong gini," Menaiki lift, Karel berdiri di sisi kiri dekat tombol. Mereka beruntung hanya berdua di dalam sana, tidak perlu repot-repot menanggapi tatapan skeptis orang lain. "Tapi kalau ketemu sama nyokap lo bikin sakit lo makin parah, gue rasa nggak ada salahnya buat jaga jarak sementara waktu."

Jovanka tidak menjawab, namun jauh di dasar hatinya, ia setuju. Hanya saja, terkadang sulit untuk mengikuti kata hatinya. Selalu ada sisi dirinya yang lain, yang masih berpikir positif bahwa kehadirannya masih bisa diterima. Satu sisi kecil, yang masih terus menyangkal perasaan tidak diinginkan. Satu sisi kecil tempat inner child-nya berada. Tempat versi mini dirinya berharap dicintai tanpa syarat, oleh satu-satunya orang yang pernah berbagi tubuh dengannya.

Berisik kembali memenuhi kepala. Jovanka memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Karel, membiarkan lelaki itu merasakan sisi lemah dirinya, yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

...****************...

Apa yang terjadi cukup menguras energi. Karel pikir terlalu gegabah jika memutuskan berkendara kembali ke Jakarta, terlebih dengan punggungnya yang terasa semakin nyeri. Maka ia membelokkan kemudinya ke sebuah hotel bintang 4 yang ditemuinya di jalan. Sebelum berbelok, ia sudah lebih dulu bertanya pada Jovanka, dan gadis itu setuju.

Oleh resepsionis, sayangnya, mereka hanya diberi satu kamar. Karel memang melihat parkiran tampak penuh. Terheran sebetulnya, sebab ini bukan musim liburan. Namun resepsionis yang membantunya check in, telah menjelaskan bahwa hotel ini penuh karena kedatangan rombongan dari perusahaan rekanan. Katanya, Karel dan Jovanka masih cukup beruntung karena mendapat sisa kamar.

Karena tidak ada lagi energi untuk mencari hotel lain, akhirnya satu kamar pun diterima. Seharusnya tidak menjadi masalah besar. Karel bisa tidur di sofa (karena mereka dapat kamar single bed). Tidur sambil duduk juga tidak masalah, yang penting bisa beristirahat sebelum besok kembali ke Jakarta.

"Mau makan malam di luar atau pesan room service?" tanya Karel begitu mereka masuk kamar. Tas jinjing milik Jovanka baru ditaruh sofa, dan dia hendak menyusul duduk di atasnya. Namun, Jovanka yang masuk belakangan, tiba-tiba melingkarkan lengan di perutnya, memeluknya erat.

Karel tidak berusaha berontak, namun juga tidak membalas. Dia hanya berdiam diri, merasakan kaus bagian belakangnya mulai basah. Jovanka menangis. Setelah ditahan-tahan, air mata gadis itu akhirnya tumpah juga.

"Iya, luapin aja semuanya." Karel mengangkat tangannya, mengusap punggung tangan Jovanka yang ada di perutnya. "Keluarin semua, biar nggak jadi penyakit."

Semakin divalidasi, tangis Jovanka semakin jadi. Tidak meraung-raung, ia menangis dalam diam, terisak-isak dengan aliran napas tersengal.

Bukan kali pertama bagi Karel menemani seorang gadis menangis. Dulu, ia adalah saksi dari setiap air mata yang tumpah membasahi wajah Kalea. Ia adalah seseorang yang akan menemani sampai tangis demi tangis itu mereda. Hatinya ikut sakit saat Kalea menangis, tetapi karena tahu bahwa perempuan itu memang cengeng, sakit hatinya hanya sebatas itu. Hanya sebatas terasa seperti dicubit, tidak sampai membuat dadanya sesak sampai rasanya hampir meledak.

Sementara Jovanka adalah kasus yang berbeda. Karel tahu Jovanka tidak mudah menunjukkan air matanya kepada sembarang orang. Maka saat diharuskan menyaksikan gadis itu menangis, sesak di dada Karel terasa beratus kali lipat lebih parah. Begitu sesak, sampai rasanya ia bisa menghancurkan apa saja yang sudah menjadi penyebab air mata Jovanka tercurah percuma.

Bersambung...

1
Zenun
Ayah abis olahraga
nowitsrain: Iya, iya olahraga 🤫
total 1 replies
Zenun
bae bae kasurnya rubuh😁
nowitsrain: Ya kaliii 🤣
total 1 replies
Zenun
Coba hancurkan David, Rel😁
nowitsrain: Aww takut
total 1 replies
Zenun
Jangan mau kalah sama David kalau kaya gitu. Berarti jangan jauh-jauh dari mamake
nowitsrain: Tapi kan rinduu
total 1 replies
Zenun
menjenguk mamake di rumah sakit ditemani Karel
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
mungkin misinya belum selesai😁
nowitsrain: Misi apa tuhh
total 1 replies
Zenun
Emak ama baba nya mah nyantuy🤭
nowitsrain: Emak ama baba otw bikin adik baru
total 1 replies
Zenun
Udah mulai buka apartemen, nanti buka hati😁
nowitsrain: Ihiwwwww
total 1 replies
Zenun
Kamu banyak takutnya Karel, mungkin Jovanka mah udah berserah diri😁
nowitsrain: Lebih ke ngeyel sih kalau Jovanka mah
total 1 replies
Zenun
asam lambungnya kumat
nowitsrain: Wkwkwk
total 1 replies
Zenun
Mingkin Jovanka pingsan di dalam
Zenun
Ayah harus minta maaf sama penyihir🤭
Zenun
Ntar kalo Elliana gede, kamu nikahin lagi
nowitsrain: Takut bgtttt
total 3 replies
Zenun
laaa.. kan ada babe Gavin😁
nowitsrain: Ya gapapa
total 1 replies
Zenun
iya betul Rel, harusnya dia anu ya
Zenun
dirimu minta maaf, malah tambah ngambek😁
Zenun
kayanya lebih ke arah ini😁
nowitsrain: Ssssttt tidak boleh suudzon
total 1 replies
Zenun
Coba jangan dipadamin, biar nanti berkobar api asmara
nowitsrain: Gosong, gosong deh tuh semua
total 1 replies
Zenun
Kan ada kamu, Karel🤭
nowitsrain: Harusnya ditinggal aja ya tuh si nakal
total 1 replies
Zenun
iya tu, tanggung jawab laaa
nowitsrain: Karel be like: coy, ini namanya pura-pura coy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!