Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pindah sekolah...
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Indira duduk dengan kaku, sementara Arjuna menyesap kopi hitamnya sambil membaca tablet elektronik.
"Nak,,sepertinya kamu semakin kurusan deh,, lihat wajah kamu jadi tirus begitu,tadinya kamu chubby tau nggak ?" tatap Hamidah pada Indira khawatir
.
Spontan Indira memegangi wajah mulusnya.
Tentu saja dia kehilangan banyak berat badan,pengeluaran begitu lancar,sementara pemasukan tersendat.
Arjuna tidak pernah Absen menyusu,sementara asupan yang masuk ke tubuh nya tidak sesuai dengan yang diambil sang tuan.
"Apa kamu tidak kuat makan nak? atau susu kamu sudah habis?" Hamidah masih menunjukkan kekhawatiran nya.
"Iya nyonya,,akhir akhir ini aku sedikit tidak nafsu makan." jawab Indira sopan.
"Loh,kenapa sayang? apa makanannya tidak enak? tidak sesuai dengan lidahmu? kalau begitu jajan saja disekolah,,kan makanan disekolah higienis juga,siapa tahu kamu jadi nafsu makan."
Arjuna menatap Indira,memang gadis berparas cantik itu terlihat kurusan.
membuat nya bertambah anggun dan cantik.
Tulang selangka Indira terlihat semakin seksi,karena menonjol indah.
Melihat itu membuat Arjuna menelan ludah.
"Bik,,mana susu Indira?" tanya Hamidah.
Semenjak Indira menyumbangkan asi untuk putra semata wayangnya,Hamidah turun tangan memperhatikan asupan gizi gadis itu.
Agar produksi asi nya semakin bagus dan banyak.
"Ini susu nya Indira nyonya,,silahkan diminum Indira." ucap sang pelayan.
"Indira,minum susunya sampai habis ya? kalau kamu nggak kuat makan,kamu nanti semakin kurus," Hamidah setengah bergurau.
Indira mengangguk patuh.
Indira selalu sarapan bersama dengan sang majikan sejak Arjuna meminum asinya.
Dengan alasan agar asupan makanan Indira terjaga dan diawasi.
"Arjuna,,ibu duluan ya? ibu mau menyiapkan dokumen penting ayahmu,ibu mau menitipkan pada sopir."
"iya bu." angguk Arjuna.
Setelah ibunya berlalu,Arjuna memulai obrolan.
"Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi ke sekolah lamamu," ujar Arjuna tanpa beralih dari layarnya.
Indira tersedak rotinya. "Maksud Tuan? Ujian kelulusanku sudah dekat, aku tidak bisa pindah begitu saja!"
Arjuna meletakkan tabletnya, menatap Indira dengan pandangan yang membuat gadis itu menciut. "Semua urusan administrasi sudah selesai. Kau dipindahkan ke Brighton International. Fasilitas di sana lebih baik, dan yang terpenting, keamanannya terjamin. Toni akan mengantarmu sampai ke depan kelas."
"Tuan, ini keterlaluan! Aku punya teman-teman di sana, aku punya..." Indira menggantung kalimatnya, ia ingin menyebut nama Bima, tapi ia tahu itu hanya akan menyulut api.
"Kau punya kontrak denganku," potong Arjuna tajam. "Gunakan ponsel itu. GPS-nya harus selalu aktif. Jika aku melihat titik merahmu berada di luar area yang kuizinkan, jangan salahkan aku jika ibumu kehilangan pekerjaannya hari ini juga."
Ancaman itu telak. Indira mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia menyadari satu hal: Arjuna tidak hanya ingin asinya, pria ini ingin mengendalikan seluruh napasnya.
"Pompa asimu sekarang juga,nanti aku ada meeting diluar kantor dan diluar kota,pastikan asimu banyak, cukup untukku sepanjang hari." titahnya datar.
Indira mengangguk datar. dia tidak ada ubahnya dengan seekor sapi perah,yang hanya mementingkan susunya doang.
"Aku akan ke kamar."
Indira bangkit dari duduknya.
"Habiskan dulu susumu,,kau pikir itu tidak mahal?"
kata kata Arjuna membuat Indira semakin kesal.
Dengan menahan emosi dia menyambar gelas susunya,lalu meminumnya hingga tandas.
Setelahnya beranjak dari sana dengan langkah dihentak sedikit ke lantai.
Arjuna melirik gadis itu lalu menyunggingkan senyum samar.
Arjuna sangat bersyukur mendapat donor asi yang pemiliknya jelas dan sehat.
Selama ini dia mendapatkan asi dari orang yang tidak dikenal. hanya memastikan kalau asi itu sehat dan higienis,selebihnya Arjuna tidak tahu menahu.
***
Dua puluh menit kemudian Indira kembali dengan 3 kantong asi penuh ditangannya.
"Ini asinya tuan." Indira meletakkan kantong tersebut keatas meja.
"Masukkan ke wadah seperti biasa."
Indira mengangguk kemudian memasukkan ke dalam termos pendingin yang kecil.
"Jangan kemana mana."
Titah pria itu lagi.
"Aku ada urusan nanti siang tuan,aku harus pergi."
Jawab Indira.
Arjuna menatap tajam gadis itu,"kalau begitu Toni akan mengantarkan mu,"
"Terima kasih tuan." Indira tidak keberatan diantar sama Toni,yang penting dia bisa bergabung dengan teman temannya nanti siang.
Malam Harinya.
"Kau masih dekat dekat dengan pria itu? bukankah kau sudah ku ingatkan?" tatapan Arjuna begitu tajam.
"Kami rame rame tuan,jadi tidak ada alasan aku menghindari kak Bima. lagipula dalam kontrak kita tertulis hanya mendonorkan asi,bukan mengekang ku." jawab Indira berani.
Arjuna mengunci pergerakan Indira dengan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu. Ia menghirup aroma tubuh Indira yang alami, perpaduan antara sabun bayi dan aroma khas susu.
"Kontraknya berubah, Indira. Aku menyadari satu hal tadi malam," bisik Arjuna tepat di telinga Indira, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Obatku bukan hanya cairan itu... tapi juga pemiliknya."
Tangan Arjuna mulai merayap ke pinggang Indira, menariknya mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka. Saat bibir Arjuna nyaris menyentuh milik Indira, tiba-tiba ponsel Arjuna berdering nyaring.
Nama yang tertera di layar membuat suasana panas itu seketika mendingin: CLARISSA.
Arjuna berdecak kesal, namun ia melepaskan Indira. "Jangan berpikir untuk tidur sebelum aku kembali. Aku ada urusan sebentar."
Arjuna keluar dengan langkah gusar. Indira terduduk lemas di lantai, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, pelarian yang ia rencanakan bersama ibunya harus dipercepat sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya sendiri dalam permainan gila Arjuna.
Arjuna melangkah keluar ke balkon koridor, menjauh dari kamar Indira. Ia menatap taman belakang yang gelap sambil menggeser layar ponselnya dengan kasar.
"Ya, Clarissa?" suara Arjuna terdengar datar, berusaha menekan gejolak emosi yang baru saja tersulut di dalam kamar tadi.
"Sayang! Kamu di mana sih? Aku sudah di depan kelab biasa sama anak-anak. Kamu janji mau datang malam ini, kan? Come on, ini weekend!" suara manja Clarissa melengking dari seberang telepon, diiringi dentum musik yang sayup-sayup terdengar.
Arjuna memijat pangkal hidungnya. Bayangan wajah Indira yang ketakutan sekaligus menggoda masih membekas di benaknya. Dibandingkan dengan suara bising di telepon itu, ia jauh lebih menginginkan ketenangan di dalam kamar Indira.
"Aku tidak bisa, Clarissa. Pekerjaanku di kantor belum selesai, ada audit mendadak untuk proyek di Singapura," kilah Arjuna lancar. Berbohong sudah menjadi keahliannya.
"Lagi? Arjuna, kamu sudah sebulan ini susah sekali diajak keluar. Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" nada suara Clarissa berubah curiga.
Arjuna terkekeh dingin, nada yang sanggup membuat nyali siapapun menciut. "Jangan mulai dengan drama kecurigaanmu, Clarissa. Kamu tahu aku tidak suka diinterogasi. Nikmati saja malammu, aku akan menyuruh sekretarisku mengirimkan tas yang kau inginkan besok pagi."
Mendengar janji hadiah mewah, nada bicara Clarissa langsung melunak. "Oh, dear... benarkah? Oke, oke, aku mengerti. Jangan bekerja terlalu keras, ya. Love you!"
Setelah menutup telepon, Arjuna melempar ponselnya ke sofa ruang tengah. Ia tidak kembali ke kantor, melainkan berbalik arah menuju kamar Indira. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ibunda Indira, Darsih, sedang berjalan di koridor membawa nampan berisi air hangat.
"Tuan Arjuna? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Darsih sopan namun ada gurat kecemasan di matanya.
Arjuna menatap wanita tua itu dengan tatapan tajam. Ia teringat rencana Indira untuk membawa ibunya kabur.
"Darsih, pastikan putrimu tahu posisinya. Aku bisa menjadi penolong yang sangat dermawan, tapi aku juga bisa menjadi penghancur yang paling kejam jika ada yang mencoba mengkhianatiku. Sampaikan itu padanya," ucap Arjuna dengan suara rendah yang mengancam.
Darsih tertunduk gemetar. "Ba-baik, Tuan."
Di dalam Kamar Indira
Indira sedang meringkuk di balik selimut saat pintu kamarnya kembali terbuka. Ia mengira Arjuna akan melanjutkan aksinya yang terhenti, namun pria itu hanya berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap.
"Telepon tadi adalah pengingat, Indira," ujar Arjuna dingin. "Bahwa di luar sana, aku punya kehidupan yang sempurna. Kamu hanyalah 'kebutuhan khusus' yang harus tetap berada di tempatnya. Jadi, hapus mimpi konyolmu tentang membeli rumah dan melarikan diri."
Arjuna melangkah masuk, duduk di pinggir ranjang, membuat kasur itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh rambut Indira yang berantakan.
"Besok adalah hari pertamamu di sekolah baru. Jika aku mendengar ada satu pria pun yang mendekatimu—termasuk kakak kelasmu yang tidak berguna itu—maka tempat ini tidak akan lagi menjadi rumah bagimu, melainkan penjara yang sesungguhnya."
Arjuna bangkit, namun sebelum pergi, ia menoleh sedikit.
"Dan satu lagi...pastikan tidak ada pakaian yang menghalangi nutrisi ku,,saat aku haus aku tidak sabar membuka i kain penutupnya satu persatu."
Indira terbelalak. "Tapi Tuan, itu tidak ada dalam kontrak!"
"Aku adalah kontrak itu sendiri, Indira," jawab Arjuna mutlak sebelum menghilang di balik pintu.
"Aku tidak setuju tuan,,aku tidak setuju dengan semua ini!" Indira memberontak,namun sayang,Arjuna sudah hilang dibalik pintu,mau histeris pun percuma,tidak akan didengarkan pria pen dominan itu.
bersambung...