“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boneka Radya
Saat jemarinya yang mantap hendak membuka ikatan kantung beludru itu untuk melihat wujud mustikanya……wujud mustikanya, Raras merasakan denyutan hangat di telapak tangannya.
Permata kelor itu kecil, berwarna hijau lumut yang pekat, memancarkan cahaya redup seolah menyerap seluruh kegelapan di sekitarnya. Bukan keindahan yang mencolok, melainkan kekuatan yang terasa begitu kuno dan bijaksana. Ia menggenggamnya erat, lalu beranjak, melangkah keluar dari rumah Eyang Suro, siap kembali menghadapi Jakarta.
********
Di saat yang sama, di lantai tiga puluh lima gedung Cokrodinoto Group, Radya Maheswara memimpin rapat direksi yang terasa begitu hampa.
Matanya, meski terbuka, menatap kosong ke deretan wajah direktur yang tegang di sekeliling meja. Ia tidak lagi merasakan denyutan nyeri di pelipisnya seperti dulu, atau bisikan-bisikan jahat yang menghantuinya. Sekarang, hanya ada kekosongan yang dingin, seolah jiwanya telah dikuras habis, menyisakan cangkang yang patuh pada setiap perintah Bayu.
Bayu, yang duduk di sampingnya, adalah bayangan yang mengendalikan. Setiap kata yang keluar dari mulut Radya adalah gema dari bisikan Bayu sebelumnya. Setiap keputusan, adalah hasil dari perencanaan matang yang telah Bayu susun selama bertahun-tahun.
“Jadi, untuk proyek Geo-X, saya memutuskan untuk mengambil tawaran yang paling agresif,” kata Radya, suaranya monoton.
“Meskipun risikonya tinggi, potensinya juga paling besar. Kita butuh keberanian sekarang.”
Para direktur saling pandang. Tawaran yang "paling agresif" itu adalah tawaran yang paling rentan, paling mudah digoyahkan jika ada masalah.
Tapi tak ada yang berani membantah. Radya yang sekarang adalah Radya yang menakutkan, dengan tatapan dingin dan amarah yang bisa meledak kapan saja jika ada yang menentangnya.
“Tawaran itu… bukankah analisis tim kami menunjukkan bahwa ini bisa membahayakan likuiditas perusahaan jika ada gejolak pasar, Pak Radya?” tanya Direktur Keuangan, Pak Herman, mencoba berhati-hati.
Bayu tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh para direktur, tapi cukup untuk membuat Radya merasakan dorongan internal.
“Risiko selalu ada, Pak Herman. Tapi kita tidak bisa terus-menerus bermain aman. Cokrodinoto butuh gebrakan. Bukankah begitu, Radya?”
Radya mengangguk kaku.
“Betul. Kita ambil risiko. Saya sudah putuskan.”
Rapat berlanjut dengan Radya menandatangani beberapa dokumen penting lainnya tanpa membaca detailnya. Bayu memastikan setiap halaman sudah ditandai dengan rapi untuk tanda tangan Radya. Perusahaan, yang dulu ia bangun dengan keringat dan logikanya, kini menjadi boneka di tangan Bayu.
***
Sore harinya, Radya dipandu Bayu menuju sebuah kantor notaris yang terletak di kawasan elit Jakarta Selatan.
Notaris Handoyo, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan pembawaan serius, sudah menunggu di ruangannya yang dipenuhi rak buku hukum.
“Selamat sore, Pak Radya, Pak Bayu,” sapa Notaris Handoyo, mengulurkan tangan.
“Terima kasih sudah datang. Saya sudah menyiapkan drafnya.”
Bayu mengangguk sopan.
“Terima kasih kembali, Pak Notaris. Pak Radya sedang tidak enak badan, jadi saya yang akan menjelaskan garis besarnya.”
Notaris Handoyo melirik Radya yang hanya duduk diam di sofa, ekspresinya datar. Memang terlihat tidak sehat.
“Tentu, Pak Bayu. Silakan.”
“Begini, Pak Notaris,” Bayu memulai, suaranya tenang dan meyakinkan.
“Eyang Putra, dalam kondisi sakitnya, telah mengungkapkan keinginannya untuk merevisi beberapa bagian dari perjanjian warisan keluarga. Beliau khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya, proses transisi kepemimpinan dan pengelolaan aset akan terhambat, terutama dengan kondisi Pak Radya yang masih terlalu tertekan.”
Notaris Handoyo mengerutkan kening.
“Revisi perjanjian warisan? Bukankah itu harus dilakukan dengan kehadiran Eyang Putra dan dalam kondisi beliau sadar penuh?”
“Tentu saja,” sahut Bayu cepat.
“Tapi ini adalah revisi minor, Pak Notaris. Hanya mengenai penunjukan sementara pengelola aset dan pusaka keluarga jika Eyang dan Radya tidak bisa bertindak. Dan Eyang sudah menandatangani surat kuasa khusus untuk Radya guna menyetujui revisi ini. Radya tinggal memfinalisasi.”
Bayu mengeluarkan sebuah map tebal dari tasnya. Di dalamnya terdapat surat kuasa yang ia palsukan, lengkap dengan tanda tangan Eyang Putra yang ia tiru dengan sempurna.
Notaris Handoyo memeriksanya dengan teliti. Ia memang tahu Eyang Putra pernah membuat surat kuasa umum kepada Radya beberapa tahun lalu, dan tanda tangan di surat kuasa khusus ini tampak sangat mirip.
“Dan untuk penunjukan pengelola sementara ini… siapa yang Eyang tunjuk, Pak Bayu?” tanya Notaris Handoyo, menatap Radya yang masih diam.
“Beliau mempercayakan sepenuhnya kepada saya,” jawab Bayu dengan senyum tulus.
“Sebagai orang kepercayaan keluarga, Eyang merasa saya adalah yang paling memahami seluk beluk bisnis dan aset Cokrodinoto. Ini hanya sementara, sampai Radya kembali pulih sepenuhnya.”
Notaris Handoyo masih terlihat ragu.
“Tapi Pak Radya adalah ahli waris utama. Apakah beliau setuju dengan perubahan ini?”
Radya, yang selama ini diam, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya menatap Notaris Handoyo tanpa emosi.
“Saya setuju. Eyang sudah mengatakannya pada saya. Saya tidak ingin repot dengan hal-hal ini sekarang. Bayu yang akan mengurusnya.”
Nada suara Radya yang dingin dan tegas, ditambah dengan wajahnya yang pucat, meyakinkan Notaris Handoyo. Ia menghela napas. Radya memang terlihat tidak seperti dirinya. Mungkin ini memang keinginan Eyang, untuk memastikan bisnis tetap berjalan di tengah krisis keluarga.
“Baiklah, jika memang begitu,” kata Notaris Handoyo, mengambil pena dengan getar ragu.
“Saya akan siapkan dokumen persetujuan revisi ini. Ini hanya bersifat sementara, tentu saja. Jika Eyang Putra pulih, atau Pak Radya sudah siap, kita bisa batalkan atau revisi lagi.”
“Tentu saja,” timpal Bayu, senyum kemenangan mulai merekah di hatinya.
“Kami sangat menghargai kerja sama Bapak.”
Notaris Handoyo kemudian menyodorkan beberapa lembar dokumen kepada Radya.
Dokumen-dokumen itu adalah perjanjian warisan palsu yang persis sama dengan yang dulu difoto Raras, kini dengan tambahan klausul yang menunjuk Bayu sebagai pengelola sementara dengan kekuasaan penuh atas aset dan pusaka Cokrodinoto.
Radya mengambil pena yang disodorkan padanya. Tanpa membaca, tanpa bertanya, ia membubuhkan tanda tangannya di setiap halaman yang ditunjuk Bayu. Setiap goresan pena adalah langkah menuju jurang kehancuran bagi keluarga Cokrodinoto.
Setelah selesai, Notaris Handoyo menandatangani dan membubuhkan stempel kantornya.
“Baik, Pak Radya, Pak Bayu. Semua sudah beres. Dokumen akan saya proses dan salinan resminya akan saya kirimkan besok.”
Bayu mengulurkan tangan pada Radya, menepuk bahunya dengan akrab.
“Terima kasih, Radya. Ini untuk kebaikan keluarga kita.”
Radya hanya menatapnya kosong. Bayu memimpin Radya keluar dari kantor notaris itu, seringai tipis terukir di bibirnya. Aset dan pusaka keluarga Cokrodinoto kini berada di ambang berpindah tangan.
***
Malam harinya, di sebuah bar eksklusif di bilangan SCBD, Ayunda duduk di salah satu sofa kulit mewah, memegang segelas cocktail berwarna merah menyala.
Bayu masuk, wajahnya memancarkan kepuasan yang belum pernah Ayunda lihat sebelumnya.
“Bagaimana?” tanya Ayunda, matanya berbinar penuh antisipasi.
Bayu duduk di sampingnya, melonggarkan dasinya.
“Sempurna. Notaris Handoyo sudah menandatangani semuanya. Radya bahkan tidak membaca selembar pun. Aku bisa membuat dia menandatangani kontrak jual beli ginjalnya sendiri kalau aku mau.”
Ayunda tertawa renyah, tawa yang sedikit terlalu keras.
“Bagus. Aku bilang juga apa, peletku tidak pernah gagal. Lihat, dia sudah seperti boneka, kan? Tidak ada lagi si penjual jamu itu yang bisa mengganggu.”
“Memang tidak gagal,” aku Bayu, menyesap whistail yang baru saja dihidangkan.
“Tapi kalau tidak ada Raras yang mengganggu, kita bisa lebih cepat.”
“Oh, soal itu,” Ayunda menyeringai.
“Aku punya ide. Bagaimana kalau kita rayakan kemenangan ini dengan sesuatu yang lebih… permanen?”
Bayu menatapnya, alisnya terangkat.
“Maksudmu?”
“Raras,” kata Ayunda, suaranya dingin dan penuh kebencian.
“Dia tahu terlalu banyak. Dia punya album foto itu. Dan dia punya ikatan weton yang entah bagaimana bisa membuat Radya masih punya sedikit akal sehat, meskipun tertutup kabut tebal.”
“Aku setuju,” timpal Bayu.
“Dia terlalu licik untuk dibiarkan hidup. Aku sempat meremehkannya. Tapi bagaimana caranya? Dia sudah di luar jangkauan kita. Bahkan Eyang Suro sudah membantunya.”
Ayunda tersenyum tipis, matanya berkilat jahat.
“Tidak ada yang di luar jangkauan jika kita tahu cara bermainnya. Aku sudah menyiapkan rencana. Tapi aku butuh kamu untuk melakukannya.”
“Rencana apa?”
“Aku punya orang-orang yang bisa melacaknya. Begitu dia ditemukan, aku ingin kamu pastikan dia tidak akan pernah bisa kembali ke Jakarta. Tidak akan pernah bisa berbicara lagi. Tidak akan pernah bisa muncul di hadapan Radya lagi.” Ayunda mendekatkan wajahnya, tatapannya membakar.
“Habisi Raras sepenuhnya, Bayu. Agar Radya tidak akan pernah mengingatnya…”