Terlempar kembali pada saat ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Deena Prameswari Bakara atau yang sering di sapa Deena itu harus menelan kenyataan yang membuat hatinya bagai tertusuk belati berkarat, perlahan tapi menyakitkan.
Penghianatan, hinaan, dan kehilangan orang terkasih membuat dendam dalam hati tertumpuk, gadis itu bersumpah akan membalas lebih menyakitkan pada mereka yang telah menyakitinya.
Bertemu dengan sosok Hanska Regantara Alzavier, seorang presdir sekaligus mafia kejam berdarah dingin yang dengan menatap matanya saja membuat musuh bergetar. Namun satu hal, Hanska itu bucin jika sudah cinta, possesive setengah mati, membuat yang baca pada ilfeel.
hati-hati gregetan,
mengandung beberapa bawang,
ingin jitak kepala pelakor,
bawaannya kesemsem..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ritsmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamatkan Nonaku
Udah Deh lanjut aja :'
Happy Reading hati hati typo 🧡
__________________
Mobil sudah masuk pekarangan rumah Bakara. Tampak pria baya sedang bersimpuh di halaman depan rumah, terlihat memelas pada penjaga gerbang seolah minta pertolongan.
"Nek, Hanska tutup dulu ya, nanti telpon lagi." Ucap pria itu pamit memutus panggilan sepihak.
"Sebentar tuan, akan saya tanyakan." Izin Arga sebelum Hanska bertitah.
Hanska melihat Dadang berbalik kearah Arga, dan bersimpuh dihadapannya.
Tak sabar, pria itu memilih turun dari mobil dan berjalan kearah dua orang itu.
"Tuan saya mohon bantulah nona saya." Terdengar pria baya itu memohon dengan genangan air mata.
Siapapun yang melihat, akan tersayat hatinya.
Arga bungkuk, membantu Dadang untuk berdiri dari posisinya.
"Ada apa Arga?" Tanya Hanska di samping, melihat kearah Dadang yang tampak lesu dengan tubuh ringkih.
"Tolong nona dan istri saya tuan hikks.. saya mohon, mereka sedang di hukum sama majikan saya.. sedang di cambuk hikkss.. kasihan neng Deena dia masih muda tuan hikss.." Ucap Dadang bak seorang ayah yang memohon kesembuhan untuk putri tercintanya.
Mata Habska melotot. "Apa?! Si*lan! cepat tunjukan aku di mana tempatnya." Murka Hanska berjalan mengikuti langkah Dadang.
"Maaf tuan, yang tidak berkepentingan dilarang masuk." Hadang penjaga keamanan menghentikan langkah mereka.
Hanska makin naik pitam, kemarahannya siap mematahkan seluruh bagian tubuh sang musuh, yang mencoba menghalangi jalan.
Bughh. Bughh.
Dalam sekejap, penjaga tadi sudah terkapar tak berdaya.
Dadang sampai bergidik ngeri dalam sedihnya.
"Lewat sini tuan." Ucap Dadang sayu menunjuk tangga yang mengarah bawah tanah, Tampak remang-remang lorongnya dengan sedikit pencahayaan.
Cetasss.
"Aaaaassh..sa..sakit.." Suara cambukan disusul teriakan memilukan mulai terdengar.
Hanska menajamkan tatapannya, rahangnya mengeras, tangannya terkepal, siap melayangkan pukulan maut yang dia punya.
Arga hanya mampu berdo'a dalam hati, berharap nyonya mudanya itu tak terluka, tapi sayang, pada kenyataannya Deena terlihat mengenaskan dengan baju banyak sobekan dan luka cambukan.
Oh, jangan lupakan wajahnya yang juga penuh luka.
Hanska berlari kearah Deena, didekapnya tubuh mungil penuh luka itu.
Cetasss.
Berbarengan dengan itu, Bakara melayangkan cambukannya.
Deena menutup mata tak merasakan sakit sedikitpun, sebab tubuh Hanskalah yang menggantikan sabetan Bakara.
Hanska mengernyit geram merasakan cambukan dari Bakara. Baginya tak sakit, tapi bagi Deena? bagaimana bisa ada ayah seperti ini. Batin Hanska geram.
Sebelah tangannya mendekap tubuh Deena hati-hati takut pelukannya melukai gadis rapuh itu. Sedangkan tangan satunya, mengangkat wajah sayu Deena menahan kepala gadis itu untuk mendongak menatapnya.
Mirisnya gadis itu baru saja terluka oleh bandit sialan suruhan Ratih, bahkan lukanya saja belum kering, lalu sekarang sudah bertambah lagi luka baru.
Tanpa terasa air matanya jatuh, entah karna melihat kondisi Deena yang mengenaskan, atau melihat tatapan gadis itu yang penuh luka. Yang mana pun itu, keduanya sama-sama membuat hati Hanska berdenyut nyeri.
"Tuan!" Panik Arga bersimpuh disamping Hanska, mengecek kondisi tuannya yang belum pernah sekalipun, Arga melihat air mata jatuh dari mata tajam tuannya.
"Hey siapa kalian?!" Bentak Bakara tak senang lagi-lagi kegiatannya di halangi.
Arga bangkit berdiri, dalam hidupnya dia telah bersumpah, siapapun yang menyakiti Hanska maka kematian adalah hukuman termudah bagi musuhnya.
Mang Dadang sudah masuk, untuk memapah istrinya yang sudah terkapar tak berdaya menahan cambukan Bakara.
Buggh. Bughh.
Pukulan-pukulan keras Arga layangkan untuk Bakara.
Di belakang sana, Laras sudah menjerit dengan tubuh bergetar takut tak tahu harus apa.
"Lepasin suamiku." Teriak Ratih dengan niat menjauhkan tubuh Arga dari suaminya.
Na'as malah dirinya sendiri yang terlempar ke belakang.
"Mama.." Pekik Laras membantu ibunya berdiri.
"Mama gapapa?" Tanya Laras khawatir, Ratih menggeleng.
Deena masih ada kesadarannya menatap Hanska dengan mata sayu, raut ceria di wajahnya terganti dengan raut terluka.
Senyum tipis terhias, seolah berisyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Tak kuasa, Hanska menyembunyikan wajah Deena di dadanya, bangkit berdiri, menggendong gadis itu ala bridal.
Kakinya melangkah menyudahi drama ini, gadisnya butuh pertolongan.
"Sisakan dia Arga." Titah Hanska, seketika Arga melepas cengkeraman-nya pada Bakara yang sudah terkukai tak berdaya.
Membantu Dadang memapah istrinya, mereka berjalan keluar mengikuti langkah Hanska.
Deena menyentuh rahang Hanska lembut, membuat pria itu beralih menatapnya.
"Hmm..?"
"To..long, koper.. di kamar mbok Marni." Ucap Deena tertatih, pria itu mengangguk.
"Arga bawa koper Deena di kamar pembantunya." Titah Hanska setelah duduk di kursi penumpang, masih dengan mendekap Deena dalam pangkuannya.
"Baik tuan." Jawab Arga setelah membantu pasangan baya itu naik kedalam taxi.
Brakk.
Setelah memasukkan koper dalam bagasi, Arga melajukan kendaraannya meninggalkan pekarangan rumah Bakara.
Hanska membuang pandangannya keluar jendela, masih sambil mengelus surai Deena lembut sesekali pria itu mencium puncak kepalanya sayang.
Setibanya mereka di rumah sakit, Deena tak melonggarkan sedikitpun genggamannya pada Hanska, seakan takut pria itu meninggalkannya di kegelapan.
"Biarkan saja! urus saja urusanmu!" Bentak Hanska saat melihat seorang suster berusaha melepas genggaman tangan Deena darinya.
Suster itu tampak berjengit mendengar bentakan kesal Hanska.
Salsa yang masih sibuk dengan peralatan medisnya pun, langsung menoleh menatap Hanska maklum, walau cemas dan penuh tanya melihat kondisi Deena, namun Ia kesampingkan.
"Sudah biarkan saja." Ucap Salsa memperingati asistennya.
Deena sudah tertidur oleh bius yang di suntikkan Salsa tadi, kini gilirannya mengobati.
Hanska berdiri di samping kepala gadis itu, tangannya yang bebas mengusap lembut surai Deena sayang dengan sesekali mengecup puncaknya persis seperti di mobil tadi, terus seperti itu sampai tantenya selesai.
Salsa tersenyum, semua itu tak luput dari penglihatannya, diam-diam wanita itu memotret dan memvidio kegiatan sang ponakan setelah selesai dari kewajibannya.
Hanska masih belum sadar, sedangkan Salsa sudah terkikik geli mengirim vidio-vidio itu ke Rihlah.
^^^To: Mbak Lala^^^
^^^(Send a photo & vidio)^^^
^^^Sweet banget ga^^^
^^^tuh mbak? 😂^^^
From: Mbak Lala
😱😱
yaampun mantuku.
lama sembuh itu dek? :(
Tapi anakku manis bgt
aaa gemoy ♥️
^^^To: Mbak Lala^^^
^^^ada salep mujarab^^^
^^^cepet pulih kok mbak.^^^
From: Mbak Lala
okedeh, yg terbaik
ya dek.
^^^To: Mbak Lala^^^
^^^Siaaap mbakyuu^^^
Setelah menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh, dalam penyembuhan Deena, Salsa meletakkan obat diatas nakas sekaligus cacatan konsumsinya. Setelah itu Diapun pamit undur diri.
Saat ini Deena sudah berpindah ke ruang VVIP, sebab Deena masih harus di rawat setidaknya seminggu, dan siapa lagi yang menjaga gadis itu jika bukan dirinya.
Ceklek.
Tampak Arga berjalan masuk kedalam ruangan.
"Tuan.."
"Sudah di urus pasangan paruh baya itu? bagaimana keadaan mereka?" Tanya Hanska beralih menatap Arga.
"Sudah tuan, mbok Marni keadaannya sudah stabil, begitu siuman beliau menanyakan bagaimana kondisi nyonya muda begitu juga dengan pak Dadang." Jelas Arga, tampak Hanska manut-manut.
"Berikan mereka fasilitas terbaik seumur hidup Arga, biarkan mereka menikmati sisa hidup dengan baik, inilah balasan atas kebaikan mereka merawat istriku." Titah Hanska menatap kearah Deena, Hanska berjanji dalam hatinya, siapa saja yang melukai istrinya dia akan membalas berkali lipat, begitu pun sebaliknya.
To Be Continue >>>
Triple baby belum lahir