HIATUS
"Pilihlah masa depanmu, dan yakinlah ada aku di dalamnya..."
Sekarang Luna sudah punya pacar! Bagaimana rasanya mendapatkan apa yang selama ini dia idam-idamkan?
Season 1 sudah tamat.
Luna, seorang siswi SMA biasa. Kehidupan sekolah yang biasa. Teman-teman yang biasa. Tidak ada yang spesial. Yang berbeda cuma kenyataan bahwa ia memiliki 4 orang adik laki-laki. Adik-adik usil ini selalu menggagalkan rencana kisah cinta SMA nya.
Bak cerita Cinderella yang selalu diganggu kakak tirinya, Luna selalu diisengin adik kandungnya.
"Dek,,, pleaseeeeee,, biarin kakak pacaran sekali aja!" ~Luna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewiluna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Bantuin
✉️ Luna
Iya, kak.
✉️ Kamu lagi apa?
Mulai deh, mulai... Mulai chat mode penagih utang. Kalau dibales keterusan, ga dibales takut karma...
Aku baru selesai mandi.
Kirim. Luna akhirnya memutuskan untuk membalas pesan El singkat.
"Lunaaaa!!!" Bunda berteriak dari luar kamar.
"Iya, Bun!" Luna membalas dari dalam kamarnya.
"Bantu mandiin Arya terus bantuin Bunda masak!"
"Iya, Bun!"
Si Arya udah gede masih aja ditungguin mandi.
Bentar ya kak, aku bantu mandiin adek dulu. Aku juga mau bantuin Bunda masak.
✉️ Oke
***
Sementara itu, di belahan dunia yang lain, El mulai bete karena Luna tidak mengiriminya pesan lagi. Dia berjalan keluar mencari mami. Dia menemukan mami juga sedang memasak di dapur, dengan para pembantu tentunya.
"El? Tumben ke dapur? Kamu udah laper?" Mami tetap cantik walaupun cuma memakai baju santai dengan apron berwarna putih.
"Enggak mi, El cuma lagi bosan." El memasukkan ponsel ke dalam saku celana pendeknya.
"Mami lagi ngapain?" El berusaha mencari penghiburan.
"Lagi berenang,"
"Ahhahahahaha..." El tertawa lepas mendengar jawaban mami yang ngasal.
"Udah tau lagi masak, pake nanya."
"Hahaha..." El masih berusaha menghentikan tawanya. "Ya, maksudnya basa-basi aja mi, lagi masak apa gitu..."
"Masak opor ayam kesukaan papi kamu."
"Emang papi pulang?" El meragukan pernyataan maminya. Papi sering pulang telat, dan kebanyakan udah makan di luar.
"Katanya sih mau pulang makan sama kakak kamu dari kantor nanti."
"Kak An mau kesini mi?"
Kak An adalah anak pertama keluarga Rahardja, orang sibuk yang membuat hidup El santai dan sejahtera tanpa beban apa pun di perusahaan.
"Iya," mami masih fokus ke sayuran nya. "Terus tadi kamu kenapa nyari mami?"
"Emmm..."
"Luna kenapa?" Mami sudah bisa menebak anak bungsunya yang super manja itu. Muka memang seperti om-om, tapi kelakuan masih kayak ABG puber dikarenakan overdosis kasih sayang.
"Luna ga bales chat aku. Dia lagi sibuk bantuin Bundanya masak," El mencebikkan mulutnya. "El juga mau bantuin mami aja."
"Yakin?" El mengangguk mantap.
"Ya udah, tuh, potong wortelnya. Mami mau buat sup."
"Oke mi," El masuk ke counter dapur mendekati mami.
Mami melirik El, "El, pisaunya kebesaran. Itu pisau daging."
"Oh, sorry." El meletakkan kembali pisaunya. "Yang ini?"
"Itu terlalu kecil, El."
Yang mana sih? Kan sama aja semua bisa buat memotong. Kenapa harus mempermasalahkan besar kecil, hah?
"Yang ini," mami menghampiri El dan memberikan pisau berukuran sedang. "Udah, potong."
"Oke," El bersemangat memotong wortelnya.
Beberapa saat kemudian mami mengecek pekerjaan El. "Ya ampun El, besar banget potongannya!" Mami mengukur potongan wortel El. "Ini lebih besar dari jempol mami."
"Ya udah gapapa sih mi, ga harus sempurna juga kan...." El ikut-ikutan kebiasaan Luna yang suka ngeles.
"Ya ga gitu juga, El." Mami geleng-geleng kepala. "Emang kamu pernah makan sup yang potongan wortelnya segede ini??"
Iya juga, sih.
"Udah, sini mami yang benerin." Mami menggantikan El memotong wortel tadi. "Kamu kupas bawang aja, sana."
"Fine...." El mengambil bawang di meja. "Berapa banyak?"
"5 bawang merah, 3 bawang putih, 1 bawang bombai."
Bawang merah pasti yang warnanya merah kan? Bawang putih mah yang warnanya putih, dong. Bawang bombai yang mana?
"Bawang bombai yang mana mi?"
"Yang besar, El."
Pasti ini, nih. El meraih bawang yang paling besar. Pintar kan gue...
El menuntaskan tugas kali ini dengan baik. "Udah beres, mi. Terus apa?"
"Cuci dulu bawangnya, terus kamu potong-potong."
"Oke." El menuju tempat mencuci piring. Dia melihat deretan botol di sana. "Cuci pakai sabun yang mana mi?"
"Astaga..." mami mengeluh panjang.
Kenapa sih? Apa yang salah?
"Cuci pakai air aja, El."
Tinggal bilang gitu, kan, kenapa mami pakai mengeluh segala sih?
"Iya, mi." El selesai membasuh sekilas bawang-bawang itu. "Terus diapain?"
"Potong kasar El, terserah kamu, yang penting kecil-kecil."
"Oke." El mulai memotong kecil bawang-bawang itu, hingga dia merasa panas pada matanya, dan air mata sudah menggunung di pelupuk mata.
"AW!"
"Kenapa?" Mami langsung menghampiri El.
"Kepotong, mi." El menunjukkan darah yang mengalir di jarinya.
"Udah lah. Kamu tunggu di pojokan aja sana!" mami akhirnya menyerah dan menyuruh El pergi sejauh mungkin dari dapurnya.
Bersambung...
EPILOG
Duduk manis, El mengeluarkan ponselnya.
Aku juga mau dong, dimandiin kayak adiknya Luna.. Hehehe..
Terbukti, pojokan adalah tempat untuk berpikir hal aneh-aneh.
krn el th, luna pgn kuliah ambil jurusan psikologi.
el mah aneh, smpe g kpikiran bln madu😒😒