Sheila gadis yatim piatu yg diasuh dan dibesarkan oleh pamannya, harus menikah dengan Steven, anak dari sahabat baik mendiang ayahnya. Tetapi Steven sudah memiliki kekasih, Nila.
Perjodohan yg memaksa mereka berdua terikat dengan sebuah pernikahan. Akankah cinta tumbuh di antara mereka berdua, sementara sang ibu mertua begitu membenci Sheila? Bagaimana kelanjutan dari pernikahan karena perjodohan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir
Tidak berapa lama kemudian Sheila datang dengan wajah yang panik. Sheila langsung menghampiri Danny dan David.
"Assalamualaikum," sapa Sheila.
"Wa'alaikumsalam," jawab Danny dan David.
Sedikit canggung David membalas salam tersebut karena sudah lama dia tidak mengucapkannya. Dan benar kata Danny, jujur David langsung terpesona dengan Sheila pada pandangan pertama.
"Astaghfirullah hal adziim, Mas Steven kenapa Dan?" seru Sheila kaget setelah melihat kondisi Steven.
Sekuat tenaga Sheila menahan diri untuk tidak langsung berlari menghampiri Steven. Sheila ingin mendengarkan terlebih dahulu penjelasan dari Danny.
"Tenang Shei. Kenalin dulu, ini David teman kita, dia juga pemilik club ini," kata Danny memperkenalkan David pada Sheila.
Sheila mengulurkan tangannya pada David, "Sheila."
"Hai Shei, gue David," balas David memperkenalkan diri sambil menyambut uluran tangan Sheila.
"Kenapa Mas Steven bisa sampai mabuk kayak gini sih Dan? Apa ada masalah lagi di kantor?" tanya Sheila setelah jabat tangannya dengan David terlepas.
"Bukan masalah kantor Shei. Ini masalah pribadi. Tapi sepertinya bukan kapasitas gue buat cerita ke Lo. Mungkin nanti biar Steven sendiri yang cerita ke Lo Shei."
Sheila tidak ingin memaksa, meski dia sangat penasaran.
"Sebaiknya kita bawa pulang Mas Steven sekarang Dan. Tapi ke apartemen aja, jangan ke rumah," kata Sheila.
"Kenapa tidak pulang ke rumah Shei?" tanya Danny bingung.
"Dalam kondisi Mas Steven yang seperti ini? Enggak Dan, aku gak mau buat Papa dan Mama jadi khawatir. Biar nanti aku kabarin Papa sekalian minta ijin beliau."
"Oke deh, gue setuju sama Lo. Kita balik dulu ya Vid," kata Danny sekalian pamit pada David.
"Kami pamit ya Vid. Terima kasih udah jagain Mas Steven," pamit Sheila.
"Oke, hati-hati ya kalian," balas David.
Sheila dan Danny lalu memapah Steven di sisi kanan dan kirinya dan membawanya menuju ke mobil.
Hari sudah mulai malam saat mereka tiba di apartemen Steven. Susah payah Sheila dan Danny membawa Steven sampai ke kamar.
"Gila, capek juga ya," kata Danny sambil berkacak pinggang dan nafas ngos-ngosan setelah merebahkan Steven di ranjang.
"Aku ambilin minum buat kamu ya Dan," tawar Sheila.
"Gak usah deh Shei. Udah malem, gue langsung balik aja. Eh, tapi beneran Lo sanggup ngurus Steven sendirian, dia lagi mabuk gini soalnya?" tanya Danny ragu.
"Insya Allah aku sanggup kok Dan, tenang aja," jawab Sheila berusaha meyakinkan Danny.
Akhirnya Danny pun pamit dan meninggalkan Sheila berdua dengan Steven.
Setelah Danny pergi Sheila segera menghubungi Ricko. Sheila meminta ijin untuk bermalam di apartemen dengan Steven selama dua hari. Sheila beralasan kalau dia sedang mengikuti seminar dari dosennya di hotel dekat apartemen. Dan karena pulangnya agak malam jadi mereka memutuskan untuk bermalam di apartemen Steven saja biar lebih dekat. Ricko percaya dan memberi ijinnya dengan mudah.
Menghembuskan nafas lega Sheila kembali menghampiri Steven. Tanpa diduga Steven muntah-muntah. Dengan sabar dan telaten Sheila membersihkan wajah dan tubuh Steven, juga bekas muntahan Steven di lantai. Sheila juga membantu Steven untuk banyak minum air putih.
Sheila lalu mengambil baju ganti untuk Steven. Tapi ketika hendak membantu Steven memakainya, Steven tiba-tiba mencekal tangan kanan Sheila.
"Kenapa kamu tega sekali sama aku Nil? Apa salah aku sama kamu? Tiga tahun aku berusaha menjaga kamu, menjaga hubungan kita, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru mengkhianatiku. Tega sekali kamu melakukan semua itu di belakangku Nil," racau Steven dalam kondisi setengah sadar.
Sheila tercengang. Nila mengkhianati hubungan mereka? Jadi ini alasannya kenapa Steven sampai mabuk seperti ini. Oh astaga, Sheila tidak kuasa menahan air matanya. Entah kenapa dia seperti ikut merasakan sakit hati yang sedang dirasakan suaminya itu.
"Mas, ini aku Sheila Mas," dengan lembut Sheila berusaha menyadarkan Steven.
"Sheila?" Steven nampak mengerutkan keningnya.
"Iya, ini aku Sheila, istri Mas."
"Istriku?" lagi Steven bertanya seolah ingin meyakinkan.
"Iya Mas, aku istrimu."
Dan sedetik kemudian Steven langsung bangun terduduk dan memeluk Sheila. Steven menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sheila, menghirup dalam aroma Sheila yang begitu menenangkan dirasakannya.
Tubuh Sheila menegang dipeluk begitu erat oleh Steven. Rasa geli di lehernya seperti mengirimkan gelenyar-gelenyar aneh ke seluruh tubuhnya.
"Apa kamu juga akan mengkhianatiku seperti Nila Shei?" tanya Steven yang masih setengah sadar.
"Tidak akan Mas. Selama aku masih terikat pernikahan denganmu maka aku akan selalu setia padamu Mas. Mas Steven bisa pegang janjiku," jawab Sheila menenangkan.
Steven menjauhkan sedikit tubuhnya demi bisa melihat wajah Sheila.
"Sungguh?"
Sheila tersenyum lembut dan mengangguk sebagai jawaban. Perlahan Steven mulai mendekatkan wajahnya pada Sheila. Sheila sedikit terkejut dan gugup. Dan ketika benda dingin dan kenyal itu menempel di bibirnya, mata Sheila langsung terbelalak.
Dengan lembut dan pelan Steven mulai menggerakkan bibirnya. Dikulumnya bibir mungil Sheila penuh perasaan. Sheila yang menerima perlakuan lembut dari Steven akhirnya ikut terbuai dan memejamkan kedua matanya, menikmati segala bentuk rayuan Steven pada bibirnya.
Lama kelamaan ciuman Steven mulai menuntut. Digigitnya kecil bibir bawah Sheila sehingga otomatis Sheila membuka mulutnya. Tanpa membuang kesempatan Steven segera mendorong lidahnya masuk, mengabsen setiap rongga mulut Sheila.
Sheila yang baru pertama kali merasakan semua ini merasa dirinya lemas tak bertulang. Digenggamnya erat kedua lengan Steven yang masih melingkar di tubuhnya, mencari penopang agar dirinya tidak jatuh. Jantung keduanya berdetak tak beraturan di dalam sana. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari-nari di perutnya, menghantarkan desiran-desiran asing yang mengaliri aliran darah mereka.
Sheila terpekik kaget ketika tangan Steven sudah menangkup salah satu benda kenyal di depan tubuhnya dan meremasnya dengan lembut, menyebabkan pertautan bibir mereka berdua terlepas. Tapi bukannya berhenti Steven justru beralih ke leher jenjang Sheila. Menghisap sedikit kuat dan menggigit kecil cukup lama, meninggalkan tanda kemerahan disana. Desahan lolos begitu saja dari bibir Sheila, tak kuasa menerima berbagai macam kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.
Sesaat terlintas dalam pikiran Steven, 'Kalau Nila bisa melakukannya, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama.'
Perlahan Steven mulai merebahkan tubuh Sheila dan menindihnya. Jemari tangannya mulai membuka satu persatu kancing baju Sheila sambil masih terus menciumi leher Sheila. Dan ketika baju itu sudah terbuka, kedua mata Steven begitu takjub melihat dua gundukan indah di dada Sheila yang masih terbungkus bra berenda warna coklat muda itu.
Dengan mata yang mulai menggelap diselimuti kabut gairah Steven menciumi salah satunya, sementara tangan kanannya meremas dengan lembut yang satunya lagi. Berlama-lama menghisap disana dan meninggalkan banyak tanda kemerahan. Kemudian beralih ke bagian yang satunya, melakukan hal yang sama seperti tadi.
Sheila benar-benar dibuat mabuk kepayang dengan perlakuan Steven. Rasanya kepalanya sampai pusing menahan semua ledakan perasaan asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sekuat tenaga berusaha meraih akal sehatnya. Ini tidak benar, tidak dalam keadaan Steven yang sedang mabuk seperti ini. Sheila tidak ingin Steven menyesali semua ini setelah tersadar nanti.
"Masss... Jangan Mas..." tolak Sheila berusaha menghentikan semua kegilaan ini.
"Aku menginginkanmu Shei," balas Steven dengan suara parau.
"Kau sedang tidak sadar Mas."
"Kau istriku Shei."
"Tapi tidak seperti ini Mas. Mas sedang mabuk. Aku tidak mau Mas menyesal nanti setelah Mas sadar," kata Sheila masih berusaha menyadarkan Steven.
Menulikan telinganya, Steven justru mengeluarkan benda kenyal di dada Sheila dari sarangnya kemudian melahap puncak kecilnya yang berwarna coklat kemerahan. Dengan rakus Steven melahapnya, bergantian dari satu ke yang lainnya
Sheila benar-benar sudah tidak kuat menahan semua ledakan kenikmatan asing ini. Tapi hati kecilnya juga menolak. Bukan menolak untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang harus melayani suaminya. Tapi penolakan karena Steven melakukan semua ini di luar kesadarannya.
Tanpa bisa dicegah air mata itu keluar, mengalir membasahi pipinya. Steven yang mulai mendengar isakan Sheila seolah tertarik kesadarannya. Akal sehatnya mulai bisa berfungsi lagi. Diangkatnya wajahnya dan dilihatnya Sheila yang menangis sesenggukan.
Steven segera bangkit dari atas tubuh Sheila. Dilihatnya kembali bagian atas tubuh Sheila yang kacau akibat dari perbuatannya.
"Oh astaga," Steven seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Steven turun dari ranjang, mendudukkan tubuhnya di lantai dan menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur. Masih terdengar di telinganya isak tangis Sheila. Steven meremas rambutnya dengan jari-jari tangannya.
"Apa yang sudah aku lakukan," rutuknya pada diri sendiri.
tetep semangat selalu kakak 😘😘😘