NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 22: Amarah Sang Naga dan Jejak Cahaya di Dermaga.

​Malam itu, langit di atas perbukitan seolah ikut murka. Petir menyambar, membelah kegelapan dengan kilatan perak yang mengerikan, diikuti oleh deru mesin helikopter yang dipaksa terbang menembus batas keamanan. Di dalam kokpit, wajah Alaska sekeras batu granit. Matanya menatap tajam ke depan, namun pikirannya tertuju pada satu titik: Kamar di lantai dua The Fortress.

​Begitu helikopter menyentuh landasan pacu di atap benteng, Alaska melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar. Ia berlari menembus hujan, mengabaikan luka di bahunya yang kembali terbuka dan mengeluarkan darah.

​"Buka pintu utama!" teriaknya pada pengawal yang berjaga.

​Begitu pintu terbuka, Alaska mendapati suasana yang terlalu sunyi. Tidak ada laporan rutin, tidak ada penjagaan ganda di koridor sayap kiri. Ia langsung menuju kamar Sania. Saat pintunya terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak.

​Kamar itu kosong.

​Bukan hanya kosong, tapi bersih. Sajadah yang biasanya terbentar rapi di arah kiblat telah hilang. Tasbih yang sering ia dengar beradu pelan kini tak ada di atas meja. Aroma gaharu yang menenangkan telah digantikan oleh bau parfum perancis yang sangat ia kenali. Parfum ibunya.

​"DI MANA DIA?!" suara Alaska menggelegar, meruntuhkan keheningan koridor.

​Seorang pengawal muda mendekat dengan tubuh gemetar.

"Tuan... Nyonya Besar tadi datang... beliau bilang ada keadaan darurat dan Anda kecelakaan. Beliau membawa wanita itu pergi karena katanya wanita itu ketakutan dan ingin melarikan diri dari serangan Dante..."

​BRAK!

​Satu pukulan mentah dari Alaska membuat pengawal itu tersungkur.

"Dia tidak akan pernah melarikan diri! Dia bukan pengecut sepertimu!"

​Alaska meraih kerah baju pengawal itu, matanya merah karena amarah yang meluap.

"Katakan padaku ke mana mereka membawanya, atau aku akan memastikan kau memohon untuk mati malam ini."

​"Ke... ke Dermaga Barat, Tuan! Kapal kargo Vesta... Nyonya memesan satu kontainer pribadi!"

​Alaska melepaskan pengawal itu dan berbalik. Di ruang tengah, ia berpapasan dengan Elina yang sedang duduk dengan tenang sambil menyesap teh, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

​"Oh, Alaska, kau sudah pulang?" ucap Elina dengan nada manis yang memuakkan. "Syukurlah kau baik-baik saja. Wanita itu... dia pergi, Alaska. Dia sadar bahwa keberadaannya hanya membahayakanmu, jadi aku membantunya pergi dengan sejumlah uang."

​Alaska berjalan perlahan mendekati ibunya. Langkahnya pelan, namun setiap pijakannya terasa seperti ancaman kematian. Ia berhenti tepat di depan meja kaca, lalu dengan satu gerakan cepat, ia membalikkan meja itu hingga hancur berkeping-keping.

​"Dengar, Ma," desis Alaska, suaranya rendah dan penuh racun. "Selama ini aku membiarkanmu ikut campur dalam bisnisku karena kau adalah ibuku. Tapi malam ini, kau telah menyentuh satu-satunya hal yang tidak boleh disentuh. Jika satu helai kain di wajahnya tersingkap karena orang-orangmu, atau jika dia meneteskan satu tetes air mata karena ulahmu... aku bersumpah, mulai detik ini, aku tidak punya ibu."

​Elina terperangah, wajahnya pucat pasi.

"Kau... kau mengancam ibumu demi wanita cadar itu?"

​Tanpa menjawab, Alaska berbalik dan berlari menuju garasi. Ia memacu mobil Bugatti-nya hingga kecepatan maksimal, membelah jalanan licin menuju dermaga. Dalam hatinya, ia terus merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membiarkan malaikat itu berada di tangan iblis yang ia sebut keluarga?

​Di Dermaga Barat: Ujian di Tengah Badai.

​Sania terbangun dengan kepala yang sangat berat. Bau garam yang menyengat dan deru mesin kapal segera menyadarkannya. Ia berada di dalam sebuah kontainer yang hanya diterangi oleh lampu neon kecil yang berkedip. Tangannya terikat ke depan, namun ia masih bisa merasakan mushaf kecilnya di dalam saku gamisnya.

​Di depannya, dua pria bayaran Elina sedang merokok. Mereka menatap Sania dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

​"Bos bilang, kita bisa membuangnya ke laut setelah kapal mencapai perbatasan," bisik salah satu pria itu. "Tapi sayang juga kalau langsung dibuang. Aku penasaran, secantik apa wajah yang disembunyikan di balik kain ini."

​Pria itu mendekat, tangannya yang kasar terjulur hendak meraih cadar Sania.

​"Jangan lakukan itu," suara Sania terdengar, meski lemah namun penuh dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.

​Pria itu tertawa. "Oh, kau sudah bangun? Memangnya kenapa? Siapa yang akan menolongmu di sini? Tuhanmu?"

​Sania menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya.

"Tangan yang mencoba menyingkap kehormatan seorang wanita tanpa hak, tidak akan pernah menemukan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Jika kau menghormati ibumu, maka hormatilah wanita di depanmu."

​"Aku tidak butuh ceramah!" pria itu membentak dan mencengkeram kain cadar Sania.

​Tepat saat ia hendak menariknya, sebuah ledakan keras mengguncang kontainer itu. Pintu baja kontainer terlempar dari engselnya oleh hantaman mobil yang ditabrakkan dengan sengaja.

​DUMMM!

​Debu dan asap memenuhi ruangan. Di tengah remang cahaya, sosok tinggi besar berdiri dengan senjata api di kedua tangannya. Itu bukan lagi Alaska yang dingin, itu adalah Alaska sang monster yang haus darah.

​"Menjauh darinya!" suara Alaska terdengar seperti petir yang menyambar di dalam ruangan sempit itu.

​Kedua penculik itu mencoba meraih senjata mereka, namun Alaska lebih cepat. Dua tembakan presisi bersarang di bahu dan kaki mereka, membuat mereka tumbang seketika tanpa sempat melawan. Alaska tidak membunuh mereka, ia ingin mereka tetap hidup agar bisa merasakan siksaan yang jauh lebih buruk nantinya.

​Alaska menjatuhkan senjatanya dan berlari ke arah Sania. Ia berlutut di depan wanita itu, tangannya yang gemetar meraih tali yang mengikat tangan Sania.

​"Sania... maafkan aku. Aku terlambat," bisik Alaska, suaranya pecah untuk pertama kalinya.

​Sania menatap mata Alaska. Di balik matanya yang lelah, ada ketenangan yang luar biasa.

"Anda datang, Tuan. Allah tidak pernah tidur."

​Alaska memotong tali itu dan membantu Sania berdiri. Ia melihat kain cadar Sania yang sedikit miring akibat tarikan pria tadi. Dengan sangat hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang sangat rapuh dan suci, Alaska merapikan kembali kain hitam itu agar menutupi wajah Sania dengan sempurna. Ia tidak mencoba melihat wajah di baliknya; ia justru melindunginya.

​"Ayo kita pulang," ucap Alaska.

​"Bagaimana dengan Nyonya Elina?" tanya Sania pelan.

​Alaska terdiam sejenak. "Dia akan belajar bahwa dunia ini punya hukumnya sendiri. Dan hukumku dimulai dari menghormati apa yang menjadi milikku."

​Sania memegang lengan Alaska, memberikan sedikit kekuatan pada pria yang tampak hancur oleh rasa bersalah itu.

"Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, Tuan. Biarkan tangan Allah yang bekerja. Kita hanya perlu menjaga apa yang benar."

​Malam itu, di bawah guyuran hujan dermaga, Alaska menyadari satu hal. Ia mungkin memiliki senjata, kekuasaan, dan harta. Namun, perlindungan sejati justru berasal dari doa-doa wanita di sampingnya ini. Seorang wanita yang meski terbungkus kain sederhana, memiliki jiwa yang tak mampu ditembus oleh peluru manapun.

​__Seorang pria sejati bukanlah dia yang mampu menaklukkan seribu musuh di medan perang, melainkan dia yang mampu menundukkan egonya untuk melindungi kehormatan seorang wanita. Jangan pernah mencoba menyingkap apa yang Tuhan perintahkan untuk dijaga, karena di balik setiap kerahasiaan seorang wanita beriman, ada doa-doa yang sanggup menggetarkan singgasana langit dan membalikkan keadaan dalam sekejap mata__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!