NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Sejak pertengkaranku dengan Alex kemarin, kami jadi saling menghindar. Disaat aku melihatnya, aku buru-buru menjauh. Begitupun dengannya saat menyadari keberadaanku, Alex akan berpura-pura tidak melihat. Seolah aku merupakan sebuah pajangan dirumahnya.

Walaupun begitu, semua yang kubutuhkan disediakan olehnya melalui Rosie. Dan satu hal yang baru kutahu, pria yang selalu mengikuti kemanapun Alex pergi merupakan tangan kanannya yang bernama William atau Willy.

Semenjak kedatanganku kesini, aku belum pernah bicara dengan Willy. Rosie bilang, Willy tipikal pria yang mudah bergaul dan mudah untuk diajak bicara. Tapi kenapa begitu sulit untuk kudekati.

"Aku tahu jika Alex tampan."

Aku menoleh, kudapati Gemma sudah berdiri di sampingku. Entah sejak kapan.

"Kau pasti mengaguminya, kan? Sama sepertiku."

Sepertinya wanita ini sudah gila, siapa yang akan menyukai pria kejam semacam Alex.

"Aku tidak tertarik sama sekali padanya. Lagipula, aku sudah menikah."

Gemma nampak mengangguk, "Baguslah. Jadi aku tidak perlu bersaing denganmu."

Apa-apaan dia menganggapku sebagai saingan. Dia pikir, aku ingin bersaing dengannya? Not my type.

"Jika kau memang menyukai pria itu, kenapa tidak coba mendekatinya?" saranku.

Tiba-tiba Gemma terdiam. Apakah ucapanku ada yang salah?

Tanpa memberikan balasan, Gemma mendadak pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menggeleng melihat punggungnya.

Saat aku kembali untuk mengamati Alex dan Willy yang sedang bicara, ternyata mereka sudah tidak ada disana. Mataku mencari keberadaan kedua pria itu, sampai akhirnya terdengar bisikin gaib di sebelahku.

"Mencariku?"

Aku terlonjak kaget. Entah sejak kapan Alex dan Willy sudah berdiri di sampingku. Willy nampak menahan tawanya, sedangkan Alex menatapku datar seperti biasa.

"Tidak!" jawabku sambil menoleh kearah lain.

"Benarkah?"

"Hmm."

Pria kejam itu memilih untuk pergi. Aku memandangi punggungnya sembari mengumpat dalam hati.

"Bukankah Tuanku terlihat tampan?"

Raut wajahku terlihat bingung, apa maksudnya?

Willy terkekeh, "Kau menyukainya, Nona?"

Mulutku menganga lebar, yang benar saja. Aku sudah memiliki suami, sayangnya aku tidak bisa menunjukkan cincin pernikahan karena Tuanmu membuangnya.

Ehh, bukankah ini pertama kalinya aku bicara dengan Willy? Ternyata dia memang pria yang gampang akrab.

"Bisakah kita bicara serius, Wil?"

Dia tak langsung menjawabku, pria itu seperti menimang sejenak. "Baiklah. Ayo ikut aku."

Langkahnya membawaku ke sebuah taman yang cukup sepi. Tidak ada siapapun disana, kecuali aku dan Willy.

"Pasti banyak yang ingin kau tanyakan, bukan?"

Aku mengangguk mantap, "Siapa Alex sebenarnya? Mengapa dia begitu membenci Elbarra?"

Lagi, dia nampak menerawang sebentar. Kemudian tersenyum simpul, "Tuan dan Elbarra dulu merupakan teman dekat, sangking dekatnya mereka seperti layaknya saudara. Tuan memiliki saudari kembar bernama Alexandria. Nona Alexa menyukai Elbarra, namun Elbarra tidak membalas perasaannya."

"Lalu, apa hubungannya kematian suamiku dengan Alexa?"

"Saat itu...

Flashback 7 tahun yang lalu...

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, tapi Alexa belum turun juga dari rooftop. Saat ini mereka sedang menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman di kampus mereka.

Merasa khawatir, Alex bergegas menyusulnya. Tidak mungkin jika Alexa sudah turun tapi tidak menghampiri dirinya yang menunggu di bar.

Semakin malam, di anak tangga semakin sepi. Sepertinya yang berada di rooftop hanya adiknya, Alexa.

Clekk!

Alex membuka pintu yang terhubung di rooftop. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat Alexa dan Elbarra, sahabatnya yang sedang bicara. Ia tersenyum lalu berniat untuk mendekat.

Baru beberapa langkah, dalam penglihatannya Elbarra mendorong Alexa dari rooftop.

"ALEXAAA!!!"

Buru-buru Alex berlari sekuat tenaga. Ia hendak menggapai tangan adiknya, namun malangnya Alexa sudah terjun bebas lebih dulu.

BRAKK!

Bunyi hantaman di atas kap mobil seseorang, Alexa terjatuh disana. Menimbulkan keramaian dan bising dari mobil tersebut yang berbunyi tanpa henti.

"Alexaa..."

"Alex, dengarkan aku. Semuanya tidak seperti yang kau lihat!"

"Bajingan..." lirih Alex sambil menggeram marah.

Bergegas Alex bangun dari jongkoknya. Ia memandang Elbarra penuh dendam dan amarah.

Bughh!

Satu pukulan telak mendarat di wajah Elbarra, menciptakan luka di sudut bibirnya. Apakah Elbarra membalasnya? Tentu saja tidak. Karena ia tahu bahwa Alex sedang salah paham padanya.

"Aku akan membunuhmu, Sialann!" teriak Alex sambil menghujami Elbarra dengan bogemnya.

Berkali-kali Elbarra mencoba untuk menangkis dan menghindar, tapi ia tidak menyerang balik.

"Alex, sudah cukup! Pikirkan Alexa saat ini!" jerit seorang wanita yang merupakan kekasihnya, Aurora.

Aurora sudah menangis tersedu-sedu. Ia lalu menarik tangan kekasihnya itu agar ikut turun bersamanya. Mereka akan mengurusi jenazah Alexa, karena sudah di pastikan bahwa nyawa gadis tersebut sudah tidak dapat di tolong.

Setiap langkah yang Alex ambil terasa begitu berat. Berulang kali ia hampir terjatuh, jika saja tidak ada Aurora bersamanya. Dalam hati, Alex bersumpah akan membalas kematian adiknya.

Ada hal yang lebih menyakitkan lagi. Disaat dirinya memenuhi sidang untuk menuntut Elbarra, pria itu dengan mudahnya bebas dan di nyatakan tidak bersalah karena pengaruh dari ayahnya.

"Kurang lebih seperti itu. Saat kejadian berlangsung, aku masih bekerja dengan orangtuanya. Tak lama, Tuan dan Nyonya Timothy mengalami kecelakaan pesawat saat menuju ke Indonesia dan pada akhirnya mereka menyusul kepergian dari Nona Alexa." jelas Willy panjang lebar.

Ahh, kisahnya menyedihkan sekali. Wajar jika Alex menjadi kejam seperti sekarang. Satu-persatu orang terdekatnya meninggal dalam kejadian tragis.

"Kuharap, Nona bisa memaklumi. Apa yang diucapkan dan dikatakan oleh Tuan Alex, jangan terlalu di ambil hati."

Dia hampir membunuhku kemarin.

"Baiklah, Willy. Terima kasih atas penjelasannya."

"Sama-sama, Nona. Oh iya, apakah kau percaya bahwa suamimu yang membunuh Nona Alexa?"

Aku menggeleng, "Aku percaya padanya."

Willy mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

"WILLYYY!!" Teriakkan itu membuatku dan Willy jadi tersentak kaget.

"Apa yang kau lakukan disini?" Alex menatap tajam kearahku dan Willy secara bergantian.

"Maafkan aku, Tuan. Tadi Nona mengajakku untuk berkeliling. Dia bilang, dia belum hafal sekitar jadi takut akan tersesat."

Pintar sekali alasannya, batinku berdecak kagum pada pria di sampingku ini.

"Nyonya De Sanders, kau baru beberapa hari disini, tapi sudah membuat bawahanku menuruti kehendakmu!" tukas Alex tajam.

Aku membalas tatapannya tak kalah tajam, ingin sekali rasanya aku menyumpah serapah di depan wajahnya, tapi kuurungkan. Tanpa mengatakan apapun, aku memilih untuk meninggalkan mereka.

Ketika aku berjalan melewati Alex, tiba-tiba dia menahan lenganku. Mau tak mau aku harus menghentikan langkah kaki-ku.

"Ada apa?" tanyaku malas, karena pria tersebut tak kunjung mengeluarkan suaranya.

Tak disangka, Alex mengangkat tangannya. Kukira dia akan memukulku, jadi aku memejamkan mata untuk bersiap.

"Ada daun di rambutmu."

Seketika mataku langsung terbuka sempurna. Kulirik di tangannya memang ada daun, berarti dia tidak berbohong. Aduh, malunya aku..

"Aku bisa membersihkannya sendiri!" ucapku seraya mengusap rambutku, siapa tahu masih ada daun yang tertinggal.

Alex tak mengindahkanku. Ia nyelonong begitu saja dengan di ikuti oleh Willy. Willy nampaknya bahagia sekali, ia menertawaiku. Menyebalkan.

Sejahatnya manusia, pasti masih ada sisi baiknya. Itu yang aku lihat darimu, Alex.

Ahh, tiba-tiba aku jadi rindu suamiku. Apa yang sedang dia lakukan sekarang yaa, apakah dia sudah makan, bisakah dia tidur nyenyak. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi ponsel pun tidak ada.

Kau benar-benar kejam, Alex. Bagaimana bisa kau memisahkan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!