NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 31

Beberapa saat kemudian, Emma akhirnya terbangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di sofa ruang keluarga.

Namun, ketika merasakan sesuatu yang hangat di dekatnya, Emma perlahan menoleh.

Betapa terkejutnya ia saat mendapati Damian sedang duduk bersandar di kepala ranjang, sementara salah satu tangannya masih berada di punggung Emma.

Emma langsung terdiam.

Astaga, kenapa aku malah tidur di kamar?

Bukankah tadi ia tertidur di sofa ruang keluarga? Lalu, siapa yang memindahkannya ke kamar? Jangan-jangan—

Emma buru-buru menghentikan pikirannya sendiri. Ia mengangkat wajah perlahan, lalu mendapati Damian sedang menatapnya dengan ekspresi datar.

"Sudah bangun?" tanya Damian santai.

Emma menelan ludah. "I-iya."

"Bagus. Kupikir kau berniat tidur sampai besok pagi."

Emma mengerutkan kening. "Memangnya sekarang jam berapa?"

"Sudah malam."

"Terus, kenapa aku ada di sini?" tanyanya sambil melirik sekeliling kamar.

Damian mengangkat sebelah alisnya. "Menurutmu?"

Emma kembali menatapnya. "Kau yang memindahkanku?"

"Memangnya ada orang lain yang menggendongmu ke kamar?"

Emma terdiam, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Entah mengapa, mengetahui bahwa Damian sendiri yang menggendongnya membuat pipinya terasa hangat.

Namun, ia segera teringat pada foto yang dilihatnya di ponsel tadi. Senyum yang hampir muncul di wajahnya langsung menghilang.

"Oh."

Hanya itu jawaban Emma.

Biasanya, wanita itu akan mengoceh panjang atau malah mengomel karena Damian menggendongnya tanpa izin. Namun, malam ini Emma justru kembali membalikkan badan dan menarik selimut sampai menutupi bahunya.

Damian mengernyit. Ia memperhatikan punggung istrinya yang kini menghadap ke arahnya.

"Hei, kau kenapa?" tanyanya sambil menyentuh pelan bahu Emma.

"Nggak kenapa-kenapa," jawab Emma singkat tanpa menoleh.

"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa wajahmu seperti itu?"

Emma menggigit bibirnya. Ia ingin sekali bertanya tentang Natalia, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, dan ingin memastikan apakah Damian masih menyimpan perasaan kepada mantan kekasihnya itu.

Namun, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa dirinya cemburu.

Bagaimana mungkin ia mengaku cemburu kepada seorang pria yang bahkan belum pernah mengatakan bahwa ia mencintainya?

"Damian," panggil Emma pelan setelah beberapa saat terdiam.

"Hm?" sahut Damian sambil menatapnya.

"Besok kau pulang malam lagi?"

Damian menatap istrinya dengan heran. "Kenapa bertanya begitu?"

"Nggak apa-apa. Aku cuma mau tahu kapan kau punya waktu untuk bertemu mantan pacarmu," jawab Emma dengan nada dibuat sesantai mungkin.

Kening Damian langsung berkerut.

"Mantan pacar?" ulangnya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

"Iya, mantan pacarmu yang cantik itu," balas Emma sambil menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. "Natalia, kan, namanya?"

Damian terdiam sesaat. Kini ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan istrinya.

"Kau sedang membicarakan Natalia?" tanyanya sambil mengamati wajah Emma.

Emma mendengus pelan. "Memangnya kau punya mantan pacar lain yang suka muncul di berita bersama suamiku?"

Damian menghela napas. "Emma, berita itu—"

"Sudahlah, kau nggak perlu menjelaskan apa-apa." Emma buru-buru memotong perkataannya. "Aku cuma bertanya. Kalau kau mau bertemu dengannya, ya, silakan saja. Aku tidak melarang."

Meski mulutnya berkata demikian, Emma justru semakin erat memeluk bantal di dadanya.

Ia bahkan tidak berani menatap Damian karena takut pria itu menyadari betapa besar rasa cemburu yang sedang berusaha ia sembunyikan.

Damian menatapnya lekat-lekat, lalu melirik bantal yang dipeluk Emma seolah benda itu adalah satu-satunya tempat untuk melampiaskan kekesalannya.

"Kalau memang tidak melarang, kenapa kau terlihat kesal?" tanyanya tenang.

"Aku tidak kesal!"

"Lalu kenapa kau terus membicarakan Natalia?"

"Karena namanya ada di mana-mana!" jawab Emma spontan. "Buka Instagram, ada dia. Buka berita, ada dia lagi. Memangnya dunia ini cuma punya dua orang, kalian berdua?"

Damian terdiam.

Emma sendiri langsung menyadari bahwa ia baru saja mengungkapkan terlalu banyak hal. Ia buru-buru membalikkan badan, membelakangi Damian lagi.

"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku."

Untuk beberapa saat, Damian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandangi istrinya yang kini bersembunyi di balik selimut.

Sudut bibirnya sempat terangkat tipis, tetapi senyum itu segera menghilang ketika ia teringat bahwa Emma sampai sesedih ini hanya karena sebuah berita.

"Emma," panggilnya lembut.

"Apa lagi?" sahut Emma dengan suara kesal.

"Aku tidak punya janji untuk bertemu Natalia besok."

Emma terdiam. Tangannya yang tadi sibuk meremas ujung selimut mendadak berhenti bergerak.

"Siapa juga yang bertanya?" gumamnya pelan.

"Kau sendiri yang bertanya."

"Aku cuma memastikan jadwalmu. Biar aku bisa menikmati rumah yang tenang tanpa mendengar suara vampir galak sepertimu."

Damian mengangkat sebelah alisnya. "Oh, begitu?"

"Iya!"

"Kalau begitu, besok aku akan pulang lebih awal."

Emma spontan menoleh. "Hah?"

Damian menatapnya datar. "Katanya kau ingin rumah yang tenang. Jadi, aku pulang lebih awal supaya bisa mengganggumu lebih lama."

"Damian!" seru Emma, tak percaya dengan jawaban pria itu.

Damian akhirnya terkekeh pelan melihat ekspresi istrinya yang kesal.

Namun, ketika Emma kembali membuang muka, tawa itu perlahan mereda.

Damian mengulurkan tangan dan menyentuh kepala Emma dengan lembut.

"Dengar, wanita cerewet. Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku, tanyakan saja. Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan memikirkan hal-hal yang belum tentu benar."

Emma terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin langsung bertanya apakah Damian masih mencintai Natalia. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Bagaimana jika jawabannya justru menghancurkan harapannya?

Akhirnya, Emma hanya menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya Akhirnya, Emma hanya menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.

"Aku ngantuk," gumamnya sambil memejamkan mata.

Damian menatapnya beberapa saat. Ia tahu Emma hanya berpura-pura ingin tidur untuk menghindari pembicaraan mereka.

"Emma."

"Hm?"

"Aku mau menjelaskan sesuatu."

"Nggak mau dengar. Aku ngantuk," jawab Emma cepat.

Damian menghela napas panjang. "Kalau kau benar-benar mengantuk, kau tidak akan menjawab secepat itu."

Emma langsung membuka sebelah matanya, lalu melotot ke arah suaminya.

"Berisik!"

Damian mengabaikan protes itu. Ia menggeser tubuhnya sedikit agar bisa menghadap Emma.

"Hubunganku dengan Natalia berlangsung selama lima tahun," ucapnya tiba-tiba.

Emma yang tadinya hendak kembali memejamkan mata langsung terdiam.

Lima tahun.

Entah kenapa, mendengar Damian mengatakannya secara langsung terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar membaca berita di ponsel.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu, mereka pasti sudah melewati banyak hal bersama. Mereka mungkin pernah tertawa bersama, saling memperhatikan, bahkan membuat janji tentang masa depan.

Sementara Emma baru mengenal Damian setelah mereka menikah.

"Terus?" tanya Emma, berusaha terdengar biasa saja.

Damian memperhatikan perubahan ekspresinya. "Kami sudah berpisah sebelum aku menikah denganmu."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa kau masih memasang wajah seperti itu?"

Emma langsung menarik selimutnya lebih tinggi.

"Aku memang begini dari lahir!"

Damian mengangkat sebelah alisnya, tetapi kali ini ia tidak menggoda Emma. Ia justru melanjutkan penjelasannya.

"Dulu, aku benar-benar mengira hubungan kami akan bertahan. Aku mengenalnya cukup lama, dan selama lima tahun itu, aku pikir aku sudah mengenal siapa dirinya."

Damian berhenti sejenak, seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah lama tidak ingin dipikirkannya.

"Namun, pada akhirnya, dia memilih orang lain."

Emma perlahan menurunkan selimutnya. Ia menatap Damian dengan perasaan campur aduk.

"Dia yang memutuskan hubungan kalian?" tanyanya pelan.

Damian mengangguk.

"Dia memilih bertunangan dengan pria lain. Katanya, pria itu lebih cocok dengannya dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi."

Emma mengerjapkan mata. Ia baru mengetahui bagian itu dari Damian sendiri.

"Lalu sekarang dia kembali?" tanyanya lagi.

"Ya."

"Karena dia membatalkan pertunangannya?"

Damian mengangguk sekali lagi.

Emma terdiam. Ada rasa lega yang muncul karena ternyata Damian bukanlah orang yang meninggalkan Natalia demi menikah dengannya. Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Bagaimana jika Damian masih mencintai Natalia?

Bagaimanapun, mereka pernah bersama selama lima tahun. Perasaan yang tumbuh selama itu tentu tidak mudah hilang begitu saja.

"Kalau begitu..." Emma menggigit bibirnya sebelum melanjutkan, "kau masih mencintainya?"

Damian langsung menoleh penuh perhatian.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ia bisa melihat Emma sedang menahan napas, menunggu jawabannya.

"Kenapa kau menanyakan itu?" tanyanya balik.

Emma mengerutkan hidung. "Aku bertanya duluan, jadi kau jawab saja!"

Damian terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.

"Tidak."

Emma berkedip. "Tidak apa?"

"Aku tidak mencintainya lagi."

Jantung Emma berdegup lebih cepat. Ia berusaha menyembunyikan rasa lega yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

"Oh."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Damian menatapnya datar. "Kau hanya bisa mengatakan 'oh' setelah membuatku menjelaskan semuanya?"

"Lalu aku harus bilang apa? Tepuk tangan?"

Damian mendengus pelan. "Terserah kau."

Emma hampir tersenyum, tetapi ia segera teringat sesuatu.

"Tapi kalian kembali bersama di berita."

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kami kembali bersama."

"Tapi dia memegang tanganmu!"

"Dia yang memegang tanganku. Aku tidak pernah memintanya melakukan itu."

Emma terdiam.

Sebenarnya, ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin tahu apakah Damian pernah membalas perasaan Natalia setelah wanita itu kembali. Ia juga ingin tahu apakah Damian akan memilih Natalia jika mereka tidak terikat dalam pernikahan ini.

Namun, pertanyaan terakhir itu terlalu menakutkan untuk diucapkan.

Damian memperhatikan Emma yang kembali menunduk. Kali ini, ia mengulurkan tangan dan menarik perlahan selimut yang menutupi sebagian wajah istrinya.

"Lihat aku."

Emma menggeleng. "Malas."

"Emma."

Dengan enggan, Emma akhirnya menoleh.

Damian menatapnya lekat-lekat sebelum berkata, "Masa laluku memang ada. Aku tidak bisa mengubah apa yang pernah terjadi selama lima tahun itu. Tapi aku juga tidak akan kembali hanya karena seseorang dari masa laluku tiba-tiba datang dan memintaku menerimanya lagi."

Emma membisu.

"Jadi, berhentilah menyiksa dirimu sendiri dengan berita yang bahkan tidak benar," lanjut Damian.

Emma menelan ludah. "Aku tidak menyiksa diriku sendiri."

"Baiklah."

"Aku juga tidak cemburu."

"Aku tidak bilang kau cemburu."

Emma langsung terdiam Damian menatapnya selama beberapa detik, kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.

"Damian!"

Pria itu terkekeh pelan ketika Emma kembali menarik selimut untuk menutupi wajahnya Namun, sebelum Emma benar-benar bersembunyi, Damian sempat berkata dengan suara lebih lembut.

"Sudah malam. Tidurlah, Emma."

Emma tidak menjawab. Ia hanya berbaring membelakanginya, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tanpa sadar muncul di wajahnya.

Setidaknya, malam ini ia tahu satu hal Damian tidak ingin kembali kepada Natalia Namun, masih ada satu pertanyaan yang terus mengusik hatinya.

Jika Damian tidak mencintai Natalia lagi, apakah mungkin suatu hari nanti pria itu bisa mencintainya?

Emma memejamkan mata, memeluk bantalnya erat-erat ia tidak berani menanyakan hal itu.

Belum sekarang Sebab, jauh di lubuk hatinya, Emma takut jika jawaban Damian justru menjadi sesuatu yang paling tidak ingin didengarnya.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!