Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Dirga
"Pak Dirga, ini beberapa rumah yang saya rekomendasikan untuk Monica."
Dirga mengerutkan kening dan menatap Reno datar. "Saya minta apartemen, bukan rumah, Reno."
"Iya, Pak. Maaf sebelumnya." Reno tetap tenang. "Saya sudah mencari beberapa apartemen yang lokasinya dekat dengan kantor, tetapi hampir semuanya penuh. Ada beberapa yang masih tersedia, tapi jaraknya cukup jauh dari perusahaan."
Dirga menghela napas. "Lalu?"
Reno membuka salah satu berkas yang dibawanya. "Saya sarankan Pak Dirga mempertimbangkan rumah saja."
Dirga menatap lembaran foto yang disodorkan Reno.
"Rumah-rumah ini lokasinya dekat dengan perusahaan. Dari beberapa pilihan yang saya dapat, ada yang hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit dari kantor," jelas Reno.
Dirga mulai memperhatikan foto-foto tersebut.
"Selain itu, tempatnya juga luas dibandingkan dengan apartemen. Ada beberapa kamar, ruang tamu yang cukup besar, halaman dan garasi."
Dirga membalik halaman berikutnya.
"Saya yakin Monica akan lebih suka rumah daripada apartemen," lanjut Reno.
Dirga berhenti membalik halaman. "Kamu yakin Monica akan suka?"
"Saya yakin, Pak, Monica akan senang. Jika dibandingkan, ruangan apartemen biasanya lebih terbatas. Sedangkan rumah ini bisa lebih leluasa."
Dirga kembali melihat foto rumah yang tadi sempat ia lewati. "Yang ini bagaimana?"
Reno langsung melihat halaman tersebut. "Yang ini salah satu yang paling dekat dengan kantor, Pak. Fasilitasnya juga lengkap. Kalau Bapak mau, saya bisa atur untuk melihat rumahnya hari ini."
Dirga berpikir sesaat lalu mengangguk. "Saya ambil rumah ini. Hubungi sekarang, hari ini saya ingin lihat rumah ini secara langsung."
Reno tersenyum tipis. "Baik, Pak. Saya akan menghubungi pemiliknya."
"Jangan bilang dulu ke Monica."
"Siap, Pak."
Dirga kembali melihat foto rumah itu. "Kalau dia suka, kita ambil."
"Tentu, Pak."
Reno menutup berkas itu. "Pak Dirga tenang saja, saya akan mengurus semuanya."
Dirga mengangguk puas. "Bagus, Reno. Kamu memang bisa diandalkan urusan seperti ini."
Reno hanya tersenyum.
Setelah pembicaraan dengan Reno selesai, Dirga keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruangan Vara.
Pintu ruangan Vara masih terbuka. Dirga mengetuk sebentar sebelum masuk.
"Sayang."
Vara yang sedang membaca dokumen langsung mendongak.
"Iya, Sayang?"
"Aku pamit dulu, ya."
Vara mengerutkan kening. "Mau ke mana?"
"Aku mau menyiapkan beberapa berkas untuk rapat dengan klien malam ini."
"Oh, yang tadi Monica kasih?"
"Iya." Dirga mengangguk. "Aku harus memeriksa beberapa dokumen dulu sebelum rapat."
Vara mengangguk pelan. "Oh, iya. Kalau begitu, kamu hati-hati."
Dirga tersenyum. "Kamu nggak keberatan aku tinggal duluan?"
"Nggak. Urusan kamu juga penting."
"Baiklah." Dirga mendekat lalu mengusap kepala Vara. "Kamu juga jangan terlalu lama di kantor."
"Iya, Sayang."
"Kalau sudah selesai, langsung pulang."
Vara tersenyum manis.
"Iya. Kamu tenang saja."
Dirga mengecup kening Vara. "Aku berangkat dulu."
"Hati-hati."
"Iya, Sayang."
Dirga berbalik dan keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Vara perlahan menghilang.
"Nikmati saja kesenanganmu, Sayang. Sebelum semuanya menjadi milikku lagi."
Begitu pintu lift tertutup, Dirga langsung mengambil ponselnya. Ia membuka percakapannya dengan Monica, lalu mengetik.
{Sayang, aku sudah berangkat. Aku tunggu kamu di tempat biasa. Aku juga punya kejutan.}
Beberapa saat kemudian, balasan Monica masuk.
{Aku akan segera ke sana. Kejutan? Aku jadi penasaran}
Dirga tersenyum tipis, lalu memasukkan ponselnya ke saku.
••
Sementara itu, Monica masih ada di ruangannya.
Begitu membaca pesan Dirga, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.
{Sayang, aku sudah berangkat. Aku tunggu kamu di tempat biasa. Aku juga punya kejutan.}
"Kejutan?" gumam Monica antusias.
Ia semakin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Dirga dan mengetahui kejutan apa yang sudah disiapkan kekasihnya.
Namun, beberapa karyawan yang melihat ekspresi bahagia Monica hanya menatapnya dengan sinis.
Monica yang menyadari tatapan mereka langsung mengangkat wajah.
"Ngapain kalian natap gue, hah?" ketusnya.
Melati yang berdiri tak jauh dari sana mengangkat alis. "Kita cuma menatap sekilas kali."
Monica mendengus. "Alah, lo iri lihat gue bahagia, kan?"
"Iri?" Melati tertawa sinis. "Hasil rebut aja bangga."
Senyum Monica langsung menghilang. "Jaga mulut lo, ya," geramnya.
Melati melipat kedua tangannya di depan dada. "Gue cuma bilang yang sebenarnya, lo perebut, nggak tahu diri. Gue berharap Ibu Vara cepat tahu kelakuan lo!"
Wajah Monica langsung menegang. Ia berdiri dari kursi dan menatap melati tajam. "Jangan pernah ikut campur urusan gue!"
"Kalau urusan lo cuma merusak rumah tangga orang, jangan berharap semua orang bakal diam!"
Beberapa karyawan lain mulai seling pandang. Tidak ada yang berani ikut menyela, tetapi dari tatapan mereka, jelas tidak ada yang membela Monica.
Monica langsung mengepalkan tangannya. "Cih!" Ia mengambil tasnya dengan kasar, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Dari pada dengarin omong kalian, mending gue pergi."
Monica melangkah meninggalkan meja dengan wajah kesal. Namun, begitu sampai di dekat pintu, ia kembali membuka ponselnya dan membaca pesan Dirga.
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. "Yang penting aku punya kamu, Sayang."
Ia kemudian melangkah pergi, tidak sabar ingin mengetahui kejutan apa yang sudah disiapkan Dirga untuknya.