Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Sangkar Emas yang Retak dan Senja di Atas Dosa
Atmosfer di dalam Kediaman Ardiansyah sore itu berdenyut kaku, bagaikan udara dingin yang memadat sebelum hantaman petir. Sinar matahari senja menyusup melalui celah-celah tirai sutra yang menjuntai di ruang tengah, menembus pilar-pilar granit tinggi dan membiaskan warna merah jingga yang menyerupai lelehan tembaga. Di atas meja kaca impor yang melengkung indah, buket bunga mawar merah pemberian Rian masih tergeletak kaku—kelopaknya yang segar seolah menjelma menjadi untaian duri bernanah yang siap merobek dada siapa pun yang menatapnya.
Naya masih terduduk berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya yang bergetar menangkup wajah, meratapi jurang kehancuran yang kian menganga di bawah kakinya. Tangisnya telah surut, menyisakan isak kecil yang tersendat di kerongkongan. Setiap hela napasnya terasa berat dan membakar dada. Tiga hari. Rian hanya memberinya waktu tiga hari untuk mengakhiri pernikahan ini, atau seluruh rahasia tentang identitas aslinya—tentang statusnya sebagai seorang wanita Muslimah yang nekat memalsukan seluruh dokumen demi menyunting Gavin—akan dilemparkan ke hadapan publik dan keluarga Ardiansyah.
"Ya Allah... Tolong hamba..." bisik Naya memelas, suaranya parau tercekik penyesalan yang teramat dalam. "Hamba telah melangkah terlalu jauh dalam kepalsuan ini. Hamba takut... hamba sangat takut kehilangan Gavin, tapi hamba juga tidak sanggup terus menjual iman hamba demi ketakutan ini..."
Denting suara mesin mobil sedan yang memasuki halaman depan menghentikan rintihan Naya seketika.
Suara raungan mesin itu tidak tenang seperti biasanya. Bunyi decitan ban yang bergesekan kasar dengan paving blok terdengar bagaikan pekikan binatang buas yang terluka. Naya tersentak. Kepanikan murni menjalar cepat membasahi punggungnya dengan keringat dingin. Ia buru-buru menyapu sisa-sisa air mata di pipinya, berusaha menegakkan tubuhnya yang lemah.
Ia tahu siapa yang pulang. Gavin.
Pintu depan terdorong keras hingga membentur dinding penahan. Langkah kaki yang tegap dan berirama berat membahana di lorong utama. Gavin melangkah masuk. Jas hitam yang biasanya terpasang rapi kini tersampir sembarangan di lengannya, dasinya telah dilonggarkan, dan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka. Namun yang paling mengerikan bukanlah penampilannya yang berantakan, melainkan raut wajahnya.
Wajah tampan yang biasanya selalu memancarkan binar pemujaan yang hangat dan senyum lembut khusus untuk Naya, kini benar-benar mati. Matanya tajam, kelam, dan pekat—memancarkan kombinasi kilatan amarah yang membara serta luka batin yang tak terimbangi.
"G-Gavin...?" panggil Naya ragu, suaranya gemetar. Ia mencoba melangkah mendekat, memaksakan seulas senyum pias yang terkasap. "Kamu... kamu sudah pulang? Kenapa tidak memberi kabar lebih awal? Aku bisa menyiap—"
Gavin tidak menjawab. Langkahnya terus maju, mengikis jarak di antara mereka dengan aura intimidasi yang membuat oksigen di sekitar Naya menguap habis. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Naya, tangan Gavin terangkat. Ia memungut buket mawar merah di atas meja kaca, menggenggam batang-batang mawar itu hingga duri-durinya menancap di telapak tangannya sendiri. Blood-red liquid menetes perlahan dari celah jemarinya, namun Gavin sama sekali tidak meringis. Ia seolah tidak merasakan sakit fisik itu—rasa sakit di dalam dadanya jauh melahap segalanya.
"Bunga yang indah," ujar Gavin. Suaranya terdengar sangat tenang, begitu pelan, namun bergetar hebat oleh frekuensi emosi yang amat gelap. "Siapa yang mengirimkan bunga segar ini ke rumah kita, Sayang?"
Naya membeku. Matanya membelalak menatap tetesan darah Gavin yang jatuh meresap ke dalam karpet mahal di bawah mereka. "Gavin... tanganmu berdarah! Lepaskan bunga itu, Gavin, tolong!" Naya memajukan tangannya, hendak merebut buket mawar itu, tetapi Gavin dengan cepat menghentakkannya.
Bunga mawar itu dilemparkan kasar ke lantai, hancur berantakan.
"Jawab pertanyaanku, Naya!" bentak Gavin. Suara baritonnya menggema keras memantul di dinding-dinding tinggi rumah mewah itu, membuat Naya terlonjak ketakutan dan mundur beberapa langkah. "Siapa pria yang baru saja datang ke rumah ini saat aku tidak ada?! Siapa pria yang berani menyentuhmu di rumahku sendiri?!"
Kata-kata Gavin menghantam Naya bagaikan hantaman gada besi. Seluruh persendiannya meluruh. Bagaimana Gavin bisa tahu? pikir Naya histeris. Apakah ada yang melihat? Atau...
Pandangan Naya secara tidak sengaja bergulir ke sudut atas pilar ruang tamu, menatap pendar lampu merah kecil dari kamera pengawas tersembunyi yang berkedip halus. Seketika itu juga, Naya merasa seluruh dunianya runtuh berkeping-keping. Gavin menyaksikan semuanya. Gavin melihat Rian berada di dalam rumah ini.
"Gavin... dengarkan aku dulu... Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Gavin, aku mohon..." jerit Naya bersimbah air mata. Ia maju dan nekat menggenggam kedua lengan Gavin, menatap suaminya dengan tatapan memelas yang dipenuhi ketakutan luar biasa. "Dia... dia cuma teman lama... Dia datang hanya untuk—"
"TEMAN LAMA?!" Gavin memotong ucapan Naya dengan tawa sumbang yang sangat menyayat hati. Air mata kini mulai menggenang di sudut mata Gavin yang memerah. Tangan tegapnya bergerak canggung, mencengkeram kedua bahu Naya—tidak cukup keras untuk menyakiti, tetapi cukup kuat untuk mengunci posisi wanita itu agar terus menatapnya.
"Apakah teman lama membuat istriku menangis histeris di atas lantai?!" seru Gavin, suaranya serak bergelombang oleh kepedihan yang teramat sangat. "Apakah teman lama membisikkan sesuatu di telingamu sambil menyudutkanmu di pilar rumahku?! Dan apakah teman lama yang membuatmu membohongiku minggu lalu ketika kamu berpura-pura emosional karena berkas lama di kafe itu?!"
Naya menggelengkan kepala dengan histeris, air matanya membanjiri pipinya hingga membasahi jemari Gavin yang mencengkeram bahunya. "Tidak, Gavin... Demi Tuhan, tidak! Aku tidak pernah berselingkuh darimu! Aku tidak pernah mengkhianati cintamu!"
"LALU KENAPA KAMU BERBOHONG?!" raung Gavin, akhirnya runtuh. Pria yang dipuja sebagai pebisnis dingin dan tidak tersentuh itu kini menangis di hadapan istrinya. "Kenapa kamu terus menyembunyikan pria itu dariku, Naya?! Aku memberikan seluruh jiwaku untukmu! Aku memuja tanah yang kamu pijak! Aku membangun rumah ini untuk menjadi tempat paling aman bagimu dari masa lalumu yang kelam! Tapi kenapa... kenapa kamu justru membawa pria yang menghancurkan masa mudamu itu kembali ke dalam hidup kita?!"
Gavin merogoh saku jasnya dengan gerak cepat. Ia melempar sebuah map dokumen tebal ke atas meja. Map itu terbuka, menampilkan puluhan lembar foto hasil pengintaian detektif swasta—foto-foto Naya dan Rian di kafe minggu lalu, bukti transfer uang dari rekening Naya ke rekening Rian, hingga foto Rian yang melangkah masuk ke rumah mereka siang tadi.
"Aku menyuruh orang mengecek seluruh latar belakang pria itu, Naya," kata Gavin dengan napas tersengal, matanya yang pekat menatap Naya dengan sorot kekecewaan yang terdalam. "Rian. Pria bajingan yang meninggalkanmu lima tahun lalu. Dan sekarang, kamu secara sembunyi-sembunyi mentransfer uang puluhan juta rupiah setiap minggu padanya... Untuk apa, Naya? Apakah kamu masih mencintainya? Apakah kamu membayar uang sewa atas kenangan masa lalumu dengannya?!"
"TIDAK! Aku membencinya! Aku sangat membencinya!" jerit Naya meledak. Ia berlutut di depan kaki Gavin, memeluk erat kedua kaki suaminya tanpa peduli lagi pada harga dirinya. "Gavin, dengarkan aku... Dia memerasku! Rian memerasku, Gavin!"
Gavin membeku. Tangannya yang melayang di udara tertahan. "Memerasmu...?"
Naya mendongak dengan wajah yang sudah rusak oleh air mata keputusasaan. Bibirnya bergetar hebat. Inilah saatnya. Saat yang paling ia takuti sepanjang hidupnya. Dinding kebohongan yang ia bangun dengan susah payah di atas tumpukan dosa kini runtuh total, menimbun jiwanya yang telah hancur.
"Dia... dia memegang rahasia besarku, Gavin..." bisik Naya dengan suara yang nyaris kehilangan nada, begitu lirih namun bergema mengerikan di keheningan ruang tengah. "Rian mengancam akan menghancurkanmu... menghancurkan nama baik keluargamu... jika aku tidak memberikan uang dan menuruti kemauannya..."
Gavin menunduk, menatap istrinya dengan kening berkerut dalam. Kecemburuan gila yang tadinya membakar dadanya perlahan tersaput oleh kebingungan dan firasat buruk yang teramat pekat. "Rahasia apa...? Rahasia apa yang bisa membuatmu begitu ketakutan hingga kamu tidak berani mengadu padaku, suamimu sendiri?"
Naya memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa Mual dan rasa bersalah yang menggelegak di dalam dadanya selama bertahun-tahun kini mencapai puncaknya. Ia memegang dada kirinya yang terasa bagaikan ditusuk ribuan bilah sembilu.
"Rahasia tentang... siapa aku sebenarnya, Gavin..." bisik Naya. Air mata darah seolah mengalir dari lubuk hatinya. "Aku... aku bukan wanita seiman yang dicintai oleh keluargamu. Aku bukan Naya yang suci seperti yang diceritakan di depan altar gerejamu..."
Suasana di ruangan itu seketika menjadi begitu hening. Bahkan denting jam dinding seolah mati.
Naya memberanikan diri membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Gavin yang terpaku kaku. "Aku adalah seorang wanita Muslimah, Gavin... Nama asliku adalah Naya Farasya. Aku... aku memalsukan seluruh Kartu Keluarga, pasfoto berhijabku, dan dokumen kependudukanku demi bisa menikahimu... Demi bisa bersamamu dan keluar dari trauma masa laluku..."
Brak.
Gavin melangkah mundur satu langkah, membuat genggaman tangan Naya di kakinya terlepas. Wajah Gavin seketika berubah pucat pasi, warna kulitnya meluruh bagaikan kertas kotor. Matanya membelalak tak percaya, menatap sosok wanita di depannya seolah-olah Naya adalah sesosok asing yang sama sekali tidak pernah ia kenal.
"Apa... apa yang kamu katakan...?" gumam Gavin gagap, suaranya bergetar hebat. "Kamu... bercanda, kan? Naya, ini tidak lucu... Kamu ikut berdoa bersamaku setiap malam... Kamu menghadiri ibadah bersama keluargaku... Ibu memujimu sebagai wanita yang taat... Kamu—"
"AKU BERPURA-PURA, GAVIN!" pekik Naya pecah, suaranya melengking pilu memenuhi ruangan. Ia terisak-isak hingga tubuhnya terguncang hebat di atas lantai. "Aku berpura-pura mencintai keyakinanmu! Aku memaksa diriku mencintai apa yang kamu cintai karena aku sangat mencintaimu dan aku takut kamu meninggalkan aku jika kamu tahu siapa aku sebenarnya!"
Naya merangkak mendekati Gavin, menyembah di depan sepatu suaminya. "Setiap kali kita berdoa bersama keluarga besarmu... jiwaku menjerit memohon ampun pada Allah! Setiap kali ibumu memuji kesucianku, dadaku terasa dihantam batu tebal! Aku menyembunyikan mukenaku di balik tas... aku menyembunyikan imanku di balik selapis kebohongan ini hanya karena aku ingin menjadi milikmu, Gavin! Hanya karena aku ingin dicintai oleh pria sebaik kamu setelah jiwaku dihancurkan oleh Rian!"
Gavin mematung. Kata-kata Naya masuk merusak setiap sudut kesadarannya. Cinta obsesifnya yang murni, pemujaannya yang begitu tinggi terhadap kesucian dan kejujuran Naya, serta keyakinan teguh yang selama ini ia pegang runtuh berantakan menjadi debu yang tak berharga.
Pria itu memegangi kepalanya dengan kedua tangan, meraung pelan dalam kepedihan yang tiada tara. "Jadi... selama ini... rumah tangga kita dibangun di atas penipuan? Pernikahan yang kuanggap sakral di hadapan Tuhanku... ternyata hanyalah sebuah sandiwara?!"
"Maafkan aku, Gavin... Maafkan aku..." tangis Naya meraung-raung, meremas jemarinya sendiri hingga memerah. "Hukum aku, Gavin! Benci aku! Tapi aku mohon... jangan menatapku seperti itu... Aku mencintaimu... demi Allah, aku sungguh-sungguh mencintaimu..."
"JANGAN SEBUT NAMA ITU DI DEPANKU!" bentak Gavin tiba-tiba, matanya menyala kembali oleh gabungan amarah dan kegilaan batin yang dahsyat.Ia membungkuk, mencengkeram kedua lengan atas Naya dan memaksa wanita itu berdiri tegak berhadapan dengannya.
Napas Gavin berburu kasar, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Naya yang basah oleh air mata. "Kamu membohongiku tentang siapa dirimu... Kamu mempermainkan keyakinanku, kamu mempermainkan keluargaku! Dan kamu membiarkan pria bajingan itu memerasmu dan tertawa di atas kepalsuan rumah tangga kita?!"
"Rian mengancam akan menyebarkan dokumen pemalsuan itu ke keluargamu jika aku tidak menceraikanmu dalam tiga hari, Gavin!" jerit Naya jujur, membuka seluruh kartu yang tersisa. "Dia ingin menghancurkan kariermu! Dia ingin kamu menderita!"
Gavin tertawa—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Naya berdiri. Sorot mata Gavin perlahan berubah dari rasa sakit menjadi kegelapan obsesi yang amat pekat. Penolakan, kebohongan, dan ancaman dari Rian bukannya membuat Gavin melepaskan Naya, melainkan membakar sisi tergelap dari jiwa protektifnya.
"Menceraikanku...?" bisik Gavin dingin, jemarinya meremas bahu Naya semakin kuat. "Rian pikir dia bisa merebutmu dariku hanya dengan selembar kertas pemalsuan itu?"
"Gavin...?" Naya menatap suaminya ketakutan.
"Kamu adalah milikku, Naya Farasya," ujar Gavin dengan nada suara yang begitu dalam, mantap, dan mengerikan. "Mau kamu seorang Muslimah, mau kamu memalsukan seluruh isi dunia ini... kamu sudah mengucapkan janji di hadapanku. Kamu adalah istriku. Mati atau hidup, jiwa dan ragamu adalah milik Gavin Ardiansyah!"
Gavin mencengkeram pergelangan tangan Naya dan menyeretnya perlahan menuju tangga lantai atas. Naya tersentak dan mencoba menahan langkahnya, namun tenaga Gavin jauh melampauinya.
"Gavin! Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku, Gavin!" teriak Naya panik, berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang mulai memerah.
"Aku menyelamatkanmu dari dirimu sendiri, Naya!" balas Gavin tanpa menoleh, terus menarik Naya menaiki anak tangga satu per satu. "Kamu takut pada Rian? Kamu takut pada ancamannya? Mulai hari ini, kamu tidak akan pernah bertemu dengan Rian lagi. Kamu tidak akan pernah melangkah keluar dari rumah ini lagi!"
Gavin membawa Naya masuk ke dalam kamar utama mereka yang luas. Dengan satu dorongan kuat yang terukur, Gavin mendudukkan Naya di atas ranjang king size yang empuk. Naya mencoba bangkit, namun Gavin telah berdiri di ambang pintu, merogoh kunci otomatis dari sakunya.
"Gavin, tolong! Jangan lakukan ini! Bicara baik-baik, Gavin!" pangkas Naya, berlari menuju pintu saat melihat Gavin melangkah mundur keluar ruangan.
"Aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri, Naya," kata Gavin dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa cinta yang terdistorsi oleh keputusasaan mendalam. "Tapi karena kebohonganmu... kamu membuatku harus menguncimu di sini. Di dalam sangkar emas ini. Tempat di mana tidak ada Rian, tidak ada media, dan tidak ada orang luar yang bisa menyentuhmu atau merebutmu dariku."
Klik.
Pintu kayu tebal itu tertutup rapat dan terkunci dari luar.
"GAVIN! BUKA PINTUNYA, GAVIN! TOLONG MAAFKAN AKU!" jerit Naya histeris. Ia memukul-mukul daun pintu kayu tebal itu dengan kedua telapak tangannya hingga memerah dan terasa panas. "GAVIN! AKU MOHON!"
Di luar kamar, Gavin menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang tertutup rapat. Ia mendengar isakan dan gedoran tangan istrinya dari dalam. Air mata Gavin menetes perlahan membasahi pipinya. Ia memejamkan mata, merogoh ponselnya, lalu menekan sebuah nomor dengan jemari yang berdarah akibat luka duri mawar tadi.
"Halo, Pak Gavin?" suara asisten pribadinya terdengar di ujung telepon.
"Rian," kata Gavin, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan tanpa ampun, memotong seluruh kehangatan manusianya. "Aktifkan seluruh tim hukum terbaik Ardiansyah Group. Cari seluruh cela pidana, kasus korupsi, atau pelanggaran hukum sekecil apa pun yang pernah dilakukan oleh Rian dalam lima tahun terakhir. Hancurkan bisnisnya, cabut seluruh asetnya, dan pastikan pria itu membusuk di dalam penjara sebelum akhir minggu ini."
"Baik, Pak. Apakah ada instruksi lain?"
"Pastikan dia tidak pernah bisa mendekati istriku lagi... atau menyentuh media mana pun," tambah Gavin dingin sebelum mematikan sambungan telepon.
Gavin memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia membalikkan badan, menempelkan dahinya ke daun pintu kayu tempat Naya masih menangis meratapi nasibnya di dalam sana.
"Maafkan aku, Naya..." bisik Gavin penuh penyesalan yang membakar. "Aku harus mengubah takdir kita dengan caraku sendiri. Jika dunia harus membenciku karena menguncimu... maka biarkan aku menjadi penjahat dalam kisahmu, asalkan kamu tetap menjadi milikku."
Di dalam kamar yang temaram, Naya akhirnya merosot terduduk di balik pintu. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit fisik di tangannya akibat memukul pintu tak sebanding dengan kehampaan yang meremukkan dadanya. Sangkar emas yang dulu ia puja sebagai tempat perlindungan dari masa lalu yang kelam, kini resmi menjadi penjara nyata bagi jiwa dan imannya.
Malam merayap makin pekat di atas langit Jakarta. Di balik selapis kaca jendela kamar utama yang mengarah ke langit malam, Naya merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan. Tanpa mukena, tanpa sajadah, hanya berbalutkan gaun krem yang kumal oleh air mata, wanita muda itu bersujud di atas karpet dingin.
"Ya Allah..." bisik Naya dalam sujudnya yang paling panjang dan pilu, air matanya menetes meresap ke dalam benang karpet mahal milik suaminya. "Hamba telah mengubur identitas hamba... Hamba telah membohongi pria yang mencintai hamba... Dan kini hamba dikurung dalam dosa yang hamba ciptakan sendiri... Ampunilah hamba... Selamatkanlah jiwa hamba yang kian terbelah ini..."
Di luar, angin malam berhembus kencang menerpa pepohonan di halaman rumah mewah itu. Rahasia besar memang telah terkuak di antara suami istri tersebut, namun benang-benang obsesi, dendam, dan ancaman Rian masih membentang panjang di kegelapan. Badai belum usai—ia baru saja menguji sejauh mana cinta yang terdistorsi dapat bertahan sebelum akhirnya menghancurkan semua orang di dalamnya.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘