NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Keindahan dalam Ketidaksempurnaan

Ketika wawancara berakhir, Zinnia mengucapkan terima kasih melalui ponselnya sebelum meninggalkan ruangan. Langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan saat ia datang.

Ia belum mendapatkan pekerjaan itu. Namun setelah sekian lama, ada orang yang melihat dirinya bukan hanya sebagai seseorang yang kesulitan berbicara, melainkan sebagai calon desainer dengan sesuatu yang layak dikembangkan.

Di dalam ruang wawancara, Mira membuka kembali berkas Zinnia. “Menurut Anda, gimana?”

Pak Damar mengetukkan telunjuknya pada salah satu desain terbaru. “Dia belum matang. Namun, cara dia nyusun bentuk gak saya temukan pada semua pelamar.”

“Jadi, kita lanjut ke tes desain?” tanya Mira.

“Ya. Saya mau lihat gimana caranya bekerja ketika diberi batasan dan arahan.”

Mira mencatat keputusan tersebut.

Sementara itu, di ujung meja, Nita yang sejak tadi ikut meninjau portofolio Zinnia tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya tertahan pada desain cincin bercabang yang dibuat Zinnia.

Karyanya sendiri telah menjadi wajah koleksi perusahaan selama beberapa tahun terakhir. Ia terbiasa menerima pujian, memimpin pengembangan koleksi, dan menjadi orang pertama yang dimintai pendapat oleh direksi.

Namun, desain Zinnia memiliki pendekatan yang berbeda. Bukan lebih baik dalam segala hal. Bukan pula sesuatu yang belum pernah ada di dunia perhiasan. Akan tetapi, gagasan itu cukup segar untuk menarik perhatian orang yang tepat.

“Anak itu masih perlu banyak belajar,” katanya akhirnya.

Pak Damar mengangguk. “Tentu. Karena itu dia melamar sebagai asisten.”

Desainer utama itu menutup map.

“Semoga dia bisa mengikuti ritme kerja di sini.”

Ucapannya terdengar biasa saja. Namun, sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat melirik sekali lagi pada nama yang tercetak di halaman depan portofolio.

Zinnia Arunika.

Ia tidak tahu apakah perempuan itu kelak akan menjadi aset berharga bagi perusahaan atau justru seseorang yang mengusik posisinya.

Yang jelas, ia tidak ingin orang baru itu mendapatkan perhatian lebih besar darinya.

***

Ponsel Zinnia bergetar ketika ia sedang membantu Riri melipat pakaian.

Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia segera menjawab panggilan tersebut menggunakan aplikasi komunikasi yang biasa dipakainya.

“Selamat siang, apakah benar ini Zinnia Arunika?”

Zinnia mengangguk refleks, kemudian mengetik jawabannya.

“Ya, benar. Saya Zinnia.”

Suara buatan dari ponselnya terdengar melalui mikrofon.

“Kami dari bagian rekrutmen. Berdasarkan hasil wawancara sebelumnya, kami ingin mengundang Anda untuk mengikuti tes desain sebagai tahap seleksi berikutnya. Apa Anda bersedia hadir lusa pukul sembilan pagi?”

Mata Zinnia langsung berbinar. Ia buru-buru mengetik jawaban.

“Ya, saya bersedia. Terima kasih banyak atas kesempatannya.”

“Baik. Kami akan mengirimkan informasi lengkap melalui surel. Mohon hadir tepat waktu dan membawa perlengkapan desain yang diperlukan.”

Setelah panggilan berakhir, Zinnia masih menatap layar ponselnya selama beberapa detik.

“Gimana?” Riri yang sejak tadi memerhatikannya akhirnya bertanya.

Zinnia menoleh. Ia mengangkat kedua tangannya, menyampaikan kabar itu melalui bahasa isyarat dengan gerakan cepat.

Aku dipanggil untuk tes desain. Lusa!

Riri membeku sesaat sebelum tersenyum lebar. “Benarkah? Ya ampun, Nak!”

Ia mendekat dan menggenggam kedua tangan putrinya. “Berarti mereka tertarik sama hasil desainmu. Kamu harus mempersiapkan diri baik-baik, ya.”

Zinnia mengangguk antusias.

Riri tertawa kecil melihat perubahan wajah putrinya. Sejak kejadian di resort, ia sudah lama tidak melihat Zinnia sebersemangat ini. Putrinya memang masih menyimpan kesedihan yang tidak mudah hilang, tetapi setidaknya sekarang ada sesuatu yang membuatnya ingin melangkah maju.

“Kamu dulu selalu cerita pengen punya kesempatan kerja jadi desainer perhiasan. Sekarang kesempatan itu datang. Jangan sia-siakan, ya.”

Zinnia menggeleng cepat, kemudian memberi isyarat bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin.

Riri mengusap pipinya. “Ibu bangga sama kamu. Apa pun hasilnya nanti, kamu udah berani nyoba.”

Zinnia memeluk ibunya erat.

Namun, setelah melepaskan pelukan, ia langsung bergegas membuka kembali seluruh portofolionya.

Ia tidak ingin datang ke tes itu hanya dengan harapan. Ia ingin membawa persiapan terbaik yang bisa dilakukannya.

***

Dua hari kemudian, Zinnia tiba di gedung perusahaan sebelum pukul sembilan pagi.

Ia mengenakan blus berwarna krem dan celana bahan hitam. Rambutnya diikat rapi, sementara tas berisi perlengkapan desain tergantung di bahunya.

Setelah melapor kepada resepsionis, ia diarahkan menuju ruang tes di lantai yang sama dengan ruang wawancara sebelumnya.

Mira sudah menunggunya di depan pintu. “Selamat pagi, Zinnia. Silakan masuk.”

Zinnia membungkuk sopan.

“Perlengkapannya sudah dibawa semua?” tanya Mira.

Zinnia mengangguk, lalu menunjukkan tasnya.

“Bagus. Hari ini ada tiga orang yang akan mendampingi proses tes. Saya, Pak Damar, dan Bu Nita.”

Zinnia sempat terdiam ketika mendengar nama terakhir itu. Ia masih ingat perempuan yang duduk di ujung meja saat wawancara.

Mira membuka pintu.

Di dalam ruangan terdapat beberapa meja kerja, kertas gambar, pensil, penggaris, alat ukur, serta contoh bahan yang tersusun dalam wadah kecil. Pak Damar berdiri di dekat salah satu meja sambil memeriksa dokumen. Nita duduk di seberang meja dengan sebuah tablet di tangannya.

“Selamat pagi,” sapa Pak Damar.

Zinnia membalas dengan anggukan dan senyum.

Nita meletakkan tabletnya. “Silakan duduk. Kita akan mulai setelah semua instruksi dijelaskan.”

Zinnia mengambil tempat di meja yang telah disiapkan.

Pak Damar meletakkan selembar kertas di hadapannya. “Tes hari ini bukan cuma menggambar perhiasan yang terlihat menarik. Kami mau lihat gimana Anda menerjemahkan sebuah konsep jadi desain yang bisa dikembangkan jadi produk.”

Ia menunjuk lembar instruksi.

“Tema yang kami beri adalah keindahan dalam ketidaksempurnaan. Anda bebas milih jenis perhiasan, tapi harus menjelaskan konsep, target pengguna, bahan yang disarankan, dan alasan di balik bentuk yang Anda pilih.”

Nita menyilangkan tangan. “Waktu pengerjaan dua jam. Anda boleh membuat beberapa sketsa awal, tapi pada akhir tes, Anda harus menyerahkan satu desain utama beserta penjelasannya.”

Zinnia mendengarkan instruksi tersebut dengan saksama.

“Apakah ada pertanyaan?” tanya Mira.

Zinnia menggeleng.

“Baik. Silakan mulai.”

 

Zinnia tidak langsung menggambar. Ia membaca kembali tema yang diberikan, lalu menuliskan beberapa kata di sudut kertas: retak, tumbuh, tidak simetris, keseimbangan.

Tatapannya terhenti pada kata retak.

Tanpa sadar, ia teringat kehidupannya sendiri. Ada hal-hal yang berubah dalam dirinya sejak malam di resort itu. Sesuatu yang tidak pernah ia inginkan, sesuatu yang belum sanggup ia ceritakan kepada banyak orang.

Namun, hidupnya tidak berhenti di sana. Ia masih berusaha bangkit, menyelesaikan apa yang harus dihadapinya, dan mengejar cita-cita yang sempat terasa jauh.

Mungkin, ketidaksempurnaan tidak selalu harus disembunyikan. Mungkin, sesuatu yang pernah retak masih bisa memiliki bentuk yang indah, meskipun tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Zinnia menarik napas, lalu mulai menggerakkan pensilnya.

Pak Damar yang memerhatikannya dari kejauhan tidak menyela.

Zinnia mulai membuat beberapa sketsa kecil. Dua di antaranya ia coret setelah mengamati bentuknya. Sketsa ketiga berupa liontin dengan susunan garis yang menyerupai cabang pohon, tetapi masih tampak terlalu kaku.

Ia mengubah sudut lengkungnya. Kemudian, ia menggambar sebuah cincin dengan dua sisi berbeda. Satu sisi memiliki garis yang lebih tegas, sedangkan sisi lainnya melengkung lembut. Di antara keduanya terdapat celah kecil yang sengaja dibiarkan terbuka.

Zinnia berhenti sejenak, menatap gambar itu, lalu menambahkan detail pada bagian tengah.

Nita memerhatikan dari tempat duduknya. Perempuan itu sudah melihat banyak pelamar menggambar bunga, daun, atau bentuk alam untuk menjawab tema serupa. Sebagian besar menghasilkan desain cantik, tetapi terlalu umum. Ia ingin melihat apakah Zinnia mampu menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar bentuk menarik.

.

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua yang indah harus sempurna, dan tidak semua yang berbeda berarti kurang berharga. Terkadang, justru bagian yang dianggap tidak sempurna menyimpan keunikan yang tidak dimiliki orang lain."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Puji Hastuti
ealah belum apa² dah salah paham,
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia belum menemukan orang yang dia cari setelah malam itu dan bagaimana nasibnya ke depan yah,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!