Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Penangkapan Ethan Hale
Begitu nama itu terdengar, tubuh Ethan menegang.
Reaksi kecil tersebut tidak luput dari perhatian Lyssandra.
Jadi, pria ini memang mengetahui apa yang sedang dilakukannya.
"Kamu sudah cukup membuat masalah dalam hidupmu sendiri," lanjut Lyssandra. "Namun, kamu masih ingin menyeret orang lain ke dalam kehancuranmu. Apa kamu benar-benar mengira tidak akan ada akibatnya?"
Ethan menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan!"
Lyssandra menghantam perutnya.
Ethan langsung membungkuk sambil mengerang. Ia mencoba memegangi tangan Lyssandra, tetapi perempuan itu mendorongnya hingga punggungnya membentur sisi bak mandi.
"Jangan pernah menyentuh Nara Aeris."
Setiap kata diucapkan dengan tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat ancamannya terasa lebih mengerikan.
"Kalau kamu masih mencoba menyakitinya, aku akan memastikan kamu menyesali keputusan itu."
"Aku tidak akan melakukan apa-apa!" Ethan buru-buru menjawab. "Aku bersumpah!"
"Kamu sudah kehilangan kesempatan untuk membuatku percaya."
Lyssandra menariknya berdiri, kemudian mendorongnya ke dalam bak mandi yang telah terisi air. Tubuh Ethan jatuh dengan keras, membuat air memercik ke sekeliling.
Ethan berusaha bangkit, tetapi Lyssandra segera menekannya kembali. Kepalanya dipaksa masuk ke dalam air sebelum ia sempat menarik napas dengan baik.
Kepanikan langsung menguasainya.
Ia meronta sekuat tenaga, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman yang menahannya. Ketika Lyssandra akhirnya menariknya kembali, Ethan terbatuk-batuk hebat dan berusaha menghirup udara.
Ia bahkan tidak sempat menyusun kata-kata.
Lyssandra memberinya waktu beberapa saat, cukup untuk membuatnya sadar bahwa perempuan itu sepenuhnya mengendalikan keadaan. Kemudian, ketika Ethan mencoba merangkak keluar dari bak mandi, ia kembali menahannya.
"Jangan—" Ethan terbatuk. "Tolong, jangan!"
Lyssandra menatapnya dengan dingin.
"Seharusnya kamu memikirkan hal itu sebelum memutuskan untuk menyakiti orang lain."
Kepalanya kembali ditekan ke dalam air.
Ethan meronta, panik, dan kehilangan arah. Untuk sesaat, ia benar-benar merasa bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir dalam hidupnya.
Ketika akhirnya dilepaskan, ia langsung terbatuk keras sambil mencengkeram tepian bak mandi. Tubuhnya gemetar, pakaiannya basah kuyup, dan seluruh keberaniannya seolah menguap begitu saja.
Lyssandra membiarkannya terengah-engah.
Ia tidak datang untuk menghabisi Ethan. Kematian terlalu mudah bagi pria seperti itu. Ethan harus hidup dan menghadapi akibat dari perbuatannya sendiri.
Namun, sebelum pergi, Lyssandra masih memiliki satu hal yang perlu dipastikan.
Ia mencengkeram rambut Ethan, memaksanya menatap ke arahnya.
"Masukkan ini ke dalam kepalamu. Nara Aeris bukan orang yang bisa kamu jadikan sasaran untuk melampiaskan kekesalanmu."
Ethan mengangguk berkali-kali.
"Aku mengerti! Aku tidak akan menyentuhnya lagi!"
"Bagus."
Lyssandra melepaskan cengkeramannya, lalu mendorong Ethan menjauh. Pria itu terjatuh kembali ke dalam bak mandi, terlalu lemah untuk segera bangkit.
Perempuan itu berdiri di hadapannya selama beberapa detik.
Tidak ada belas kasihan dalam tatapannya, tetapi ia juga tidak berniat melanjutkan penyiksaan itu tanpa tujuan.
Peringatan telah disampaikan.
Sekarang, Ethan tinggal menanggung akibat dari keserakahannya sendiri.
Ketika Lyssandra keluar dari kamar mandi, Darian sudah berdiri di dekat meja kerja.
"Sudah selesai?" tanyanya pelan.
Lyssandra mengangguk. "Bagaimana?"
"Informasi keuangannya sudah diperiksa. Aku menemukan bukti yang berkaitan dengan penggelapan dana Lydia Ardent, termasuk tiga puluh miliar Lyr. Informasi mengenai rencananya terhadap Nara juga sudah diamankan."
"Bagus."
Darian melirik ke arah pintu kamar mandi. "Dia masih hidup?"
"Sayangnya, iya."
Jawaban datar itu membuat Darian mengangkat sebelah alis, tetapi ia tidak berkomentar. Ia sudah mengenal Lyssandra cukup lama untuk mengetahui bahwa perempuan itu tidak akan membuang waktu melakukan sesuatu tanpa alasan.
"Kalau begitu, kita pergi."
Lyssandra mengangguk.
Sebelum meninggalkan kamar, keduanya memeriksa kembali keadaan sekitar. Tidak ada benda yang sengaja dibawa keluar selain barang yang memang menjadi bagian dari pekerjaan mereka, dan tidak ada alasan untuk meninggalkan pesan tambahan bagi Ethan.
Mereka juga memastikan perangkat milik Ethan tetap berada di tempat semula.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar hotel terbuka perlahan.
Dua sosok berpakaian hitam itu keluar, lalu menghilang di balik lorong yang sepi.
Pintu kembali tertutup.
Kamar hotel itu kembali sunyi.
Hanya suara air yang bergerak pelan di dalam bak mandi terdengar dari kamar mandi.
Entah berapa lama Ethan berada di sana sebelum akhirnya mengumpulkan cukup tenaga untuk bangkit.
Tubuhnya terasa sakit di berbagai bagian. Ia berpegangan pada tepian bak mandi, berusaha mengatur napas, kemudian memaksakan diri keluar.
Dengan langkah sempoyongan, ia meraih handuk dan mengeringkan wajahnya seadanya. Setelah itu, ia berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Keparat..."
Suara seraknya nyaris tidak terdengar.
Ia tidak tahu siapa kedua orang itu. Ia bahkan tidak sempat melihat wajah mereka dengan jelas. Namun, penghinaan dan ketakutan yang dirasakannya malam ini tidak akan mudah dilupakan.
Begitu keluar dari kamar mandi, Ethan segera menyalakan lampu.
Cahaya terang memenuhi ruangan.
Ia memeriksa pintu, jendela, lalu barang-barang di atas meja. Tidak ada sesuatu yang tampak mencurigakan. Laptopnya masih berada di tempat semula, begitu pula ponselnya.
Namun, ketenangan semu itu tidak bertahan lama.
Ethan meraih ponselnya dan memeriksa sejumlah rekening yang biasa digunakannya. Awalnya, ia mengira dirinya salah melihat. Ia mencoba memeriksa kembali, membuka informasi lain, lalu mengulang pemeriksaan dengan tangan yang semakin gemetar.
Beberapa dana yang seharusnya masih dapat diaksesnya kini tidak lagi tersedia.
Wajahnya berubah drastis.
"Tidak mungkin..."
Ia segera memeriksa catatan transaksi dan informasi aset yang berkaitan dengan rekening-rekening tersebut. Semakin banyak ia memeriksa, semakin jelas bahwa ia sedang menghadapi masalah besar.
Sebagian dana telah berpindah dari kendalinya.
Lebih buruk lagi, tiga puluh miliar Lyr yang berasal dari uang Lydia Ardent juga tidak lagi dapat ia akses.
Ethan membeku.
Uang itu merupakan salah satu rahasia terbesar yang selama ini berusaha ia lindungi. Jika Lydia mengetahui apa yang terjadi, ia tidak akan tinggal diam. Jika bukti penggelapan tersebut sampai ke pihak berwenang, masalahnya akan jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan uang.
"Siapa mereka sebenarnya?"
Ethan mencengkeram ponselnya kuat-kuat.
Kedua orang itu tidak meminta uang tebusan. Mereka juga tidak menuntut pengakuan. Perempuan yang menyiksanya hanya menyebut satu nama.
Nara Aeris.
Jantung Ethan berdegup semakin cepat.
Apakah semua ini berkaitan dengan rencananya terhadap perempuan itu?
Ia berusaha menenangkan diri, tetapi semakin ia memikirkannya, semakin sulit baginya untuk menyangkal kemungkinan tersebut. Seseorang telah mengetahui niatnya, datang langsung ke kamarnya, memberinya peringatan, lalu mengambil alih sejumlah dana yang selama ini ia kuasai.
Jika mereka juga memiliki bukti kejahatannya, ia benar-benar berada dalam bahaya.
Ethan segera meraih laptopnya dan memeriksa beberapa dokumen penting. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan pemeriksaan, suara ketukan terdengar dari pintu kamar.
Tok. Tok. Tok.
Ethan mengangkat kepala.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian, sebuah suara tegas terdengar dari luar.
"Polisi! Buka pintunya!"
Wajah Ethan langsung pucat.
Ia belum sempat bergerak ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka paksa. Sejumlah polisi berseragam langsung menyerbu masuk, memenuhi ruangan dalam hitungan detik.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!"
Ethan tersentak dan mundur hingga punggungnya membentur meja.
"Tunggu! Apa-apaan ini? Kalian salah orang!"
Namun, para polisi tidak menggubris protesnya. Dua petugas segera menghampiri Ethan, memutar kedua tangannya ke belakang, lalu memasangkan borgol.
"Andа, Ethan Hale, kami membawa Anda untuk pemeriksaan terkait dugaan penggelapan dana dan sejumlah tindak pidana lainnya."
"Apa?" Ethan meronta. "Penggelapan? Dana apa? Siapa yang melaporkan saya?"
"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor."
"Lepaskan saya! Kalian tidak punya hak menangkap saya begitu saja!"
Salah seorang polisi menahan gerakannya, sementara petugas lain mulai memeriksa kamar dan mengamankan barang-barang yang diperlukan sebagai barang bukti.
Ethan terus memprotes, tetapi tidak ada yang memberinya kesempatan untuk menghindar.
Ketika kedua tangannya diborgol dan tubuhnya digiring menuju pintu, pikirannya mendadak teringat pada dua sosok berpakaian hitam yang mendatanginya malam itu.
Mereka tidak membunuhnya.
Mereka juga tidak memberitahukan siapa diri mereka.
Namun, setelah kedatangan mereka, uangnya lenyap dan polisi muncul di depan pintunya.
Kebetulan?
Ethan tidak percaya itu kebetulan.
Sayangnya, ia bahkan tidak mengetahui nama orang-orang yang telah menyeretnya ke dalam situasi ini.
Malam itu, Ethan Hale dibawa keluar dari kamar hotel dengan tangan terborgol. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak memiliki uang, kekuasaan, ataupun jalan keluar yang bisa diandalkan.
Keserakahannya sendiri akhirnya membawanya ke titik ini.
Dan jauh dari hotel tersebut, dua sosok berpakaian hitam telah menghilang tanpa meninggalkan jejak yang mudah diikuti.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor