Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Tidak Apa-apa?
Setelah menaruh barang-barang, Ayara, Linda, Stevi, Clara, Maura, Adel dan Diana akhirnya berkumpul di depan tenda utama. Udara pegunungan yang dingin menusuk tulang membuat kepulan uap tipis keluar dari bibir setiap kali mereka berbicara.
"Wah, akhirnya bisa duduk juga setelah perjalanan panjang tadi," ucap Maura sambil meniup segelas teh hangat.
"Iya, gila sih jalur Argopuro ini. Kaki gue rasanya udah nggak kerasa lagi," timpal Adel sambil meringis pelan memijat betisnya.
Di tengah kehangatan obrolan mereka sambil menyantap makan malam sederhana berupa nasi hangat, sayur sup dan ikan goreng yang terasa begitu lezat di tengah udara dingin, langkah kaki bergemerisik terdengar dari arah jalur pendakian yang baru saja mereka lewati.
Beberapa sosok bayangan dengan sorot lampu headlamp tampak mendekat. Tak lama kemudian, rombongan Niko dan Althaf muncul di area perkemahan Cikasur. Rombongan mereka tampak mendirikan tenda tidak jauh dari kelompok Ayara, dengan jarak sekitar sepuluh meter.
Dengan gaya santainya, Niko sempat melirik ke arah kelompok Ayara dan melempar senyum ke arah Clara. Namun, Clara langsung membuang muka, pura-pura tidak melihat dan kembali fokus pada gelas teh di tangannya.
"Ehem, diliatin mantan nih ceritanya," goda Stevi.
"Apa sih, Vi. Nggak jelas," ucap Clara.
"Kok lo bisa pacaran sama cowok itu?" tanya Maura.
"Ish, gue pacarannya cuma setahun lebih. Dia orangnya aneh," ucap Clara pelan.
"Aneh kenapa?" tanya Adel.
"Pokoknya nggak jelas," ucap Clara.
"Tapi, kayaknya dia kecintaan banget sama lo," goda Maura.
"Gue sih nggak peduli ya," ucap Clara.
"Emang dia kerjanya apa?" tanya Diana.
"Dia punya usaha otomotif," jawab Clara.
Disisi lain, Niko yang tengah menikmati makan malam bersama teman-temannya pun tak henti-hentinya menatap ke arah tenda Clara.
"Woy, Ko! Mata lo keluar nanti kalau kelamaan melototin tenda sebelah," ledek Baim sambil melempar ranting kecil ke arah Niko.
Mike tertawa terbahak-bahak, "Tahu nih, dari tadi kerjanya cuma senyum-senyum sendiri. Kayak orang kesambet tunggu, sadar Bro, kalian kan udah putus!" ucap Johan.
Niko mendengus pelan, lalu menoleh ke arah teman-temannya dengan ekspresi kesal buat-buat. "Kalian nggak ngerti. Sial banget, takdir malah mempertemukan gue sama Clara lagi di jalur pendakian sepanjang ini. Padahal gue tadinya mau sekalian liburan buat refreshing kepala, eh malah ketemu mantan yang masih bikin penasaran."
"Penasaran atau belum bisa move on?" sahut Althaf tenang, ia duduk agak jauh dari api unggun sambil menyeruput kopi hitamnya. Pria itu menatap lurus ke arah bara api, tampak tidak terlalu ambil pusing dengan drama percintaan temannya.
"Bukan belum move on, Al. Tapi cara dia mutusin gue tuh nggak jelas banget. Tiba-tiba nge-block semua kontak, terus ngilang begitu aja," bela Niko sambil menegakkan posisi duduknya.
"Ya iyalah dia ngilang, orang lo-nya posesif banget waktu itu," timpal Baim telak.
Niko memutar bola matanya malas, namun dalam hatinya ia tahu ada benarnya juga, pertemuannya kembali dengan Clara seolah menjadi pertanda bahwa ia harus meluruskan semua kesalahpahaman antara dirinya dan juga Clara.
Malam semakin larut di kawasan perkemahan Cikasur, Gunung Argopuro. Suhu udara kian merosot, membuat embun malam mulai membasahi permukaan luar tenda. Di dalam tenda, Ayara terbangun karena tenggorokannya terasa sangat kering, ia meraba-raba sisi matras tempatnya meletakkan botol air minum, namun botol tersebut sudah kosong tak tersisa.
Ayara melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Teman-temannya sudah terlelap pulas dalam kantong tidur masing-masing, kelelahan setelah seharian mendaki jalur yang panjang.
Tidak ingin membangunkan siapa pun, Ayara perlahan keluar dari tenda. Ia membawa botol kosongnya, berniat menuju sumber mata air yang tidak jauh dari area perkemahan, hanya berjarak sekitar lima puluh meter menyusuri jalan setapak di dekat aliran sungai kecil.
Dengan hanya berbekal senter kecil di ponselnya, Ayara berjalan hati-hati di tengah kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya bulan sabit dan bintang-bintang di langit terbuka. Suara desir angin yang bergesekan dengan rerumputan sabana dan gemercik air sungai menciptakan suasana sunyi yang magis.
Tak lama kemudian, Ayara tiba di area mata air. Aliran air yang jernih mengalir dari celah bebatuan kecil. Ayara segera berjongkok, membuka tutup botolnya dan mengisinya hingga penuh, kesegaran air pegunungan itu langsung tercium begitu botol terisi penuh.
Setelah selesai, Ayara menutup botolnya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan malam di alam bebas yang jauh dari bisingnya deru mesin pabrik dan hiruk-pikuk kota.
Namun, saat Ayara berbalik badan untuk kembali menuju tenda, langkahnya langsung terhenti oleh sebuah bayangan gelap di hadapannya.
Brugh!
Kepala Ayara membentur sesuatu yang keras dan padat, seperti menghantam dinding kokoh. "Aduh!" gerutu Ayara pelan sambil meringis dan reflek memegang jidatnya yang terasa cenat-cenut akibat benturan tersebut.
Karena tidak seimbang, Ayara terhuyung ke belakang. Namun, sepasang tangan kekar dengan cepat mencengkeram kedua bahunya, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke atas bebatuan.
Ayara mendongakkan kepalanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya senter yang menyorot ke atas. Di hadapannya, seorang pria tengah menatapnya dengan sorot mata teduh namun terkejut, itu adalah Althaf.
"Maaf... kamu tidak apa-apa?" suara bariton Althaf terdengar rendah, memecah keheningan malam di dekat aliran mata air tersebut.
Ayara buru-buru melepaskan diri dari pegangan Althaf, lalu merapikan jaketnya dengan canggung sembari mengusap pelan jidatnya yang masih terasa sedikit nyeri.
"I-iya, saya tidak apa-apa. Maaf, saya tidak melihat kalau ada orang di depan," ucap Ayara buru-buru, merasa tidak enak karena sudah menabrak pria itu.
Althaf menurunkan tangannya, pandangannya tetap lekat menatap Ayara dengan tenang. "Seharusnya saya yang minta maaf karena berdiri terlalu dekat, jalan malam sendirian?" tanyanya sekadar memastikan, melihat sekeliling yang sepi.
"Iya, tadi air minum saya habis di tenda. Jadi saya ambil air ke sini sebentar," jawab Ayara jujur, mempertahankan jarak sopan.
Althaf mengangguk pelan. Pria itu memegang termos kecil di tangannya, rupanya ia juga berniat mengisi air. Suasana di antara mereka mendadak hening sejenak, hanya ditemani suara aliran air sungai dan angin malam yang mendesir pelan.
"Kamu... temannya Clara, kan?" tanya Althaf tiba-tiba, memecah keheningan. Ayara sedikit terkejut, namun mengangguk.
"Althaf," sebut pria itu memperkenalkan diri singkat.
"Hah?" tanya Ayara.
"Nama saya Althaf, saya temannya Niko, mantannya Clara," ucap Althaf seolah menjelaskan.
Mendengar nama Niko disebut, Ayara langsung teringat kejadian siang tadi di jalur pendakian. Althaf sepertinya menangkap perubahan ekspresi di wajah Ayara, lantas tersenyum tipis.
"Jangan khawatir, Niko tidak ada niat buruk tadi siang. Hanya saja, sikap dia tadi memang kekanak-kanakan," ujar Althaf.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita