NovelToon NovelToon
Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Blood Reign: Queen Bangkit Dari Abu Orangtuanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Nina1708

Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Boneka Di Rumah Musuh

Happy Reading

❤❤❤❤❤❤

Setelah makan malam, tuan Herman mengajak Queen ke ruang kerja nya. Ruang kerja yang dulu adalah ruang kerja ayah nya, tuan Steven Allesandro.

"Queen, Paman mau tunjukkan sesuatu," kata tuan Herman sambil membuka brankas rahasia di balik lukisan. Di dalam nya ada sebuah kotak beludru hitam.

Tuan Herman membuka kotak nya. Di dalam nya ada sebuah liontin berbentuk bulan sabit yang sama persis dengan yang di pakai ibu Queen malam itu dia mati. Darah Queen berdesir.

DEG///

Itu liontin ibu nya. Yang hilang malam kebakaran. Yang seharusnya terbakar bersama ibu nya.

"Ini... ini punya Mommy," bisik Queen, suara nya gemetar.

Tuan Herman tersenyum sedih lebih tepat nya sok sedih. "Paman menemukan nya di rumah tuan Ricardo minggu lalu. Paman simpan untuk kau. Sebagai bukti kalau tuan Ricardo memang monster yang membunuh kakak ku dan istri nya." Ucap Tuan Herman.

Queen mengambil liontin itu. Tangan nya dingin. Tapi di dalam hati nya dia berteriak: _BOHONG! Kalau kau menemukan nya di rumah tuan Ricardo, kenapa ada goresan baru di rantai nya? Goresan ini baru! Ini kau yang pakai beberapa hari lalu!!

Tuan Herman tidak tahu, kalau Queen mengenali liontin itu karena ada ukiran kecil di belakang nya: _Untuk Amanda, dari Steven. 14.02._

Dan ukiran itu, sekarang sudah agak terhapus karena di pakai setiap hari. Artinya, orang yang memakai liontin ini akhir-akhir ini adalah tuan Herman sendiri. Atau seseorang yang dekat dengan nya seperti bibi nya.

Tuan Herman meletakkan tangan nya di bahu Queen. "Queen, Paman mau kau tetap tinggal di sini. Tinggal bersama Paman. Biar Paman yang lindungi kau. Dunia luar itu berbahaya untuk anak perempuan seperti mu, kau gak perlu ngekos lagi... Untuk masalah Clara yang selalu usil sama kamu biar paman yang urus. " Ucap tuan Herman.

Queen menatap mata Tuan Herman. Mata yang sama seperti ayah nya, tapi dingin dan penuh ambisi.

Queen tersenyum, senyum paling manis yang pernah dia latih selama beberapa tahun. "Baik, Paman. Aku mau tinggal di sini lagi. Biar aku bisa lebih dekat dengan Paman. Dan lebih dekat untuk menjaga warisan Ayah." Jawab Queen.

Tuan Herman tertawa puas. Dia mengira Queen sudah jatuh ke dalam perangkap nya. Dia tidak tahu, Queen baru saja masuk ke sarang ular untuk memenggal kepala nya dari dalam.

Saat Queen keluar dari ruang kerja tuan Herman, dia melihat Marco menunggu nya di koridor.

Marco berbisik, "Nona, CCTV di koridor ini... semua nya mengarah ke kita. Tuan Herman merekam semua tamu nya."

Queen mengangguk dan berbisik balik, "Bagus. Biarkan dia merekam. Karena mulai malam ini, aku akan jadi aktris terbaik yang pernah dia lihat." Jawab Queen.

Di dalam genggaman Queen, liontin ibu nya itu dia remas sampai telapak tangan nya berdarah.

Dia menatap ke arah kamar tidur tuan Herman di ujung koridor. "Paman, selamat tidur," bisik Queen. "Mimpi indah. Karena ini akan jadi malam terakhir Paman tidur dengan tenang." Lanjut Queen.

****

Koper hitam Queen hanya berisi dua barang berharga, pistol kecil berperedam yang di berikan Marco dan liontin bulan sabit milik ibu nya yang semalam dia bawa pulang dari ruang kerja tuan Herman.

Sisa nya, pakaian, sepatu, buku, semua sudah di siapkan oleh pelayan Tuan Herman. Seolah tuan Herman sudah tahu persis ukuran badan Queen, warna favorit nya, bahkan parfum yang biasa di pakai mendiang Nyonya Amanda.

"Selamat datang di rumah mu, Nona Queen," Kata Ibu Rita, kepala pelayan tua yang sudah bekerja di keluarga Alessandro sejak Queen masih kecil. Mata nya berkaca kaca saat melihat Queen berdiri di depan tangga utama.

Queen tersenyum sopan. " Terima kasih, Ibu. Rosa. Aku senang bisa kembali ke rumah ini." Sahut Queen.

Rumah ini. Vila megah bergaya Mediterania di bukit pinggir kota itu dulu adalah rumah masa kecil Queen. Dulu, setiap sudut nya penuh tawa. Sekarang, setiap sudut nya di awasi kamera CCTV kecil yang di pasang di sudut langit langit, di balik vas bunga, di balik bingkai lukisan.

Queen tahu itu. Karena Marco sudah memberitahu nya semalam. "Setiap kamar punya dua kamera, Nona. Satu yang terlihat, satu yang tersembunyi. Herman merekam semua orang." Jelas Marco.

"Kalau begitu, mulai sekarang aku tidak akan pernah menunjukkan wajah asli ku di sini," bisik Queen saat itu.

Kamar yang di siapkan tuan Herman untuk Queen bukan kamar bekas nya dulu. Bukan juga kamar tamu biasa. Tuan Herman menyiapkan kamar di lantai dua, tepat di sebelah kamar kerja nya. Kamar yang dulu adalah kamar tidur mendiang Nyonya Amanda dan tuan Steven.

"Nona, ini kamar Anda," kata Ibu Rita sambil membuka pintu kayu besar berukir bunga mawar. Queen terdiam di ambang pintu.

Kamar itu persis sama seperti yang dia ingat 15 tahun lalu. Tempat tidur besar berkanopi putih, meja rias di dekat jendela, balkon yang menghadap taman mawar, dan di dinding masih tergantung foto pernikahan mendiang orang tua nya.

"Nona? Anda baik baik saja?" tanya Ibu Rita khawatir.

Queen mengangguk, tapi kaki nya terasa berat untuk melangkah masuk. Ini kamar tempat ibu nya terakhir kali menggendong nya dan berkata, "Tunggu Mama di lorong ya, sayang. Mama dan Papa akan kembali."

"Kenapa... kenapa Paman menyiapkan kamar ini untuk ku?" tanya Queen, suara nya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang dia tahan.

Ibu Rita menghela napas. "Tuan Herman yang memerintahkan. Kata nya, ini kamar yang paling nyaman dan paling aman. Dan... kata nya, Tuan Herman ingin Nona merasa dekat dengan orangtua Nona." Jawab Ibu Rita.

Queen hampir tertawa mendengar kata kata itu. ' Dekat? Atau dia ingin mengawasi setiap gerak gerik ku dari kamar sebelah? '

Karena dia tahu, dinding antara kamar ini dan kamar kerja tuan Herman itu tipis. Dan dia yakin di dinding itu ada lubang intip.

 Malam pertama di rumah tuan Herman, Queen tidak tidur. Dia berbaring di tempat tidur ibu nya, menatap langit langit, mendengarkan setiap suara. Jam 2 pagi, dia mendengar suara langkah kaki di koridor. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar nya. Pintu itu terbuka perlahan. Queen pura pura tidur, napas nya teratur.

Pintu terbuka sedikit. Cahaya lorong masuk. Sosok tinggi itu berdiri di ambang pintu selama hampir satu menit, menatap Queen yang terbaring. Itu tuan Herman.

Setelah puas menatap, tuan Herman berbisik, "Selamat datang kembali, Amanda," lalu menutup pintu dan pergi.

Jantung Queen berdegup kencang. ' Dia memanggil ku Amanda? Dia mengira aku ibu ku? Atau dia sengaja menguji ku? ' Batin Queen.

********

Happy Reading Guys. 🤗🥰

1
🙈
karyanya bagus banget 😍
🙈
semangat nulisnya kak, 🤭, yokk intip karyaku kak 🤭, like komen yukk🤭
🙈: aman kak, yok nilai punya ku bestie,😋
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!