"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Sebelum Pesta Dansa
Keesokan harinya, suasana di mansion Harrington jauh dari kata santai. Meskipun pesta dansa tinggal menghitung hari, persiapan yang dilakukan Matthew, Samantha, dan tim mereka berjalan begitu intens. Tidak boleh ada celah kegagalan. Mereka harus memastikan kehancuran Ashworth.
Di dalam ruang rapat utama yang terletak di lantai dasar, suara lembaran kertas yang dibolak-balik bersahutan dengan denting gelas. Evelyn duduk di sebelah Matthew, memperhatikan denah besar Aula Istana Kekaisaran yang terpampang di atas meja kayu tebal. Di sekeliling mereka, beberapa dokumen aliran dana, bukti transaksi bank, dan draf pengakuan saksi dari pihak internal bank pusat tertata rapi.
Samantha berdiri di dekat papan tulis kecil, memegang pena penanda seraya menunjuk beberapa titik fokus pada denah.
"Skenarionya sudah delapan puluh persen matang," ujar Samantha dengan suara tegas dan lugas, ciri khas seorang bangsawan Pendragon yang memegang kendali. "Leonor sudah secara resmi memasukkan draf dokumen pengalihan aset fiktif itu ke kementerian dalam negeri tadi pagi, menggunakan stempel dari cincin tiruan yang dicuri Cedric."
Evelyn menatap titik kementerian pada denah. "Apakah kementerian langsung menerimanya?"
"Tentu saja," jawab Samantha seraya menyunggingkan senyum dingin yang menawan. "Karena pejabat yang menerima berkas itu adalah orang kita. Dia sengaja menandatangani tanda terima sementara tanpa memeriksa keabsahan stempelnya secara mendalam, persis seperti yang diharapkan Leonor. Leonor mikir dia sudah berhasil menyuap pejabat istana."
Matthew duduk di kursinya sambil tertawa sinis. "Leonor terlalu fokus pada ketamakannya sampai lupa kalau kementerian dalam negeri berada di bawah pengawasan langsung dinas rahasia Harrington. Dia sedang berjalan di atas tali tipis yang sengaja kita bentangkan."
"Lalu bagaimana dengan gaun dan kehadiranku nanti, Sam?" tanya Evelyn, berpaling menatap Samantha.
Samantha berjalan mendekat, mendudukkan dirinya di seberang Evelyn. Sorot matanya yang biasanya tajam mendadak melunak, memperlihatkan rasa hormat yang mendalam pada wanita di hadapannya.
"Kamu akan tetap datang memakai gaun maroon itu, Eve," jelas Samantha tenang. "Cedric akan menunggumu di gerbang samping untuk memamerkan mu kepada faksi aristokrat bawah sebagai 'bukti' bahwa Harrington sudah kehilangan pengaruh atas dirimu. Biarkan dia membawamu masuk ke dalam aula utama. Biarkan seluruh mata memandangmu."
"Dan di saat Leonor naik ke mimbar utama untuk membacakan pengumuman klaim aset..." Matthew menyela, suara baritonnya menekan berat, "...aku dan Samantha akan melangkah masuk lewat pintu utama bersama tim pengawal kekaisaran."
"Aku yang akan maju pertama kali," tambah Samantha dengan mata berbinar. "Aku akan menuduh Leonor melakukan pemalsuan dokumen Pendragon secara terbuka di depan Kaisar. Dan saat Leonor mencoba membela diri dengan menunjukkan cincin stempel yang dibawa Cedric..."
"...aku yang akan membongkar bahwa cincin itu adalah palsu," potong Evelyn, menyambung kalimat Samantha dengan senyuman tipis yang sarat akan rasa puas. "Aku akan berdiri di depan seluruh bangsawan dan menyatakan bahwa cincin itu sengaja kubiarkan dicuri untuk memancing mereka keluar dari persembunyian."
Ruangan itu mendadak hening sejenak. Sebastian yang berdiri di sudut ruangan membungkuk pelan, menyunggingkan senyum bangga melihat bertapa padunya kerja sama di antara ketiga orang tersebut.
"Rencana yang sangat luar biasa, My Lord, My Lady," puji Sebastian penuh hormat. "Semua saksi kunci, termasuk mantan sekretaris pribadi Leonor yang kita amankan dua hari lalu, sudah siap memberikan kesaksian di bawah sumpah kekaisaran."
Matthew mengangguk puas. Ia mengulurkan tangannya di bawah meja, menggenggam erat jemari Evelyn yang dingin. Kehangatan dari telapak tangan pria itu membuat Evelyn merasa nyaman.
"Ingat satu hal, Eve," bisik Matthew pelan, cukup dekat hingga hanya Evelyn yang bisa mendengarnya. "Aku gak mau kamu memaksakan diri jadi umpan. Aku mau kamu keluar dengan selamat Eve. Pesta dansa ini aku cuma ingin kamu aman. Kumohon"
Evelyn menatap mata keemasan Matthew, dia melihat ketulusan disana. Ia mengangguk dan membalas genggaman tangan pria itu dengan erat.
"Aku siap, Matthew," jawab Evelyn tanpa ada keraguan tersisa di suaranya. "Mari kita akhiri semuanya di pesta dansa nanti."