NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan keluarga

Aksa menatap papan hasil dengan wajah kaku.

"Ini tidak mungkin! Seratus poin, padahal dia sama sekali tidak melihat sasaran? Pasti sistemnya yang mengalami kesalahan!"

Salah satu temannya segera menggeleng. "Tidak mungkin. Ini sistem militer. Tidak mungkin mengalami kesalahan seperti itu."

Aksa menunjuk Ana dengan marah. "Kau curang!"

"Aksa," kata temannya, "kami semua melihatnya sendiri. Dia tidak melakukan kecurangan apa pun."

Teman yang lain mengangguk. "Betul. Dia memang hebat. Mungkin kita yang salah menilainya."

"Diam!" bentak Aksa. "Aku tidak percaya."

Ana menyilangkan tangan di depan dada. "Sebagai laki-laki, sulit sekali, ya, mengakui bahwa orang lain lebih hebat?"

Rahang aksa mengeras. Namun, setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangan.

"Baiklah. Hari ini kau beruntung. Aku tidak mau berdebat denganmu."

Ia berbalik hendak pergi.

Adit segera melangkah menghalangi jalannya. "Kalau aku tidak salah ingat, tadi kita membuat taruhan. Kau kalah."

Aksa terdiam. "Aku ingat. Tapi aku ini tunangan Ana. Kalau aku sampai merangkak mengelilingi tempat ini, kau dan keluargamu juga akan ikut malu."

Ana mengangkat alis. "Kenapa aku harus malu? Kalau aku yang menang, bukankah seharusnya aku bangga?"

Aksa mendengus. "Sudahlah. Aku sedang lelah dan malas meladeni kalian."

Saat hendak pergi, bahunya menabrak seseorang.

"Ah, dia lagi."

Adrian berdiri di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku. Aksa langsung mundur selangkah.

"Tuan Muda Adrian."

Adrian maju perlahan. Tatapannya dingin, tetapi suaranya terdengar tenang.

"Yang membuat taruhan itu kau. Sekarang kau juga yang hendak mengingkari janji."

Aksa menelan ludah. Adrian menepuk pundaknya pelan, justru membuat tubuh Aksa semakin tegang.

"Tuan Muda Laksana," lanjut Adrian, "kau sungguh picik."

"Tuan Muda, bukan aku tidak mau mengaku kalah," ujar Aksa tergesa-gesa. "Tapi dia keterlaluan. Dia menyuruhku merangkak satu putaran sambil berteriak bahwa aku pecundang."

Ana langsung menyela, "Bukankah itu permintaanmu sendiri?"

"Aku hanya bercanda! Siapa yang menyangka kau akan menganggapnya serius?"

Adrian menoleh kepada Ana sekilas, lalu kembali menatap Aksa.

"Sayangnya, aku orang yang serius."

Senyum Adrian menghilang.

"Kalau hari ini kau tidak menepati janjimu, aku jamin keluarga Laksana tidak akan melihat matahari terbit besok."

Suasana arena mendadak membeku.

Aksa menatap Adrian dengan wajah pucat. Kedua temannya ikut menundukkan kepala. Bahkan suara percakapan dari sisi lain arena seolah lenyap, tertelan oleh tekanan yang muncul dari sorot mata Adrian.

Ana memperhatikan Adrian tanpa berkedip. Ia sudah sering melihat lelaki itu bersikap menyebalkan, tetapi baru kali ini ia melihat kemarahannya benar-benar diarahkan kepada seseorang.

Adrian melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jadi," katanya, "kau mau mulai sekarang, atau perlu aku meminta petugas menyiapkan rekamannya terlebih dahulu?"

Aksa mengepalkan tangan. Harga dirinya menahannya untuk bergerak, tetapi ancaman Adrian membuat lututnya terasa lemas.

Ana tersenyum tipis.

"Jangan terlalu lama, Tuan Muda Laksana. Bukankah kau ingin seluruh ibu kota kerajaan tahu siapa yang paling hebat di antara kita?"

Wajah Aksa memerah. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan satu pun kata untuk membalas.

Adrian melirik Ana. Tatapannya yang semula tajam berubah sedikit melunak.

Di atas layar, hasil pertandingan masih menunjukkan angka seratus di samping nama Ana.

Kali ini, tidak ada seorang pun yang berani menyebutnya sebagai sampah.

Aksa akhirnya tidak punya pilihan lain.

Dengan wajah merah padam, ia berlutut di lantai arena. Kedua temannya saling pandang sebelum ikut berlutut di sampingnya.

"Aku sampah!" teriak Aksa.

"Aku sampah!" kedua temannya menyusul.

Mereka mulai merangkak mengelilingi arena, diiringi tatapan para peserta dan prajurit yang sejak tadi menyaksikan pertandingan. Setiap kali suara mereka melemah, petugas di dekat lapangan segera mengingatkan mereka untuk mengulanginya lebih keras.

"Sampah tidak berguna!"

Ana berdiri dengan tangan terlipat, menyaksikan hukuman itu tanpa rasa iba.

"Itulah akibatnya kalau kalah taruhan"

Adrian yang berdiri di sampingnya tersenyum. Ia lalu merangkul bahu Ana dengan santai.

"Sayang, lihat? Aku membantumu lagi."

Ana menoleh tajam. Ia langsung menghempaskan lengan Adrian dari bahunya.

"Jangan memanggilku begitu."

Tangan Adrian turun, tetapi senyum di wajahnya tidak berubah.

Adit yang sejak tadi memperhatikan mereka tampak kebingungan.

"Kak… pacar?"

Ana mengerutkan kening.

"Apa?"

"Tadi dia bilang sayang. Bukannya Aksa tunangan Kakak? Kalian sebenarnya punya hubungan apa?"

Ana melirik Adrian sekilas.

"Dia tidak ada hubungannya denganku."

Adrian memegang dadanya dengan ekspresi terluka.

"Tega sekali. Kalau kau bilang kita tidak punya hubungan apa-apa, aku benar-benar bisa sedih."

Ana mengabaikannya dan kembali menatap Aksa.

"Lagipula, Aksa tidak akan menjadi tunanganku. Nanti saat bertemu Kakek, aku akan meminta pertunangan itu dibatalkan."

"Wah, tega sekali," kata Adrian. "Padahal aku sudah menganggap hubungan kita cukup serius."

Ana menoleh tajam. "Waktu di gunung, anggap saja aku yang mencari gara gara. Ternyata sekarang kamu jauh lebih pandai mencari perhatian."

Adrian terkekeh.

"Aku belajar secara sistematis."

"Belajar apa?"

"Cara mendapatkan gadis pujaan hati."

Ana menatapnya tidak percaya.

Adrian kembali meraih lengannya, kali ini dengan senyum penuh kemenangan.

"Gadis galak biasanya takut pada laki-laki yang gigih."

Ana segera menghempaskan tangannya.

"Gila. Adit, kita pergi."

Ana berjalan meninggalkan arena, diikuti Adit. Adrian menatap punggungnya dengan kesal karena kembali ditinggalkan begitu saja.

Namun, sebelum Ana benar-benar jauh, Adrian mengambil pistol latihan yang tersedia di meja dan menembakkannya ke udara. Suara letusan membuat semua orang menoleh.

"Lebih keras!" teriak Adrian kepada Aksa dan kedua temannya. "Kalau tidak, malam ini kalian tidak akan makan!"

Aksa menggertakkan gigi, tetapi ia dan kedua temannya hanya bisa kembali berteriak.

Di kediaman Pramudia, Dewi dan Yeni sedang memilih pakaian pesta. Berbagai gaun tergeletak di atas sofa.

Jesika mengangkat salah satunya.

"Ma, bagaimana kalau aku memakai ini ke pesta?"

Dewi memperhatikan gaun itu lalu tersenyum puas.

"Cantik. Apa pun yang kamu kenakan akan terlihat cantik."

Pintu rumah terbuka. Ana dan Adit masuk hampir bersamaan.

"Kak," kata Adit, "sejak kapan Kakak belajar menembak? Tadi keren sekali."

Ana belum sempat menjawab ketika seseorang turun dari tangga. Bimo baru saja merapikan jasnya. Ia berjalan ke ruang tamu, lalu duduk dengan sikap kaku.

Adit langsung menyapanya.

"Yah, ayah sudah pulang?"

Bimo mengangguk singkat.

"Pakaian untuk pesta sudah siap?"

"Sudah, yah."

Bimo menatap Ana.

"Bagaimana dengan gaunmu? Kalau tidak punya, adikmu memiliki banyak gaun yang bagus. Pilih salah satu yang pantas. Jangan sampai membuat Ayah malu."

Ana memandang gaun-gaun di sofa, lalu menjawab datar, "Aku tidak pernah memakai pakaian norak."

Senyum Dewi menghilang.

"Maksudmu pakaian Jesika norak?"

"Aku bilang aku tidak mau memakainya. Itu saja."

Bimo menepuk sandaran kursi.

"Kenapa? Kau sengaja ingin mempermalukan Ayah? Seorang anak perempuan seharusnya memperhatikan penampilannya. Lihat rambutmu, pakaianmu, dan sikapmu sekarang."

Ana menatapnya tenang.

"Siapa yang bilang perempuan harus mengenakan pakaian tertentu? Rambutku, pakaianku, dan tindakanku adalah hakku. Ayah tidak berhak mengaturku hanya karena aku perempuan."

Wajah Bimo mengeras.

"Berani sekali membantah Ayah. Kau tidak menghormati orang tua. Berlutut sekarang."

Ana tertawa pendek, tanpa sedikit pun rasa takut.

"Ayah marah karena malu? Menyedihkan."

Bimo langsung bangkit dari kursinya.

"Kau pikir karena Ayah jarang berada di rumah, tidak ada yang bisa mengaturmu? Aku ini ayahmu. Wajar kalau aku mendidikmu!"

"Ayah boleh menjadi orang tuaku, tetapi itu tidak berarti Ayah berhak memakai hubungan darah untuk menguasai hidupku."

"Dasar anak sialan! Kalau tidak diberi pelajaran, kau benar-benar akan menjadi pemberontak!"

Bimo mengangkat tangan dan hendak meraih Ana.

Namun, tangan itu berhenti di udara.

Ana sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.

Dewi dan Jesika bangkit dari sofa dengan wajah terkejut. Adit pun ikut menahan napas.

"Lepaskan tangan Ayah!" bentak Bimo.

Ana tidak bergerak. Ia hanya menatapnya dengan tenang.

"Kudengar Ayah adalah seorang kolonel."

Jari-jari Ana mengencang sedikit. Bimo meringis ketika pergelangan tangannya dipaksa turun.

"Ternyata selemah ini."

Dengan satu gerakan, Ana melepaskan tangan Bimo lalu berbalik meninggalkan ruang tamu.

Tidak ada seorang pun yang langsung menyusulnya.

Bimo berdiri memegangi pergelangan tangannya, marah sekaligus terkejut. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa putrinya bukan lagi anak yang bisa dipaksa berlutut hanya dengan satu perintah.

Di lantai atas, Ana menutup pintu kamarnya.

Dari balik pintu, suara Bimo masih terdengar samar, tetapi Ana tidak peduli.

Malam pesta semakin dekat.

Dan kali ini, ia tidak berniat membiarkan siapa pun menentukan bagaimana ia harus berdiri di hadapan dunia.

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!