Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villa (Bag 2)
**
Drttt drttt drtttt drttt
Suara alarm di ponsel membuat pergerakan pada Felisa yang masih tertidur pulas. Wanita itu perlahan membuka matanya, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dari ventilasi jendela.
"Udah jam berapa, sih?" Felisa langsung terlonjat kaget, saat melihat jam sudah menunjukan pukul 10 siang.
Saat Felisa melihat ke samping, Rafa masih terlihat nyenyak tidur, sama sekali tidak terganggu oleh suara alarm tadi. Rasanya, Felisa ingin menendang Rafa sampai jatuh ke bawah. Gara-gara lelaki itu, mereka hari ini bangun kesiangan. Jika di rumah mungkin tidak apa-apa, tapi masalahnya ini mereka sedang liburan. Apa kata orang-orang di luar, saat melihat mereka bangun sesiang ini?
Felisa meraih kaos Rafa di bawah tempat tidur karena posisinya memang lebih dekat dibandingkan dengan bajunya di ujung dekat pintu sana. Setelah itu, mengambil celana di tas dan memakainya.
"Keluar gak, yah?" Felisa malah berjalan mondar-mandir di kamar. "Bangunin dia aja, deh. Biar malunya bareng-bareng."
Felisa kembali menghampiri Rafa, berjongkok kemudian mengguncang-guncang tubuh Rafa. "Hei, bangun udah siang! Bangun, gak!"
Rafa hanya membalikan badan membelakangi Felisa, kemudian tertidur lagi.
"Nyebelin!"
Felisa kemudian punya ide, yaitu dengan ...
"Akkkkkkkk!" teriak Rafa kesakitan, lelaki itu langsung beranjak duduk dengan memegang betis. "Kamu cabut bulu kaki aku?"
Felisa tersenyum sinis. "Iya, kenapa emang?"
"Pakai nanya kenapa, sakit ini!" Rafa mengusap-ngusap betisnya. Ini sakit sekali, sepertinya wanita itu tidak hanya mencabut satu.
"Ini udah jam 10 siang. Kita bukan lagi di rumah. Di luar banyak temen-temen kamu." Felisa berbicara berusaha menahan amarahnya.
"Terus?"
"Bodo!" Felisa melempar sendal tidur ke arah Rafa dan tepat mengenai kepala Rafa. "Apa kamu gak malu, kita keluar kamar jam segini? Apa pendapat orang-orang nanti? Malu, gak?"
Dengan polos Rafa menggeleng. "Enggak!" Rafa berusaha menahan Felisa dengan tangannya ketika terlihat akan mengamuk lagi. "Ngapain malu, kita kan udah nikah?"
"Kamu gak ngerti!" Felisa terlihat masih marah, terburu-buru mengambil handuk. "Aku mau mandi duluan!"
Setelah itu, terdengar suara pintu yang terbuka dan tertutup keras.
Brakkk
"Dasar nenek lampir, pagi-pagi sudah marah-marah."
Rafa memilih mengedikan bahu, kemudian meraih celana pendek yang kebetulan ada di ujung kasur lalu memakainya.
Di luar seperti dugaan Felisa, ada beberapa orang yang menggodanya, terutama Andre teman sehati Rafa itu.
"Cie ... pengantin baru, bangun siang!"
"Cihuy ... gadang ini mah, pasti!"
"Malam dingin terasa hangat didalam pelukan!"
Saat melewati mereka yang menggoda kebetulan memang berada di ruang tamu, Felisa berlari menuju kamar mandi. Malas juga menanggapi mereka, tapi terlalu malu juga sebenarnya.
Siangnya, Rafa dan Felisa serta beberapa orang lainnya mengunjungi kebun strawberry milik salah satu keluarga di sana. Matahari cukup terik saat itu, tapi cuaca tidak terlalu panas. Padahal jika saat ini di Jakarta, mungkin dia sudah tidak sanggup untuk bisa duduk santai di sini tanpa topi.
"Mau minum?"
Felisa mengambil botol yang ditawari Rafa, lelaki itu ikut mendudukan dirinya di sampingnya di atas batu.
"Kenapa, gak neduh di bawah pohon? Tiba-tiba ngilang pas lagi ngambil strawberry. Aku pikir, kamu diculik penunggu sini," celetuk Rafa yang hanya dilirik sekilas oleh Felisa.
"Gak lucu." Felisa memilih minum. "Elvan lagi apa, yah? Baru dua hari udah kangen banget."
"Mungkin, lagi berantakin rumah." Rafa malah terkekeh, membayangkan ulah Elvan saat ini. "Aku harap, Cio gak datang. Kasian Mama, bisa stres menghadapi dua anak kucrut itu dalam bersamaan."
Felisa ikut tersenyum dalam diam memikirkan Elvan. Sesekali angin berhembus menyapa leher mereka, sehingga cuaca terik ini seakan memang tidak tersisa. Seolah, angin menyapa bahwa dia ada di sini untuk melindungi mereka.
Felisa kadang selalu membayangkan bisa hidup seperti ini. Mungkin, bisa menghabiskan masa tua di tempat seperti ini. Jauh dari asap kendaraan, macet Jakarta, riuh orang-orang, jepretan kamera. Tapi, takdir seolah tidak pernah mengizinkan dia untuk hidup seperti itu.
Kehidupan kecilnya memang dihabiskan di tempat seperti ini, tapi penuh dengan tekanan. Dia tak pernah menemukan rasa kebebasan dan ketenangan seperti sekarang.
"Gabung di sana di saung, yuk!" ajak Rafa yang sudah mulai beranjak. "Lama-lama, panas juga."
Felisa malah menggeleng. "Enggak, kamu aja." Felisa sempat melirik sekilas ke arah sana, dimana para wanita melihat ke arah sini. "Yang mereka cari juga bukan aku, tapi itu kamu."
"Maksudnya?" Rafa menaikan alis bingung.
Felisa malah mengedikan bahu. "Enggak apa-apa."
Rafa akan kembali berbicara, tapi sayang panggilan Andre yang menyuruhnya ikut ngopi di saung menghentikannya. Rafa kemudian memilih pamit ke Felisa, meninggalkan wanita itu sendiri lagi.
Felisa tidak mengerti, tentang apa yang sebenarnya dia rasakan. Kenapa dia tidak suka, melihat Rafa baik terhadap para wanita itu? Kenapa dia tidak suka, Rafa tersenyum terhadap para wanita itu? Tidak suka, saat melihat para wanita itu menempel terhadap Rafa. Tapi kenapa, dia harus tidak suka?
Seharusnya, dia biasa saja bukan? Toh, tidak ada aturan dalam pernikahan mereka untuk tidak boleh berdekatan dengan siapapun? Tapi, bukannya orang menikah tidak boleh berdekatan dengan siapapun? Berlaku juga tidak sih, untuk pasangan yang menikah tanpa cinta?
Felisa tidak pernah berpengalaman dalam menjalin status. Dia mungkin pernah dekat dengan beberapa lelaki, tapi cuman sekedar teman bermain. Dia tidak tahu apa arti berkomitmen dalam suatu hubungan. Dari kecil, dia tidak pernah menemukan arti itu dimulai dari keadaan keluarganya sendiri.
Tiba-tiba perkataan beberapa wanita itu, pas tadi di toilet umum kembali menghantui pikirannya.
"Aku dengar, kamu menikah dengan Rafa karena MBA, yah?"
"Aku yakin, kamu menggoda dia duluan, atau mungkin itu bukan anak Rafa karena kita tahu Rafa itu lelaki baik-baik."
"Kenapa sih, tega banget nyiksa Rafa dengan ngikat di hubungan ini? Padahal, Rafa bisa bebas dan bahagia dengan wanita yang dia cintai, tanpa punya beban dengan berhubungan sama kamu?"
"Kamu dan anak kamu hanya beban buat Rafa!"
"Beban," gumam Felisa tersenyum saat memikirkan kata-kata itu.
Bagi Felisa, satu kata itu seperti mimpi buruk untuk dirinya. Sedari kecil, orang-orang terus mengatakan jika dia itu beban bagi Abah karena dia keturunan cina, karena dia tidak sepintar anak Abah lain dalam urusan agama, beban bagi Abah karena mempunyai anak seperti dia.
Dia itu juga beban yang membuat ibunya tidak bisa pergi dari tempat itu. Anak yang kehadirannya, hanya memutus kebahagiaan ibunya. Seandainya dia tidak ada, mungkin Ibu bisa kembali ke keluarganya tanpa harus pusing memikirkan dirinya.
Sekarang, benarkah dia juga menjadi beban bagi Rafa? Kenapa dia tidak bisa membalas ucapan para wanita itu, padahal dia tadi sedang dibully, bukan? Kenapa dia diam saja, padahal biasanya dia selalu bisa melawan? Apa karena memang benar perkataan mereka, jika dia itu beban untuk Rafa?
Drtt drttt drttt
Felisa meraih ponsel yang bergetar, membuka satu notifikasi pesan di sana.
Omah sakit parah, tolong kamu datang buat jenguk.
Setelah melihat isi pesan itu, Felisa meremas ponsel dengan keras. Kenapa dunia, seakan tidak pernah membiarkannya untuk bisa istirahat sebentar?
Cup
Felisa seketika terlonjak, saat mendapati ciuman tiba-tiba Rafa di bibirnya. Dia hampir saja akan melempar ponsel dari atas kasur, jika saja kesadaran tidak segera bisa menguasai.
"Ngagetin! Gimana, kalau aku tanpa sadar lempar ponsel?" sentak Felisa sambil mendudukan diri di depannya.
"Aku ganti versi baru, tenang aja." Rafa menjawab santai, bahkan sekarang malah merebahkan dirinya dengan paha Felisa sebagai bantalannya.
"Sombong!"
"Emang iya," jawab Rafa malah bangga. "Ngomong-ngomong kamu kenapa, sedari pagi murung banget?"
"Emang, aku kenapa?" Felisa malah balik bertanya. Dia terkejut saat Rafa cukup peka mengetahui perubahannya. Padahal, Felisa tidak terlalu menunjukkan. Dia hanya terlalu banyak menghabiskan waktu sendiri dan berbaur seperlunya.
"Gak ada hal yang terjadi, yang aku gak tahu, kan?" Rafa sepertinya tidak menyerah untuk bertanya.
Felisa malah menghela napas berat, tangannya mengusap-usap rambut Rafa. "Aku sama Elvan, jadi beban gak buat kamu?" tanya Felisa pelan, nyaris berbisik.
"Hah, apa?" Rafa kembali duduk. "Kamu tadi nanya apa?"
Felisa malah tersenyum. "Aku mau mandi." Setelah itu, pergi beranjak ke luar menuju kamar mandi dan kembali meninggalkan Rafa dalam kebingungan.
"Mandi, tapi gak mau bawa handuk dan sabun. Kerasukan setan Villa ini pasti cewek." Rafa merinding, memandang sekitar tiba-tiba merasa takut.
Felisa memang tidak pergi ke kamar mandi, wanita itu memilih duduk di sebuah bangku yang kebetulan tidak jauh dari vila. Sekarang sudah sore hari, tapi perasaaan Felisa tidak kunjung membaik. Padahal, nanti jam 7 malam mereka sudah harus pulang. Harusnya liburan ini bisa membuat happy, tapi nyatanya malah membuat dia terpuruk.
Felisa tahu, ini mungkin terlihat bodo bagi sebagian orang karena dia malah tertekan cuman karena sebuah kata 'beban'. Mungkin, secara tanpa sadar lubuk terdalam dirinya bereaksi terluka karena terlalu sering merasa terbuang, penghambat kebahagiaan orang lain dan seseorang yang kehadiranannya tak pernah diharapkan.
Felisa juga belum mengatakan kan, bahwa akibat umi-nya meminum berbagai jenis obatan supaya bisa hamil, hingga akhirnya obat-obatan itu menjadi racun ditubuhnya dan mengambil nyawanya.
Semua hal buruk yang pernah terjadi di keluarganya karena dia. Apa kali ini, dia akan terbuang lagi dari kehidupan Rafa?
Seandainya, kata 'seandainya' bisa berguna untuk waktu sekarang.
"Seandainya, Abah tidak menikah dengan Ibu kamu dan harus mempunyai anak keturunan cina seperti kamu?"
"Seandainya, kamu lebih pintar seperti kakak kamu, kita tidak akan malu dengan para santri lain?"
"Seandainya, Umi tidak berusaha ingin mempunyai anak. Mungkin, sekarang dia masih sehat dan hidup."
"Seandainya, kamu tidak ada. Mungkin, Ibu kamu tidak harus terlalu menderita hidup di sana. Dia bisa bebas kembali pulang ke keluarganya."
Setelah lama termenung, Felisa memutuskan kembali ke Vila karena kebetulan waktu sebentar lagi akan menjelang Maghrib.
"Anjing! Brengsek yah, lo! Gue bunuh lo!"
"Raf, tenang woi!"
"Anjing, lepasin gue! Biar gue bunuh ini orang! Bangsat!"
"Sorry ... Raf, tadi gue bercanda!"
"Bilang istri gue, mau lo jadiin lonte, itu bercanda! Bangsat, gak ada yang bercanda kaya gitu!"
Bugh bugh bugh
Baru saja Felisa membuka pintu depan, sudah langsung terdengar suara makian dan pukulan. Dari suaranya, sepertinya Felisa tahu siapa yang bertengkar. Tapi kenapa?
Felisa langsung terburu-buru berlari dan benar di sana sudah banyak orang. Saat Felisa melihat di tengah kerumunan, ada Rafa yang sedang berusaha ditahan Andre karena terlihat kesetanan memukuli seseorang yang sudah terkapar penuh luka yaitu Firman, salah satu teman karyawan Rafa juga.
"Ini ada apa?" teriak Felisa kalut. Bagaimana tidak kalut, melihat Rafa seperti kerusupan seperti itu?
"Akhirnya ...." Andre terlihat menarik napas lega melihat ke arah Felisa. "Pawangnya datang! Fel ... tolong dong, bawa suami lo ke kamar. Dibiarin, bisa mati si Firman"
Felisa mengangguk. "Ok!"
Sekarang, memang bukan waktunya Felisa bertanya tentang apa yang terjadi karena membawa Rafa pergi lebih penting. Felisa bisa bertanya nanti ke Rafa, setelah keadaannya sudah dingin.
"Raf, udah! Ayo pergi!" Felisa berusaha menarik tangan Rafa yang masih berusaha untuk memukuli Firman, sepertinya lelaki itu juga belum menyadari kehadiran Felisa.
"Raf, udah!" teriak Felisa makin kesal. "Pikirin Elvan! Apa tanggapan dia, melihat bapaknya kaya gini?"
Sepertinya, menggunakan nama Elvan berhasil karena perlahan tubuh Rafa lemas. Pelan-pelan melihat ke arah Felisa. "Elvan," gumamnya.
Felisa mengangguk. "Iya, ayo ke kamar dulu!"
Rafa mengangguk, perlahan berdiri mendekati Felisa. Sebelum pergi, Felisa meminta maaf kepada semua yang ada di sana atas semua kekacauan ini.
Di dalam kamar, Felisa sedang mengobati luka di tangan Rafa yang penuh lecet. Selain di sana, tidak ada luka dimanapun lagi. Jadi, sudah jelas siapa yang menghajar dan dihajar, bukan?
"Kamu kenapa, sih? Gak biasanya, kamu emosi gini?"
Butuh waktu lama, sampai Rafa menjawab pertanyaan Felisa. Bahkan, mungkin sekarang sudah jam 9 malam dan tadi dia juga mendengar orang-orang sudah pamit pulang. Sekarang, di vila itu tinggal mereka berdua.
"Aku gak bisa diem aja, denger orang rendahin kamu, hina kamu dan berniat punya pikiran jahat ke kamu. Aku kenal kamu, aku tahu kamu itu perempuan hebat yang luar biasa. Perempuan baik-baik yang bahkan gak pernah rela buat nyakitin hati orang."
Setelah itu, mengalirkan cerita dari Rafa. Katanya, tadi dia mendengar Firman berbicara dengan Agus tentang semua hal buruk tentang Felisa. Wanita pelacur, lonte, bisa dipakai kapanpun karena hamil di luar nikah dan seorang model yang buka jasa open BO serta berbagai kata buruk lainnya.
Jujur, Felisa tidak merasa sakit hati atas semua yang Rafa bilang tentang ucapan Firman karena selama ini, dia sudah terbiasa dengan kata-kata itu. Felisa lebih tertarik dengan mimik wajah Rafa yang tegang, serius dan terlihat marah.
Saat ini, pantaskah Felisa merasa terharu? Karena untuk pertama kalinya, ada orang yang membela dia segituanya. Dia terbiasa dibuang, jadi saat ada orang yang mengganggap kehadiranannya berarti, Felisa untuk pertama kalinya merasa hidupnya diterima di dunia.
Felisa tidak mengerti, tapi ia langsung memeluk Rafa erat dan menghentikan segala sumpah serapahnya yang terlihat masih kesal.
"Kamu gak papa?" tanya Rafa panik karena malah mendengar Felisa terisak di pelukannya. "Aku janji, gak akan biarkan orang berbuat jahat lagi sama kamu. Jangan nangis, please!"
Felisa melepas pelukannya, menatap
Berikut adalah salinan teks lengkap yang disatukan menjadi satu alur cerita yang utuh dari ketiga gambar di atas:
Felisa melepas pelukannya, menatap Rafa dengan air mata yang masih berlinang. "Aku nangis bukan karena mereka, tapi karena kamu."
"Aku?" Tunjuk Rafa ke dirinya sendiri. "Kenapa?"
Felisa malah tersenyum. "Makasih, karena udah nerima aku di hidup kamu."
Belum sempat Rafa mencerna maksud Felisa, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir wanita itu. Seperti biasa, Rafa memang mudah teralihkan oleh sebuah ciuman, karena Rafa sekarang sudah terfokus untuk membalas setiap pugutan bergairah Felisa.
Felisa sudah merayap naik di pangkuan Rafa, sedang lelaki itu sudah duduk menyandar ke tiang tempat tidur.
Ciuman mereka semakin lama semakin menuntut dan panas. Saling meraup, seakan takut akan kehabisan jika lengah sedikit. Sekarang, tangan mereka sudah sama-sama melucuti pakaian lawannya di depan.
Tiba, saat Rafa sedang fokus di area dada Felisa, tiba-tiba suara dering telepon yang berulang menghentikan mereka. Felisa yang pertama kali sadar, buru-buru bangkit dari pangkuan Rafa dan mengangkat telepon setelah memakai kaos yang sepertinya milik Rafa. Sedang lelaki itu, menatap Felisa dengan raut wajah tersiksa akan sesuatu yang belum terselesaikan.
"Iya, Hallo ... Ma! Iya, aku pulang. Bilang sama Elvan, kita pulang sekarang!"
"Kenapa?" tanya Rafa saat melihat Felisa setelah memutuskan telepon malah sibuk beberes, bukan melanjutkan yang tadi?
"Ayo, kita pulang! Elvan, nangis nyari kita! Dia tahu kita bakal pulang sekarang!"
"Ya, udah ayo pulang!" Rafa menjawab sedikit kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, Elvan tetap nomer satu untuk mereka.
##