Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Saat ini Rian dan Mia sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Mia.
Mobil melaju pelan di jalanan kota yang mulai ramai. Mia duduk di bangku kemudi dengan tangan mencengkeram setir erat. Di sampingnya, Rian duduk diam sambil memangku Kayla yang terlelap di dadanya. Napasnya tampak teratur, kepala kecilnya bersandar nyaman di bahu ayahnya. Suasana di dalam mobil terasa canggung, dipenuhi keheningan yang tidak nyaman setelah sidang yang baru saja usai.
Mia sesekali melirik ke samping melalui kaca spion dalam. Ia melihat Rian menunduk, mengusap lembut punggung Kayla dengan jari-jarinya. Gerakan itu begitu familiar, seolah mereka masih keluarga utuh yang sedang pulang dari acara biasa. Padahal kenyataannya jauh berbeda. Putusan hakim yang menolak gugatan cerainya masih terngiang di telinga. Ia merasa gagal, lelah, dan bingung harus gimana lagi.
Setelah beberapa menit keheningan, Mia memberanikan diri membuka suara. Nadanya canggung, hampir ragu.
“Sekarang kamu tinggal di mana?”
Rian menoleh. Ia tersenyum singkat ke arah istrinya, senyum yang tipis, penuh penyesalan, tapi tetap lembut. “Aku tinggal di kosan dekat kantor,” jawabnya pelan. Suaranya serak, seolah baru saja menahan banyak emosi. “Kamarnya kecil, cuma muat kasur dan meja. Tapi cukup buat aku. Lain kali aja main Kayla ke sana ya. Biar dia tahu tempat tinggal ayahnya.”
Mia tersenyum getir. Senyum itu tidak sampai ke matanya. Entah mengapa, ia merasa iba mendengarnya. Bayangan Rian tinggal sendirian di kosan sempit, makan mie instan, tidur tanpa suara Kayla, membuat dadanya sesak. Ia ingat dulu mereka berbagi rumah yang nyaman, berbagi ranjang, berbagi tawa. Sekarang semuanya retak, dan Rian harus memulai dari nol di tempat yang bahkan tidak layak disebut rumah.
“Iya,” jawab Mia singkat. Ia mengalihkan pandangan ke jalan, pura-pura fokus pada lalu lintas.
Keheningan kembali mengisi mobil. Hanya bunyi mesin mobil dan napas Kayla yang terdengar. Rian menunduk, menatap wajah putrinya yang damai. Jari-jarinya terus mengelus rambut anak itu, seolah takut kalau berhenti, Kayla akan menghilang dari pelukannya.
“Mia...” suara Rian pelan, hampir berbisik. “Aku tahu kamu masih marah. Aku pantas menerimanya. Tapi, terima kasih sudah mengizinkan aku ikut pulang bareng Kayla hari ini. Aku kangen banget dengannya.”
Mia tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, mencoba menahan emosi yang naik ke tenggorokan. “Dia yang minta,” katanya akhirnya. “Aku tidak bisa menolaknya terus menerus"
Rian mengangguk mengerti. Ia tahu Mia tidak memberinya kesempatan karena belas kasihan padanya, melainkan karena kasih sayangnya pada Kayla. Itu saja sudah cukup membuatnya bersyukur, sekaligus semakin merasa bersalah.
Mobil berbelok masuk ke perumahan orang tua Mia. Jalanan semakin sepi. Rian menatap keluar jendela, mengenali pagar dan tanaman yang dulu sering ia lewati ketika masih datang sebagai menantu. Sekarang ia datang sebagai ayah yang hanya boleh pinjam waktu.
“Nanti kalau sidang banding…” Rian ragu-ragu melanjutkan. “Aku tidak akan melawan. Kalau kamu tetap ingin berpisah, aku akan tanda tangan. Aku tidak mau mempersulit."
Mia menginjak rem pelan di depan rumah. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Rian. Pandangannya rumit, campuran lelah, iba, dan sisa-sisa perasaan yang belum sepenuhnya mati.
“Tadi kamu memohon agar aku membatalkan perceraian kita. Tapi sekarang kamu pasrah" kesal Mia dengan sikap plinplan suaminya.
"Rian, sebenarnya mau kamu itu apa," tanya Mia tidak mengerti.
Rian menghela nafas panjang, menatap istrinya. "Sebenarnya, aku tidak mau bercerai denganmu. Tapi kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita, aku siap melepaskanmu. Aku ingin kamu dan Kayla bahagia" ucap Rian tanpa ragu.
Mia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia ingin mengatakan semuanya, tapi rasanya tercekat di tenggorokan.
"Aku turun dulu" ucap Mia dan keluar dari dalam mobil. Dia menghapus air matanya yang sempat menetes.
Rian mengangguk lagi. Ia menunduk, mencium kening Kayla yang masih tertidur. “Papa antar sampai dalam ya, sayang,” bisiknya pada anak yang tidak mendengar.
Mia lalu berjalan mengelilingi mobil, membantu membukakan pintu untuk Rian. Tangan mereka sempat bersentuhan ketika memindahkan tubuh kecil itu. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat keduanya terdiam sejenak.
Mereka berdua melangkah menuju ke arah pintu utama rumah. Di ambang pintu, Maya sudah menunggu. Ia menerima cucunya dengan lembut, lalu menatap Rian dengan pandangan yang tidak bersahabat, tapi juga tidak mengusir.
“Masuk dulu, Rian. Minum sebentar sebelum pulang,” tawar Maya, meski nadanya datar.
Rian menggeleng sopan. “Terima kasih, ma. Saya langsung pulang saja. Takut mengganggu kalian.” tolak Rian tidak enak hati.
Ia menatap Mia sekali lagi. “Kabari kalau Kayla sudah bangun.” pesannya.
Mia mengangguk. “Hati-hati di jalan.” ucap Mia.
Rian berbalik, berjalan menuju jalan raya untuk mencari ojek. Ia tidak menoleh. Tapi di dalam dada, ada rasa hangat yang aneh, rasa yang muncul karena masih bisa memangku putrinya, meski hanya dalam perjalanan singkat.
*
Sementara di dalam rumah, Mia berdiri di ruang tamu sambil memandang ke luar jendela. Ia melihat punggung Rian semakin menjauh. Senyum getir kembali muncul di bibirnya.
Ia merasa iba dengan suaminya. Tapi iba saja tidak cukup untuk memperbaiki semua yang sudah rusak.
"Semoga kamu baik-baik saja" gumam Mia. Dia tahu bagaimana dulu suaminya sangat bergantung pada Mia. Dari makan, menyiapkan pakaiannya, dan membersihkan rumah. Sekarang dia harus menjalani semuanya sendiri.
Mia termenung sambil menatap punggung suaminya yang sudah menghilang. Sampai akhirnya suara mamanya mengagetkannya.
“Kenapa kamu masih memikirkan Rian?” tanya Maya pelan.
Mia tersentak. “Aku cuma merasa kasihan, Ma. Dulu dia tidak pernah mengurus dirinya sendiri. Sekarang semuanya harus dilakukan sendirian.”
Wahyu yang duduk di samping istrinya menghela napas. “Kasihan boleh, Mia. Tapi jangan sampai kamu melupakan alasan kenapa kamu memutuskan berpisah dengannya.”
Mia terdiam. Ia tahu ayahnya benar. Luka yang ditinggalkan Rian bukan sesuatu yang bisa hilang hanya karena laki-laki itu kini hidup sendirian.
*
*
Malam hari, di kamar kosnya, Rian baru saja selesai mencuci pakaian. Ia menatap tumpukan baju yang belum disetrika, lalu tertawa hambar.
“Dulu tinggal pakai. Sekarang semuanya harus dikerjakan sendiri,” gumamnya.
Namun, bukan pekerjaan rumah yang paling membuatnya lelah. Ia merindukan suara Mia yang mengomel ketika dirinya malas membantu, juga kehangatan rumah yang dahulu sering ia abaikan.
Rian mengambil ponsel, lalu membuka foto keluarga kecilnya.“Kalau aku ingin mendapatkan kalian kembali, aku harus berubah,” bisiknya.
Untuk pertama kalinya, ia bertekad berhenti menjadi laki-laki yang hanya pandai menyesali kesalahan. Kini ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bertanggung jawab, meski belum tentu Mia bersedia memberinya kesempatan kedua.