"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Yoga berpura-pura mampir ke rumah Ardi dengan alasan ingin mengantarkan beberapa dokumen kantor yang tertinggal. Namun, matanya bergerak liar memperhatikan situasi rumah yang terasa begitu tegang dan mencekam. Dari ruang tamu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara isak tangis dari arah kamar atas.
"Luna kenapa sih, Di?" pancing Yoga pura-pura tidak tahu, menatap Ardi yang duduk gelisah di sofa.
Ardi menghela napas berat seraya memijat pelipisnya. "Gak tahu tuh, Ga. Dari tadi pagi ngurung diri di kamar terus. Rania ada di atas nemenin, tapi Luna tetap gak mau keluar. Katanya lagi pusing banget."
Melihat kondisi yang sama sekali tidak memungkinkan untuk bicara jujur tanpa memicu rasa curiga Ardi, Yoga membatalkan niatnya. Ia berpamitan pelan lalu bergegas kembali menuju penthouse Marko.
---
Di penthouse, keadaan Marko benar-benar kacau. Pria CEO yang biasanya selalu tenang dan berkepala dingin itu kini berjalan bolak-balik di ruang tamu dengan raut wajah panik luar biasa. Kemejanya sudah kusut, dan rambutnya berantakan.
"Gimana, Ga?! Lu udah ketemu sama Aluna?!" tembak Marko langsung begitu Yoga melangkah masuk.
"Gak bisa, Ko," jawab Yoga menghembuskan napas lelah. "Situasinya parah. Aluna ngurung diri di kamar bareng Rania, dan Ardi ada di rumah. Kalau gue nekat ngebahas soal kejadian semalam, rahasia lu berdua bisa terbongkar habis di depan bapaknya."
Marko meremas rambutnya, merutuki kebodohannya. "Terus gue harus gimana, Ga? Dia gak mau dengerin gue sama sekali!"
Yoga menepuk bahu sahabatnya itu tegas. "Lu gak bisa cuma ngomong paksa tanpa bukti, Ko. Aluna lagi emosi. Lu harus kumpulin bukti konkret yang gak bisa dibantah kalau lu mau dia percaya lagi."
Perkataan Yoga seketika memantik ingatan Marko. CCTV!
Tanpa membuang waktu, Marko mendatangi ruang kontrol keamanan penthouse dan mengecek rekaman CCTV di koridor depan pintunya dari kejadian semalam.
Di layar monitor, terlihat jelas rekaman utuh tanpa terputus: Jessi datang berjalan limbung, memeluk dan mencium Marko secara paksa di ambang pintu, Marko yang refleks mendorong Jessi hingga hampir terjatuh, lalu Marko memilih berdiam diri di luar lorong lift menanti kedatangan Yoga hingga akhirnya Yoga datang menyeret Jessi pergi. Tidak ada satu detik pun Jessi masuk atau bermalam di dalam unitnya.
Marko bernapas lega luar biasa. Senyum tipis mengembang di wajahnya. "Gue punya buktinya."
---
Selama beberapa jam berikutnya, Marko tanpa lelah mencoba menghubungi ponsel Luna. Puluhan panggilan telepon dan belasan pesan penjelasan dikirimkannya, namun tak ada satu pun yang diangkat atau dibalas.
Marko ingin nekat mendatangi rumah Ardi, namun akal sehatnya menahan. Jika ia muncul di sana dalam kondisi Luna yang masih histeris, rahasia hubungan mereka pasti meledak di depan Ardi dan Sinta dengan cara yang salah.
Satu-satunya jalan adalah meminta bantuan pihak ketiga. Marko memutar otak, lalu mencari nomor telepon Rania melalui HRD Janitra Group.
Saat nomor Rania terhubung, Rania melayani telepon itu dengan nada dingin. "Halo, Pak Marko? Mau jelaskan apa lagi? Kasihan Luna, Pak. Hatinya hancur banget gara-gara Bapak!"
"Rania, tolong dengarkan saya sebentar saja," potong Marko dengan nada memohon yang amat tulus. "Saya tahu kamu membela sahabat kamu, dan itu bagus. Tapi demi Tuhan, semua foto itu fitnah. Saya punya rekaman CCTV utuh kejadian semalam. Tolong... bantu saya bawa Aluna keluar sebentar saja untuk bertemu. Kalau setelah lihat bukti ini dia tetap mau putus, saya pasrah."
Keheningan melingkupi seberang telepon. Rania mendengar getaran kebingungan dan ketulusan yang sangat nyata dari suara CEO dingin tersebut. Setelah berdiskusi singkat dengan Kenan lewat pesan singkat, Rania akhirnya luluh.
"Oke, Pak. Saya dan Kenan bakal bawa Luna keluar pakai alasan mau cari angin segar. Tapi Bapak harus tunggu di restoran yang sepi," putus Rania.
---
Tiga puluh menit kemudian, Kenan menyetir mobilnya menuju sebuah private restaurant di kawasan Jakarta Selatan. Luna yang duduk di kursi belakang dengan mata sembab hanya menatap luar jendela tanpa minat.
"Kita mau ke mana sih, Ran?" gumam Luna pelan dengan suara serak.
"Udah, ikut aja dulu, Lun. Cari udara segar daripada kamu melamun terus di kamar," sahut Rania lembut.
Begitu mobil berhenti dan mereka melangkah masuk ke ruangan VIP yang sudah dipesan, langkah Luna seketika terhenti kaku. Di ujung meja, Marko dan Yoga sudah berdiri menyambut mereka.
Mata Luna membelalak, dadanya bergemuruh oleh amarah yang kembali membakar. Ia berbalik hendak keluar. "Kalian jebak aku?!"
"Aluna, tolong... lima menit saja!" tahan Marko cepat, melangkah mendekati Luna namun tetap menjaga jarak aman.
"Mau ngomong apa lagi, Om?!" sentak Luna dengan air mata yang kembali menetes. "Bukti fotonya kurang jelas?! Anting cewek itu kurang membuktikan kalau Om—"
"Dengar dan lihat ini dulu, Aluna!" potong Marko tegas namun lembut. Ia menyodorkan tablet miliknya yang sudah memutar rekaman CCTV berdurasi penuh dari koridor penthouse.
Luna terpaku. Matanya menatap layar tablet itu dengan napas tertahan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Marko mendorong Jessi dengan kasar begitu perempuan mabuk itu menciumnya secara sepihak. Ia melihat Marko yang memilih berdiri di luar ruangan menunggu Yoga datang, dan bagaimana Yoga menyeret Jessi pergi dari sana. Tidak ada momen Jessi menginap seperti yang dibayangkannya.
"Anting itu jatuh dari tas Jessi pas dia berontak ditarik Yoga, Lun," tambah Yoga memberikan kesaksian jujur. "Gue saksi kuncinya. Marko gak nyentuh dia sama sekali."
Luna berdiri mematung. Amarah yang membumbung tinggi seketika luruh, berganti dengan rasa bersalah dan kebingungan yang menumpuk. Meski benteng pertahanannya belum runtuh sepenuhnya karena gengsi dan luka yang terlanjur tergores, sikap dinginnya mulai melunak.
Melihat perubahan raut wajah kekasih kecilnya, Marko tidak sanggup menahan rindu lagi. Ia melangkah maju dan merengkuh tubuh Luna ke dalam pelukan hangatnya yang erat.
Luna sempat mendorong pelan dada Marko, namun akhirnya menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, terisak pelan.
"Maafkan saya membuat kamu ragu..." bisik Marko penuh kasih di atas kepala Luna.
---
Melihat suasana yang mencair, Kenan menyunggingkan senyum lega. Marko yang begitu bersyukur lantas mengajak mereka semua untuk makan malam bersama di ruangan tersebut sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
Suasana makan malam yang tadinya canggung perlahan mulai hangat. Marko terus memberikan perhatian kecil pada Luna, mengambilkan lauk dan memastikan tempat duduk Luna nyaman.
Namun, di tengah-tengah obrolan hangat mereka, ponsel Luna yang tergeletak di meja bergetar pendek. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing masuk kembali.
Luna membuka pesan itu. Binar mata bahagianya seketika padam total. Wajahnya berubah pucat pasi.
Pesan itu berisi satu kalimat dingin:
"Jangan mudah dibodohi pria tua itu, Aluna. Video CCTV yang kamu lihat itu cuma rekaman yang sudah di-edit rapi oleh tim IT Janitra Group untuk menutupi kejahatan Marko."
Marko yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Luna langsung menyadari perubahan raut wajah kekasihnya yang mendadak tegang kaku.
"Aluna? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Marko lembut, mengikis jarak.
Luna tak menjawab. Jemarinya gemetar hebat saat menyerahkan ponselnya ke hadapan Marko.
Marko membaca pesan itu. Dalam hitungan detik, raut wajah sang CEO berubah drastis. Tatapan matanya yang tadi hangat seketika berubah menjadi sangat dingin dan menyalang penuh murka. Rahangnya mengetat keras hingga otot-otot di lehernya menegang.
"Sialan..." geram Marko dengan suara rendah yang membuat semua orang di meja makan bungkam seketika.
Marko tahu betul, ini bukan lagi sekadar aksi mabuk spontan dari Jessi. Ada dalang licik yang secara sistematis terus mengintai, memanipulasi, dan berusaha merusak hubungannya dengan Luna sampai hancur berkeping-keping.
"Yoga!" panggil Marko dengan suara tajam. "Lacak nomor ini sekarang juga! Saya mau tahu siapa bedebah di balik semua ini malam ini juga!"
Siapakah sosok misterius yang terus-menerus memanipulasi Luna dari balik bayangan, dan apakah teror ini akan menghancurkan kepercayaan Luna untuk kedua kalinya?