Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Dua Minggu yang Mengubah Nasib dan Kekuatan Dewa Menengah
Energi yang murni dan dahsyat menyusup ke setiap inci tubuh mereka, meresap ke dalam daging, darah, tulang, hingga ke palung terdalam dantian. Bagi Riu Han, perubahan itu terasa nyata dan tak terelakkan. Lautan pasir halus yang selama ini menjadi sumber kekuatannya di dalam dantian perlahan berubah — butiran pasir yang kecil itu memadat, menyatu, tumbuh menjadi butiran kerikil sebesar kuku jari kelingking. Padat, kokoh, dan jauh lebih bertenaga. Bersamaan dengan itu, batas yang selama ini menahan kekuatannya runtuh. Ia naik tingkat — dari Dewa Kecil tingkat sembilan melangkah mantap masuk ke Dewa Menengah tingkat satu.
Itu hanyalah permulaan. Darahnya berputar lebih cepat, membawa kekuatan baru ke seluruh penjuru tubuh. Daging yang terbentuk kembali lebih padat dan lebih kuat dari sebelumnya. Tulang-tulangnya yang kokoh kini dialiri cahaya lembut yang tak pernah padam, menjadikannya perisai yang jauh lebih tangguh dari baja murni. Kulitnya pun ikut berubah — mengelupas lapis demi lapis bagaikan kulit ular yang berganti, menyisakan kulit baru yang lebih halus, lebih bersih, dan seiring berjalannya waktu, perlahan berwarna seputih giok yang memancarkan cahaya samar. Proses ini berulang berkali-kali: tubuh diperkuat, kulit diganti, lalu diperkuat kembali — siklus pemurnian yang tak kenal lelah.
Genbu dan Bai Wing mengalami hal serupa. Kekuatan leluhur yang mengalir di kolam itu mengenali darah mereka sendiri, memeluknya, dan menyempurnakannya. Tubuh mereka tumbuh lebih tegap, aura mereka lebih tenang namun jauh lebih menggetarkan. Mereka tidak terburu-buru, tidak pula memaksakan diri — mereka membiarkan energi itu meresap perlahan, memadatkan fondasi hingga tak ada celah sedikit pun.
Dua minggu berlalu sejak mereka masuk ke dalam air itu. Dua minggu yang terasa sekejap sekaligus selamanya. Ketika akhirnya mereka merasa tubuh mereka telah penuh, ketika setiap serat keberadaan mereka berteriak bahwa tak ada lagi yang dapat ditampung, ketiganya melangkah keluar dari kolam.
Perubahan yang terjadi sungguh luar biasa.
Kini mereka berdiri di ambang kekuatan yang jauh lebih tinggi — Dewa Menengah tingkat sembilan akhir, tepat di perbatasan menuju ranah Dewa Sejati. Naiknya sangat cepat, nyaris tak masuk akal bagi siapa pun yang memahami jalur kultivasi, namun tidak ada ketidaksempurnaan yang tertinggal. Tidak ada kekosongan yang dipaksakan, tidak ada fondasi yang rapuh. Kekuatan ini bukan datang dari ramuan yang mendesak tubuh naik, melainkan dari pemurnian mendasar — darah, daging, tulang, dan jiwa mereka dibentuk ulang oleh kekuatan yang berasal dari sumber paling murni. Inilah pertumbuhan yang paling sejati, paling kokoh, dan paling langka.
Riu Han memandang kedua sahabatnya. Genbu yang dulu tampak seperti pemuda yang tenang dan sederhana kini memancarkan wibawa yang dalam, seakan ada gunung yang berdiri di belakangnya. Bai Wing yang dulu lincah dan bersemangat kini tampak seperti pedang yang terhunus — tajam, elegan, dan tak tergoyahkan. Wajah mereka lebih dewasa, tatapan mereka lebih tenang, dan setiap gerakan mereka memancarkan keyakinan yang tak perlu diucapkan. Mereka tampak persis seperti putra-putra langit yang ditakdirkan untuk melangkah jauh melampaui batas dunia ini.
Riu Han tersenyum tulus. Ia tidak iri, justru hatinya dipenuhi kebahagiaan. Semakin kuat orang-orang yang ia sayangi, semakin tenang hatinya melangkah ke masa depan yang tak diketahui.
Ia memandang sekeliling sekali lagi, memastikan tak ada jejak yang tertinggal, tak ada harta yang terlewat. Tempat ini telah memberikan mereka yang terbaik, dan kini saatnya pergi. Ia berjalan menuju dinding formasi yang melindungi tempat suci ini, lalu mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan. Dengan ketelatenan yang sama seperti saat masuk, ia menyusun pintu formasi pelengkap, menyeimbangkan energi yang tersisa, dan memastikan tempat itu kembali tenang seakan tak pernah dikunjungi siapa pun. Batu Roh ditempatkan, pintu terbuka, dan ketiganya melangkah keluar bersama-sama.
Begitu mereka berada di luar, Riu Han melesat naik tinggi ke udara, Genbu dan Bai Wing mengikuti di sampingnya. Dari ketinggian itu, pemandangan seluruh Alam Kuno terbentang di hadapan mereka — hutan pohon raksasa yang tak berujung, kabut tipis yang melayang di antara puncak-puncak kayu, sungai berkilauan yang membelah tanah hijau, dan cahaya lembut yang menyelimuti segala sesuatu. Di sini, dari tempat yang tinggi, segala sesuatu terlihat lebih jelas — batas-batas wilayah, jalur yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain, dan kemegahan dunia yang dijaga oleh kekuatan purba selama ribuan tahun.
Riu Han menarik napas panjang, menghirup udara yang segar dan penuh energi. Ia tahu, apa yang mereka peroleh di sini bukan sekadar kenaikan tingkat. Itu hanyalah tanda luarnya saja. Yang sesungguhnya berharga adalah perubahan yang terjadi di dalam — darah yang lebih murni, fondasi yang tak tergoyahkan, dan pemahaman baru tentang siapa mereka sebenarnya.
Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temui saat pulang nanti — gelang yang mereka kenakan akan mengirim mereka ke tempat yang berbeda, di mana saja di wilayah Utara. Namun melihat ke samping, melihat dua sosok yang kini berdiri tegap di sampingnya, Riu Han merasa tak perlu cemas. Apa pun yang terjadi, mereka kini jauh lebih kuat, jauh lebih siap, dan jauh lebih dekat pada jalan yang mereka tuju.