Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Sepeninggal pelayan, Diva kembali menatap pantulan wajahnya di depan cermin.
"Seandainya kamu menjalani kehidupan seberat kehidupan yang aku jalani, mungkin kamu tidak akan punya waktu untuk sekedar menenggak racun. Karena semua waktumu akan tersita habis demi mencari pundi-pundi rupiah, seperti apa yang sudah aku lakukan selama ini." Diva bergumam sambil menatap pantulan wajahnya di depan cermin. "Mulai sekarang, Calista tidak boleh lagi bersikap konyol! Mari nikmati hari-hari yang indah, dan jangan lagi membuang waktu untuk posesif pada seorang pria!." Ketimbang menangisi nasibnya yang terjebak di dalam raga wanita lain, Diva memilih menggunakan kesempatan itu untuk menikmati hidup. Lagipula, selama ini ia hampir tidak pernah menikmati hidup, gadis itu hanya sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Masih di dalam bangunan yang sama namun di ruangan yang berbeda, Elio, Pria tampan yang berprofesi sebagai pengusaha sekaligus produser film terkenal tersebut nampak duduk bersandar pada sofa di ruang kerjanya.
"Aku merasa setelah sadar sikap istrimu nampak aneh. Calista seperti tidak mengenali orang-orang disekitarnya." Jika sedang berdua saja seperti sekarang ini, Edo, pria yang berprofesi sebagai seorang dokter sekaligus sahabat baik Elio tersebut akan berbicara dengan bahasa santai, tidak menggunakan embel-embel tuan di depan nama sahabatnya itu.
"Kamu seperti baru mengenal Calista saja. Itu pasti hanya akal-akalan dia untuk menarik perhatianku." Balas Elio. Bagaimana pria itu tidak sampai berpikir demikian jika kenyataannya istrinya itu pernah berpura-pura sakit hanya agar Ia membatalkan kunjungan kerjanya ke Amerika, bulan lalu. Selalu ada saja kelakuan istrinya itu sehingga Elio jengah sendiri dibuatnya. Terlalu sibuk dengan sikap posesifnya, istrinya itu sampai mengabaikan keberadaan anak mereka, dan itulah yang membuat Elio jadi kesal dan nyaris kehilangan kesabaran menghadapi seorang Calista.
"Bisa jadi Calista bersikap terlalu posesif seperti itu karena takut kehilanganmu, Elio. Kalau aku yang berada diposisi kamu mungkin aku malah senang jika istriku bersikap posesif, karena itu tandanya ia takut kehilangan aku."
"Sayangnya, aku bukan dirimu." Balas Elio, hingga Edo hanya bisa geleng kepala dibuatnya.
"Daddy....." Putranya menghampiri Elio di ruang kerja.
"Kemari sayang!." Elio menepuk pangkuannya hingga bocah berusia lima tahun tersebut berlari ke pangkuannya.
"Elhan mau ketemu mommy, Daddy. Elhan kangen sama mommy...." Bocah itu merengek pada Daddy-nya.
"Sayang.... mommy sedang kurang enak badan sekarang dan harus beristirahat. Besok saja ketemu mommy ya...." Elio tidak ingin sampai putranya kembali menelan kekecewaan atas sikap abai mommy-nya.
"Tapi Elhan maunya sekarang, dad." Bocah itu masih terus merengek hingga membuat Elio tak tega melihatnya.
"Baiklah, Daddy akan mengajakmu ke kamar mommy sekarang." Elio menggendong tubuh putranya dan berlalu. Edo ditinggal begitu saja.
Tepat didepan pintu kamar yang terbuat dari kayu jati pilihan tersebut, Elio nampak ragu untuk mengajak putranya masuk. Akan tetapi, Elhan terus mendesak hingga pada akhirnya Elio memutar kenop pintu kamar. Tindakannya itu berhasil memancing atensi Calista, atau lebih tepatnya Diva yang kini terjebak di dalam raga wanita bernama Calista tersebut.
"Mommy...." Elhan minta diturunkan dari gendongan Daddy-nya lalu berlari kecil menghampiri mommy-nya.
"Mommy..." Cicit Diva dalam hati sambil memandang pada bocah laki-laki yang kini tengah berlari ke arahnya.
Sepersekian detik kemudian, Diva tersadar dari lamunannya dan langsung berjongkok serta merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan bocah itu.
Elio sampai mengerutkan dahi melihat sikap istrinya itu, Calista memberikan pelukan hangat pada putra mereka. Sikap yang hampir tidak pernah ditunjukkan oleh Calista pada Elhan sebelumnya, saking fokusnya wanita itu pada dirinya.
"I love you, mom." Diva merasa ada yang menghangat didalam hatinya ketika mendengar bocah itu mengucapkan kata-kata tersebut.
"Love you to, sayang."
"Akhirnya Elhan dipeluk sama mommy."
Deg.
"Akhirnya?." Ulang Diva dalam hati. "Apa sebelumnya Calista tidak pernah memeluk putranya?." Jika benar demikian, Diva yakin itu pasti adalah hal yang paling disesali oleh ibu manapun di dunia ini, tidak pernah memberikan pelukan hangat untuk da-rah dagingnya sendiri.
"Mulai detik ini, mommy akan selalu memberikan pelukan hangat untuk anak mommy."
"Janji?." Elhan masih seperti tak percaya.
"Mommy janji, sayang."
Lama-kelamaan, Diva menyadari tatapan pria tampan yang diketahuinya sebagai suami dari pemilik raga di mana jiwanya terjebak kini. Elio menatapnya tanpa berkedip.
"Mom...."
"Iya, sayang."
"Apa boleh malam ini Elhan tidur bersama mommy?." Dengan hati-hati bocah itu bertanya agar tidak sampai memancing Omelan mommy-nya seperti sebelum-sebelumnya.
"Tentu saja boleh." Tanpa berpikir lama-lama, Diva langsung mengiyakan permintaan bocah itu untuk tidur bersamanya malam ini. Lagipula, beberapa saat lalu seorang pelayan secara tidak langsung menyatakan bahwa sudah hampir setahun terakhir Calista dan Elio tidak tidur satu kamar. Entah apa alasannya, Diva tak mau tahu.
"Asyik....." Bocah itu tampak sumringah. "Daddy boleh tidur di sini juga tidak, bareng aku dan mommy?."
"Daddy akan tidur di kamarnya sendiri, sayang. Lagian, mommy tidurnya ngorok, takutnya Daddy malah terganggu nantinya." Diva asal menjawab saja sambil mengukir senyum manis di bibirnya.
Elio seakan melihat sosok orang lain dalam diri istrinya. Sungguh, sikap Calista yang saat ini ada dihadapannya, sangat jauh berbeda dengan Calista yang dikenalnya. Wanita itu kini terang-terangan menolak tidur sekamar dengannya, padahal sebelumnya, Calista selalu mencari cara agar bisa tidur sekamar lagi dengannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Calista? Mengapa sikapnya sangat berbeda setelah dua hari tidak sadarkan diri?" Batin Elio sebelum berlalu, kembali ke ruang kerjanya.
Diva sedikit lega, di rumah mewah itu ia tak akan sendirian, ada Elhan yang akan menemani hari-harinya selama berada di sana, sampai nanti jiwanya bisa kembali ke raganya yang sesungguhnya.
*
Keesokan paginya, lagi-lagi Elio seperti tak percaya melihat istrinya sudah bersiap mengantarkan putra mereka ke sekolah.
"Taktik apa lagi yang coba dimainkan oleh Calista kali ini?." Batin Elio seraya menatap istrinya yang baru saja tiba di ruang makan bersama Elhan.
Elio dapat menangkap kebahagiaan di wajah putranya. Ini pertama kalinya bocah itu diantarkan oleh mommy-nya ke sekolah.
Diva menarik salah satu kursi dan meminta Elhan menempatinya dan lanjut menarik kursi lainnya untuk ditempati sendiri olehnya.
"Habiskan susunya, sayang!."
"Baik, mom." Senyum seolah enggan surut dari bibir mungil Elhan dan sejak tadi Elio memperhatikan itu.
"Daddy tunggu di depan, Elhan." Kata Elio setelah menyeka bibirnya dengan tisu kemudian bangkit dari duduknya.
"Okey, dad."
"Jadi, aku dan Elhan akan diantarkan oleh Daddy-nya Elhan?." Batin Diva. Awalnya Diva berpikir sopir keluarga yang akan mengantarkan mereka ke sekolah, tapi ternyata dugaannya salah.
Elio menunggu dengan berdiri bersandar pada pintu mobilnya. Elhan memang lebih suka mengemudikan mobilnya seorang diri tanpa bantuan sopir.
Tak lama berselang, Diva dan Elhan nampak keluar dari dalam rumah.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣