Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ia segera membuka laci meja riasnya, menggeser kotak perhiasan palsu yang biasanya ia pakai, dan menekan panel kayu di dasar laci. Sebuah mekanisme *hidden compartment* terbuka. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku catatan kecil dan sebuah flashdisk hitam.
Ini adalah "asuransi" yang ibunya tinggalkan. Di kehidupan pertama, Reyna tidak pernah tahu tentang tempat persembunyian ini sampai ia menemukan buku catatan itu secara tidak sengaja tiga tahun setelah kematian ibunya, tepat setelah Richard mengambil alih semua akses keuangan.
Isinya adalah daftar rekening rahasia, kode akses safe deposit box di bank swasta, dan nama-nama orang kepercayaan ibunya yang tidak diketahui Richard.
Reyna mengambil flashdisk itu dan memasukkannya ke dalam saku roknya. Benda ini adalah nyawanya sekarang.
Tok tok tok...
"Reyna? Boleh aku masuk?"
Suara Julian. Nada suaranya dibuat serendah dan selembut mungkin, nada yang biasanya digunakan pria itu untuk merayu Reyna agar mau menuruti keinginannya.
Reyna menatap pintu dengan tatapan datar. Ia tidak bergerak untuk membukanya. "Pintunya tidak dikunci, Julian. Masuk saja."
Pintu terbuka. Julian melangkah masuk, membawa nampan berisi secangkir teh dan kue. Ia tersenyum, senyum yang dulu bisa membuat lutut Reyna lemas, tapi sekarang hanya membuat Reyna ingin muntah.
"Kau membuat Papa sangat marah, Sayang," ucap Julian, meletakkan nampan di atas meja kecil di dekat sofa. "Dia sedang sakit jantung, kau tahu itu. Menantangnya seperti tadi... itu tidak bijak."
Julian duduk di sofa, menepuk-nepuk tempat di sampingnya, mengajak Reyna duduk. "Sini. Minumlah teh chamomile ini. Kau pasti stres. Kita bisa bicarakan dokumen itu lagi nanti. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu, kau tahu kan? Dia takut kau tidak mampu mengelola beban perusahaan sendirian."
Gaslighting. Taktik klasik Julian. Memutarbalikkan fakta, membuat korban merasa bahwa mereka yang salah, bahwa pelaku yang sebenarnya adalah korban.
Reyna tidak duduk di samping Julian. Ia tetap berdiri, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat Julian sedikit gelisah.
"Julian," ucap Reyna pelan. "Kau tahu apa yang paling lucu dari semua ini?"
Julian berkedip, senyumnya goyah sedikit. "Apa... maksudmu, Sayang?"
"Kau sangat pandai berakting," lanjut Reyna, melangkah mendekat namun tidak menyentuh pria itu. Ia menatap mata Julian lekat-lekat. "Kau berdiri di sana, berpura-pura peduli pada kesehatan Papa, sambil menyembunyikan fakta bahwa kau dan Clarissa sudah tidur bersama selama enam bulan terakhir."
Hening.
Wajah Julian seketika berubah menjadi topeng porselen yang retak. Warna merah padam merayap dari leher ke pipinya. Matanya membelalak, bukan karena malu, tapi karena ketakutan yang murni.
"Apa... apa katamu? Reyna, kau... kau sedang berhalusinasi karena stres! Clarissa adalah adikmu! Bagaimana bisa kau berpikir..."
"Jangan berteriak," potong Reyna dingin. "Aku tidak punya bukti fisik di tanganku sekarang. Tapi aku tahu. Aku tahu kau memesan kamar di Hotel St. Regis setiap hari Selasa sore dengan nama samaran. Aku tahu kalung berlian yang 'hilang' dari brankas Papa bulan lalu sekarang melingkar di leher Clarissa saat ia memakai gaun biru kemarin malam."
Julian berdiri, kakinya lemas. "Kau... kau memata-matai kami?"
"Aku tidak perlu memata-matai jika kau tidak terlalu ceroboh, Julian," bohong Reyna. Sebenarnya, ia tidak tahu detail itu di masa lalu. Ia hanya tahu mereka berselingkuh karena pengakuan Clarissa di gudang terbengkalai sebelum ia mati. Tapi Julian tidak tahu itu. Dan ketakutan di mata Julian adalah konfirmasi yang cukup baginya.
Reyna tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Tenanglah. Aku tidak akan memberitahu Papa. Belum. Tapi ingat satu hal, Julian. Mulai hari ini, kau akan melakukan apa yang kukatakan. Karena jika tidak, Papa tidak hanya akan kehilangan sahamku, tapi juga kehilangan menantu favoritnya yang ternyata sedang menggerogoti aset keluarga dari dalam bersama putri kesayangannya."
Julian menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia menatap Reyna seolah melihat orang asing. Gadis di hadapannya ini bukan Reyna yang cengeng dan penurut. Ini adalah predator yang baru saja menyadari kekuatannya.
"Apa... apa maumu?" tanya Julian, suaranya parau.
Reyna tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pintu. "Keluar. Dan bilang pada Papa, aku akan menemuinya di meja makan saat makan malam. Kita akan membahas 'masa depan' perusahaan. Tapi kali ini, dengan aturanku."
Julian tidak membantah. Ia mengangguk kaku, lalu berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah yang tidak lagi anggun, melainkan tergesa-gesa seperti pencuri yang ketahuan.
Setelah pintu tertutup, Reyna menghela napas. Jantungnya berdegup kencang. Mengancam Julian adalah langkah berbahaya. Ia baru saja menciptakan musuh yang putus asa, dan orang yang putus asa bisa melakukan hal-hal nekat. Tapi ia butuh waktu untuk mengatur strateginya, dan membuat Julian takut adalah cara tercepat untuk melumpuhkannya sementara waktu.