Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 Ketakutan yang Menghancurkan
Toko buku itu sudah kembali sepi namun Arkan masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya kosong ke arah pintu keluar.
Ke tempat Alkina tadi pergi, dadanya terasa begitu sesak sampai sulit bernapas.
Karena ada pertanyaan yang ada kepalanya yang entah siapa yang bisa memberikan jawabannya.
Apa Alkina tidak mengenalinya?
Atau…
memilih pura-pura tidak kenal?
Tangannya perlahan mengepal kuat setelah bertahun-tahun Arkan benar-benar merasa takut kehilangan adiknya.
“Tuan muda…” Pemilik toko memanggil hati-hati.
Namun Arkan tidak langsung menjawab.
“Tuan muda baik-baik saja?” tanya pemilik toko
Tatapannya masih kosong.
“Dia lihat aku…” Suara laki-laki itu sangat lirih.
“Dia jelas lihat aku…” Dan justru karena itu hatinya semakin hancur.
Karena Alkina pergi tanpa memanggilnya, tanpa mendekat, tanpa berkata apa-apa seakan-akan dirinya adalah orang asing di mata adiknya.
“Apa dia benci aku…?”Kalimat itu keluar begitu pelan hingga nyaris seperti bisikan patah.
Di luar toko…
Alkina duduk di dalam mobil dengan tubuh gemetar. Tangannya masih menggenggam buku erat sambil menangis diam-diam.
Penjaga rumah yang menyetir hanya bisa diam karena gadis itu terlihat benar-benar hancur sekarang.
“bang Arkan kurusan sekarang…”
Suara Alkina pecah pelan, air matanya jatuh lagi.
“Dia kelihatan capek banget…” Dadanya terasa sakit saat melihat mata abangnya tadi.
Tatapan penuh rasa bersalah itu terlalu menyakitkan dan Alkina tahu kalau ia mendekat tadi, Arkan mungkin malah semakin terluka.
Sesampainya di rumah, Alkina langsung masuk kamar. Ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya erat.
Bayangan wajah Arkan terus muncul di kepalanya. Luka samar di pelipis. Tatapan dingin yang sebenarnya rapuh. Dan cara pria itu membeku saat melihatnya. Air mata Alkina jatuh lagi.
“Abang bodoh…” Suaranya penuh tangis.
“Aku nggak pernah benci abang…”
Sementara itu Arkan akhirnya kembali ke rumah persembunyiannya menjelang malam. Namun pria itu terlihat jauh lebih kacau dari biasanya. Ia langsung masuk ruang kerja tanpa bicara pada siapa pun.
Brak.
Pintu ditutup keras.
Anak buahnya saling berpandangan bingung karena selama ini Arkan selalu terlihat tenang dalam situasi apa pun namun hari ini berbeda.
Di dalam ruangan, Arkan duduk sambil menunduk, tangannya gemetar kecil ia berharap Alkina marah karena itu akan lebih mudah diterima dan ia bisa mengetahui apa yang adiknya rasakan namun tatapan Alkina tadi tidak terlihat marah dan diammnya tadi justru itu yang membuatnya semakin takut karena mungkin adiknya sudah terlalu kecewa sampai tidak ingin mendekat lagi.
“Aku terlambat…” Suara Arkan terdengar pecah.
“Aku terlalu lama ninggalin dia, aku benar-benar lemah, penakut, aku…”
Tok
Tok
Tok
Pintu diketuk pelan.
“Tuan muda, anda baik-baik saja…”
“Pergi.” Teriak Arkan.
Namun pria di luar tetap berbicara hati-hati.
“nyonya Mira datang.”
Tubuh Arga langsung sedikit menegang. Beberapa menit kemudian, Mira masuk perlahan ke ruang kerja.
Dan begitu melihat wajah Arkan perempuan itu langsung tahu sesuatu terjadi.
“Kamu bertemu Alkina.”
Bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
Arkan menunduk diam.
“Nenek…” Suara laki-laki itu berat.
“Dia pergi nek.”
Tatapan Mira melembut sedikit. “Lalu?”
“Dia lihat aku... tapi”
Sunyi beberapa detik.
“Apa dia…” napas Arkan terasa berat, “…nggak kenal aku?”
Mira memandangnya lama sekali.
Lalu perlahan menghela napas.
“Nenek rasa Alkina mengenalimu.”
Kepala Arkan langsung terangkat cepat.
“Apa nenek yakin?”
“Dari mata kamu saja, ia langsung tahu itu kamu.” jawaban itu justru membuat dada Arkan semakin sesak.
“Kalau begitu…” suaranya mulai bergetar kecil, “…kenapa dia pergi nek?”
Mira terdiam sesaat lalu berjalan mendekat.
“Karena dia melihat kamu takut... dan nenek juga memberitahukan alasan kamu belum juga menenemui dia.”
Mira menghembuskan nafasnya.
“Nenek kan sudah berkali-kali bilang sama kamu, temui adik kamu, tapi kamu selalu saja bilang belum siap.”
“Alkina juga sudah berkali-kali menanyakan sama nenek... kenapa kamu tidak penah menemui dia...”
Tubuh Alkina langsung membeku.
“Nenek jawab sesuai yang kamu rasakan, kamu belum siap bertemu degannya.”
“Tapi tadi kenapa dia tidak berbicara sama aku?”
“Dia nggak mau membuat kamu semakin terbebani.”
Air mata perlahan jatuh dari mata Arkan ini kali pertamanya dalam hidupnya ia merasa begitu kecil.
Karena adiknya yang selama ini paling terluka, tapi dia juga yang paling pengertian, adiknya masih memikirkan perasaannya.
“Arkan nenek berharap kamu temui Alkina secepatnya.”
“Aku... aku belum siap... aku takut dia benci sama aku nek.”
“Arkan kamu coba temui adik kamu dulu...”
“Arkan dengarkan nenek, adik kamu itu tidak benci kamu, malah dia rindu banget sama kamu... dia sangat ingin bertemu dengan kamu Arkan.” Ucap Mira panjang lebar, berharap Arkan mengerti bahwa adiknya sama sekali tidak membenci dirinya dan malah sangat ingin bertemu dengan Arkan.
“Beri aku waktu sedikit lagi nenek, aku janji secepatnya, aku akan menemui Alkina.”
Sementara itu di kamar Alkina memegang gelang biru pemberian Arkan sambil menatap langit malam.
Dadanya masih terasa sakit, namun di balik rasa sakit itu ada satu hal yang kini ia yakini sepenuhnya.
abangnya masih menyayanginya. Sangat menyayanginya.
“Aku berharap kita bisa secepatnya bertemu kembali dan mengobrol bersama.” Ucap Alkina penuh harap hari itu secepatnya tiba. Dimana dirinya mengobrol dengan abangnya, menghabiskan waktu bersama, saling bercerita tentang kisah hidup mereka.
******
Malam itu Arkan tidak tidur, ia duduk sendirian di ruang kerjanya dengan lampu redup sambil memandangi gelang biru yang dulu ia buat berpasangan dengan milik Alkina
Pikirannya kacau, namun ucapan Mira terus terngiang di kepalanya.
“Alina pergi karena dia melihat kamu takut...”
“dia sangat ingin bertemu dengan kamu Arkan.”
Dadanya kembali terasa sesak. Selama ini ia terlalu sibuk tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri sampai lupa satu hal penting. Alkina tidak pernah membencinya.
Tidak akan pernah.
Tok
Pintu ruang kerja diketuk pelan.
Tok
“Masuk.”
Mira masuk sambil membawa secangkir kopi hangat lalu meletakkannya di meja.
Mira kembali menemui Arkan.
“Kamu terlihat sangat kacau Arkan.” Arkan tersenyum pahit kecil.
“Aku memang kacau.”
Mira duduk di depannya.
“Kamu tahu apa yang dilakukan Alkina setelah pulang?”
Tatapan Arkan langsung berubah.
“Apa dia menangis?”
“Iya, dia menangis, matanya juga bengkak karena menangis terlalu lama.”
Hati Arkan langsung merasa semakin bersalah.
Namun Mira melanjutkan pelan,
“Tapi dia menangis karena bahagia...”
“Dia terus bilang kalau akhirnya dia bisa melihat abangnya lagi secara langsung... bukan lagi melihat foto masa kecil kamu... nenek kemaren juga kasih foto kamu yang sekarang... agar dia tahu seperti apa wajah abangnya yang sekarang.”
Air mata perlahan menggenang di mata Arkan. Pria itu langsung menunduk sambil menutup wajahnya.
Dan ini pertama kalinya sejak bertahun-tahun beban besar di dadanya sedikit retak.