NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Darah Belum Kering, Tagihan Belum Lunas, dan Tim Kedua Sudah di Jalan

Aira menatapnya. “Kalau begitu kenapa kita masih di sini?”

“Karena kamu menolak pindah.”

“Saya tidak menolak. Saya hanya bertanya biaya.”

Reza menghela napas panjang. “Safe house unit saya gratis. Termasuk makanan, listrik, dan pengamanan. Tidak ada tagihan.”

Aira terdiam, menghitung di kepala. “Gratis berarti ada syarat tersembunyi. Biasanya berupa laporan atau penahanan sementara.”

“Tidak ada penahanan. Hanya perlindungan.”

Raka menoleh ke Reza. “Dia tetap di sini. Saya sudah tambah enam orang di lobi dan atap.”

“Enam orang tidak cukup untuk organisasi itu.”

Aira meletakkan gelas. “Sudah. Kalian ribut lagi. Saya yang putuskan.” Dia berdiri pelan, menahan nyeri. “Saya ikut Reza. Tapi dengan tiga syarat.”

Reza mengangkat alis. “Sebut.”

“Satu... saya tidak boleh dikunci di dalam ruangan. Dua... saya boleh bawa pisau lipat. Tiga... kalau saya lapar di tengah malam, ada yang belikan makanan tanpa ceramah.”

Reza hampir tersenyum. “Deal.”

Raka berdiri, rahangnya mengeras. “Aira—”

“Karpetmu belum diganti. Bau darah masih ada. Dan saya tidak mau jadi alasan rumahmu dihancurkan lagi.” Aira menatapnya lurus. “Selain itu, kamu sudah mengeluarkan terlalu banyak uang untuk saya. Saya tidak suka hutang besar.”

Raka maju satu langkah. Jarak mereka kembali dekat. “Saya tidak menghitung itu sebagai hutang.”

“Saya menghitung.”

“Kalau begitu hitung ini juga.” Raka menunduk, suaranya rendah hanya untuk Aira. “Tadi malam kamu sandarkan kepala di bahu saya. Lima detik yang kamu izinkan jadi hampir tiga puluh. Itu juga hutang.”

Aira merasakan panas naik ke telinga. “Itu karena lelah.”

“Bohong.”

Reza batuk pura-pura. “Kita bergerak dalam sepuluh menit. Bawa hanya yang perlu.”

Aira mengangguk, lalu berjalan ke kamar tanpa bilang apa-apa. Raka mengikutinya sampai depan pintu. “Aira.”

“Ya?”

“Saya ikut ke safe house.”

“Tidak perlu.”

“Saya ikut.” Suaranya final. “Kalau Reza bilang tidak, saya tetap ikut. Saya sudah terlalu dalam terlibat dengan masalah ini.”

Aira menatapnya lama. “Kalau kamu ikut, bensin dan makananmu kamu yang bayar sendiri. Saya tidak mau tambah hutang.”

Raka tersenyum tipis. “Deal.”

Sepuluh menit kemudian mereka turun lewat lift barang. Reza di depan, dua anak buah di belakang, Raka di samping Aira. Di basement, dua mobil hitam sudah menunggu.

Aira baru saja naik ke mobil kedua ketika radio Reza berbunyi kasar. “Paket kedua terlihat. Empat kendaraan. Arah utara. ETA empat menit.”

Reza mengutuk pelan. “Cepat masuk. Kita keluar sekarang.”

Mobil melaju kencang keluar dari basement. Aira duduk di kursi belakang antara Raka dan jendela. Tangannya masih memegang pisau lipat di dalam saku.

Raka meraih tangan kirinya. “Tenang.”

“Saya tenang. Saya hanya menghitung berapa peluru yang kita punya.”

“Cukup.”

“Kalau tidak cukup, saya pakai pisau. Tapi nanti saya tagih biaya cuci darah di baju.”

Raka mengeratkan genggamannya. “Tagih saja. Nanti saya bayar dengan bunga.”

Aira menoleh. “Bunga berapa persen?”

Sebelum Raka sempat menjawab, mobil di depan tiba-tiba berbelok tajam. Suara tembakan samar terdengar dari belakang. Reza berteriak dari mobil depan lewat radio. “Mereka mengejar. Tahan!”

Aira menundukkan kepala secara insting. Raka menariknya lebih dekat ke dadanya, satu tangan melindungi kepalanya, tangan lain sudah memegang pistol. Di luar kaca yang gelap, lampu kota berganti cepat. Bau keringat dan sedikit darah masih menempel di pakaian mereka.

Aira berbisik, hampir tidak terdengar. “Raka.”

“Ya?”

“Kalau kita selamat malam ini, karpetmu tetap harus diganti. Saya tidak mau hutang delapan puluh juta menggantung.”

Raka tertawa pendek di tengah ketegangan. “Kamu gila.”

“Bukan gila. Praktis.”

Tembakan lagi lebih dekat. Reza melaju semakin kencang. Di cermin spion, empat pasang lampu mobil terlihat semakin mendekat. Aira menatap gelap di luar, pisau masih di genggaman.

"Uang bisa diganti. Nyawa tidak."

Tapi entah kenapa, malam ini dia lebih takut kehilangan tiga pria merepotkan di sekitarnya daripada kehilangan nyawanya sendiri. Mobil belok tajam ke kiri. Ban berdecit. Aira terdorong ke sisi tubuh Raka. Nyeri di rusuk langsung menusuk, tapi dia hanya menggigit bibir. Di luar kaca, lampu jalan berganti cepat seperti garis-garis kuning yang putus.

“Pegang erat,” kata Raka. Suaranya rendah, dekat di telinga.

“Sudah.” Aira menekan pisau lipat di dalam saku. “Berapa mobil yang mengejar?”

“Empat. Mungkin lima.”

Reza terdengar dari radio di dashboard. “Belok kanan di lampu merah. Jangan berhenti. Saya tarik mereka ke jalan tol.”

Sopir mengangguk. Mobil di depan sudah lebih dulu berbelok. Tembakan meletus dari belakang. Satu peluru mengenai bagasi dengan bunyi metal yang tajam. Aira menunduk lebih rendah. “Kalau mobil ini rusak, siapa yang bayar?”

Raka menatapnya sekilas sambil tetap mengarahkan pistol ke belakang. “Saya. Selalu saya.”

“Jangan bilang selalu. Itu bikin hutang saya numpuk.”

“Aira, sekarang bukan waktunya—”

Peluru lain mengenai spion kanan. Kaca pecah. Raka menarik kepala Aira ke dadanya dengan satu tangan. “Diam di situ.”

Aira bisa mendengar detak jantung Raka yang terlalu cepat. Bau keringat dan parfum mahal bercampur. “Kamu terlalu dekat.”

“Lebih baik dekat daripada kepalamu kena peluru.”

“Kepala saya mahal. Harus dijaga.”

Raka hampir tertawa, tapi menahan. “Kamu ini…”

Radio berbunyi lagi. Suara Reza tegang. “Mereka membelah formasi. Dua mobil di belakang kita, dua mencoba mendahului. Siapkan senjata.”

Raka menurunkan kaca jendela sedikit. Angin malam masuk kencang. Dia menembak dua kali ke arah roda mobil yang mencoba menyamping. Ban pecah. Mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan.

Aira mengamati lewat celah. “Bagus satu. Masih tiga.”

“Kamu menghitung?”

“Selalu. Supaya tahu kapan harus turun dan bertarung sendiri.”

Mobil mereka masuk ke jalan tol. Kecepatan naik. Lampu kota semakin menjauh. Di belakang, tiga pasang lampu masih setia mengikuti.

Reza berbicara lagi. “Safe house masih dua belas kilo. Tahan.”

Aira menegakkan tubuh sedikit. “Kalau tidak tahan?”

“Harus tahan.”

Raka menoleh ke Aira. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti. “Dengar. Kalau situasi memburuk, kamu ikut saya turun di pintu keluar berikutnya. Reza lanjut sebagai umpan.”

“Tidak. Saya tidak suka jadi beban.”

“Kamu bukan beban.”

“Semua orang yang dilindungi adalah beban. Saya tahu itu.”

Raka menggeram pelan. “Aira—”

Tembakan bertubi dari belakang. Kaca belakang retak star-shaped. Sopir mengumpat dan mengganti jalur tiba-tiba. Aira terdorong lagi ke Raka. Kali ini Raka tidak melepas. Lengannya melingkar di bahu Aira, menahan tubuhnya tetap stabil.

“Lepas,” bisik Aira.

“Tidak.”

“Aturan—”

“Aturan bisa menunggu sampai kita tidak ditembaki.”

Aira terdiam. Jantungnya berdetak terlalu kencang, bukan hanya karena peluru. Juga karena lengan Raka terasa panas menembus kain tipis baju rumah sakit yang masih dia pakai. Dia bisa merasakan napas Raka di rambutnya.

Radio berbunyi kasar. “Mereka mengeluarkan senjata otomatis. Hati-hati.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!