Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Namun tawa Dion tidak berlangsung lama.
Di atas panggung, Clara memejamkan matanya rapat-rapat.
Gadis itu mengambil posisi berdiri dengan kaki sedikit terbuka, memusatkan seluruh energinya ke otot perut bawah.
Ia mengingat semua instruksi anatomi yang diajarkan oleh Stevan semalam.
Tubuhnya kini berfungsi sebagai bodi gitar yang siap memantulkan suara dengan resonansi maksimal.
Clara membuka mulutnya dan melepaskan seluruh amarah serta rasa sakitnya.
"KALIAN BERPESTA DI ATAS LUKAKU!"
BAM!
Sebuah gelombang suara yang luar biasa dahsyat dan murni meledak langsung dari tenggorokan Clara.
Suara itu bergema dengan sangat kuat, bulat, dan tebal, menghantam udara auditorium layaknya bom tak terlihat.
Tanpa bantuan mikrofon, tanpa kabel, tanpa speaker elektronik, suara Clara menyapu seluruh barisan kursi hingga ke ujung paling belakang.
Ribuan penonton yang tadinya sedang berbisik dan mengejek langsung membeku di tempat duduk mereka.
Mata mereka terbelalak sangat lebar seakan bola matanya mau melompat keluar.
"S-suara apa itu?!" jerit seorang penonton sambil memegangi dadanya yang ikut bergetar.
"Gila! Dia tidak pakai mik sama sekali tapi suaranya sampai menembus telingaku!" tambah penonton di sebelahnya.
Pak Budi yang duduk di barisan juri sampai menjatuhkan pulpennya dari genggamannya.
Ia menatap sosok gadis bertopeng di atas panggung itu dengan rahang yang menganga lebar.
"Resonansi ruang murni? Teknik vokal tingkat master ini dilakukan oleh seorang anak muda?!" batin Pak Budi dengan takjub luar biasa.
Di atas panggung, Stevan tersenyum dingin di balik maskernya dan mulai memetik gitarnya dengan tempo yang semakin cepat.
Jreng... jreng... jreng!
Petikan gitar akustik itu berpadu dengan sangat sempurna mengiringi suara melengking Clara.
"SEKARANG BERSIAPLAH! KARENA MAHKOTA KEPALSUAN KALIAN AKAN SEGERA RUNTUH!"
Clara mencapai nada tertinggi di bagian chorus dengan teknik belting yang luar biasa jernih tanpa ada nada fals sedikit pun.
Urat di lehernya terlihat sangat jelas, menunjukkan betapa besar tenaga alami yang ia gunakan.
Auditorium raksasa itu seakan disihir oleh kekuatan magis dari vokal S-Rank yang tidak terbendung.
Bulu kuduk setiap orang di ruangan itu berdiri merinding, terbawa oleh emosi keputusasaan dan amarah dari lagu tersebut.
Tidak ada lagi teriakan hujatan, tidak ada lagi botol minuman yang melayang.
Yang ada hanya ribuan manusia yang duduk terpaku, menjadi saksi bisu lahirnya sebuah legenda baru di industri musik.
Di bangku VVIP, wajah Dion kini sepucat mayat yang sudah dikubur berhari-hari.
Tawanya telah lenyap tanpa sisa, digantikan oleh keringat dingin yang mengucur deras membasahi kerah kemejanya.
"T-tidak mungkin... ini tidak masuk akal," gumam Dion dengan suara bergetar dan napas terputus-putus.
"Bagaimana bisa manusia bernyanyi sekeras itu tanpa bantuan mesin?!"
Pak Surya yang berada di sebelahnya kini duduk dengan posisi sangat kaku, matanya menatap tajam ke arah panggung.
Manajer label yang selalu licik itu akhirnya menyadari satu kenyataan yang sangat menakutkan.
"Kita sudah salah memilih lawan, Dion," desis Pak Surya dengan nada penuh keputusasaan.
"Rumor lipsync kita baru saja dihancurkan menjadi debu dalam hitungan detik."
"Sekarang, opini publik akan berbalik menyerang kita yang menyebarkan kebohongan itu."
Ketika nada terakhir dari petikan gitar Stevan selesai berbunyi, Clara menghembuskan napas panjang dan menundukkan kepalanya.
Hening.
Keheningan yang sangat absolut menguasai auditorium itu selama hampir sepuluh detik penuh.
Bahkan suara helaan napas penonton pun nyaris tidak terdengar.
Lalu perlahan, seorang penonton di barisan depan berdiri dan bertepuk tangan.
Prok.
Satu tepukan itu langsung memicu reaksi berantai yang luar biasa brutal.
Prok! Prok! Prok! Prok!
Ribuan penonton serentak berdiri dari kursi mereka dan memberikan standing ovation yang sangat bergemuruh.
"The Zeros! The Zeros! The Zeros!"
Nama grup itu diteriakkan berulang kali dengan penuh kekaguman dan rasa bersalah.
Mereka baru menyadari betapa bodohnya mereka karena telah mempercayai rumor media murahan.
Mereka baru saja menghujat musisi paling berbakat yang pernah menginjakkan kaki di panggung ini.
Pak Budi dan tiga juri lainnya berdiri dengan wajah penuh air mata kebahagiaan, memberikan nilai sempurna tanpa ragu.
Hanya Pak Barata yang masih duduk mematung dengan wajah penuh ketakutan, namun ia pun terpaksa menekan tombol hijau agar tidak diamuk massa.
Stevan memasukkan kembali gitarnya ke dalam kotak dan berdiri di samping Clara.
Ia merogoh sakunya, mengetik sebuah pesan pendek, lalu menunjukkan layar ponselnya ke arah kamera utama yang menyiarkan acara itu secara langsung ke seluruh negeri.
"Kebenaran tidak butuh mikrofon untuk didengar."
Kamera menyorot tulisan itu dalam ukuran penuh di layar raksasa auditorium.
Sorak-sorai penonton langsung meledak sepuluh kali lipat lebih gila dari sebelumnya.
Kalimat itu menjadi tamparan paling keras bagi siapa pun yang berani meragukan kemampuan mereka.
Stevan kemudian berbalik badan dan melangkah turun dari panggung, diikuti oleh Clara yang berjalan dengan kepala tegak.
Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi, namun kehadiran mereka hari ini telah resmi meruntuhkan kesombongan industri musik arus utama.
Pertarungan semifinal ini telah dimenangkan secara mutlak oleh dua orang yang pernah dibuang.