NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMINGGU YANG DIJANJIKAN

PANDE SIKEK, 1972 - SEMINGGU SETELAHNYA

Seminggu itu terasa panjang bagi SD Negeri No. 1 Pande Sikek.

Bagi anak-anak lain, seminggu adalah tujuh kali main kelereng tanah liat di halaman berdebu, tujuh kali berebut layang-layang kertas semen yang putus di pematang sawah. Bagi guru-guru, seminggu itu adalah tujuh kali mereka melirik ke jalan tanah becek di depan sekolah, berharap melihat tas karung goni yang berat itu kembali.

Bagi Arya Arsyad Sikumbang, seminggu itu adalah tujuh malam di bawah lampu petromaks.

Tepat tujuh hari setelah sore itu. Hari yang sama. Bel seng dipukul lagi.

Tong... tong... tong...

Anak-anak berhamburan lagi. Debu naik lagi. Teriakan, tawa, kaki-kaki nyeker yang hitam dan pecah-pecah karena embun Singgalang berlari di tanah yang bercampur serutan kayu surian.

Dan seperti seminggu yang lalu, Arya Arsyad Sikumbang tidak ikut berlari.

Ia masih duduk di bangku paling belakang, bangku kayu surian yang kakinya sudah goyang. Tapi tas karung goninya kini terlihat lebih berat, lebih penuh. Ujung-ujung buku sampul coklat yang dulu masih baru dan mengkilat, kini sudah sedikit lecek, sudutnya melipat, sampulnya sudah ada bekas minyak tanah dari lampu petromaks yang bocor.

Ibu Guru Nasbah yang sudah menunggu di depan pintu yang tidak ada pintunya itu langsung menghampirinya. Wajahnya tegang, matanya sembab karena kurang tidur.

"Arya?"

Arya berdiri. Celana merah kebesarannya masih diikat tali ijuk yang sama, yang dipintal Siti Aminah.

"Sudah seminggu, Nak," kata Bu Nasbah pelan, suaranya hampir berbisik, takut didengar murid lain. "Bagaimana? Ada kendala? Bukunya susah? Bahasanya tinggi? Ada yang tidak mengerti?"

Itu pertanyaan yang wajar. Karena buku yang ia bawa adalah buku Fisika SMP tentang Gaya dan Gerak, buku Kimia tentang Unsur dan Senyawa, dan buku Aljabar yang bahkan anak SMP di Padang Panjang yang sekolahnya pakai sepatu dan belajar pakai lampu listrik banyak yang tidak lulus.

Arya menggeleng. Pelan. Sopan. Matanya yang oleh orang kampung disebut "matanya tua" itu menatap Bu Nasbah dengan tenang.

"Tidak ada kendala, Bu Guru."

Jawaban itu singkat. Tapi diucapkan dengan keyakinan seorang anak yang memang sudah selesai membaca.

Bu Nasbah menarik napas panjang.

"Betulan?"

"Betulan, Bu. Awalnya susah, Bu. Kata-katanya seperti Newton, percepatan, unsur. Arya tidak tahu. Tapi Arya baca pelan-pelan. Satu halaman Arya baca tiga kali."

Ia menepuk tas karung goninya yang berat.

"Di rumah, kakak-kakak Arya bantu."

Dan itu benar.

Seminggu itu, rumah gadang ukir Abdullah bin Rais Payobadar di ujung Pande Sikek itu tidak pernah sepi dari cahaya petromaks.

Malam pertama, ketika Arya pulang dengan tiga buku SMP di tas karung goninya, Siti Aminah Sikumbang hampir pingsan.

"Ya Allah, Arya! Ini buku apa? Berat bana! Ini bukan buku Ini Budi!"

Abdullah bin Rais Payobadar yang sedang menghaluskan ukiran saik galamai di beranda, berhenti memahat. Ia mengambil buku Fisika itu. Membukanya. Ia yang hanya tamatan Sekolah Rakyat zaman Belanda, tidak mengerti satu kata pun di dalamnya. Tapi ia mengerti satu hal: anak bungsunya yang lahir tahun 1965 di malam berkabut itu sedang membawa beban yang lebih berat dari kayu surian.

Malam itu, di bawah satu lampu petromaks yang sama yang menerangi kelahirannya tujuh tahun lalu - lampu yang harus dipompa dulu biar terang, yang cahayanya kuning dan menari-nari di dinding kayu yang menghitam - tiga bersaudara itu berkumpul di tikar pandan.

Andi Rajo Alam Sikumbang, kakak sulung yang sekarang sudah Kelas 5 SD, yang bajunya dulu dipakai Arya, duduk di sebelah kiri. Arlan Rasyad Sikumbang, kakak kedua yang Kelas 3 SD, duduk di sebelah kanan.

Mereka bukan anak pintar seperti Arya. Mereka anak Pande Sikek biasa. Tapi mereka adalah kakak. Dan di Minangkabau, kakak menjaga adik.

"Yang mana yang susah, Ya?" tanya Andi dengan suara kakak sulung yang mencoba dewasa.

Arya membuka buku Fisika halaman 12. Soal yang ditulis Pak Guru Darwis: Sebuah balok kayu surian massanya 2 kg didorong dengan gaya 10 Newton. Berapa percepatannya?

Andi dan Arlan mengernyit.

Tapi mereka melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Andi mengambil dua potong kayu surian sisa ukiran ayahnya. "Ini 2 kg, Ya. Anggap ini baloknya." Arlan mendorongnya pelan. "Ini gaya 10 Newton, Ya."

Abdullah yang duduk di belakang mereka, yang tangannya kapalan dan penuh luka pahat, tersenyum. Ia tidak mengerti Newton. Tapi ia mengerti cara mengajarkan hidup.

"Newton itu seperti tenaga ayah waktu mendorong kayu besar di hutan, Nak," kata Abdullah pelan, dengan bahasa tukang ukir. "Kalau kayu kecil, tenaga sedikit saja, kayunya laju. Kalau kayu besar, tenaga harus besar. Itu percepatan. Tenaga dibagi berat."

Dan Arya mengerti. Bukan karena rumus. Karena kayu.

Selama seminggu, setiap malam, di bawah lampu petromaks yang harus dipompa, yang cahayanya kuning, Arya membaca. Andi membacakan kata-kata sulit. Arlan menggambar balok-balok di lantai tanah. Siti Aminah membuatkan teh daun kopi yang pahit biar tidak mengantuk. Abdullah sesekali berhenti memahat, hanya untuk melihat tiga anak bujangnya berkumpul di atas buku-buku yang tebalnya hampir sama dengan kepala mereka. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang memaksa. Kedua kakak kandungnya mendukung keistimewaan Arya dengan cara mereka sendiri: dengan menjaga agar lampu petromaks tidak mati.

Sore itu, setelah semua teman-temannya pulang, setelah halaman SD yang berdebu itu kosong, hanya tinggal debu yang masih beterbangan, Arya kembali ke kantor kepala sekolah.

Di dalam ruangan papan yang dingin itu, sudah menunggu semua guru. Lengkap. Bahkan lebih lengkap dari seminggu lalu.

Pak Dt. Mangkuto duduk di tengah, dengan kopiah hitamnya yang miring, dengan rokok kretek yang belum dinyalakan. Bu Guru Nasbah di sebelahnya, tangannya meremas-remas ujung baju kebayanya. Bu Guru Ani dan Pak Guru Darwis berdiri di dekat lemari pustaka yang kuncinya hilang. Tidak ada yang bicara. Hanya suara hujan rintik-rintik di atap seng.

Arya masuk. Tas karung goninya diletakkan di meja kayu ukir yang panjang itu. Ia mengeluarkan tiga buku itu, satu per satu, dengan hati-hati, seperti mengeluarkan ukiran yang baru jadi. Buku-buku itu sudah penuh coretan pensil. Di pinggir-pinggir halamannya, ada gambar-gambar kecil: gambar balok kayu, gambar padi, gambar Gunung Singgalang, gambar semut. Itu cara Arya mengerti. Ia menerjemahkan Fisika dan Kimia ke dalam bahasa Pande Sikek.

Pak Dt. Mangkuto mematikan rokoknya yang belum sempat dinyalakan.

"Kami sudah siapkan soalnya, Arya," katanya, suaranya berat. "Bukan soal yang kemarin. Soal yang baru. Lebih susah."

Pak Guru Darwis maju, membawa selembar kertas folio yang sudah dilipat. Ia menulis tiga soal di papan kecil ruang guru, dengan kapur tulis yang berderak keras karena tegang.

Soal 1 - Fisika: Jika sebuah papan kayu surian 5 kg jatuh dari atap rumah gadang setinggi 4 meter, berapa energi potensialnya? (gravitasi 10 m/s2)

Soal 2 - Kimia: Air hujan dari Gunung Singgalang itu H2O. Jika H itu 1 dan O itu 16, berapa berat 2 molekul air?

Soal 3 - Aljabar: Jika 2x + 3 \= 11, berapa x?

Itu adalah soal-soal SMP Kelas 1 dan 2. Soal yang bahkan murid SMP di Bukittinggi harus membuka buku dulu.

Semua guru menahan napas.

Arya tidak langsung menulis. Ia mengambil kertas folio kosong yang diberikan Bu Nasbah. Kertasnya agak menguning. Ia mengambil pensil pendek yang ujungnya sudah digigit-gigit.

Ia mulai menulis. Bukan dengan tergesa-gesa. Dengan teratur. Dengan tenang. Seperti ayahnya memahat.

Untuk soal pertama, ia tidak menulis rumus Ep \= m.g.h. Ia menulis dengan logikanya sendiri.

Kayu 5 kg. Tinggi 4 meter. Gravitasi 10. Jadi 5 x 10 \= 50. 50 x 4 \= 200. Jadi energinya 200 Joule. Joule itu seperti tenaga simpan, Pak. Seperti kayu di atas atap, belum jatuh tapi sudah ada tenaga.

Untuk soal kedua.

H2O. H\=1, ada 2 jadi 2. O\=16 jadi 1. 2+16\=18. Satu air 18. Kalau 2 air jadi 18 x 2 \= 36.

Untuk soal ketiga.

2x + 3 \= 11. 3 pindah jadi kurang. 11 - 3 \= 8. Jadi 2x \= 8. x \= 8 bagi 2 \= 4.

Tulisannya berantakan. Hurufnya besar-besar, miring-miring, seperti tulisan anak Kelas 1. Tapi alurnya runut. Tidak ada tebakan. Semua ada urat kayunya.

Ia menyerahkan kertas itu kepada Pak Dt. Mangkuto. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena dinginnya ruangan itu.

Pak Dt. Mangkuto mengambil kertas itu dengan dua tangan. Ia membacanya. Lama.

Ia membaca sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu ia memberikan kertas itu kepada Bu Guru Nasbah. Bu Nasbah membacanya, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Bu Ani dan Pak Darwis berebut membaca dari belakang.

Hening. Hanya suara hujan di atap seng.

Benar. Semua benar.

Kepala Sekolah itu terkesima. Bukan hanya karena jawabannya benar. Tapi karena pola jawaban yang ditulis di atas kertas folio itu.

Pak Dt. Mangkuto berdiri. Kursi kayunya berderak. Ia berjalan ke jendela, menatap kabut Pande Sikek yang mulai turun tebal sore itu. Ia mengisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Lalu ia berbalik. Menatap Arya, anak Kelas 1 yang berdiri dengan celana merah kebesaran dan kaki nyeker.

"Arya," katanya, suaranya bergetar, tidak lagi keras seperti kayu juwar, tapi hangat seperti tungku di dapur. "Mulai besok, kau tidak usah di Kelas 1 lagi. Kau saya naikkan tiga tingkat. Kau langsung ke Kelas 4. Tidak, ke Kelas 5. Biar sekelas dengan kakakmu, Andi Rajo Alam. Ilmumu sudah di atas Kelas 6."

Semua guru mengangguk. Bu Nasbah mengangguk dengan air mata yang menggenang. Pak Darwis yang paling galak pun mengangguk.

Mereka menunggu Arya meloncat kegirangan.

Tapi Arya Arsyad Sikumbang yang baru 7 tahun itu diam.

Ia menatap kertas jawabannya yang masih dipegang Pak Dt. Mangkuto.

Lalu ia berkata, dengan suara kecil, teratur, dan sangat jelas, kalimat yang membuat semua guru di Pande Sikek terdiam untuk kedua kalinya dalam seminggu.

"Terima kasih, Pak Dt. Mangkuto. Tapi... Arya tidak mau naik kelas, Pak."

Pak Dt. Mangkuto mengernyit. "Kenapa?"

Arya mengusap tas karung goninya.

"Arya masih mau main kelereng sama teman-teman Arya di Kelas 1, Pak. Kalau Arya naik ke Kelas 5, nanti tidak ada teman main galah di halaman berdebu itu."

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

"Lagipula, Pak, kalau Arya naik ke Kelas 5, nanti buku-buku Kelas 2, Kelas 3, Kelas 4 jadi terlewat. Arya belum baca. Arya mau baca semua dulu, Pak. Dari bawah sampai atas. Seperti mengukir, Pak. Tidak bisa langsung ukir bunganya, harus haluskan kayunya dulu dari bawah."

Lalu ia mengangkat wajahnya, dan meminta satu hal.

"Arya hanya ingin satu, Pak. Boleh tidak... buku-buku ini... boleh tidak diberikan kepada Arya? Arya mau bawa pulang lagi. Di rumah masih ada yang belum Arya pahami. Tentang atom. Arya mau baca lagi di bawah lampu petromaks. Sama ayah dan kakak-kakak Arya."

Ia tidak minta naik kelas. Ia tidak minta hadiah. Ia tidak minta sepatu Bata baru.

Ia hanya minta buku.

Di Pande Sikek tahun 1972, di mana buku adalah barang mewah yang harus pergi ke Pasar Atas Bukittinggi dulu baru dapat, di mana satu buku harus dipakai bergantian oleh tiga bersaudara, permintaan itu adalah permintaan paling jujur dan paling mahal.

Pak Dt. Mangkuto menatap anak kecil di depannya. Anak bungsu Abdullah tukang ukir yang lahir di malam berkabut tahun 1965 itu.

Air mata Bu Guru Nasbah yang dari tadi ditahan, akhirnya jatuh ke lantai tanah.

Pak Dt. Mangkuto berjalan pelan, mengambil tiga buku itu, ditambah dua buku lagi dari lemari pustaka yang kuncinya hilang - buku IPA Kelas 4 dan buku Sejarah Kelas 5 yang masih bagus - dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas karung goni milik Arya.

"Ambiak, Nak," katanya, suaranya hampir berbisik, seperti doa. "Ambiak semua. Bawa pulang. Itu memang punyamu. Mulai besok, lemari pustaka ini kuncinya kau yang pegang."

Para guru mengiyakan permintaan Arya.

Sore itu, ketika kabut Singgalang sudah turun sangat tebal menutupi seluruh Pande Sikek, seorang anak kecil berjalan pulang lagi di jalan tanah yang becek.

Tas karung goninya kini jauh lebih berat. Berisi lima buku. Di punggung kecilnya, beban itu terlihat seperti gunung.

Tapi langkahnya ringan.

Karena di dalam tas itu, bukan hanya buku Fisika dan Kimia. Di dalam tas itu ada masa depannya. Dan di belakangnya, di SD Negeri No. 1 Pande Sikek yang dinding papannya dimakan rayap itu, semua guru masih berdiri di jendela, melihat punggung kecil itu hilang di tikungan, di antara rumpun bambu.

Dan mereka tahu, anak itulah yang tiga tahun kemudian, tahun 1975, akan membuat heboh Pande Sikek karena pada umur 10 tahun sudah duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan 13 Tahun dan Ibrahim 13 Tahun, dan membuat Drs. Syafrianto di SMP Negeri Pande Sikek tidak percaya dan harus menguji lagi.

Anak itu... matanya memang tua. Tapi hatinya... hatinya masih anak Kelas 1 Pande Sikek yang ingin main kelereng di halaman berdebu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!