Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Andra benar-benar bahagia, baru saja ia mendapat kabar jika dirinya mendapat kenaikan jabatan
Tak henti-hentinya Andra berucap syukur, dengan menjadi manager operasional, dirinya bisa membuat ekonomi keluarganya membaik
Ia jadi tidak sabar kembali kerumah dan menyampaikan berita bahagia ini pada istrinya
"Selamat yaa Ndra"
"Makasih Do"
"Setelah ini traktir kita makan loh" Sahabat Andra bernama Aldo menggoda
"Tenang aja" Keduanya terkekeh
Sesampainya dirumah, Andra mendapati sang istri yang tengah bersantai diruang tengah sambil menonton televisi
"Serius banget nontonnya, sampe gak denger kalau mas udah pulang" Andra duduk disamping istrinya lalu mengecup pipi istrinya serta bayi kecil yang membuatnya menggeliat
"Maaf yaa mas, aku gak denger"
"Gak apa-apa dek" Andra mengusap rambut panjang istrinya "Oh iya, mas punya kabar gembira"
"Apa?"
"Mas naik jabatan, sekarang mas jadi manager operasional di perusahaan"
Ini sungguh berita gembira, Aini terlampau bahagia, ia peluk suaminya itu sambil mengucap syukur
"Alhamdulillah yaa mas"
"Iya sayang"
Berita gembira ini membuat Andra dan Aini menggelar acara syukuran dikediaman mereka
Hanya mengundang keluarga saja, ayah dan ibu Aini lalu ibu Andra serta adiknya bernama Faris
"Selamat yaa nak, kamu memang pantas mendapatkannya" Dedi ayah Aini mengucapkan selamat pada menantunya
"Terima kasih pak, doain biar rezeki Andra sama Aini lancar terus"
"Itu pasti"
Ratih mendekat, wanita paruh baya itu juga ikut bahagia mendengar kabar dari menantunya
"Selamat yaa nak, semoga kamu selalu amanah" Ujar Ratih
"Iya Bu, terima kasih. Ini juga rezeki Aini sama Kasih" Ujar Andra
"Ini karena doa ibu, tiap malam ibu gak berenti doain kamu. Bukan karena istri kamu" Ketiganya menoleh
Seorang wanita paruh baya mendekat, wajahnya seperti tidak sedap dipandang. Dedi menggenggam tangan istrinya karena ia tidak ingin menciptakan masalah
"Iya, ini karena doa ibu" Andra mengiyakan ucapan dari wanita yang telah melahirkannya itu
"Setelah kamu punya uang nanti, jangan semuanya kamu kasih ke Istri kamu! Nanti dia malah berulah lagi diluar sana" Ucapan Retno jelas saja menyulut emosi Ratih yang tidak senang jika putrinya dihina
"Sudahlah Bu, ayo kita liat Kasih" Bisik Dedi lalu mengajak istrinya, meninggalkan Andra dan ibunya yang cerewet
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Bapak sama ibu pasti tersinggung" Andra kesal karena ucapan sang ibu yang mengatakan hal tidak benar tentang istrinya
"Ibu cuma mau kamu jaga-jaga! Udahlah, ngapain juga kita peduli sama keluarga miskin itu" Ujar Retno
"Sudahlah Bu"
"Sebaiknya kamu cari istri lain! Aini itu gak pantes sama kamu yang seorang manager" Retno memang tidak menyukai keluarga besannya itu
Ia berharap jika putranya bisa mendapatkan wanita dari keluarga terpandang, terlebih sekarang Andra sudah menjadi seorang manager
Sayang sekali dia jika bersama Aini yang bisanya hanya mengurus rumah
"Aku mencintai Aini Bu, aku hanya akan menghabiskan hidupku bersama dia" Setelah mengatakan itu, Andra berlalu menghampiri istrinya yang duduk sambil menimang bayi kecil mereka
***
Andra menjalani pekerjaan barunya. Sebagai seorang manager, ia harus bekerja dengan baik untuk mempertahankan jabatan yang ia dapatkan dengan susah payah
"Selamat pagi pak manager" Sapa Aldo dengan sedikit bercanda
"Bisa aja kamu Do"
Keduanya melangkah masuk kedalam gedung tersebut. Sekarang Andra memiliki ruangannya sendiri
Pintu diketuk, Andra mempersilahkan seseorang diluar sana untuk masuk
Seorang wanita dengan kemeja ketat serta rok span diatas lutut. Andra menatap wanita itu tanpa berkedip, cantik dan mampu membangkitkan jiwa kelaki-lakiannya
"Selamat pagi pak" Suaranya terayun lembut dan sangat sopan ditelinga
"Ya, ada apa?"
"Saya mau mengantarkan laporan ini pada bapak" Saat meletakkan sebuah map diatas meja, tatapan nakal Andra malah mengarah pada bagian depan tubuh wanita itu
"Astaghfirullah" Dengan cepat pria itu menundukkan kepalanya, ada apa dengan dirinya ini? Tidak pernah ia tertarik pada wanita lain selain istrinya
"Saya permisi dulu pak" Ujar wanita itu seraya menegakkan kembali tubuhnya
"Kamu karyawan baru?" Tanya Andra karena ini pertama kalinya ia melihat wanita ini
"Iya, ini hari pertama saya" Wanita itu tersenyum manis
"Siapa namamu?"
"Sarah pak"
"Selamat bergabung Sarah" Ucap Andra berusaha untuk menjadi atasan yang baik
"Terima kasih pak"
Setelah wanita bernama Sarah itu keluar, Andra menyandarkan punggungnya pada kursi
Pria itu mengusap wajahnya berusaha mengendalikan diri yang mulai bereaksi. Berulang kali ia mengumpat karena masalah ini
Aini sengaja menunggu suaminya didepan saat mendekati jam suaminya pulang, ia sudah mandi dan siap untuk menyambut kedatangan sang suami
Wanita cantik itu mengernyit saat melihat sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahnya
Matanya terbelalak saat melihat siapa yang keluar dari mobil sedan berwarna hitam itu, suaminya mendekat dengan menampilkan senyum terbaiknya
"Assalamualaikum" Andra mengerutkan keningnya karena istrinya itu tidak menjawab "Dek"
"Huh?"
Andra terkekeh melihat wajah terkejut istrinya itu "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Aini tersadar "Itu mobil siapa mas?"
"Bagus gak?" Andra malah balik bertanya
"Bagus, memangnya itu mobil siapa?"
"Tentu saja mobil kita"
Mendengar itu, Aini menatap tak percaya "Mobil kita? Mas Andra beli mobil?"
Pria tampan itu malah menggeleng "Ini mobil dari kantor, mas bisa pake selama mas jadi manager"
Aini berucap syukur, wanita cantik itu mendekat lalu memeluk suaminya
"Mau tes Drive gak?"
"Emangnya boleh?"
"Boleh dong, ini kan mobil kita. Kita keliling perumahan aja, gimana?" Andra menawarkan
Aini mengangguk cepat, wanita itu terlihat menggemaskan jika seperti ini "Mau mas"
"Ayo"
Andra membuka pintu penumpang lalu Aini duduk sambil menimang bayi kecil mereka yang belum mengerti apapun
Bayi kecil itu hanya menatap lekat wajah ibunya, sementara Aini sudah tidak sabar untuk menjajal mobil baru mereka
"Waah mas, enak yaa kalau jalan-jalan pake mobil, gak panas" Wanita cantik itu terkekeh, Aini terlihat antusias memandangi jendela
"Alhamdulillah yaa dek, akhirnya kita bisa juga ngerasain rasanya pake mobil"
Aini mengangguk "Semoga rezeki mas Andra lancar terus yaa mas, biar kita gak naik motor lagi"
"Emangnya kalau mas cuma punya motor, kamu gak mau lagi sama mas?" Tanya Andra dengan wajah dibuat sedih
"Kalau sama mas Andra, mau jalan kaki juga aku mau" Ucap gadis cantik itu
"Kamu tenang aja, mas gak akan biarin kamu jalan kaki" Pria itu mengulurkan tangannya mengusap rambut panjang istrinya itu dengan lembut
"Aku tidurin Kasih dulu yaa mas, setelah itu aku siapin air hangat buat mas mandi" Ujar Aini setelah mereka tiba dirumah setelah puas menikmati jalan-jalan sore nya
"Gak usah dek, mas bisa ngurus diri mas sendiri"
"Beneran?"
Andra mengangguk "Kamu tidurin Kasih aja! Setelah itu siapin tadi makanan yang kita beli"
Aini mengangguk, masuk kedalam kamar lalu meletakkan bayi yang telah terlelap itu ditempat tidurnya
Setalah memastikan putri kecilnya terlelap, Aini kembali ke dapur. Sebelum kembali, mereka sempat membeli beberapa makanan dan Aini mengeluarkannya dari kantong plastik dan menatanya diatas meja
Tak lama Andra ikut bergabung, pria itu menarik kursi lalu duduk dengan saling berhadapan
"Kamu gak kerepotan kan?"
"Maksudnya?"
"Maksud mas, kita bisa pake jasa asisten rumah tangga biar kamu gak repot" Ujar Andra
"Gak usah mas, aku masih bisa kok. Lagian kan rumah kita gak terlalu besar, jadi aku bisa handle sendiri"
Aini merasa ini terlalu berlebihan, kediaman mereka ini kecil dan dirinya masih bisa melakukan pekerjaan rumah sambil mengasuh buah hati mereka
"Mas cuma mau kamu punya waktu untuk diri kamu sendiri, kamu tau sendiri kalau Kasih itu sedikit rewel"
Aini tersenyum, ia bersyukur karena sang suami begitu perhatian bahkan memikirkan masalah sekecil apapun
"Aku masih bisa kok, nanti kalau aku gak sanggup aku akan bilang sama mas" Aini menggenggam tangan suaminya lalu keduanya kembali menikmati makan malam
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.