Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Cahaya sore hari yang menyusup masuk melalui celah jendela rumah tua yang terkesan antik, di sekitar wilayah Kota tua Jakarta.
Rupanya memang pasangan mendiang Adiratna ini sangat suka rumah-rumah antik peninggalan kolonial, apalagi rumah dengan arsitektur Jawa Kuno.
Banyak rumah-rumah mereka yang di beli, lalu di wariskan kepada putri tunggal mereka.
Raisa---bahkan rumah di Bandung termasuk milik Raisa, namun sang paman meminta untuk bertukar rumah.
Raisa setuju, dengan bantuan Pengacara Adiratna, rumah ini akan balik nama atas nama Raisa dan Hardi.
Raisa akan memiliki rumah di Bandung, sementara Hardi memiliki rumah di Jakarta.
Rumah di Jakarta di beli Hardi, sementara di Bandung akan menjadi milik Raisa---uang hasil jual rumah itu akan digunakan Raisa sebagai modal untuk jualan online kecil-kecilan.
Rumah ini memang sangat sederhana, dengan dinding yang di hiasi beberapa bingkai foto kenangan masa kecil Raisa.
Suasana yang jauh berbeda dari kemegahan kediaman Raharja yang penuh kepalsuan.
Di ruang tamu kediaman Adiratna ini, Raisa mencoba menjahit kembali impiannya yang sudah hancur.
Sore ini Raisa dengan tenang duduk si atas kursi kayu tua, tubuhnya mengenakan gaun lengan pendek berwarna hijau muda sebatas lutut.
Di atas meja kayu di depannya, berserakan buku sketsa dengan banyak gulungan benang berbagai warna, dan potongan kain.
Barang-barang lama, dirinya yang disimpan saat kuliah dulu.
Tangannya yang lentik bergerak dengan penuh rasa teliti, menjahit selembar kain secara manual.
Mesin jahitnya sudah rusak, karena Dion menghancurkannya seolah tak ingin istrinya berkarya.
Ini semua dilakukan Dion, hanya sebagai balas dendam kepada Raisa.
Namun, dendam ini sudah selesai---saat Raisa menginginkan perceraian darinya.
Raisa kembali ke rumah peninggalan kedua orangtuanya adalah keputusan terbaik yang di ambil, karena disini dirinya bisa bernapas lega.
Bernapas, untuk kesehatan kehamilannya yang masih muda.
"Semoga surat pengadilan bisa keluar sebelum perutku tambah besar," ucap Raisa penuh harap.
Raisa sementara waktu akan bekerja sebagai penjahit tetangga di sekitar, dirinya akan membeli mesin jahit dari uang.
Uang yang pernah di kasih Dion, uang itu di belikan emas oleh Raisa---Raisa sengaja investasi menggunakan emas.
Karena perasaannya mengatakan jika suatu saat dirinya akan bercerai dari Dion, firasat itu sudah di rasakannya saat mertuanya mulai sakit.
Raisa memiliki keterampilan ini saat sejak SMK---SMK mengambil jurusan Desain Busana, namun harus di hentikan karena ego Dion.
Dirinya sudah membulatkan tekad, setelah urusan perceraiannya selesai---ia akan segera ke rumah sang paman di Bandung.
Di kota kembang itu, Raisa berencana memulai karirnya dari nol sebagai seorang Fashion designer profesional.
Di tengah itu, Raisa berhenti sejenak.
Tangannya meletakkan jarum jahitnya, lalu secara refleks mengelus perutnya yang masih rata.
Di kandungannya saat ini ada nyawa berusia tiga minggu setengah yang harus di jaga.
"Kita akan hidup bersama, Nak. Berdua saja, tanpa Papa kamu," bisik Raisa lirih, namun suaranya terdengar sangat teguh.
"Mama akan sembunyikan identitas papamu, karena mama tak mau kamu membencinya," lanjutnya dengan suara lirih.
Ada tekad di matanya yang tak lagi sembab, karena air matanya sudah mengering.
"Karena di akta kelahiran kamu hanya ada nama mama saja, kita akan mulai hidup baru di Bandung. Dan mama janji kamu nggak akan kekurangan apapun," kata Raisa membelai lembut perutnya.
Pikiran Raisa melayang pada hari persidangan akan di mulai, Dion akan menjatuhkan talak padanya.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Raharja terasa sangat mencekam setelah kepergian Raisa.
Suasana di dalam kamar utama.
Kamar yang dulu di tempati Raisa dan Dion, kini kamar itu sudah di tempati Chelsea.
Dion duduk dengan pikirannya sendiri, di atas sofa mewah dekat jendela.
Malam ini pria itu mengenakan kaos biru polos dan celana kargo hitam pendek, jauh dari profesinya sebagai Pengacara.
Entah mengapa pikirannya melayang pada surat cerai dari pengadilan dalam proses pembuatan, untuk pertama kali dalam hidupnya, kemenangan yang di inginkannya terasa hambar dan pahit.
Entah mengapa rasa bersalah mulai merayap di hatinya, pikirannya teringat bagaimana Raisa meletakkan cincin pernikahannya.
Lalu pikirannya juga teringat bagaimana selama ini dirinya memperlakukan Raisa dengan sangat kejam.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, pikirannya akan Raisa belum benar-benar hilang.
Di sampingnya, Chelsea berusaha keras untuk menarik kembali perhatian Dion---sang Pengacara terkenal.
Malam ini Chelsea tampil dengan gaun ketat menyerupai kemben berwarna merah menyala dengan kerlap-kerlip, rambutnya tergerai indah.
Tangannya nampak merangkul bahu Dion, berusaha menciptakan suasana intim untuk menggoda pria itu.
"Sayang... kamu mikirin apa sih? Kok dari tadi diam terus?" tanya Chelsea dengan nada manja, menyandarkan kepalanya di bahu Dion.
Matanya yang indah nampak menatap Dion penuh harap, namun Dion tak menjawabnya.
Bahkan matanya tak sekali pun melirik ke arah Chelsea yang berusaha merayunya untuk berhubungan.
"Lagian ngapain gua mikirin si cewek sampah, dia emang pantas diperlakukan begitu," ucap Dion dalam hatinya.
Keberadaan Chelsea terasa seperti gangguan, parfum menyengat dari tubuh Chelsea tak mampu mengalihkan pikirannya dari aroma sabun yang tercium dari tubuh Raisa.
"Chel, surat dari pengadilan lagi di urus," jawab Dion dengan suara parau.
Dion meraih dahinya dengan tangan kiri, mencoba memijat rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
"Bukannya itu yang kamu mau? Akhirnya kita bisa bebas, Dion. Kamu nggak perlu lagi berurusan dengan perempuan itu," ucap Chelsea sambil mencoba membelai lengan Dion.
Dion yang mendengar itu menjadi terdiam.
Benar juga yang dikatakan Chelsea, tapi kenapa seolah hatinya tak rela jika Raisa bercerai darinya.
Bayangan air mata Raisa dan bagaimana wanita itu menandatangani surat cerai tadi siang, lalu mengusirnya.
Sungguh, Dion tak mengerti---kenapa seolah berat melepaskan Raisa.
Seperti ada sesuatu yang di bawa Raisa, dan yang pasti Dion tak akan bisa memilikinya lagi.
"Udahlah sayang, daripada suntuk mending kita main kuda-kudaan yuk," ajak Chelsea menarik manja tangan Dion.
Dion tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Chelsea wanita murah---padahal keduanya belum resmi menikah malah melakukan hal tak sepantasnya.
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.