[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Hilang
Suara derap kaki kuda yang memasuki halaman utama Istana Barat memecah keheningan malam yang pekat. Wang Yiche dan Fang Hua turun dari pelana kuda mereka dengan gerakan terlatih. Suasana di kompleks istana tua itu tampak tenang, namun ada kejanggalan kecil yang langsung disadari oleh Fang Hua begitu ia menginjakkan kaki di koridor paviliun timur.
Pintu kayu paviliun yang biasanya selalu terkunci rapat dari dalam kini terbuka sedikit, menyisakan celah sempit dengan seberkas cahaya lampu minyak yang keluar dari dalamnya.
Fang Hua langsung menghentikan langkahnya, memberi isyarat tangan kepada Wang Yiche untuk bersiap. Tanpa bersuara, sang pangeran menghunus setengah bilah pedangnya dari sarung, melangkah waspada di belakang gadis itu.
Begitu Fang Hua mendorong pintu hingga terbuka lebar, pemandangan yang tersaji di dalam membuat keningnya berkerut.
Luo Huanran tidak ada di atas balai-balai tempat ia biasa tidur. Meja kayu tua di tengah ruangan tampak berantakan, dipenuhi oleh gulungan-gulungan perkamen kuno dan lembaran peta usang yang berserakan. Di dekat meja itu, sebuah lentera minyak menyala terang, dan di sebelah lentera tersebut tergeletak sehelai kain bordir yang sangat dikenal oleh Fang Hua—ikat rambut milik Luo Huanran.
"Huanran?!" panggil Fang Hua pelan namun tegas, menyusuri setiap sudut ruangan yang kosong.
Wang Yiche melangkah masuk, mengamati sekeliling ruangan dengan tatapan elangnya yang tajam. Ia membungkuk, memungut salah satu lembaran perkamen tua yang terbuka di atas meja. Alis tebal pria itu langsung bertaut tajam.
"Apa itu?" tanya Fang Hua, menghampiri sang pangeran.
Wang Yiche menyerahkan perkamen tersebut kepada Fang Hua. "Surat rahasia kekaisaran dari arsip lama istana barat. Dokumen ini berisi catatan tentang sejarah kelam racun cold-fire yang mengalir di tubuhku... dan siapa dalang yang pertama kali memasukkannya ke istana bertahun-tahun lalu."
Fang Hua membaca cepat baris-baris tulisan kuno di perkamen tersebut. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Dokumen sepenting ini tidak mungkin tersimpan di paviliun timur kecuali seseorang—atau sesuatu—sengaja membimbing Luo Huanran menemukannya.
Namun, di balik keterkejutannya, Fang Hua jauh lebih mencemaskan keselamatan Luo Huanran. Gadis penakut itu tidak mungkin meninggalkan barang miliknya begitu saja jika pergi secara sukarela. Terlebih lagi, Fang Hua sangat tahu bahwa Luo Huanran yang selama ini menyamar sebagai pelayan pribadinya adalah putri asli keluarga Jenderal. Jika gadis itu tertangkap basah oleh mata-mata istana pusat, rahasia besar tentang pertukaran identitas pengantin mereka bisa terbongkar total.
Fang Hua meneliti lantai kayu di dekat jendela yang terbuka lebar. Ada jejak sepatu bot asing bercampur lumpur segar di ambang jendela. "Seseorang telah menyusup masuk ke paviliun ini saat kita berada di Kediaman Jenderal, dan mereka membawa pelayanku pergi."
Wang Yiche mengepalkan tinjunya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi sang pangeran, pelayan yang dimaksud adalah gadis pengantin dari keluarga Jenderal yang selama ini menemani Fang Hua di istana barat. Hilangnya gadis itu berarti keamanan paviliun telah diretas oleh musuh.
"Kasim Lu atau mata-mata Permaisuri," geram Wang Yiche dingin. "Mereka pasti menduga gadis itu adalah orang penting yang bisa dijadikan sandera untuk melemahkan kita."
Fang Hua menarik napas dalam-dalam, menekan rasa khawatirnya rapat-rapat di balik wajah tenangnya. Ia tidak boleh membiarkan Wang Yiche melihat kepanikannya, karena jika sang pangeran tahu bahwa identitas mereka sebenarnya telah dipertukarkan sejak awal, situasi bisa menjadi jauh lebih rumit.
"Kita tidak boleh gegabah menyusul ke istana pusat tanpa persiapan," ucap Fang Hua tegas, matanya memancarkan binar dingin yang berbahaya. "Jika mereka ingin mempermainkan orang-orang di istana barat, maka kita akan datang langsung ke istana pusat dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan."
Wang Yiche menatap lurus ke arah Fang Hua, merasakan gelombang tekad yang luar biasa kuat dari gadis di sampingnya. Pria itu mengangguk perlahan.
"Baiklah. Besok pagi, kita ratakan rute penjagaan gerbang utama istana pusat," ujar Wang Yiche tajam.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️