Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Makan Malam dan Kehilangan Kendali
Malam yang dingin membungkus ibu kota Jakarta saat mobil sedan putih milik Carlo membelah jalanan protokol menuju sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat bisnis. Sudah satu bulan berlalu sejak konfrontasi pertamanya di rumah utama Menteng, di mana ia menolak keras perjodohan dengan Sarah demi mempertahankan cintanya pada Valerie. Hubungan Carlo dengan sang ayah, Dirgantara, berada di titik beku yang paling kritis.
Namun, sore tadi, sebuah panggilan telepon dari ibunya, Ratih, meruntuhkan benteng pertahanan Carlo. Sang ibu menangis terisak di telepon, memohon agar Carlo bersedia datang ke restoran privat hotel tersebut untuk makan malam keluarga. Ratih berjanji bahwa malam ini tidak akan ada pembahasan bisnis atau paksaan perjodohan, murni hanya makan malam keluarga karena Dirgantara ingin membicarakan draf investasinya sendiri untuk masa depan Carlo setelah lulus kuliah.
Carlo menatap jalanan dengan dahi berkerut pekat. Di kursi penumpang, sebuah kantong kain berisi beberapa jurnal laboratorium milik Valerie tergeletak rapi. Sebelum berangkat, ia sempat mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya: “Val, aku harus menghadiri makan malam singkat bersama Papa dan Mama di hotel pusat kota. Setelah selesai, aku akan langsung meluncur ke apartemenmu untuk menemanimu belajar biokimia. Tunggu aku, ya.”
Carlo menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir firasat buruk yang sejak tadi mengganjal di dadanya. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan keluarga pengusaha elite, ia terlalu naif untuk memahami bahwa duniakah orang dewasa berdarah dingin tidak pernah membiarkan rencana ratusan miliar rupiah mereka digagalkan oleh alasan kesetiaan cinta seorang mahasiswa.
Pintu jati besar bernuansa emas ruangan privat restoran hotel dibuka oleh dua pelayan berseragam rapi. Langkah kaki Carlo terhenti sejenak saat matanya menyapu isi ruangan yang bernuansa mewah namun kaku. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar marmer telah tersaji dengan hidangan mewah.
Di sana sudah duduk kedua orang tuanya dengan senyum formal. Namun, rahang Carlo seketika mengeras saat melihat dua sosok lain yang berada di seberang meja. Wijaya, sang pemilik Wijaya Group, duduk berdampingan dengan putri tunggalnya, Sarah. Wanita itu mengenakan gaun malam berpotongan sabrina berwarna hitam pekat, rambutnya disanggul anggun, dan senyum manisnya yang tampak sangat teratur langsung terkembang begitu Carlo masuk.
"Carlo! Akhirnya kamu datang juga, Nak. Duduklah di sini, di antara Mama dan Sarah," ucap Ratih dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, mengabaikan tatapan protes dari mata putranya.
Carlo melangkah kaku, menolak untuk duduk di kursi yang berdampingan langsung dengan Sarah. Dia memilih mengambil kursi kosong di sebelah ibunya yang agak berjarak. "Papa, Mama... janji kalian sore tadi adalah makan malam keluarga kecil kita. Kenapa Om Wijaya dan Sarah ada di sini?" tanya Carlo, suaranya rendah, berat, dan langsung memotong formalitas tanpa basa-basi.
Dirgantara meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan bunyi denting pelan yang mengintimidasi. "Carlo, jaga sopan santunmu di depan tamu terhormat kita. Om Wijaya sengaja meluangkan waktunya yang padat untuk menghadiri jamuan ini demi mendengar draf rencana masa depanmu setelah wisuda nanti. Duduk dan nikmati hidanganmu."
Makan malam pun dimulai dengan atmosfer yang sangat menekan bagi Carlo. Sepanjang satu jam, pembicaraan di meja makan hanya berputar di sekitar ekspresi kebanggaan atas aliansi bisnis baru antara Dirgantara Group dan Wijaya Group yang akan mengunci pasar properti makro setahun ke depan. Carlo hanya diam, menyantap makanannya dengan gerakan lambat, sesekali melirik jam tangan arloji di pergelangan tangannya. Pikirannya melayang jauh ke unit apartemen lantai lima belas, membayangkan Valerie yang mungkin sedang duduk menunggunya dengan tumpukan buku diktat.
Tepat saat hidangan penutup dikeluarkan, Carlo meletakkan serbetnya ke atas meja. Dia menegakkan tubuh jangkungnya, menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya. "Papa, Om Wijaya, Sarah... jika perjamuan formal ini masih bertujuan untuk memaksaku menerima perjodohan bisnis ini, aku tetap pada jawaban pertamaku. Aku menolak. Aku sudah memiliki Valerie, wanita yang paling kucintai dan wanita yang akan kujaga sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah menjual perasaanku demi angka investasi kalian."
Wajah Dirgantara seketika memerah menahan murka, namun anehnya, pria paruh baya itu tidak meledak marah seperti satu bulan lalu. Dia justru menyandarkan punggungnya dengan ketenangan manipulatif yang mengerikan.
Wijaya tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang seolah bertindak sebagai penengah yang bijaksana. "Carlo, darah mudamu memang penuh letupan emosi yang meledak-ledak. Kami mengerti. Hubungan asmara anak kuliah memang manis di permukaan. Tapi setidaknya, hargai kehadiran kami malam ini. Minumlah gelas kristal ini bersama Sarah sebagai bentuk penghormatan terakhir dan tanda perdamaian sebelum kita benar-benar menyusun ulang draf kerja sama kita tanpa paksaan."
Sarah berdiri dari kursinya dengan keanggunan seorang sosialita papan atas. Dia melangkah mendekati meja Carlo dengan membawa nampan kecil berisi dua gelas cairan berwarna amber yang berkilau di bawah lampu kristal ruangan. Gelas-gelas tersebut disodorkan oleh seorang pelayan khusus di sudut ruangan—seorang pelayan yang sejak awal telah menerima bayaran mahal dari keluarga Sarah untuk mengeksekusi rencana jebakan keji malam ini.
Di dalam salah satu gelas kristal tersebut, telah dicampurkan zat penenang cair dosis tinggi yang tidak berbau, tidak berwarna, dan bekerja langsung melumpuhkan sistem saraf pusat dalam hitungan menit jika tertelan. Skenario busuk ini dirancang agar Carlo kehilangan kesadaran penuh, memungkinkannya dibawa masuk ke dalam kamar hotel mewah lantai atas tanpa celah pembelaan logika sedikit pun.
"Carlo... aku mohon, jangan buat suasana malam ini semakin memburuk untuk kedua orang tua kita," bisik Sarah dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lembut, sayu, dan penuh kepasrahan fiktif. "Minumlah gelas ini bersamaku. Anggap ini sebagai tanda bahwa kita akan tetap berteman baik meskipun kamu menolakku demi kekasihmu itu. Setelah ini, aku sendiri yang akan meminta Papa untuk memikirkan kembali perjodohan ini."
Carlo menatap gelas kristal di hadapannya dengan dahi berkerut pekat. Emosinya yang sedang tidak stabil, rasa frustrasi karena merasa dikurung dalam formalitas palsu, serta keinginannya yang teramat sangat besar untuk segera keluar dari hotel ini dan pulang menemui Valerie membuat logikanya mendadak mengalami malfungsi. Carlo mengira, dengan meminum cairan ini, dia bisa menyelesaikan tuntutan formalitas keluarganya malam ini dan pergi dari sana selamanya tanpa diganggu lagi.
"Baik. Ini yang terakhir," desis Carlo kaku.
Dia meraih gelas kristal tersebut dari nampan Sarah, lalu tanpa rasa curiga sedikit pun, Carlo meminum cairan amber bercampur zat penenang dosis tinggi itu hingga tandas tak bersisa dalam sekali teguk. Dia meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas meja dengan sentuhan kasar. "Sekarang, pintu ini harus dibuka. Aku mau pulang."
Namun, belum sempat Carlo melangkah dua langkah menuju pintu keluar privat, kepalanya mendadak terasa berputar dengan sangat hebat. Pandangan matanya yang biasa tajam perlahan-lahan mengabur, kabur oleh bayang-bayang lampu kristal ruangan yang seolah berputar mengelilingi kepalanya dengan cepat. Seluruh otot di tubuh jangkungnya mendadak terasa lemas tak bertenaga, layaknya raga yang kehilangan seluruh tulang penyangga.
"Kak Carlo..." suara Sarah terdengar sangat sayup, bergema jauh di dalam indra pendengaran Carlo yang kian meredup dengan mengerikan.
Carlo mencoba mencengkeram tepi meja makan marmer untuk mempertahankan sisa-sisa kesadaran fisiknya, namun jemarinya mendadak mati rasa, tidak lagi bisa merasakan permukaan benda. Jantungnya berdegup melambat, dan rasa kantuk yang teramat sangat pekat menyerang kesadarannya dengan kecepatan yang menakutkan. Sebelum kegelapan total merenggut seluruh kewarasannya, bayangan wajah manis Valerie yang sedang tersenyum ceria memakai gelang daisy pemberiannya sempat melintas di benak Carlo, memicu rasa takut yang teramat sangat besar di dadanya.
“Valerie... maafkan aku... tolong aku...” batin Carlo menjerit dalam kesunyian, sebelum akhirnya tubuh jangkungnya ambruk sepenuhnya, jatuh tak sadarkan diri ke dalam dekapan lengan Sarah yang sudah bersiap menangkapnya dengan seulas senyuman dingin penuh kemenangan yang mengerikan.
Dirgantara dan Wijaya berdiri dari kursi mereka dengan ketenangan yang sarat akan kepuasan pekat. Skenario jebakan malam itu berjalan dengan sangat sempurna tanpa ada satu pun celah yang terlewat.
"Bawa dia lewat lift privat menuju kamar penthouse lantai atas yang sudah dipesan atas nama Sarah," perintah Dirgantara kaku kepada dua pengawal pribadinya yang langsung masuk mengangkat tubuh Carlo yang sudah tidak berdaya. Dia menoleh pada Sarah, memberikan tatapan mata yang penuh konspirasi duniakah orang dewasa. "Pastikan besok pagi, saat dia terbangun, tidak ada satu pun bukti atau alasan bagi dirinya untuk bisa mengelak dari tanggung jawab pernikahan ini, Sarah."
"Tentu saja, Papa Dirgantara. Serahkan semuanya pada saya. Saya tahu apa yang harus saya lakukan," jawab Sarah dengan binar mata yang memancarkan ambisi licik yang luar biasa puas.
Malam itu, di bawah kesaksian tirai beludru hotel mewah yang tertutup rapat, Carlo dibawa masuk ke dalam kamar jebakan dalam kondisi sepenuhnya kehilangan kesadaran diri. Konspirasi busuk dari kedua keluarga telah berhasil memicu badai pengkhianatan tak sengaja yang akan meruntuhkan seluruh kebahagiaan manis yang selama ini Valerie bangun, membuka pintu gerbang menuju sebuah malam terkutuk yang akan menghancurkan ikatan suci mereka hingga berkeping-keping di hari esok saat Sarah mendapati dirinya berhasil menjebak sang pewaris tunggal Dirgantara Group.