NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:828
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernafasan Ular Hitam

Setelah berhasil meloloskan diri dari kekacauan di benteng bandit, Simon Blake segera mencari aliran air untuk membersihkan diri.

Di tepi sebuah sungai yang jernih, ia membasuh tubuhnya yang dipenuhi debu dan darah, sambil bergumam tentang aroma tubuhnya yang terasa tengik akibat tidak pernah mandi selama ini.

Pandangannya kemudian beralih ke genangan air tenang di bawahnya. Simon terpaku melihat pantulan dirinya sendiri seorang pemuda dengan rambut hitam legam dan sepasang mata merah yang misterius. Wajahnya sangat tampan, khas fitur orang Barat yang sempurna.

"Jika wajah ini ditempatkan di duniaku sebelumnya, mungkin aku sudah menjadi model majalah atau artis terkenal di Hollywood," gumam Simon, mengingat kembali kehidupan sebelumnya.

Namun, ia segera menggelengkan kepala. Di Benua Varent yang kejam ini, ketampanan tidak memberikan perlindungan apa pun, hanya kekuatan mutlak yang diakui oleh hukum rimba.

Pemenang berhak memutuskan, dan yang kalah hanyalah pecundang.

Simon mengepalkan tangannya kuat-kuat dan berkata dengan penuh tekad, "Aku harus menjadi lebih kuat."

Setelah membersihkan diri, Simon mengenakan jubah hitam yang sebelumnya ia rampas dari bendahara bandit.

Ia kemudian menemukan sebuah gua gelap yang dirasanya cukup aman untuk tempat berlindung sementara.

Di dalam kegelapan gua tersebut, Simon duduk bersila dan mengeluarkan gulungan kulit domba tua berisi teknik Pernafasan Ular Hitam.

Berdasarkan instruksi pada gulungan, terdapat dua belas gerakan dasar dalam pernafasan ular hitam yang berfokus sepenuhnya pada peningkatan kecepatan dan kelenturan.

Simon mulai mengatur ritme napasnya dan memperagakan gerakan pertama dengan presisi. Seketika, sebuah getaran halus muncul di kesadarannya.

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Simon sangat senang karena meskipun ini adalah praktik pertamanya, ia langsung berhasil memicu respons dari sistem.

Simon segera memanggil panel pribadinya untuk melihat status terkini:

Nama: Simon Blake

Umur: 16 tahun

Pekerjaan: Calon Ksatria Magang

Keterampilan: Pernafasan Ular Hitam: Dasar (1/100)

Melihat panel tersebut, Simon merenung.

'sedikit sekali..'

Untuk mencapai tingkat Ksatria Magang Tingkat 1, ia harus menembus batas 100 poin kemahiran, dan proses ini terasa sangat lambat dan membosankan.

Ia mulai memikirkan tentang ramuan ksatria knight potion yang konon dapat mempercepat membantu latihan, namun harganya sangat mahal.

Ramuan konsentrasi rendah dijual seharga 5 koin emas, ramuan rendah 10 koin emas, dan ramuan tinggi mencapai 15 koin emas.

Sementara itu, melihat kantungnya. Simon hanya memiliki 15 koin emas hasil jarahannya, jumlah yang sangat pas-pasan.

'Bro, kita sangat miskin sekarang.'

Ia mendesah lesu menyadari keterbatasan finansialnya.

"Nampaknya aku harus memikirkan cara mendapatkan uang yang banyak untuk menunjang latihanku. Mari kita lihat pekerjaan seperti apa yang tersedia di wilayah Baron Brent nanti," pikirnya.

Tanpa membuang waktu, Simon segera melanjutkan latihannya.

Ia meliukkan tubuhnya mengikuti pola dua belas gerakan tersebut, bergerak seperti ular yang menggeliat di atas tanah gua. Keringat mulai membanjiri tubuhnya saat notifikasi demi notifikasi terus muncul

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

[ Pernafasan Ular Hitam +1 ]

Notifikasi demi notifikasi, menggema di pikiran Simon.

Akhirnya setelah sekian lama, Simon jatuh terkapar di tanah gua dengan napas terengah-engah dan keringat yang mengucur deras.

"Sial, baru saja mandi, sekarang sudah berkeringat lagi," keluhnya. Ia kemudian memeriksa kembali progres kemahirannya.

[ Pernafasan Ular Hitam: pemula (23/100) ]

Melihat angka itu, Simon bergumam, "Perjalanan ini masih sangat jauh". Karena kelelahan yang luar biasa akibat latihan fisik yang intens, Simon segera memejamkan matanya dan jatuh tertidur di dalam keheningan gua tersebut.

Cahaya fajar menyelinap masuk melalui celah-celah mulut gua, membangunkan Simon Blake dari tidur lelapnya yang disebabkan oleh kelelahan ekstrem.

Simon mengerjap, sepasang mata merahnya berpendar tipis di dalam keremangan sebelum ia bangkit dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

"Tubuhku terasa segar, belum pernah sesegar ini bahkan di kehidupan sebelumnya!"

Ia segera menuju aliran sungai kecil di dekat gua untuk membasuh wajahnya dengan air yang menusuk tulang dan pori-pori nya.

Setelah kesegarannya kembali, Simon tidak langsung pergi.

Ia berdiri di tepi sungai, mengambil kuda-kuda rendah, dan mulai meliukkan tubuhnya mengikuti dua belas pola gerakan Pernafasan Ular Hitam.

Gerakannya kini lebih luwes, seolah tulang punggungnya benar-benar tidak memiliki sendi saat ia merayap dan berputar di atas tanah berbatu.

[ Pernafasan Ular Hitam +2 ]

Notifikasi sistem muncul di benaknya, mencatat kemajuan murni dari latihan singkat tersebut.

Namun, tepat saat ia menghembuskan napas terakhir dalam siklus tersebut, suara keroncongan keras menggema dari perutnya.

"Ugh..." Simon memegangi perutnya yang merintih perih.

"Melakukan teknik pernapasan ternyata benar-benar menguras tenaga. Tanpa nutrisi yang cukup, latihan ini justru akan memakan tubuhku sendiri".

Menyadari bahwa di dunia ini, seorang praktisi ksatria membutuhkan asupan kalori berkali-kali lipat dari manusia normal.

Dengan rasa lapar yang membakar, Simon segera menyusuri hutan liar di pinggiran.

Matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di balik semak. Setelah sekian lama mencari, ia akhirnya menemukan sasarannya seekor rusa hutan yang sangat gemuk sedang merumput dengan tenang.

"Ini dia... rusa ini sangat gemuk. Jika dijadikan sate rusa, pasti akan sangat nikmat," gumam Simon dengan liur yang nyaris menetes.

Ia mulai mendekat dengan sangat hati-hati, meminimalkan suara langkah kakinya di atas dedaunan kering.

Kresek.

Bunyi halus semak-semak membuat rusa itu tersentak. Hewan itu mengangkat kepalanya, telinganya bergerak-gerak waspada.

Namun, setelah menunggu beberapa saat dan tidak melihat bahaya, rusa itu kembali menunduk untuk menikmati rumputnya yang lezat.

Kesalahan fatal.

Tiba-tiba, sebuah siluet hitam melesat dari balik pohon secepat kilat, itu adalah Simon yang menggunakan kecepatan dasar dari teknik ularnya.

Sebelum rusa itu bisa bereaksi, Simon sudah berada di atas punggungnya, menindih hewan malang itu dengan berat tubuhnya yang kini diperkuat oleh fisik calon Ksatria Semu.

Rusa itu panik dan memberontak dengan liar, namun kekuatan genggaman Simon terlalu kokoh.

Sebuah belati kecil berkilat di bawah sinar matahari sebelum dihujamkan tepat ke leher sang rusa.

"Heheh... tidak sabar mencicipi daging rusa yang segar ini," kata Simon dengan senyum lebar yang terlihat mengerikan bagi sang rusa di saat-saat terakhirnya.

Namun, tepat saat Simon hendak menyeret jasad buruannya, sebuah hantaman masif mendarat di sisi tubuhnya.

BUM!

Simon terlempar jauh, tubuhnya meluncur di atas tanah hingga menghantam batang pohon besar di ujung lapangan. "Ugh! Apa-apaan?!" Simon terbatuk, merasakan dadanya sesak.

Ia mendongak dan melihat sesosok makhluk raksasa setinggi dua meter dengan bulu hitam pekat dan mata hijau gelap yang menatapnya penuh amarah, itu adalah seekor Beruang Hitam yang sangat besar.

"Sialan! Beruang bajingan! Kau mau mencuri jatah makan siangku?!" umpat Simon dengan geram.

"Apakah nenekmu tidak mengajarkan sopan santun!"

Beruang itu seolah memahami hinaan Simon.

Ia berdiri tegak di atas dua kaki belakangnya, mengeluarkan raungan yang menggetarkan seluruh hutan, lalu menerjang ke arah Simon dengan cakar-cakar yang mampu membelah batu.

"Brengsek!"

Simon yang sudah bersiap segera menendang tanah, melompat ke samping dengan kelincahan ular yang luar biasa untuk menghindari terkaman maut tersebut.

Pertarungan pecah. Simon bergerak meliuk-liuk di antara pohon, menggunakan kelenturan tubuhnya untuk menghindari setiap ayunan cakar beruang yang menghancurkan kulit dan batang kayu di sekitarnya.

Setiap kali ada celah, Simon menusukkan belatinya. Namun, kulit beruang itu sangat tebal dan alot, seolah-olah dilapisi pelindung alami.

"Kau benar-benar alot, ya?!" Simon meraung, ia memusatkan seluruh sisa energinya ke lengannya, melancarkan serangan bertubi-tubi pada titik lemah di bawah ketiak dan leher sang beruang.

Setelah pertarungan mati-matian yang membuat jubah hitamnya compang-camping, Simon akhirnya berhasil menghujamkan belatinya dalam-dalam ke jantung sang beruang.

"Matii! Kau monster!"

"Raungann!!!"

Raksasa itu mengeluarkan raungan terakhir yang lemah sebelum akhirnya ambruk ke tanah dengan dentuman keras.

Simon terengah-engah, darah membanjiri wajahnya. Ia menyeka darah yang menciprat ke pipinya dan menghela napas lega saat menatap dua gundukan daging di depannya.

"Sepertinya kita tidak hanya akan memakan daging rusa hari ini," gumam Simon sambil menatap bangkai beruang tersebut. "Daging beruang harusnya penuh dengan protein, bukan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!