NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan hangat

Malam makin merambat pekat di pulau tak berpenghuni itu. Gemuruh badai yang semula mengamuk dahsyat perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan desir angin malam yang dingin dan suara deburan ombak berirama teratur yang menghempas bibir pantai. Namun, hingga kegelapan benar-benar menguasai daratan kecil tersebut, kapal bantuan dari pihak resort belum juga menampakkan tanda-tanda kedatangan.

Di bawah naungan atap seng shelter darurat, Tariq dan Alfa sibuk berusaha memutar otak untuk bertahan hidup.

Suhu udara malam di tengah samudra merosot tajam, menusuk hingga ke tulang. Mengandalkan sisa-sisa daya di senter kecil jelas bukan pilihan bijak.

Alfa bersama Tariq mengumpulkan ranting-ranting dan potongan kayu pohon kelapa yang berserakan di sekitar shelter. Tentu saja, membuat api dari kayu-kayu yang basah tersiram air hujan bukanlah perkara mudah.

Berkali-kali percikan api menyala, namun hanya berakhir menjadi asap tipis yang langsung terhalau angin. Alfa, yang biasanya berkutat dengan pena mahal dan berkas saham miliaran rupiah, tak segan berlutut di atas tanah lembap, meniupkan napasnya sabar ke arah tumpukan kayu yang mengepul.

Setelah perjuangan yang memakan waktu cukup lama, kepulan asap tebal akhirnya mengecil dan berganti menjadi lidah api yang menari-nari hangat. Cahaya merah keemasan dari api unggun itu seketika menerangi area shelter yang mulanya gelap gulita.

Tidak berhenti di situ, Tariq yang terlatih bertahan di alam bebas, sempat memanfaatkan tepi pantai untuk menangkap beberapa ekor ikan karang kecil menggunakan tombak kayu sederhana.

Pria lokal itu menyiangi ikan-ikan tersebut seadanya, lalu menusuknya dengan ranting pohon untuk dibakar di atas bara api unggun. Bau harum khas ikan bakar sederhana mulai tercium di udara, menjadi oase di tengah rasa lapar dan letih yang melilit mereka.

Alfa bangkit dari dekat api unggun. Pria itu sudah memindahkan kemeja linen putihnya sejak sore tadi untuk membungkus bahu Senja yang gemetaran.

Kini, Alfa hanya mengenakan kaus singlet hitam yang melekat ketat di tubuhnya, memperlihatkan siluet dadanya yang tegap, bidang, serta lengan berotot yang kokoh.

Di sudut shelter, Senja duduk meringkuk di atas potongan kayu kering. Wajahnya yang biasa bersinar kini tampak begitu pucat, bibirnya yang ranum memutih akibat gigilan dingin yang belum sepenuhnya reda dari tubuhnya.

Alfa melangkah mendekat dengan perlahan.

Di tangan kanannya, ia membawa seekor ikan bakar kecil yang masih mengepulkan asap hangat, beralaskan selembar daun hutan yang sudah dibersihkan seadanya.

Pria itu berlutut di hadapan Senja, merendahkan tubuh tegapnya agar sejajar dengan pandangan mata sang istri.

"Makanlah dulu!" Kata Alfa lembut, menyodorkan ikan bakar sederhana itu ke hadapan Senja.

Senja mengangkat wajahnya yang layu, menatap ikan bakar itu, lalu beralih menatap Alfa yang hanya mengenakan kemeja tipis dan kaus singlet di tengah udara malam yang menggigit.

"Kamu juga makan, Mas!" Sahut Senja dengan suara lirih yang sedikit serak.

"Aku tidak lapar, isi perutmu dulu. Wajahmu pucat sekali" Tolak Alfa halus. Pria itu berniat memberikan seluruh bagian ikan itu agar energi Senja cepat pulih.

Namun, Senja menggelengkan kepalanya tegas. Manik matanya yang jernih menatap Alfa dengan binar keberanian yang mendadak muncul kembali.

"Tidak mau, kita harus makan berdua!" Paksa Senja, tidak menerima bantahan sama sekali.

Tanpa menunggu respon Alfa, jemari lentik Senja yang masih terasa dingin bergerak maju. Ia mencubit sedikit bagian daging ikan bakar yang bagian luarnya tampak sedikit agak gosong.

Kemudian, dengan gerakan pelan, Senja mengarahkan tangannya yang memegang daging ikan itu tepat ke depan bibir Alfa.

Alfa sempat tertegun mematung. Pria itu menatap jemari Senja yang berada tepat di depan mulutnya, lalu beralih menatap dalam ke arah mata Senja secara bergantian.

Ada detik-detik keheningan yang sarat akan rasa canggung sekaligus kehangatan yang asing. Namun melihat binar ketegasan di mata istrinya, Alfa akhirnya memiringkan kepala sedikit dan menerima suapan daging ikan dari jemari Senja.

Suasana di antara mereka terasa makin pekat oleh getaran yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Alfa mengunyah daging ikan itu perlahan.

"Tidak buruk" Ucap Alfa jujur, merasakan gurihnya daging ikan segar meski dibakar polos tanpa sejumput garam maupun bumbu dapur.

"Benarkah, Mas? Biar aku coba!" Tanggap Senja dengan rasa penasaran yang terbit di wajahnya.

Senja menyuap bagian daging ikan yang sama ke dalam mulutnya sendiri. Ia mengunyahnya pelan, menikmati rasa gurih alami yang membakar lidahnya yang semula hambar.

"Enak?" Tanya Alfa memperhatikan ekspresi wajah Senja

.

"Hmm" Senja mengangguk pelan, menyetujui ucapan suaminya.

Melihat Senja yang mulai mau merespon dengan baik, sudut bibir Alfa terangkat, membentuk senyuman hangat yang jarang sekali menghiasi wajah kaku pengusaha muda itu.

"Kalau kita tidak terjebak di pulau ini, mana mungkin kamu bisa merasakan ikan bakar tanpa bumbu dan sedikit gosong ini, kan?" Canda Alfa, mencoba mencairkan sisa-sisa kecanggungan dan rasa takut yang masih menggelayuti Senja.

Senja mendongak, menatap Alfa lurus-lurus lalu menjawab dengan cepat tanpa ragu.

"Lebih baik tidak, Mas!"

"Haha..."

Tawa Alfa pecah begitu saja di tengah malam yang sunyi. Tawa yang terdengar begitu lepas, renyah, dan tulus, sebuah tawa yang bahkan belum pernah Senja dengar selama dua bulan mereka hidup di bawah atap yang sama.

Senja yang melihat tawa itu hanya bisa terpaku sejenak, mengulas senyum tipis yang amat manis di balik bayang-bayang pendar api unggun.

Malam makin larut, menembus angka dini hari. Bantuan yang dijanjikan tak kunjung memunculkan titik terang di garis pantai.

Hujan telah sepenuhnya reda, meninggalkan langit malam yang perlahan-lahan menyapu bersih awan kelabu, memperlihatkan keindahan gugusan bintang yang bertebaran terang.

Namun, menginjak dini hari, embun malam dan angin laut bertiup makin menusuk kulit. Bara api unggun yang mereka buat mulai mengecil, menyisakan abu merah yang tak lagi cukup memberikan kehangatan ke seluruh ruangan.

Untuk mencari perlindungan yang lebih tertutup dari terpaan angin, Alfa membawa Senja berpindah sedikit ke luar shelter, bersandar pada batang pohon kelapa tua yang besar yang posisinya cukup terlindung dan dekat dengan sisa bara api.

Melihat tubuh Senja yang kembali menggigil halus meski sudah terbalut kemeja miliknya, Alfa tidak ragu lagi. Pria itu merapatkan duduknya, meletakkan tangannya di bahu Senja lalu menarik tubuh ramping itu mendekat rapat ke dadanya. Alfa memeluk tubuh Senja dari samping, membimbing kepala wanita itu agar bersandar nyaman di atas dada bidangnya yang hangat.

Alfa membiarkan Senja terlelap di dalam dekapannya, menyalurkan seluruh sisa kehangatan tubuhnya sendiri untuk melindungi wanita itu.

Setiap kali embusan angin malam bertiup cukup kencang membawa udara dingin samudra, Alfa refleks mengeratkan lingkar tangannya, memeluk Senja makin erat seolah tak membiarkan setitik pun rasa dingin menyentuh kulit istrinya.

Di dalam dekapan tegap itu, Senja meresapi setiap ketukan jantung Alfa yang berdetak teratur tepat di bawah pipinya. Rasa aman yang teramat sangat menyelimuti jiwanya, mengikis habis seluruh ketakutan akan badai dan kegelapan malam.

"Mass..." Panggil Senja dengan suara amat pelan, kelopak matanya tetap terpejam menikmati kehangatan yang melingkupinya.

"Hmm?" Sahut Alfa lembut, suaranya terdengar bagaikan bisikan bergelombang di atas kepala Senja.

"Apa wishlist kamu untuk sekarang dan beberapa tahun ke depan?" Tanya Senja polos.

Pertanyaan itu mengalir begitu saja, melompat dari alam bawah sadarnya yang merasa teramat nyaman berada di dalam pelukan suaminya.

Alfa memiringkan kepalanya sedikit, menyandarkan pelipisnya di pucuk kepala Senja yang tertutup helai-helai rambut.

"Wishlist?" Gumam Alfa mengulang kata itu. Pandangan matanya menerawang jauh, menatap ke arah langit malam Maladewa yang kini telah cerah dan dihiasi jutaan bintang yang bersinar terang.

"Hmm..." Gumam Senja mengiyakan.

Alfa menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan hingga menyapu pendar hangat di udara malam.

"Apa menurutmu aku aneh karena tidak punya wishlist sama sekali?" Tanya Alfa balik dengan nada bicara yang terdengar begitu jujur dan tanpa kepura-puraan.

"Hmm, sangat aneh" Angguk Senja sembari terkekeh pelan.

Senja tidak membuka matanya sama sekali, ia hanya menikmati hangatnya rengkuhan Alfa yang menjadi satu-satunya tempat bernaung paling nyaman di tengah dinginnya pulau tak berpenghuni ini.

Alfa terdiam sejenak. Hening kembali merayapi mereka selama beberapa detik sebelum akhirnya pria itu bersuara lagi, melontarkan jawaban jujur yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

"Mungkin untuk saat ini, mendapatkan donor ginjal untuk Dila. Setelah itu... aku baru bisa memikirkan yang lain" Jawab Alfa tenang.

Kalimat itu terucap dengan begitu polos dari bibir Alfa, sebuah jawaban dari seorang pria yang terbiasa hidup dalam rasa tanggung jawab dan masa lalu yang mengikatnya. Alfa sama sekali tidak bermaksud menyakiti Senja, ia hanya menyuarakan beban terbesar yang selama ini menghimpit kepalanya.

Namun, di dalam dekapan erat yang begitu hangat itu... dada Senja mendadak terasa dihantam oleh sebuah kenyataan yang teramat dingin dan tajam.

Sentakan perih yang teramat halus menjalar di balik rongga dada Senja. Dekapan Alfa yang begitu protektif, kehangatan dadanya yang menempel di pipinya, dan napas pria itu yang mengelus pucuk kepalanya, seketika terasa bagaikan sebuah mimpi indah yang dipinjamkan sementara.

Senja tetap terpejam. Tak ada air mata yang menetes, tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya, dan tak ada pergerakan tubuhnya yang menolak pelukan Alfa.

Ia tetap bersandar di sana, membiarkan Alfa memeluknya semakin erat di tengah terpaan angin malam.

Namun di dalam relung hatinya yang paling dalam, di mana tak seorang pun bisa mendengarnya, bahkan Alfa yang sedang memeluknya erat sekalipun, sebuah bisikan pilu bergaung begitu dalam dan mengiris jiwa.

"Mas... di saat kamu begitu tangguh menjadi pelindungku malam ini, di saat kamu mengusir seluruh ketakutanku pada badai dan kegelapan, dan di saat dada bidangmu menjadi tempat tersenyum paling nyaman yang pernah kupunya... ternyata namaku bahkan tidak pernah ada di dalam barisan daftar harapan masa depanmu. Aku hanyalah perantara dalam perjalanan hidupmu, sementara seluruh fokus dan arah hidupmu tetap tertuju padanya. Dan menyadari fakta bahwa aku memang takan pernah ada tempat di hatimu... adalah badai sesungguhnya yang harus kupadamkan sendiri"

Senja makin menyusupkan wajahnya ke dalam dada Alfa, menyembunyikan senyum kepasrahan yang terukir di bibirnya yang masih pucat, membiarkan kehangatan pria itu memeluknya untuk terakhir kali sebelum pagi dan kenyataan pahit menyapa mereka kembali seperti sedia kala.

1
Nar Sih
sperti nya kmu mulai jatuh cinta dgn alfa senja
Nar Sih
dari perhatiaan alfa ke senja seperti psng suami istri yang saling mencintai pdhl ...mungkin hnya sbts tangung jwb alfa
Ari Atik
pengen nya alfa merasa kehilangan senja..
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
juwita
kasihan senja jatuh cinta sm suami sendiri tp di hatinya ada cwek lain😭😭😭
mery harwati
Ada kopi online bwt author agar membuka rahasia, apakah orang tua Senja tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila meski Alfa sudah menikah sah dengan Senja
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
Agnezz: makanya Senja dan Alfa harus tahan2 diri aja dulu Suatu saat mereka jadi pimpinan dan pemilik perusahaan. Ayah2 mereka sudah tertalu tua dan sakit2an, suatu saat akan menyerahkan perusahaan pada mereka
total 3 replies
mery harwati
Sebentar² aq jadi berpikir tentang pernikahan antara Senja & Alfa memang sudah disetujui oleh kedua orang tua mereka, tapi soal Alfa yang masih merawat Dila & "menelantarkan" Senja sebagai istri sah, diketahui tidak oleh orang tua Senja? Sebab selama episode ini hanya ayah Alfa yang keras menentang hubungan Alfa & Dila, andaikan orang tua Senja bahwa Alfa punya kekasih Dila & tetep menjodohkan Senja dengan Alfa, brati memang Senja benar² sendiri hidupnya ditengah kemewahan, tapi seandainya orang tua Senja tak tau bahwa Alfa masih berhubungan dengan Dila dan Alfa menyakiti Senja, waahh harusnya orang tua Senja menyembunyikan Senja dari Alfa & keluarganya 🤔💪
Agnezz: mungkin karena Senja mulai jatuh cinta pada Alfa dan dalam pandangan Senja, hati.Alfa sudah terkunci pada Dila. Tujuan awal.Senja mau menikah adalah pernikahannya menjadi jembatan menuju kebebasannya. Senja audah bosan terlalu dituntut dan disetir ayahnya. yah memang Senja KESEPIAN. orang tuanya hanya menjadikan Senja sebagai alat.
total 3 replies
Agnezz
Alfa emang cowok yg penuh kasih sayang dan perhatian. Dia tidak bisa berdiam diri kalo orang lain sakit. Pantas sangat mengkhawatirkan Dila karena dia sepeduli itu.Hati2 Senja jangan sampai jatuh cinta.
Agnezz
Untung yg jadi istri Senja, coba kalo wanita lain yg gak terima Alfa masih berhubungan dan memikirkan Dila. bisa dibejek-bejek kamu Alfa.
Agnezz
"Jangan merasa sendirian lagi Senja" berati Alfa paham kalo Senja kesepian.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.
Hanima
lanjuttt
Cahaya
senja😍
Cahaya
lanjutttt
Hanima
Lari lah jauh2 senja
Inara Khimar
saran ku lari senja lari yang jauh
Ikaaa1605
😍
Cahaya
masihh spi ini blm pada hadir
Sastri Dalila
🤗
Nar Sih
semoga badai nya cpt pergi dan kalian sgra kmbli sampai daratan lgi
Umfaiq
baru kali ni ada CEO bodoh ga ketulungan
Ass Yfa
dan Senjapun tak ada dlm masadepan Alfa..sesakit itu yg Senja...tak ada deorangpun yg tulus menyanyangimu..bahkan suami sendiri😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!