Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 28: Sentuhan yang Terlambat
...MENGULANG LUKA...
...Bab 28: Sentuhan yang Terlambat...
Kecupan yang hinggap di bibir Valencia terasa begitu hangat, lembut, dan penuh kehati-hatian—sebuah kontras tajam dari tabiat keras Julian yang selama ini selalu dingin dan penuh dominasi. Selama dua tahun pernikahan mereka, jangankan ciuman sehangat ini, tatapan mata yang penuh permohonan pun tak pernah Julian berikan. Pria itu selalu bersikap bagai menara es yang tak tersentuh, mengabaikan Valencia seolah keberadaan wanita itu hanya pemanis garis keturunan yang dipaksakan oleh keadaan.
Namun, sentuhan di bibir itu tidak berakhir cepat. Selama hampir dua menit yang terasa bagai keabadian, Julian membiarkan bibirnya menempel dan bergerak perlahan di atas bibir Valencia. Dia menyalurkan seluruh kepanikan, rasa takut kehilangan yang mendadak melingkupi dadanya, serta cemburu buta yang tak sanggup dia putuskan lewat kata-kata. Hening kabin mobil yang sempit menjadi saksi bisu bagaimana keangkuhan dan gengsi setinggi langit milik seorang Julian Edgar luluh sepenuhnya dalam sebuah kecupan yang dalam, intim, dan makin pekat.
Ketika kesadaran mendadak menghantam kepalanya bagai semburan air dingin, Julian perlahan melepaskan ciumannya. Pria bertubuh tinggi besar itu menarik tubuhnya mundur secara bertahap, lalu mendadak membeku kaku di kursi pengemudi. Sepasang mata elangnya berkedip beberapa kali, memancarkan rasa terkejut yang luar biasa atas tindakan impulsifnya barusan.
Julian—seorang pengusaha sukses yang selalu memegang kendali penuh atas emosi, keputusan bisnis, dan gengsinya—sama sekali tidak pernah menduga bahwa dia baru saja mencium Valencia sejauh dan selama itu. Semua itu terjadi hanya karena rasa panik yang tak tertahankan sewaktu membayangkan istrinya pergi dan melangkah menuju pelukan pria lain.
Dengan jemari yang kaku dan sedikit gemetar, Julian berdeham pelan demi menutupi rasa canggung luar biasa yang mendadak melingkupi dadanya. Pria itu menarik gesper dan memasang kembali sabuk pengamannya dengan gerakan yang sebisa mungkin dibuat formal dan tegas, meski detak jantung di balik jas mahal buatan penjahit ternamanya bergemuruh tak beraturan. Ujung jarinya menegang di atas kemudi, berusaha keras mengembalikan topeng dingin yang baru saja runtuh berkeping-keping.
"Kita... kita pulang sekarang," ucap Julian dengan nada bariton yang terdengar sangat canggung dan sedikit gugup. Pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya lurus-lurus ke jalanan di hadapan mereka, menolak untuk menatap mata istrinya.
Sementara itu, Valencia masih membeku kaku di kursi penumpang. Gelombang kebingungan dan rasa terkejut yang amat besar menghantam dirinya seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang di balik gaun malamnya, dan ciuman berdurasi dua menit itu sukses mencetuskan getaran aneh yang mendadak melumpuhkan benteng pertahanan dingin yang sudah dia bangun rapat-rapat sejak pagi tadi.
Valencia menelan ludahnya yang terasa kaku, berusaha menata napasnya yang mendadak sesak. Dia hanya mampu mengangguk pelan menyetujui ucapan Julian tanpa berani memutar kepala sedikit pun.
Secara refleks, Valencia memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah kaca jendela samping, menyembunyikan rona merah padam yang mendadak menjalar membakar kedua belah pipinya hingga ke ujung telinga. Wanita itu memejamkan mata erat-erat, meraba sensasi hangat yang masih tersisa di bibirnya dengan perasaan kecamuk yang saling berperang di dalam batin.
Tidak... aku tidak boleh lengah... aku tidak boleh tertipu lagi oleh kehangatan semu ini... gumam Valencia dalam hatinya, berusaha keras menyelamatkan akal sehatnya dari pusaran pesona Julian.
Dia tidak boleh melupakan betapa sakitnya diabaikan selama dua tahun. Dia tidak boleh membiarkan hatinya kembali luluh hanya karena perlakuan manis yang mendadak ini. Untuk menetralkan desir aneh di dadanya dan menyadarkan dirinya dari pesona suaminya, Valencia mengangkat kedua jemarinya lalu menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan.
Plak, plak.
Suara tepukan kecil itu terdengar samar di dalam kabin, membuat Valencia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Dia harus tetap ingat pada rasa sakit dari kehidupan lalunya. Dia tidak boleh membiarkan ciuman dua menit dari Julian meruntuhkan seluruh tekad dan niat mulianya untuk bebas dari lingkaran pernikahan yang melelahkan ini.
Di sampingnya, Julian kembali melajukan mobil membelah kegelapan malam. Kendaraan mewah itu menyusuri jalanan kota yang lengang dengan kecepatan sedang. Di antara remang cahaya lampu jalanan yang bergantian menyapu kabin mobil, kedua insan itu kini sibuk menyembunyikan detak jantung masing-masing—terjebak dalam keheningan yang tak lagi terasa dingin dan benci, melainkan sarat akan kecanggungan, kebingungan, dan kejutan emosi yang baru saja meledak di antara mereka.