NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali pada Rutinitas

Pagi itu suasana kampus kembali seperti biasanya.

Tidak ada meja registrasi yang berjajar di depan gedung. Tidak ada panitia yang sibuk membawa perlengkapan. Tidak ada peserta yang memenuhi halaman kampus.

Kegiatan kampus yang selama beberapa hari terakhir cukup menyita perhatian Almeera akhirnya selesai.

Sekarang ia kembali menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa.

Almeera berjalan menuju kelas bersama Eliza.

“Rasanya aneh ya” ucap Eliza.

“Aneh kenapa?” tanya Almeera.

“Beberapa hari terakhir kita sibuk sama acara. Sekarang tiba tiba balik kuliah kaya biasanya lagi,” jawab Eliza.

Almeera tersenyum kecil.

“Justru aku lega,” ucap Almeera.

“Capek?” tanya Eliza.

“Banget,” jawab Almeera sambil tertawa kecil.

Eliza ikut tertawa.

Mereka kemudian masuk ke dalam kelas.

Almeera duduk di tempat biasanya lalu mengeluarkan buku dan alat tulis dari dalam tas.

Tidak lama kemudian dosen masuk.

Suasana kelas yang sebelumnya ramai perlahan menjadi tenang. Almeera mulai mencatat materi yang disampaikan dosen. Sesekali pikirannya kembali pada kegiatan kampus beberapa hari lalu.

Bukan karena acaranya. Melainkan karena pengalaman yang ia dapatkan. Ia mulai sadar bahwa selama ini dirinya terlalu sering ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya.

Ketika sesuatu tidak sesuai harapan, ia mudah kesal.

Ketika orang lain memiliki pendapat berbeda, ia merasa tidak dimengerti.

Padahal tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginannya.

Setelah kelas selesai, Almeera dan Eliza pergi ke perpustakaan. Mereka mendapatkan tugas baru yang harus dikerjakan secara berkelompok. Eliza membuka laptopnya.

“Ini tugasnya lumayan banyak,” ucap Eliza.

Almeera membaca instruksi dari dosen.

“Iya. Deadline nya tiga hari lagi,” jawab Almeera.

Eliza langsung menghela napas.

“Kenapa dosen senang banget kasih tugas?” keluh Eliza.

Almeera tertawa kecil.

“Namanya juga kuliah,” jawab Almeera.

Mereka mulai membagi bagian tugas.

Beberapa menit kemudian dua mahasiswa lain dari kelompok mereka datang. Diskusi pun dimulai. Awalnya semua berjalan lancar.

Namun ketika menentukan pembagian tugas, muncul perbedaan pendapat.

“Aku rasa bagian ini lebih baik dikerjakan dua orang,” ujar salah satu anggota kelompok.

Anggota kelompok lainnya menggeleng.

“Kalau dua orang mengerjakan bagian itu, nanti bagian yang lain malah terlalu sedikit” jawabnya.

Almeera memperhatikan keduanya.

Biasanya situasi seperti itu mungkin akan membuatnya malas ikut campur.

Namun kali ini Almeera mencoba mencari jalan tengah.

“Kalau bagian itu memang lebih banyak, kita bagi dua saja. Tapi bagian yang lebih ringan bisa digabung dengan bagian lain,” usul Almeera.

Kedua anggota kelompok itu terdiam sebentar.

“Masuk akal,” jawab salah satu dari mereka.

“Aku juga setuju,” ucap anggota lainnya.

Eliza mengangguk.

“Aku setuju sama Almeera,” kata Eliza.

Akhirnya pembagian tugas selesai. Almeera tersenyum kecil.

Ternyata berdiskusi tidak sesulit yang ia bayangkan.

Tidak harus ada yang menang.

Tidak harus ada yang kalah.

Yang penting mereka menemukan jalan yang bisa diterima bersama.

Saat mereka sedang mengerjakan tugas, Rafael dan Daffa kebetulan datang ke perpustakaan.

Daffa membawa beberapa buku di tangannya.

“Eh, kalian juga di sini?” tanya Daffa.

Eliza menoleh.

“Iya. Kami lagi mengerjakan tugas,” jawab Eliza.

Daffa melihat meja mereka.

“Tugas yang tadi diberikan dosen?” tanya Daffa.

“Iya,” jawab Almeera.

Rafael kemudian meletakkan bukunya di meja sebelah.

“Kelompok kalian sudah membagi tugas?” tanya Rafael.

“Sudah,” jawab Almeera.

“Bagus,” ucap Rafael.

Daffa membuka bukunya.

“Tugas kelompok kalian sama dengan kelompok kami?” tanya Daffa.

Rafael mengangguk.

“Iya. Tugasnya sama,” jawab Rafael.

Almeera kembali fokus pada laptopnya.

Beberapa saat kemudian ia menemukan sebuah referensi yang menurutnya cocok untuk tugas kelompok.

Ia membuka halaman tersebut dan mulai membaca.

Namun ada satu bagian yang tidak terlalu ia pahami.

Almeera mengernyit.

“Ini maksudnya apa ya?” tanya Almeera.

Eliza ikut melihat layar laptop.

“Aku juga kurang paham,” jawab Eliza.

Daffa menoleh dari tempat duduknya.

“Coba aku lihat,” ucap Daffa.

Daffa membaca bagian tersebut sebentar.

“Kayaknya maksudnya begini,” jelas Daffa.

Ia kemudian menjelaskan secara singkat.

Almeera mengangguk.

“Oh, jadi maksudnya seperti itu,” ucap Almeera.

Rafael yang mendengar percakapan tersebut ikut memberikan saran.

“Kalau masih ragu, coba cek sumber aslinya juga. Biar kalian nggak salah memahami,” ucap Rafael.

“Iya. Makasih, Rafael,” jawab Almeera.

“Sama sama,” jawab Rafael.

Setelah itu mereka kembali mengerjakan tugas masing masing. Tidak ada percakapan panjang. Semua sibuk dengan pekerjaan mereka.

Siang semakin berlalu. Almeera mulai merasa lelah. Ia menutup laptop sebentar lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Eliza memperhatikan Almeera.

“Capek?” tanya Eliza.

“Iya,” jawab Almeera.

“Berhenti dulu. Jangan dipaksakan,” saran Eliza.

Almeera mengangguk.

“Iya. Aku istirahat sebentar,” jawab Almeera.

Ia mengambil botol minum lalu meminumnya.

Setelah itu Almeera melihat kembali tugas yang belum selesai.

Dulu ia mungkin akan memaksakan diri menyelesaikan semuanya sekaligus.

Sekarang ia mencoba mengatur waktunya.

Tidak harus selesai hari ini.

Yang penting dikerjakan sedikit demi sedikit.

Almeera membuka kalender di ponselnya.

“Kalau hari ini bagian ini selesai, besok aku tinggal lanjut bagian berikutnya,” ucap Almeera.

Eliza tersenyum.

“Almeera sekarang mulai teratur,” ujar Eliza.

Almeera langsung menoleh.

“Memangnya sebelumnya aku berantakan?” tanya Almeera.

Eliza tertawa.

“Sedikit,” jawab Eliza.

“Sedikit katanya,” balas Almeera sambil tertawa.

Mereka berdua kembali tertawa kecil.

Sore hari Almeera pulang ke rumah. Mama sudah berada di ruang tengah.

“Bagaimana kuliahnya hari ini?” tanya Mama.

“Baik, Ma. Hari ini ada tugas kelompok,” jawab Almeera.

Mama mengangguk.

“Capek?” tanya Mama.

“Sedikit,” jawab Almeera.

“Kalau capek, istirahat dulu. Jangan langsung memaksakan diri,” pesan Mama.

“Iya, Ma,” jawab Almeera.

Almeera kemudian masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Setelah beristirahat sebentar, ia kembali mengerjakan tugas.

Kali ini ia mencoba menyelesaikannya tanpa terburu buru. Ia membuat daftar kecil.

Bagian pertama.

Bagian kedua.

Bagian ketiga.

Satu per satu ia kerjakan. Tidak terasa waktu sudah malam. Almeera menutup laptop. Tugasnya belum sepenuhnya selesai.

Namun sebagian besar sudah dikerjakan. Ia merasa cukup puas. Bukan karena semuanya sempurna.

Melainkan karena ia berhasil menjaga dirinya tetap tenang. Sebelum tidur, Almeera kembali membuka buku catatannya. Ia menulis beberapa kalimat.

"Hari ini aku kembali menjalani hari biasa."

Almeera melanjutkan tulisannya.

"Ternyata setelah melewati sesuatu yang baru, aku justru melihat rutinitasku dengan cara berbeda."

Tangannya berhenti sebentar. Kemudian ia kembali menulis.

"Aku mulai belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti harus selalu kuat atau selalu tahu apa yang harus dilakukan."

"Kadang menjadi dewasa berarti mau mendengarkan. Mau menerima pendapat orang lain. Mau mengakui kalau kita belum tahu. Dan mau belajar mengatur diri sendiri."

Almeera membaca kembali tulisannya. Masih banyak hal dalam dirinya yang harus diperbaiki. Ia masih bisa kesal.

Masih bisa merasa malas.

Masih bisa melakukan kesalahan.

Namun sekarang ia tidak ingin menyerah hanya karena dirinya belum sempurna. Almeera menutup buku tersebut.

Malam semakin sunyi. Setelah melaksanakan kewajibannya, Almeera berdoa.

“Ya Allah, terima kasih untuk hari yang sederhana ini,” doa Almeera.

Almeera terdiam sejenak.

“Ajarkan aku untuk terus belajar. Jangan biarkan aku merasa sudah cukup baik hanya karena aku sudah berubah sedikit,” lanjut Almeera.

Setelah selesai berdoa, Almeera tersenyum tipis. Ia tahu perjalanan memperbaiki diri masih panjang.

Mungkin akan selalu ada hal baru yang harus dipelajari. Namun ia tidak lagi terburu buru.

Satu hari.

Satu langkah.

Satu perubahan kecil.

Itu sudah cukup untuk hari ini.

Almeera mematikan lampu kamarnya.

Besok ia akan kembali ke kampus.

Kembali bertemu tugas tugasnya.

Kembali bertemu teman temannya.

Dan kembali menjalani kehidupan sederhana yang sedang ia bangun sedikit demi sedikit.

Kali ini tanpa terburu buru mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi miliknya.

Ia hanya ingin memastikan setiap langkah yang ia ambil membawanya semakin dekat kepada kebaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!