Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Kebohongan yang Semakin Tipis
Hari-hari berlalu dengan lambat, seakan waktu ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti setiap sudut rumah itu. Tidak ada pertengkaran yang meledak-ledak, tidak ada teriakan yang terdengar sampai ke luar, namun keheningan yang menyelimuti ruang-ruangnya terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara pertengkaran mana pun. Yb berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit di ufuk timur, dan pulang saat langit sudah berwarna gelap pekat, wajahnya selalu tampak lelah seakan memikul beban yang tak terlihat namun sangat berat. Setiap kali Karen bertanya ke mana ia pergi, jawabannya selalu sama — mengurus berkas, melengkapi tanda tangan, berbicara dengan petugas di kantor terkait. Penjelasannya terdengar masuk akal, wajar, logis, namun justru keteraturan dan keseragaman jawaban itulah yang membuat keraguan di hati Karen semakin menguat dari hari ke hari. Ia tidak pernah diizinkan ikut, tidak pernah diperlihatkan dokumen apa pun secara langsung, dan setiap kali ia meminta untuk ikut serta atau sekadar melihat berkas-berkas itu, selalu ada alasan yang halus namun tegas untuk menolaknya.
"Di kantor itu ramai sekali, berdesak-desakan, dan tidak nyaman untukmu dalam keadaan hamil yang semakin membesar seperti ini," kata Yb suatu pagi, saat Karen bersiap berdiri dari tempat tidur dan hendak mengambil pakaian luarnya. "Tetaplah di sini, istirahatlah dengan tenang. Aku akan mengurus semuanya sendiri, dari awal hingga selesai. Kau tidak perlu lelah untuk hal yang sesederhana ini."
Karen berhenti bergerak, tangannya yang memegang kancing baju terhenti di udara. Ia menatap suaminya lekat-lekat, mencoba mencari sesuatu di balik tatapan pria itu — ketulusan? Atau justru kecemasan yang disembunyikan? "Aku sehat, Yb. Aku masih kuat untuk berjalan dan duduk. Lagipula rumah ini adalah tempat tinggalku juga, bukan? Aku berhak mengetahui apa yang sedang diurus atas namaku, melihat langsung siapa yang menandatangani apa, dan memastikan semuanya benar-benar beres."
Yb terdiam sejenak, bibirnya bergerak seakan mencari kata-kata yang tepat, lalu tersenyum tipis — senyum yang tampak dipaksakan, tak sampai ke matanya yang terlihat cemas. "Tentu saja kau berhak, tidak ada yang menyangkalnya. Tapi ini hanya urusan administrasi yang membosankan, berjam-jam mengantre di ruangan yang pengap, menandatangani lembar demi lembar kertas yang isinya hanya angka dan aturan. Kau tidak perlu menghabiskan tenagamu untuk hal yang tidak perlu dilihat dua kali. Percayalah padaku, aku akan mengurusnya dengan sebaik-baiknya."
Karen mengangguk pelan, namun di dalam hatinya ia tidak merasa tenang justru sebaliknya, rasa gelisah itu semakin mengakar kuat. "Baiklah... Aku akan menunggumu di sini. Tapi berjanjilah padaku, tidak ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Tidak ada hal sekecil apa pun yang kau simpan sendirian."
"Aku berjanji," jawab Yb cepat, namun tatapannya justru menghindar, menatap lantai seakan tak sanggup menatap mata istrinya lebih lama.
Di luar pintu kamar itu, tak jauh dari sana, Cynthia berdiri diam di balik dinding, mendengar percakapan mereka tanpa sengaja. Ia tidak bermaksud menguping, langkah kakinya terhenti tepat di saat kata-kata itu terucap, dan setiap kalimat sampai ke telinganya dengan begitu jelas, membuat dadanya terasa sesak dan berat. Ia tahu Yb berbohong — bukan kepadanya, melainkan demi melindunginya. Yb menyembunyikan kenyataan bahwa rumah ini akan kembali ke tangan Cynthia, bahwa sejak awal rumah ini ditujukan untuknya, dan bahwa ia lah yang berhak menerimanya kembali. Kebohongan itu dilakukan dengan niat baik, untuk mencegah keributan sebelum urusan selesai, namun semakin lama kebohongan itu berlangsung, semakin berat beban yang dipikul oleh ketiga orang di rumah itu.
Siang harinya, saat Yb sedang tidak ada di rumah, Karen duduk di kursi ruang tengah, menatap Cynthia yang sedang melipat pakaian di sudut ruangan. Keheningan di antara mereka terasa begitu berat, dipenuhi pertanyaan yang tak terucap dan pandangan yang saling menghindar. Akhirnya Karen tidak tahan lagi, ia meletakkan jahitan di tangannya dan menatap lurus ke arah kakaknya.
"Cynthia..." panggilnya pelan namun tegas, suaranya memecah kesunyian yang panjang. "Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan? Kau tahu lebih banyak dari yang kau katakan."
Cynthia berhenti melipat pakaian, tangannya terhenti di atas kain yang sedang dirapikannya. Ia menoleh perlahan, wajahnya tetap berusaha tenang meski jantungnya berdegup kencang di balik dadanya. "Maksudmu soal dokumen rumah yang sedang diurus Yb?"
"Ya," jawab Karen, berdiri perlahan dan melangkah mendekat, perutnya yang membesar membuat langkahnya sedikit tertatih. "Yb pergi setiap pagi, pulang saat hari sudah gelap, tidak pernah mengajakku, tidak pernah menunjukkan satu lembar pun berkas kepadaku. Setiap kali aku meminta penjelasan, jawabannya selalu sama, seakan dihafal. Dan setiap kali aku menyebutkan ingin ikut, wajahnya berubah cemas. Seakan ada sesuatu yang tak boleh aku ketahui, sesuatu yang akan mengubah segalanya jika aku mengetahuinya. Kau tahu, kan? Kau pasti tahu."
Cynthia menarik napas panjang, menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati agar tidak membocorkan kebenaran sebelum waktunya. Ia tidak boleh mengatakannya sekarang — belum saatnya. Sertifikat belum berpindah sepenuhnya, dan jika kekacauan meletus sekarang, urusan ini bisa berantakan sepenuhnya.
"Yb bilang ada kesalahan penulisan data dan tanda tangan yang belum lengkap," jawabnya pelan, menatap mata adiknya dengan tenang. "Itu saja yang kudengar darinya. Tidak ada penjelasan lain."
"Hanya itu?" Karen tidak melepaskan pandangannya, matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi wajah kakaknya. "Kau tidak ikut ke mana-mana bersamanya? Kau tidak membantunya mengurus apa pun di kantor itu? Tidak ada hal lain yang sedang diurus?"
Cynthia menggeleng mantap, suaranya tetap tenang dan teguh. "Tidak. Aku berangkat kerja seperti biasa, pulang ke sini, dan membantumu mengurus keperluan rumah. Aku tidak mengetahui rincian urusan administrasi itu. Aku hanya percaya bahwa Yb melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Jawaban itu terdengar begitu tenang, begitu tulus, namun justru ketenangannya itulah yang membuat keraguan Karen semakin dalam. Ia menatap wajah kakaknya lama, mencari jejak kebohongan atau kegelisahan di sana, namun tidak menemukan apa pun. Cynthia tampak damai, seakan tidak ada beban berat yang disembunyikannya.
"Semoga memang begitu saja," ucap Karen akhirnya, suaranya bergetar menahan emosi yang bercampur aduk. "Tapi Cynthia... jika ada sesuatu yang kau ketahui dan kau sembunyikan dariku, ingatlah satu hal. Rumah ini adalah tempat di mana anakku akan tumbuh, di mana ia akan pertama kali melangkah, pertama kali menyebut nama ayah dan ibunya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas tempat ini dariku. Bahkan jika itu kau sekalipun."
Kata-kata itu menusuk tepat di hati Cynthia. Ia ingin sekali mengatakannya semuanya saat itu juga — menjelaskan asal-usul rumah ini, tujuh tahun menabung bersama, janji yang diingkari, dan hak yang selama ini diambil. Namun ia menahan diri. Belum waktunya.
"Aku tidak akan mengambil apa yang bukan milikku," jawab Cynthia lembut namun tegas. "Percayalah padaku, Karen."
Karen terdiam, menatapnya panjang, lalu mengangguk pelan dan berjalan kembali menuju kamarnya. Namun keraguan itu tidak ikut pergi. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak ia sadari: bagaimana Yb menatap Cynthia saat mengira tidak ada yang melihat, bagaimana mereka saling bertukar pandang seakan berbicara tanpa suara, bagaimana Cynthia selalu ada di saat Yb membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Sore itu, Yb pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya tampak lelah, namun ada kilatan kelegaan di matanya. Ia menemui Cynthia di lorong rumah, saat Karen sedang beristirahat.
"Satu tahap lagi," bisiknya pelan. "Tanda tangan terakhir tinggal disahkan. Tak lama lagi, rumah ini akan kembali atas namamu sepenuhnya."
Cynthia mengangguk, dadanya sesak oleh perasaan campur aduk. "Terima kasih. Tapi Karen semakin curiga. Ia menanyakanku hari ini, menatapku seakan aku musuhnya."
"Aku tahu," Yb menghela napas panjang. "Ia menanyakanku juga. Semakin lama ini berlangsung, semakin sulit menyembunyikannya. Kita harus lebih berhati-hati, tidak berdua saja di tempat yang bisa dilihat."
Namun mereka tidak menyadari bahwa pintu kamar sedikit terbuka. Karen berdiri di baliknya, mendengar sebagian percakapan itu — tidak jelas isinya, namun nada suaranya cukup untuk menumbuhkan ketakutan yang mendalam. Mereka menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan rumah itu.
Karen mundur perlahan ke tempat tidurnya, menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. Ia belum tahu apa yang sedang direncanakan. Tapi ia merasakannya — ada sesuatu yang perlahan diambil darinya. Dan ia tidak akan membiarkannya tanpa perlawanan.
Tujuh tahun kesetiaan, tujuh tahun menunggu, namun pada akhirnya semua pengorbanan seakan tak pernah dilihat. Alurnya begitu menyentuh, setiap kalimat terasa hidup dan menusuk sampai ke hati. Cerita ini bukan sekadar kisah cinta, tapi tentang dihargai atau diabaikan, tentang berjuang lalu terluka. Kalau kalian mampir ke sini, jangan lewatkan untuk membacanya dari awal sampai akhir — kalian pasti akan ikut merasakan setiap perasaan tokohnya. Karya yang luar biasa indah dan berharga! Semangat terus menulisnya Kak! ❤️⭐⭐⭐⭐⭐