NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Taksi yang ditumpangi Zela perlahan membelah kemacetan jalanan kota. Di kursi belakang, Zela menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap deretan bangunan tinggi yang berlalu cepat.

"Misi kedua... terhalang tembok benteng bertingkat," gumam Zela menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang mulai lelah.

Otaknya berputar keras. Sikap dingin Bashkar dan barikade ketat dari Rian adalah respons yang sangat wajar. Dua tahun penderitaan dan perang dingin tidak mungkin terhapus hanya dalam semalam dengan sepiring sarapan dan kotak bekal. Namun, Zela tidak berniat menyerah.

"Apa lagi yang harus kulakukan, ya?" pikirnya lekat-lekat. "Menghadapi pria yang luka batinnya sedalam Bashkar tidak bisa pakai cara agresif terus-menerus. Aku harus menunjukkan lewat tindakan konsisten kalau aku bukan ancaman lagi. Tapi... gimana cara meruntuhkan rasa curiganya yang sekeras batu itu?"

Sementara itu, di lantai teratas gedung Deluca Corp, suasana ruang kerja eksekutif terasa begitu dingin dan pekat. Bashkar berdiri di dekat meja kerjanya, baru saja menyelesaikan rapat maraton bersama jajaran direksi. Ketegangan terpancar dari garis rahangnya yang kokoh.

Klek.

Rian melangkah masuk ke dalam ruangan yang tenang itu, membawa sebuah kotak bekal empat tingkat berbalut tas kain yang rapi, lengkap dengan botol termos teh hangat.

Bashkar melirik sejenak ke arah barang bawaan asistennya. Manik mata kelabunya membeku, langsung mengenali barang tersebut. "Kenapa benda itu ada di tanganmu, Rian?" tanya Bashkar, suaranya berat dan datar.

"Nyonya Zelara yang menitipkannya di lobby, Tuan," jawab Rian jujur, melaporkan situasi dengan nada profesional. "Nyonya tidak memaksa masuk setelah mendengar instruksi Anda. Beliau hanya meminta saya menyerahkan makan siang ini untuk Anda. Beliau juga bilang... beliau memasaknya sendiri dari subuh dan berpesan agar Anda tidak lupa makan karena mengkhawatirkan kesehatan lambung Anda."

Bashkar tidak menunjukkan riak tersentuh sedikit pun. Tatapan matanya justru semakin tajam dan dipenuhi rasa tidak percaya yang pekat. Bagi seorang pemimpin mafia yang terbiasa diselimuti konspirasi dan pengkhianatan, perubahan sikap Zelara yang drastis ini terasa seperti jebakan mematikan yang dibungkus dengan sangat rapi.

"Buang," perintah Bashkar dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Aku tidak menyuruhmu menerima sampah itu."

Rian menundukkan kepala. "Baik, Tuan."

Tanpa membantah, Rian membawa kotak bekal hangat yang beraroma harum itu keluar dari ruangan untuk dibuang sesuai perintah atasannya.

Sepeninggal Rian, ruangan kembali hening. Bashkar melangkah mendekati dinding kaca berukuran raksasa yang menampilkan pemandangan seluruh pelosok kota dari ketinggian lantai lima puluh. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memandangi lalu lalang kendaraan yang tampak kerdil di bawah sana.

"Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Zelara?" desis Bashkar rendah, matanya menyipit tajam. "Sandiwara murahan apa lagi yang sedang kau mainkan?"

Kembali ke mansion Deluca.

Saat Zela melangkahkan kaki memasuki pintu utama, telinganya langsung disambut oleh suara pecahan kaca yang nyaring berkeping-keping di ruang tamu utama, disusul jeritan melengking yang dipenuhi amarah.

PRANGGG!

"Mana Zelara?! Panggil wanita tidak tahu diri itu keluar!" teriak Freya histeris. Kakak perempuan Bashkar itu tampak mengamuk hebat, melempar vas bunga porselen mahal ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Beberapa pelayan berdiri gemetar di sudut ruangan, tak berani mendekat.

Rupanya, rasa malu dan terancam akibat rahasia tabrak larinya dibongkar Zela tadi pagi membuat Freya kehilangan akal sehat. Ia datang kembali untuk meluapkan kemarahannya.

Zela menghentikan langkahnya di ambang ruang tamu. Ia memandangi pecahan porselen di lantai, lalu mengalihkan pandangannya pada Freya dengan raut wajah yang berubah dingin dan datar.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk datang ke sini dengan sopan?" ucap Zela tenang, melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. "Apa kau kurang sopan santun? Perlu aku ajari, Kakak Ipar?"

Freya berbalik cepat, matanya memerah menahan murka begitu melihat Zela. "Kau! Berani-beraninya kau mengancamku dan membongkar rahasiaku di depan para pelayan tadi pagi, wanita ulat?!"

"Sopan santunmu benar-benar buruk," cibir Zela, melipat tangan di dada dan memandangi Freya dari atas ke bawah. "Ini rumah suamiku. Jika kau datang hanya untuk merusak barang dan berteriak seperti orang kesetanan, sebaiknya kau keluar."

"Rumah suamimu?!" Freya tertawa histeris, melangkah maju memotong jarak di antara mereka. "Kau cuma wanita benalu yang terjebak dalam pernikahan tidak berguna ini! Jangan berlagak seperti pemilik tempat ini, Zelara!"

Zela melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya tersisa sejangkauan tangan. Udara di antara mereka mendadak terasa begitu pekat dan tegang. Zela mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik tepat di samping telinga Freya dengan suara rendah yang amat menusuk.

"Jangan kira aku tidak tahu niat busukmu, Freya," desis Zela, menyunggingkan senyum sinis yang mendinginkan darah. "Kau membenci Bashkar bukan hanya karena prasangka bodoh soal kematian orang tua kalian. Kau membencinya karena dia memegang seluruh kendali aset dan kekuasaan keluarga Deluca. Kau sebenarnya cuma menginginkan harta dan kekayaan Bashkar untuk dirimu sendiri, kan?"

Tubuh Freya tersentak hebat seolah baru saja disengat listrik. Rahasia kelamnya yang paling dalam ditelanjangi tanpa ampun.

"Kau... dasar wanita sialan!" jerit Freya yang sudah benar-benar gelap mata.

Tanpa berpikir panjang, Freya mengangkat tangannya dan melayangkan cengkraman kuku-kuku panjangnya ke arah wajah Zela, berniat mencakar dan melukai wajah wanita itu.

Namun, Zela bukanlah wanita lemah yang akan diam saja dipukul. Refleksnya cepat. Sebelum jemari Freya menyentuh kulitnya, Zela mencengkeram pergelangan tangan Freya dengan amat kuat, lalu menyentaknya ke samping!

SRAK!

"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu!" bentak Zela.

Emosi dan amarah yang terpancing melihat kejahatan serta keangkuhan Freya selama ini membuat darah Zela mendidih hebat. Terbawa arus emosi yang meluap-luap, Zela menarik rambut Freya dan melayangkan satu pukulan mentah tepat ke arah wajah kakak iparnya itu!

BUM!

Pukulan keras itu mendarat mulus di hidung Freya.

"ARGGHH!" jerit Freya kesakitan. Tubuhnya limbung dan tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Darah segar perlahan mengalir keluar dari hidungnya, menetes membasahi lantai marmer putih dan gaun mewahnya.

Para pelayan di ruangan itu menjerit tertahan, menutupi mulut mereka karena syok luar biasa. Nyonya mereka tidak hanya sekadar membalas dengan kata-kata ia baru saja menghajar putri keluarga Deluca hingga berdarah!

Zela berdiri menjulang di atas Freya yang sedang meringis memegangi hidungnya yang berdarah. Zela mengusap jemari tangannya yang sedikit memerah dengan tatapan mata yang dingin, tajam, dan penuh dominasi.

1
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
Pelangi Jingga
di tunggu kelanjutannya tor
Apis
ini sebenarnya temanya apa yathor di indo pa di barat, ko manggilnya mas mb tp ada musim saljunya
Gustinur Arofah
karya baru semangat💪💪💪, sdh vote, like, komen, bunga dan kopi biar makin semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!