NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Saingan Baru Muncul

Layar monitor CCTV di meja kerja Presdir masih menyala.

Clarissa menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya yang tadi memerah karena tangis, kini pucat pasi.

"Kevin... Kevin Mahardika..." bisiknya dengan suara gemetar. "Tidak mungkin... dia kembali..."

Rendy menatap layar itu dengan rahang mengeras. Pria berjas putih di dalam limusin itu berjalan dengan begitu percaya diri. Delapan pengawal berbadan tegap mengikutinya dari belakang. Setiap langkahnya menunjukkan bahwa dia adalah pemilik tempat ini.

"Clarissa, kamu mengenalnya?" tanya Rendy, suaranya rendah dan dingin.

Clarissa mengangguk pelan, air matanya kembali menggenang. "Dia... dia putra tunggal pemilik Grup Mahardika. Tiga tahun lalu, sebelum aku menikah dengan Mas, dia pernah melamarku. Ibu sangat menginginkan aku menikah dengannya, tapi aku menolak. Aku memilih Mas..."

Rendy terdiam. Jadi inilah rival yang dimaksud Bagas di interkom tadi. Bukan hanya rival bisnis Pradipta Group, tapi juga rival masa lalu dalam percintaan.

"Grup Mahardika adalah lintah darat berkedok perusahaan investasi, Tuan Presdir," suara Bagas kembali terdengar dari interkom, masih panik. "Mereka baru saja menerima sertifikat rumah dan tanah milik keluarga Ibu Rosma sebagai jaminan. Jika dalam 48 jam mereka tidak membayar dua miliar, rumah itu akan disita dan dilelang. Dan Dion... Dion masih di kantor polisi."

"Suruh tim hukum siapkan dana talangan. Jangan biarkan keluarga Clarissa menyentuh uang haram itu," perintah Rendy tegas. "Dan bilang pada Kevin Mahardika, saya tunggu dia di ruang rapat lantai 32. Sendirian."

Rendy mematikan interkom. Ia menatap Clarissa yang masih bersandar lemas di tepi meja.

"Kamu tetap di sini. Jangan ikut," katanya.

"Tidak, Mas," Clarissa langsung menggeleng keras, menggenggam lengan kemeja Rendy. "Kevin itu licik. Dia tidak akan datang hanya untuk bisnis. Dia datang untukku. Aku harus ada di sana."

Rendy menatap genggaman tangan istrinya di lengannya. Akhirnya ia mengangguk. "Baik. Tapi apapun yang terjadi di dalam ruang rapat, jangan lepaskan genggaman ini. Mengerti?"

Clarissa mengangguk dengan air mata yang masih menetes.

Lima menit kemudian.

Ruang rapat lantai 32. Aku kembali duduk di kursi paling ujung dengan kemeja batikku yang masih ada noda tinta biru dari kejadian tadi. Clarissa duduk di kursi utama, mencoba terlihat profesional meski matanya masih sembab. Dua orang manajer senior duduk dengan tegang.

Pintu ruang rapat terbuka tanpa diketuk.

Kevin Mahardika masuk. Jas putihnya yang mahal berkilau di bawah lampu kristal. Rambutnya tertata sempurna, senyumnya adalah senyum seorang pangeran yang tahu bahwa dunia ada di kakinya. Di belakangnya, delapan pengawalnya menunggu di luar.

"Clarissa, my love... akhirnya kita bertemu lagi," kata Kevin, sama sekali mengabaikan semua orang di ruangan itu. Matanya hanya tertuju pada Clarissa. Suaranya lembut, tapi penuh kepemilikan.

Clarissa berdiri kaku. "Selamat sore, Pak Kevin. Terima kasih sudah datang untuk membahas pelelangan aset keluarga saya."

"Pelelangan?" Kevin tertawa kecil. "Clarissa, kamu tahu aku tidak peduli dengan rumah kecil peninggalan ibumu itu. Aku datang ke Jakarta hanya karena aku dengar kamu... sudah tidak lagi bersama suami miskinmu itu."

Ia melangkah mendekat, memutari meja rapat.

"Selama tiga tahun aku di Singapura, aku selalu memikirkanmu. Aku tahu kamu salah memilih. Lihat dirimu sekarang, kamu terlihat lelah mengurus perusahaan yang hampir bangkrut ini sendirian."

Aku mengepalkan tanganku di bawah meja. Darahku mulai mendidih lagi.

Kevin berhenti tepat di samping kursi Clarissa. Ia mengulurkan tangannya dengan sangat anggun.

"Biar aku tebak, kamu pasti stres. Sini, biarkan aku membantumu. Kita bisa bicarakan semuanya dengan santai."

Clarissa ragu-ragu, tapi karena ada dua manajer yang melihat, ia terpaksa menyambut jabatan tangan itu secara profesional.

Dan disinilah adegan itu terjadi lagi, tapi jauh lebih berani dari yang dilakukan Kevin Wijaya di versi yang melenceng tadi.

Saat telapak tangan Clarissa menyentuh telapak tangan Kevin, Kevin tidak langsung melepaskannya. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengelus punggung tangan Clarissa yang halus dan mulus. Elusan itu lembut, intim, dan sangat tidak pantas untuk sebuah pertemuan bisnis.

"Lembut seperti dulu..." bisik Kevin, suaranya hanya cukup terdengar oleh Clarissa dan aku. "Aku masih ingat betapa lembut tanganmu saat pertama kali kita berdansa di pesta ulang tahunmu."

Clarissa tersentak dan langsung menarik tangannya dengan kasar. Wajahnya memerah karena marah dan jijik.

"Jaga sikap Anda, Pak Kevin! Ini ruang rapat!" bentak Clarissa, suaranya bergetar.

Di ujung meja, suara lain terdengar.

KRAK!

Semua orang menoleh.

Pulpen besi yang sejak tadi kugenggam di tanganku, pulpen yang diberikan Bu Santi tadi untuk menandatangani dokumen pengambilalihan saham, kini remuk di dalam genggamanku. Besi yang kokoh itu bengkok, tidak patah, tapi penyok parah karena kekuatan cengkeramanku yang tak terkendali.

Tinta tidak muncrat, tapi buku-buku jariku memutih karena menahan amarah yang begitu besar.

Kevin akhirnya menatapku. Untuk pertama kalinya sejak masuk, dia benar-benar melihatku.

"Oh, kamu masih di sini? Asisten pribadi yang setia?" kata Kevin dengan nada meremehkan, "Aku pikir kamu sudah dipecat setelah membuat malu Clarissa di depan umum."

Aku berdiri perlahan. Noda tinta biru di kemeja batikku masih ada, tapi sorot mataku sudah berbeda. Aku tidak lagi menunduk.

"Maaf, Pak Kevin," kataku dengan suara yang sangat tenang, justru karena itulah terdengar sangat mengintimidasi. "Tapi di perusahaan ini, tidak ada yang boleh menyentuh istri saya tanpa izin saya."

Ruangan itu langsung sunyi senyap.

Kevin mengernyit. "Istri? Kamu? Jangan bercanda. Semua orang tahu Clarissa sudah menceraikan suami miskinnya yang bernama Rendy. Dia sekarang janda bebas."

"Janda?" Aku tersenyum tipis. "Siapa yang bilang dia janda?"

Aku melangkah maju, melewati dua manajer yang langsung berdiri tegak memberi hormat padaku. Aku berhenti di samping Clarissa dan dengan lembut, aku menarik Clarissa ke dalam pelukanku, merangkul pinggangnya dari samping dengan penuh perlindungan.

Clarissa terkejut, tapi ia tidak menolak. Ia justru bersandar di dadaku, mencari rasa aman.

"Perkenalkan kembali," kataku sambil menatap lurus ke mata Kevin yang mulai membelalak. "Nama saya Rendy Pradipta. Bukan lagi Rendy si menantu miskin. Saya adalah Presdir baru dari Pradipta Group, pemilik 51% saham PT. Cahaya Gemilang tempat Anda berdiri sekarang, dan... suami sah dari Clarissa Pradipta."

Wajah Kevin yang tampan itu berubah. Dari percaya diri, menjadi kaget, lalu menjadi marah karena merasa dipermainkan.

"Rendy Pradipta? Presdir? Omong kosong! Pradipta Group itu milik keluarga Pradipta tua, bukan milik menantu buangan seperti kamu!"

Saat itu juga, pintu ruang rapat terbuka kembali.

Bu Santi masuk dengan tergesa-gesa, membawa map hitam dengan logo emas Pradipta Group.

"Maaf mengganggu, Pak Presdir Rendy," kata Bu Santi dengan suara lantang yang membuat lutut dua manajer itu lemas. "Dokumen pengambilalihan saham Grup Mahardika cabang Surabaya sudah siap. Dan sesuai instruksi Anda, seluruh aset pinjaman keluarga Ibu Rosma sudah kami talangi. Mereka tidak jadi berhutang pada Grup Mahardika."

Kevin terhuyung mundur satu langkah. Ponselnya berdering keras. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Apa?! Cabang Surabaya diambil alih Pradipta Group?! Oleh siapa?! Rendy Pradipta?!" teriaknya.

Ia menatapku. Aku menatapnya balik tanpa ekspresi.

Clarissa yang berada dalam pelukanku, menatapku dengan air mata haru dan bangga. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia merasa dilindungi lagi oleh suaminya.

Kevin menutup teleponnya. Senyumnya yang pangeran tadi hilang total. Kini yang tersisa hanyalah senyum licik seorang pengusaha yang kalah tapi belum mau menyerah.

Ia merapikan jas putihnya yang mahal, mencoba mengembalikan wibawanya.

"Baiklah... Rendy Pradipta... aku akui kamu hebat. Kamu berhasil membeli perusahaan mertuamu sendiri," katanya dengan nada mengejek. "Tapi permainan belum selesai."

Ia kembali menatap Clarissa, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan berbahaya.

"Clarissa, aku tahu kamu masih mencintai perusahaan ini. Proyek resort Bali lima puluh miliar itu, aku masih bisa berikan padamu. Tapi dengan satu syarat. Syarat yang sangat sederhana."

Clarissa menatapnya waspada. "Syarat apa?"

Kevin tersenyum miring, senyum yang membuat darahku kembali mendidih.

"Tinggalkan Rendy malam ini. Dan makan malam romantis berdua saja denganku di Sky Lounge jam delapan malam. Di luar jam kerja. Hanya kita berdua. Tidak ada bisnis, hanya kita... bernostalgia tentang masa lalu kita yang belum selesai."

Ia mengeluarkan sebuah kartu undangan berwarna emas dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja rapat, tepat di depan Clarissa.

"Jika kamu datang, aku akan hapus semua hutang keluargamu dan berikan proyek itu padamu. Jika tidak..."

Ia menatapku dengan penuh kemenangan.

"...aku akan pastikan besok pagi, pelelangan aset keluargamu akan menjadi berita utama di semua koran, dan Pradipta Group akan aku buat bangkrut dalam seminggu."

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan kartu undangan emas itu di atas meja.

"Jam delapan malam, Clarissa. Aku tunggu. Jangan bawa suami miskinmu itu."

Pintu tertutup.

Di dalam ruang rapat, hanya tersisa aku, Clarissa yang gemetar dalam pelukanku, dua manajer yang pucat, dan sebuah kartu undangan makan malam romantis yang berkilau di atas meja.

Clarissa mengangkat wajahnya, menatapku dengan air mata yang bercucuran.

"Mas... apa yang harus aku lakukan?"

1
Dian Paramita Dewi
---
[TERIMA KASIH 15,0K POPULARITAS]
Makasih 217 komen, 1249 Like, 24 Fans & 20 bintang 5 yang udah baca dari pagi-sore ini! 😭 Popularitas naik 700 sehari karena #KalenderKebab viral! Menurut kalian janin Clarissa kuat nggak setelah baca surat Valerie? Komen "KUAT" biar aku semangat nulis Bab 55! Aku balas malam ini! - Dian Mita
Nathalie Tyas
terus semangat berkarya Kak
Dian Paramita Dewi
Terima kasih 209 komen, 1170 Like, 23 Fans & 19 bintang 5! 😭 Popularitas 14,3K & Views 2,57K karena kalian! Aku baca semua komen pagi-sore ini. Komen "LANJUT" ya biar aku semangat! ❤️ - Dian Mita
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca sampai Bab 53 ini 😭 Popularitas udah 14,3K karena 209 komen & 1170 Like kalian! Aku baca semua komen "JAGA RENDY" pagi-sore ini. Doain Clarissa kuat buka brankas ya! Komen "LANJUT" biar aku semangat nulis malam ini ❤️ - Dian Mita
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen! Bab 26 selesai, lanjut Bab 27 ya! ❤️
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca Bab 26! 😭 209 komen & 1170 Like kalian bikin Popularitas 14,3K! Komen "LANJUT" ya biar aku semangat nulis Bab 27! ❤️ - Dian
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen & 23 Fans! Bab tayang! Popularitas → karena kalian! Komen LANJUT ya! ❤️
Dian Paramita Dewi
Makasih udah baca sampai Bab 24 ini 😭 Popularitas udah 14,3K karena 209 komen & 1170 Like kalian!
Dian Paramita Dewi
Makasih 209 komen, 1170 Like, 23 Fans & 19 bintang 5! 😭 Pagi-sore ini Views naik 100 jadi 2,57K & Popularitas 14,3K karena kalian! Aku baca semua komen kalian, nangis terharu.
Dian Paramita Dewi
Alurnya seru banget....membawa emosi penmbaca....bikin geregetan....Rendy tetap baik sama mertua dan keluarga istrinya 👍
Putri Dewi
Menantunya sabar banget menghadapi mertua yang seperti itu....😔
Anandayu Official
bab 50 Kak
Sean Nathania
update bab 51 kak 💪
Mita Ayu
ceritanya membuat emosi pembaca naik turun, seolah - olah pembaca ikut di dalam cerita
Ririn Tyas
semangat bab 49 💪
Ririn Tyas
update bab selanjutnya Kak 🤭
Ririn Tyas
update bab 49 kak
Ririn Tyas
update bab 44 kak 😍
Ririn Tyas
selanjutnya Kak bab 33
Ririn Tyas
selanjutnya bab 31 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!