NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17.Traumaku

Bau karbol yang tajam dan denting instrumen medis memecah kesunyian lorong lantai VIP Rumah Sakit Adikara. Lampu-lampu koridor yang memancar putih dingin memantulkan bayangan Kaivan yang berdiri kaku di depan pintu ruang perawatan.

Pakaian pria itu masih setengah basah akibat guyuran hujan deras di pelataran rumahnya tadi siang. Jas mewahnya sudah terlempar ke sembarang arah, meninggalkan kemeja putih yang sedikit kusut dan dasi yang dilonggarkan secara kasar.

Jemari Kaivan yang panjang dan tegas mengepal erat di dalam saku celananya, menutupi getaran tipis yang tak kunjung mereda sejak ia menggendong tubuh dingin Aruna keluar dari rumah.

Ceklek.

Pintu kamar perawatan terbuka. Dokter spesialis paruh baya yang merupakan dokter keluarga Adikara melangkah keluar sambil melepas sarung tangan lamanya.

Kaivan langsung berbalik kaku. Wajahnya yang tegang dipaksa kembali membeku, menyembunyikan badai kepanikan yang sempat melumat logikanya beberapa jam lalu.

"Bagaimana kondisinya, Dokter?" tanyakan Kaivan dengan suara bariton yang sengaja ditahan agar tetap terdengar datar dan berwibawa.

Dokter tersebut menghela napas panjang, menatap Kaivan dengan raut wajah prihatin.

"Nona Aruna mengalami kombinasi serangan panik berat, hipotermia ringan karena berada di ruangan dingin terlalu lama tanpa asupan makanan, dan dehidrasi. Selain itu... punggung tangan kanannya mengalami luka bakar derajat dua akibat paparan cairan panas yang tidak langsung ditangani."

Jantung Kaivan serasa dihantam tinju tak kasat mata. Luka bakar derajat dua. Cipratan kopi panas tadi pagi. Dan ia... justru membentak serta mengurungnya tanpa belas kasihan.

"Tapi saat ini kondisinya sudah stabil, Pak Kaivan," lanjut sang dokter, menyadari perubahan tipis pada rahang Kaivan yang menegang kaku.

"Kami sudah memasang infus nutrisi, obat penenang ringan, dan mengobati luka di tangannya. Beliau hanya perlu istirahat total. Sebaiknya jangan biarkan beliau mengalami pemicu stres atau tekanan emosional yang berat dulu dalam beberapa hari ke depan."

Kaivan mengangguk kaku, berusaha keras menetralkan raut matanya agar tidak memancarkan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya. "Terima kasih, Dokter. Pastikan dia mendapatkan fasilitas terbaik di rumah sakit ini."

"Baik, Pak Kaivan. Nona Aruna mungkin akan terbangun sebentar lagi."

Setelah dokter dan para perawat berlalu menyusuri lorong, Kaivan berdiri mematung sendirian di depan pintu kaca yang tertutup rapat. Melalui celah kaca transparan, ia bisa melihat Aruna terbaring lemah di atas ranjang medis yang serba putih. Wajah gadis itu masih pucat pasi, kontras dengan perban putih tebal yang melilit punggung tangan kanannya.

Rasa lega yang amat sangat sempat menyusup ke dalam dada Kaivan. Namun, bersamaan dengan pulihnya kesadaran Aruna, dinding gengsi dan ego angkuh yang selama ini membentengi diri Kaivan kembali berdiri tegak.

Dia sudah aman, batin Kaivan keras kepala, mencoba menekan dalam-dalam bayangan air mata penyesalan yang sempat menetes dari matanya sendiri tadi siang. Aku membawanya ke sini bukan karena aku peduli padanya secara pribadi. Dia adalah barang jaminan atas uang tiga puluh miliar milik Adikara Group. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya, reputasiku dan investasiku yang akan hancur.

Kaivan membuang napas panjang lewat mulutnya, membenahi letak kerah kemejanya, lalu mendorong pintu kamar perawatan dengan langkah kaku dan angkuh—kembali menjadi sosok Tuan Muda Adikara yang berhati dingin dan tak tersentuh.

Di dalam ruangan beraroma obat yang steril, Aruna perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat.

Pandangannya kabur, menyesuaikan diri dengan tingkatan cahaya lampu yang meredup di langit-langit kamar. Bau karbol yang menyengat langsung menyapa indra penciumannya, disusul oleh sensasi dingin dari cairan infus yang mengalir masuk ke pembuluh darah di lengan kirinya.

Aruna mencoba menggerakkan jemari tangan kanannya, namun rasa nyut-nyutan yang tajam langsung menjalar hingga ke siku. Saat ia menoleh pelan, ia melihat balutan perban putih tebal menutupi punggung tangannya.

Ingatan akan peristiwa tragis tadi pagi mendadak berputar kembali seperti mimpi buruk di dalam kepalanya: bentakan melengking Kaivan, pecahan cangkir kopi, tuduhan kejam sebagai penipu, rasa sesak di dada yang mencekik, hingga bunyi kunci kamar yang berputar dari luar...

Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengatupkan bibirnya yang masih terasa kering. Dada ringkihnya naik turun menahan rasa sakit mental yang kian menghimpit. Mengapa ia harus terbangun kembali di dunia yang kejam ini? Mengapa takdir tidak membiarkannya tertidur selamanya dalam kesunyian kamar yang gelap itu?

KREK.

Suara gesekan pintu kayu membuyarkan lamunan Aruna.

Aruna membuka matanya kaku. Seketika itu juga, tubuhnya menegang hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Kaivan berdiri menatapnya dari ujung ranjang.

Pria itu sudah membenahi penampilannya—meski kemeja putihnya masih sedikit kusut, raut wajahnya kembali mengeras bak patung marmer tanpa emosi. Tatapan matanya yang tajam dan tajam menembus Aruna dari atas sampai bawah.

Rasa takut dan trauma mendalam langsung menyelimuti jiwa Aruna. Secara refleks, gadis itu mencoba menarik tubuhnya mundur mendekati sandaran ranjang, seolah berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari pria yang hampir membunuhnya dengan kata-kata beracun tadi pagi.

Melihat respons Aruna yang ketakutan setengah mati hingga tubuhnya bergetar hebat, ada denyut nyeri yang menusuk ulu hati Kaivan. Namun, Kaivan menepis rasa itu jauh-jauh. Ia melangkah mendekat dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Sudah bangun?" suara Kaivan terdengar kaku, datar, dan sama sekali tidak memiliki kehangatan.

"Kau menyusahkan banyak orang hari ini, Aruna."

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Kaivan setelah Aruna sadarkan diri terasa seperti sembilu yang menggores luka lamanya. Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata pria itu.

Air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya mati-matian agar tidak menetes.

"M-maafkan... saya, Pak Kaivan..." cicit Aruna parau, suaranya begitu lemah hingga nyaris tenggelam oleh derum alat pemantau detak jantung di samping ranjang.

"S-saya tidak berniat... menyusahkan..."

Kaivan mendengus sinis, berjalan mendekati meja kecil di samping tempat tidur dan meletakkan sebuah kantong plastik berisi obat-obatan dari apotek rumah sakit.

"Rapat pentingku dengan dewan komisaris hari ini terpaksa ditunda hanya karena kau pingsan di atas lantai," omel Kaivan ketus, menyembunyikan fakta bahwa ia sendiri yang panik luar biasa dan menerobos hujan deras demi menyelamatkannya.

"Kau pikir rumahku adalah tempat drama panggung di mana kau bisa pingsan sesukamu?"

Aruna makin merapatkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Tangannya yang tidak diinfus meremas seprai putih hospital dengan kencang. Ia merasa sangat terhina, sangat rendah. Kaivan memandangnya tak lebih dari sebuah beban yang mengganggu jadwal kerjanya.

"Punggung tanganmu itu..." Kaivan melirik kaku ke arah perban Aruna, lalu dengan cepat membuang mukanya ke arah jendela kamar.

"...dokter bilang itu luka bakar derajat dua. Lain kali kalau bekerja di dapur, pakai otakmu! Jangan konyol dan teledor sampai menyiram dirimu sendiri dengan air panas!"

Menyiram diri sendiri?

Aruna menatap Kaivan dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Pria ini... yang menghempaskan cangkir kopi panas itu ke atas meja hingga memercik ke tangannya, sekarang justru menuduhnya teledor dan konyol?

Namun, Aruna tahu betul posisinya. Ia hanyalah anak dari Rendra Rasyara—seorang gadis yang digadaikan untuk menutup utang. Ia tidak punya hak untuk membela diri atau menuntut keadilan.

"B-baik, Pak Kaivan... Saya minta maaf..." bisik Aruna pasrah, kepalanya makin tertunduk dalam.

Kaivan mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Suara Aruna yang begitu tunduk dan hampa bukannya membuat Kaivan merasa puas atau menang, melainkan justru membuat dadanya makin terasa sesak dan tidak nyaman.

Ada kejengkelan aneh yang membakar hatinya melihat Aruna sama sekali tidak mencoba membantah atau marah padanya.

Kenapa dia tidak pernah melawan?! batin Kaivan jengkel. Kenapa dia cuma diam dan menerima semua tuduhanku seolah dia memang pantas diperlakukan seperti ini?!

"Dokter bilang kau bisa pulang besok pagi kalau kondisi fisikmu membaik," kata Kaivan lagi dengan suara kaku, berusaha mengalihkan pergolakan batinnya sendiri.

"Dan soal keluarga Rasyara..."

Mendengar nama 'Rasyara', tubuh Aruna kembali menegang. Matanya membelalak ketakutan, membayangkan Kaivan akan kembali meluapkan amarahnya terkait uang lima puluh miliar yang diminta ayahnya tadi pagi.

Melihat ketakutan murni di mata Aruna, Kaivan berdehem pelan, menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar seperti bentakan.

"...aku sudah menyuruh tim hukumku untuk menangani berita di media. Perusahaan ayahmu tetap akan menghadapi konsekuensi hukum atas utang-utangnya, tapi aku tidak akan menyeret nama baikmu lebih jauh di publik," kata Kaivan datar, sengaja tidak memberitahukan bahwa ia sebenarnya telah membatalkan keputusan pembongkaran total Rasyara Group setelah mengetahui bahwa Aruna tidak bersalah.

Aruna tertegun sejenak. Ia mendongak pelan, menatap raut wajah Kaivan yang dingin dan tak terbaca dari samping.

"Pak Kaivan... tidak akan... menghancurkan Ayah?"

Kaivan menatap Aruna dengan sorot mata membeku.

"Jangan salah paham, Aruna. Aku melakukan ini bukan karena kasihan padamu atau pada ayahmu yang serakah itu. Aku melakukan ini murni demi menjaga nama baik Adikara Group agar saham perusahaanku tidak terus bergejolak karena berita sampah dari ibumu."

Kata-kata kaku itu diucapkan Kaivan dengan begitu mulus, menutup rapat-rapat kenyataan bahwa rasa bersalahnya atas kebenaran foto tersebutlah yang membuat ia membatalkan niat kejamnya tadi siang.

"S-saya... paham..." sahut Aruna lirih, kembali melemparkan pandangannya ke bawah.

"Bagus kalau kau paham," cetus Kaivan dingin. Pria itu melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan.

"Malam ini Bi Asih akan menginap di sini untuk menjagamu. Aku harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan kekacauan yang kau buat hari ini."

Kaivan membalikkan badannya, melangkah kaku menuju pintu keluar. Namun, saat jemarinya memegang gagang pintu kaca, langkahnya terhenti sejenak. Pria itu tidak menoleh ke belakang, tetapi suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.

"Makan makanan rumah sakit itu sampai habis besok pagi. Jangan membuat Bi Asih bingung karena kau menolak makan lagi."

Setelah mengucapkan kalimat yang bernada perintah tegas namun terselubung sedikit perhatian kaku itu, Kaivan membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban Aruna.

BAM.

Pintu kamar perawatan tertutup rapat.

Aruna sendirian kembali di dalam kamar VIP yang luas dan dingin itu. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada bantal empuk rumah sakit, memandangi perban di punggung tangannya yang terasa masih berdenyut perih.

Di dalam dadanya, rasa sakit akibat perlakuan Kaivan belum sedikit pun berkurang. Pria itu memang menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit, namun cara berbicara dan tatapan matanya tetap memperlakukan Aruna tak lebih dari sebuah barang jaminan yang merepotkan.

Tidak ada rasa cinta. Tidak ada rasa sayang. Yang ada hanyalah tembok tinggi angkuh yang sengaja dibangun Kaivan untuk menjaga jarak di antara mereka—sebuah tembok yang memastikan bahwa Aruna akan tetap terisolasi dalam statusnya sebagai jaminan utang di rumah megah itu.

Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, mengizinkan satu tetes air mata dingin akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat, menatap masa depannya yang masih gelap dan penuh ketidakpastian.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!