Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Di dalam kamar, suasana langsung mendadak canggung. Aira berdiri kaku, bingung harus bertingkah seperti apa di depan Devan. Wajar saja, mengenal pria ini saja belum pernah, tahu-tahu status mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Hai. Boleh kita kenalan ulang? Kenalin, aku Devan." ujar Devan seraya mengulurkan tangannya.
"Aku Aira." balas Aira canggung. Ia menyambut uluran tangan itu sebentar, lalu dengan cepat menarik jemarinya kembali.
Devan memperhatikan gerak-gerik Aira yang serba salah. "Kayaknya kaki kamu terkilir pas jatuh tadi deh. Mau aku antar ke rumah sakit atau cari tukang urut?"
"Enggak usah, nanti juga sembuh sendiri." tolak Aira cepat.
Padahal jujur saja, seluruh tubuh Aira terasa remuk. Kakinya cenat-cenut sampai ia harus menahan sakit tiap kali melangkah. Ingin rasanya ia pergi ke tukang urut saat ini juga, tapi Aira sadar diri, dompetnya benar-benar kosong. Semua uang tabungannya sudah ludes diperas sang ibu hanya demi menyiapkan jamuan megah untuk menyambut Bagas dan keluarganya. Bahkan Aira sendiri yang dipaksa mandi keringat memasak semua hidangan itu di dapur.
Mengingat hal itu, dada Aira kembali berdenyut nyeri. Rasanya benar-benar menusuk.
Devan menghela napas, menatap Aira gemas sekaligus gemas melihat keputusasaannya. "Jangan suka sepelekan luka sekecil apa pun, Aira. Kamu jatuh lumayan keras tadi, dan aku lihat kepala kamu juga sempat kebentur."
Sebagai orang yang menabrak, meski jujur saja Aira juga salah karena jalan sambil melamun Devan merasa bertanggung jawab penuh.
"Lagian kamu ngapain sih kelayapan sendirian malam-malam begitu? Pake acara jalan melamun lagi." celetuk Devan, menatap Aira tajam.
"Ya... maaf. Aku cuma butuh udara segar biar nggak suntuk di rumah." sahut Aira pelan. Mana mungkin ia mengaku kalau tadi sedang frustrasi berat karena pacarnya mendadak melamar adiknya sendiri di depan matanya?
Devan menarik kerah bajunya yang mulai terasa tidak nyaman. "Kamu ada baju ganti cowok nggak? Nggak mungkin aku pakai kemeja ini terus, udah seharian kerja dan bau keringat."
"Ya jelas aku nggak punya baju cowok." jawab Aira refleks. "Tapi kalau kamu mau, ada baju punya Bapak. Boleh aku pinjamkan."
"Ya udah, nggak masalah. Yang penting bersih." balas Devan santai.
Aira mengangguk, lalu beranjak keluar kamar menuju kamar babaknya. Semenjak Pak Bambang sakit-sakitan, Bu Ismi sudah tidak mau lagi tidur satu ranjang dengannya. Ayahnya itu terpaksa diasingkan di kamar belakang dekat dapur. Sementara Bu Ismi lebih memilih menguasai kamar utama. Praktis, selama ini cuma Aira yang tulus merawat Pak Bambang. Sebagai istri, Bu Ismi jangankan mengurus, melirik suaminya yang terbaring sakit saja enggan.
"Bapak... ini Mas Devan nggak membawa baju ganti. Boleh Aira pinjamkan baju milik Bapak?" tanya Aira pelan. Kebetulan Pak Bambang belum memejamkan mata.
"Iya, Nak. Ambil saja di lemari." sahut Pak Bambang serak.
"Kok Bapak belum tidur? Jam berapa ini?" Aira mendekat dengan raut khawatir. "Bapak lapar? Mau Aira ambilkan makan?"
"Tidak, Aira. Bapak tidak lapar. Kalau lapar juga nanti Bapak bisa ambil sendiri. Bapak cuma... kepikiran kamu." lirih Pak Bambang menatap putri tengahnya itu dengan tatapan sendu.
"Bapak nggak usah mikirin Aira. Aira baik-baik saja kok." potong Aira cepat, berusaha tersenyum.
Namun mata tua Pak Bambang tidak bisa dibohongi. "Itu kaki kamu kenapa jalan pincang begitu?"
"Ini cuma nyeri sedikit, Pak. Tadi sempat jatuh." jawab Aira menenangkan.
Pak Bambang menggenggam jemari Aira perlahan. "Nak, Bapak mau berpesan. Bagaimanapun jalannya, sekarang kamu sudah resmi jadi seorang istri. Perlakukan suamimu dengan baik, layaknya suami pada umumnya. Jangan karena pernikahan ini terjadi secara terpaksa, lantas kamu menelantarkannya. Jalankan kewajibanmu, Nak. Jangan pernah mempermainkan ikatan pernikahan."
Hati Aira mencelos. "Iya, Pak... Bapak udah minum obat kan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Sudah."
"Ya udah, sekarang Bapak tidur ya. Istirahat, jangan mikir yang aneh-aneh." bujuk Aira sambil membetulkan selimut ayahnya. Pak Bambang mengangguk pelan.
Aira membawa sestel baju milik ayahnya kembali ke kamar. Rasanya sungguh tak nyata dalam hitungan jam, statusnya berubah total. Saat hendak merebahkan badan di tepi ranjang, kepala Aira tak sengaja membentur bantal terlalu keras.
"Auh!" Aira meringis sambil memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa?" Devan yang baru selesai mengganti bajunya langsung mendekat dengan raut panik.
"Nggak tahu nih... kepala aku mendadak sakit banget," desis Aira memejamkan mata.
"Coba sini aku lihat." Tanpa ragu Devan mendekatkan wajahnya, menyingkap helai rambut Aira. Dahi dan pelipis cewek itu ternyata sudah memar kebiruan dan benjol cukup besar. Pantas saja tadi Aira sempat pingsan di jalan.
"Ya ampun, Aira... ini memar sama benjolnya lumayan parah!" Devan berdecak gemas melihat Aira yang masih bisa menahan sakit sejauh ini. "Ada kotak P3K nggak?"
Aira segera menunjuk rak kecil di sudut ruangan. Dengan telaten dan sangat hati-hati, Devan mengobati benjolan di kepala Aira. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Aira bisa menghirup aroma maskulin Devan yang tersisa. Hati Aira mendadak berdesir di balik sikap tegasnya, pria ini ternyata begitu perhatian dan lembut.
***
Keesokan paginya, begitu terbangun dan mencoba menginjakkan kaki di lantai, Aira langsung meringis kesakitan. Kakinya benar-benar tidak bisa dipakai berjalan!
Devan yang terbangun mendengar ringisan itu langsung mengernyit cemas. "Kita ke dokter sekarang. Nggak ada bantahan."
Aira menggeleng cepat. Ia takut membayangkan biaya rumah sakit yang melonjak. "Jangan! Enggak usah, ini cuma terkilir biasa kok. Nanti siang juga bisa dipanggilkan tukang urut."
"Tapi kaki kamu...."
"Udah, percaya deh, kalau terkilir gini dibawa ke tukang urut juga sembuh."
Pagi itu Aira benar-benar lumpuh total di atas ranjang. Padahal biasanya, dialah yang paling pagi bangun untuk memasak sarapan, mencuci tumpukan baju, membersihkan rumah, hingga menyiapkan segala kebutuhan ayahnya. Tapi hari ini, Aira tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sama sekali.
Sementara itu di luar kamar, situasi mulai memanas. Karin yang tampil rapi hendak berangkat kerja mulai melongok ke arah dapur bersama Siska. Begitu juga dengan Beni, suami Siska, yang sudah rapi berjas. Pagi-pagi begini perut mereka sudah keroncongan menagih sarapan.
Namun, begitu tiba di meja makan, raut wajah mereka langsung berubah keruh. Meja kayu itu kosong melompong. Tidak ada sepiring nasi pun yang tersaji.
"Loh? Mana sarapannya nih?" sungut Karin dengan nada tinggi.
"Iya nih, kok tumben meja makan masih melompong gini? Kemana sih Aira?" gerutu Siska kesal. Waktunya sudah mepet untuk pergi ke kantor.
Beni, suami Siska, menyunggingkan senyum miring nan culas. "Aduh... namanya juga pengantin baru hasil digrebek warga. Ya jelas lah bangun kesiangan!"
"Iya juga ya, Mas! Memang Aira nggak cape apa ya semalaman gempur-gempuran? Sampai sudah siang gini masih belum kelar juga malam pertamanya!" timpal Siska asal ceplos, membayangkan yang tidak-tidak soal Aira dan Devan.
Karin yang makin kepanasan dan lapar akhirnya berteriak nyaring, "Ibu! Ibuuu!"
Bu Ismi yang sedang mengelap kaca depan langsung berlari menghampiri anak-anak kesayangannya. "Ada apa sih, Karin? Pagi-pagi sudah teriak-teriak!"
"Ini loh, Bu! Sarapannya mana? Karin kan mau berangkat kantor, nanti telat lagi!" omel Karin sambil bersedekap dada.
"Iya, Ma. Siska sama Mas Beni juga mau jalan nih. Masa iya kita berangkat dengan perut kosong?" tambah Siska tidak mau kalah.
Bu Ismi melotot terkejut. "Loh? Memangnya Aira nggak bikin sarapan?!" cerocosnya berang. "Ibu kan dari subuh udah nyuci baju sama nyapu rumah, capek! Seharusnya ganti dia yang pegang dapur!"
"Entahlah, Bu. Sampai matahari setinggi ini pun tuh anak belum kelihatan batang hidungnya keluar dari kamar." sahut Siska dengan nada memanas-manasi.
"Haduh! Dasar anak tidak tahu diri! Mentang-mentang habis nikah, bangunnya sengaja kesiangan kayak nyonya besar saja!" omel Bu Ismi seraya mengembuskan napas kasar.
Napas Bu Ismi makin memburu saat melihat sekeliling rumah yang masih berantakan sisa acara piring lamaran semalam. Tumpukan piring kotor di wastafel bahkan sudah menggunung lalat karena belum sempat disentuh.
Dikuasai emosi, Bu Ismi melangkah lebar menuju kamar Aira, mengepalkan tangannya.
"Biar Ibu seret dia keluar!" tegas Bu Ismi yang langsung dibuntuti oleh Karin, Siska, dan Beni.
"Bukannya bangun pagi bantuin Ibu beberes, malah enak-enakan ngorok! Dia pikir rumah ini hotel apa?!" sungut Bu Ismi sepanjang koridor dengan mulut komat-kamit penuh caci maki.
Brak! Brak! Brak!
"Hoi, Aira! Bangun kamu! Keluar!" teriak Bu Ismi menggedor pintu kamar dengan nyaring, membuat Aira dan Devan yang berada di dalam langsung tersentak kaget.
Pintu kamar mendadak terbuka dari dalam. Devan berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin menatap Bu Ismi.
Bu Ismi menyipitkan mata penuh selidik. "Mana Aira?!"
"Ada, Bu. Di dalam," jawab Devan tenang namun tegas.
Tanpa permisi, Bu Ismi langsung menerobos masuk melintasi Devan untuk meluapkan amarahnya pada Aira.
(Bersambung)