Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari tanpa tekanan
"Non... bangun, Non."
Suara Bi Inem terdengar samar dari balik pintu kamar, disertai ketukan pelan yang ritmis.
Tok. Tok. Tok.
Suara itu memecah kabut mimpi burukku, menarik aku kembali ke realitas pagi yang cerah.
Aku tersentak bangun, jantungku masih berdegup kencang sisa dari ketakutan semalam. Mataku langsung melirik ke arah pintu. Almari meja rias itu masih di sana, kokoh menyangga gagang pintu. Aman. Tidak ada tanda-tanda pembongkaran paksa.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Iya, Bii!" jawabku, suaraku sedikit serak karena kurang tidur. Aku berteriak cukup keras agar dia tahu aku sudah sadar. "El lagi ganti baju! Tunggu sebentar ya!"
"Baiklah, Non. Sarapan sudah siap di meja. Ibu sudah turun duluan," sahut Bi Inem dari luar. Terdengar langkah kakinya menjauh, kembali ke aktivitas paginya.
Aku segera bangkit dari tempat tidur. Tubuhku terasa pegal karena posisi tidur yang kaku semalaman. Aku berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin untuk menyegarkan pikiran. Saat melihat cermin, aku melihat wanita dengan mata panda, tapi ada kilatan harapan baru di sana. Hari ini adalah hari baru. Hari di mana monster itu tidak ada di rumah.
Setelah berganti pakaian dengan gaun rumah yang sederhana namun rapi, aku membuka pintu kamar. Aku mendorong almari meja rias kembali ke posisi semula, meski berat, aku melakukannya dengan hati-hati agar tidak berisik. Kini, koridor depanku terbuka bebas.
Aku menuruni tangga dengan langkah ringan. Suasana di ruang makan terlihat tenang dan hangat. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi meja makan yang sudah tertata rapi dengan piring-piring cantik dan aroma nasi goreng yang menggugah selera.
Ibu duduk di ujung meja, sedang menyeruput teh hangatnya sambil membaca majalah gaya hidup terbaru. Wajahnya tampak segar, bersih, dan bahagia. Tidak ada bayangan gelap di dahi kerutnya.
"Pagi, Nduk!" sapa Ibu ceria saat melihatku. Matanya berbinar senang. "Ayo duduk, sarapan sudah siap. Nasi goreng spesial buatan Bi Inem lho."
Aku tersenyum tipis, kali ini senyum yang lebih tulus karena beban di dadaku terasa jauh lebih ringan. Aku menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. Namun, sebelum mulai makan, ada satu pertanyaan yang harus kukonfirmasi dulu untuk memastikan kebahagiaanku nyata.
"Bu..." panggilku pelan, mencoba terdengar santai meski jari-jariku sedikit gemetar memegang garpu. "Ayah... ke mana?"
Ibu menoleh, tersenyum lembut. Dia meletakkan cangkir tehnya dengan anggun.
"Oh, Ayah sudah berangkat dari tadi pagi, Nduk," jawab Ibu santai. "Katanya ada meeting penting dengan rekan bisnis dari Jepang di kantor pusat. Mungkin baru pulang malam nanti, atau bahkan besok pagi kalau rapatnya berlarut-larut."
Rasa lega yang luar biasa langsung menyelimuti seluruh tubuhku. Napas yang tadi tertahan sejak semalam akhirnya bisa kuhembuskan dengan bebas. Bahu-bahuku yang kaku mulai rileks.
Meeting.
Itu berarti Samudra akan sibuk seharian penuh. Dia tidak akan ada di rumah. Tidak akan ada tatapan menusuk yang membuat bulu kudukku merinding. Tidak ada sentuhan tangan gemuknya yang menjijikkan. Tidak ada ancaman bisik-bisik di telinga.
Aku punya waktu bernapas. Waktu untuk berpikir jernih tanpa bayang-bayang ketakutan yang menghantui setiap detik. Hari ini, rumah ini terasa lebih luas, lebih terang, dan lebih aman.
"Syukurlah," gumamku pelan, hampir tak terdengar. Senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di bibirku.
"Apa katamu, Nduk?" tanya Ibu, agak kurang dengar karena fokusnya masih setengah pada majalah.
Aku segera menggeleng dan tersenyum lebih lebar. "Tidak apa-apa kok, Bu. El cuma senang Ayah baik baik saja sampai ke kantor. Semoga meeting-nya lancar."
Ibu mengangguk puas, tampak bangga dengan perhatian putri tirinya. "Iya, Ayah memang pekerja keras. Demi kita semua."
Demi kita semua? Dalam hatiku, aku tahu itu demi obsesinya padaku. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk mengabaikan motivasi aslinya. Yang penting, dia jauh dari sini. Jarak fisik memberiku ilusi keamanan yang sangat kubutuhkan.
Aku mulai menyantap sarapanku. Nasi goreng itu terasa enak, gurih, dan hangat. Kali ini, makanan itu benar-benar terasa nikmat karena tidak ada tekanan psikologis yang mencekik tenggorokanku. Aku bahkan berani mengambil tambahan jus jeruk.
Sepanjang sarapan, obrolan kami mengalir ringan. Ibu bercerita tentang rencana arisan bulanan komplek minggu depan, dan aku hanya mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Pikiranku sebenarnya melayang ke tempat lain, merencanakan bagaimana memanfaatkan hari yang "bebas" ini.
Setelah selesai makan, aku berdiri dan membungkuk sopan.
"El mau naik ke kamar dulu ya, Bu. Mau baca buku sedikit," kataku, mencari alasan untuk menyendiri dan merencanakan langkah selanjutnya.
"Iya, Nduk. Ke kamar lah"
Aku berjalan menuju tangga dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada kemarin. Setiap anak tangga yang kunapak terasa seperti kemenangan kecil. Saat mencapai lantai dua, aku masuk ke kamarku dan menutup pintu.
Kali ini, aku tidak menguncinya dengan almari. Aku hanya membiarkannya tertutup biasa. Aku berjalan menuju jendela, menarik tirai agar cahaya matahari pagi yang hangat masuk memenuhi ruangan.
Hari ini adalah hari libur bagiku dari teror Samudra. Dan aku berencana untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Nduk..."
Suara Ibu terdengar dari balik pintu kamarku, diikuti ketukan pelan. Aku yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil melamun langsung tersentak. Jantungku berdegup sebentar, takut kalau-kalau itu suara Samudra yang tiba-tiba pulang. Tapi nada suaranya ringan dan ceria. Itu pasti Ibu.
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit. Ibu berdiri di sana, sudah berganti pakaian menjadi gaun kasual yang chic, lengkap dengan tas tangan bermerek dan kacamata hitam bertengger di atas kepalanya. Dia terlihat siap untuk bersenang-senang.
"Ibu mau ke mall, mau ikut tidak?" tanyanya dengan semangat, matanya berbinar menatapku.
Aku mengerutkan kening sedikit, bingung dengan ajakan mendadak itu. "Mau ngapain ke mall, Bu?"
Ibu tertawa renyah, mengangkat bahunya dengan gaya manja. "Mau shopping dong. Ada koleksi baru dari brand favorit Ibu yang baru rilis hari ini. Lagipula, udara di rumah rasanya agak pengap kalau diam saja."
Dia menatapku dengan harapan, seolah mengajakku pergi adalah hal paling menyenangkan di dunia. "Ayo, Nduk. Kita bisa makan siang di sana, nonton film mungkin? Seru lho!"
Untuk sesaat, godaan itu terasa kuat. Keluar dari rumah ini. Menghirup udara bebas. Melihat orang-orang biasa. Mungkin bahkan... bertemu Lucas secara tidak sengaja?
Tapi kemudian, bayangan wajah Samudra muncul di benakku. "Kamu harus tinggal di rumah ini. Selalu. Di bawah pengawasan Ayah."
Jika aku pergi ke mall, aku akan meninggalkan rumah tanpa izin eksplisit dari Samudra. Dan meskipun Ibu mengizinkan, apa jaminan bahwa Samudra tidak akan marah nantinya? Apa jaminan bahwa bodyguard yang menyertai kami bukan juga mata-mata Samudra? Risiko itu terlalu besar. Aku belum siap menghadapi kemarahannya jika dia pulang lebih awal dan menemukan kamarku kosong.
Selain itu, aku masih butuh waktu untuk memikirkan ancaman "rahasia masa lalu" itu. Aku perlu fokus, bukan bersenang-senang.
Aku menggeleng pelan, memaksakan diri untuk tersenyum tipis. "Tidak, Bu. El di rumah saja. El masih agak lelah, mau istirahat dulu di kamar. Baca buku mungkin."
Wajah Ibu sedikit kecewa, tapi dia cepat-cepat menutupinya dengan senyuman pengertian. "Yah, sayang sekali. Padahal Ibu pengen punya teman shopping. Tapi ya sudahlah, kalau El mau istirahat, istirahat saja. Jangan lupa makan siang ya."
"Siap, Bu. Hati-hati di jalan," ucapku sopan.
Ibu mengangguk, lalu berbalik badan. "Baiklah, Ibu sama bodyguard saja. Om Budi sudah menunggu di mobil."
Aku menonton langkah Ibu menjauh menuju tangga. Terdengar suara langkah kaki berat lainnya mengikuti di belakangnya, langkah Om Budi, kepala keamanan pribadi Samudra yang jarang berbicara dan selalu mengenakan setelan hitam ketat.
Saat suara pintu depan tertutup, hening kembali menyelimuti rumah.
Aku menghela napas panjang. Rasa lega bercampur dengan rasa kesepian. Aku sendirian lagi. Tapi setidaknya, aku aman dari tatapan Samudra untuk hari ini.
Aku kembali masuk ke kamar dan menutup pintu. Kali ini, aku tidak menguncinya dengan almari. Aku hanya memastikan kunci biasa terkunci. Lalu, aku berjalan menuju jendela, melihat mobil hitam mewah itu melaju keluar dari gerbang utama.
Sekarang, rumah ini benar-benar milikku. Untuk beberapa jam ke depan.
Apa yang harus kulakukan?
Aku berjalan menuju meja kamarku, membuka laptopku. Mungkin inilah saatnya untuk mencari tahu. Mencari tahu apa "rahasia masa lalu" yang bisa digunakan Samudra untuk mengancamku. Apakah tentang ayah kandungku? Atau utang Ibu?
Aku mengetikkan nama ayah kandungku di mesin pencari. Nama yang sudah lama tidak kuucap.