NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

end

Epilog: Mega Jingga dan Takdir yang Menemukan Rumahnya

Angin sore berembus membawa aroma basah tanah dan semerbak wangi daun teh. Di sebuah kawasan asri di Wonosobo, Jawa Tengah, senja turun dengan sangat perlahan, seolah enggan mengakhiri hari yang damai.

Mex menghentikan laju motor bebeknya di pelataran rumah mungil yang menyatu dengan area pesantren. Di bagian belakang jok motor tua itu, terikat kuat sebuah keranjang bambu dan ember kecil yang baru saja mereka gunakan untuk membawa sayur-mayur hasil panen dari kebun. Di boncengan, Ning Zahra turun dengan anggun, membenarkan letak jilbab panjangnya seraya tersenyum teduh.

"Mas, keranjangnya biar Zahra saja yang bawa ke dapur," ucap Zahra lembut, meraih gagang keranjang bambu itu.

Mex tersenyum, menggeleng pelan seraya menahan tangan istrinya. "Biar saya saja, Ning. Tangan kamu terlalu berharga kalau cuma buat angkat-angkat keranjang. Kamu seduhin teh hangat saja buat kita, ya?"

Semburat merah tipis menjalar di pipi Zahra. Ia mengangguk patuh. Kehidupan Mex kini jauh dari gemerlap ibu kota dan kemewahan yang dulu mengelilinginya. Namun, pria itu tak pernah merasa sekaya ini seumur hidupnya. Kesederhanaan, tawa santri yang mengaji di kejauhan, dan senyum teduh istrinya adalah surga dunia yang tak akan ia tukar dengan apa pun.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota Jakarta, keributan kecil yang penuh tawa tengah terjadi.

"Andrew! Itu lap buat meja, kenapa kamu pakai buat ngelap vas bunga, sih?!" jerit Karin dari arah dapur, berkacak pinggang dengan spatula di tangan kanannya. Rambutnya diikat asal ke atas, menampilkan pesona khas ibu rumah tangga muda yang galak namun memesona.

Andrew, yang masih mengenakan kemeja kantor namun lengannya sudah digulung asal, meringis tanpa dosa. Ia melempar lap itu ke keranjang cucian kotor, lalu berjalan mendekati istrinya dengan senyum tengil yang tak pernah pudar.

"Ya maaf, Yang. Namanya juga CEO lagi belajar jadi suami siaga," kekeh Andrew. Tanpa aba-aba, ia memeluk Karin dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri dan menghirup aroma vanila dari lehernya. "Udah dong ngomelnya. Bau masakannya udah enak banget nih. Kapan matangnya? Suami lo kelaparan habis meeting seharian."

Karin mendengus sebal, namun tubuhnya refleks bersandar nyaman di dada bidang Andrew. Tangan kirinya mengusap lembut lengan suaminya yang melingkar di perutnya. "Makanya jangan gangguin. Duduk manis sana di meja makan. Sepuluh menit lagi kelar."

Andrew tersenyum penuh kemenangan. Persahabatan dan cinta mereka yang berawal dari adu mulut di kantin sekolah, kini bertransformasi menjadi rumah yang selalu riuh oleh tawa, perdebatan kecil, dan kasih sayang yang tak terbatas.

Di belahan Jakarta yang lain, langit sore menampilkan gradasi warna ungu dan jingga yang memukau. Mega-mega berarak di atas atap rumah megah bercat putih yang kini menjadi istana bagi Nadiva dan Dereen.

Nadiva berdiri di balkon kamar utama di lantai dua. Pashmina berwarna dusty pink membalut kepalanya, sementara angin sore memainkan ujung kainnya dengan lembut. Ia menatap hamparan taman belakang rumahnya, menyerap setiap detik kedamaian yang kini memeluk hidupnya. Draf novel terbarunya baru saja selesai dikirim ke penerbit, dan untuk pertama kalinya dalam minggu ini, ia bisa bersantai.

Tiba-tiba, aroma mint dan musk maskulin yang teramat familier menyergap indra penciumannya.

Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Punggung Nadiva membentur dada bidang yang terasa sangat hangat dan protektif. Dereen menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nadiva, mengecupnya sekilas di balik balutan pashmina.

"Lagi mikirin apa, hm? Serius banget wajahnya," bisik Dereen. Suara baritonnya yang berat dan serak menggetarkan telinga Nadiva, membuat perut gadis itu selalu terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu, bahkan setelah mereka resmi menikah.

Nadiva terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya ke dada sang suami. Tangannya menelusup, mengusap punggung tangan Dereen yang memeluk perutnya.

"Lagi mikir aja, Kak," jawab Nadiva dengan senyum kecil. "Dulu... rasanya mustahil banget kita bisa berdiri di sini sama-sama. Aku yang cuma cewek barbar dari desa, dapat beasiswa, terus malah apes dijadiin babu sama penguasa sekolah yang angkuhnya minta ampun."

Dereen mendengus geli mendengar rentetan gelar masa lalunya. Ia memutar tubuh Nadiva perlahan agar menghadapnya, lalu menatap netra cokelat terang istrinya dengan sorot pemujaan yang mendalam. Jari-jari besar Dereen terangkat, merapikan anak rambut yang mengintip dari balik jilbab Nadiva.

"Siapa sangka ya, Div," ucap Dereen dengan senyum miring yang memabukkan. "Cewek aneh yang dulu gue suruh-suruh bawain tas olahraga, yang ngelempar gue pakai penghapus, yang berani nyodorin curut ke cewek-cewek hits sekolah... sekarang malah bawain nama belakang gue dengan sangat terhormat."

Nadiva tertawa pelan. Matanya berkaca-kaca memantulkan cahaya senja. Ia berjinjit sedikit, merapikan kerah kemeja hitam yang dikenakan Dereen.

"Dan siapa sangka," balas Nadiva dengan suara melembut, mengalun penuh rasa syukur, "cowok tiang jemuran yang arogan, yang dulu selalu bikin aku istigfar tiap hari, yang maksa aku ikut balapan liar sampai aku merapal selawat ketakutan... sekarang justru jadi imam salatku setiap hari."

Dereen terdiam. Matanya memancarkan lautan cinta yang begitu absolut. Ia menangkup kedua pipi chubby istrinya dengan lembut, seolah Nadiva adalah porselen paling berharga di dunia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

"Gue nggak pernah menyesali satu detik pun dari masa lalu kita, Div," bisik Dereen, menempelkan keningnya pada kening Nadiva. Hidung mereka bersentuhan. Napas hangat mereka beradu di udara sore yang sejuk. "Karena semua pertengkaran konyol itu, semua perbedaan yang menyakitkan, dan semua perpisahan panjang yang menyiksa kita... adalah cara Tuhan buat ngebentuk kita, supaya pantas buat satu sama lain."

Nadiva memejamkan mata, membiarkan setetes air mata bahagia jatuh ke tangannya. Ia mengangguk pelan. "Aku mencintaimu, Dereen Hilton. Karena Allah."

"Gue lebih mencintai lo, Nadiva Ayudia," balas Dereen parau, suaranya sarat akan emosi yang tumpah ruah. "Dulu, sekarang, dan insyaallah, sampai ke surga-Nya."

Pria itu mengecup kening Nadiva dengan sangat lama, menyalurkan segala renjana, janji, dan rasa syukur yang tak terhingga. Di bawah mega jingga langit ibu kota, mereka membuktikan bahwa takdir sejati tak pernah salah mengenali alamatnya.

Cinta yang terlarang oleh perbedaan status dan keyakinan itu, kini telah bermetamorfosis menjadi cinta paling suci. Sang bad boy telah menemukan dermaganya, dan sang gadis barbar telah memeluk pangerannya. Segala luka, air mata, dan penantian panjang di bawah langit Maroko dan New York, telah terbayar lunas oleh sebuah kebahagiaan yang abadi.

TAMAT

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!