NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Tiga hari setelah percakapan singkat soal nama "Melia" yang membuat Juned gelagapan, Anyara semakin serius mengumpulkan bukti. Ia tidak lagi hanya mengandalkan tangkapan layar dan catatan tanggal transaksi, melainkan mulai membuat semacam kronologi lengkap—sebuah dokumen rahasia di aplikasi notes ponselnya yang ia beri nama sandi "Resep Masakan" agar tidak menimbulkan kecurigaan siapa pun yang kebetulan melihat sekilas layarnya.

Pagi itu, sambil menyapu halaman, ia kembali membuka akun media sosial Melia Kurniawan yang sudah ia temukan beberapa hari lalu. Akun itu tidak dikunci privasinya, sehingga ia bisa dengan leluasa menelusuri unggahan-unggahan lama, mencari pola dan petunjuk lebih jauh.

Ia menemukan sebuah unggahan dari sekitar lima bulan lalu—foto sepasang tangan yang saling menggenggam di atas meja kafe, dengan jam tangan pria yang tampak familiar di pergelangan tangan kanan. Anyara menahan napas, memperbesar gambar itu. Jam tangan itu—model dan warnanya persis sama dengan jam tangan yang biasa dipakai Juned, hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.

Keterangan foto itu berbunyi singkat, tanpa menyebut nama, hanya emoji hati dan tulisan "Waktu berharga bareng orang spesial." Kolom komentar dipenuhi teman-teman Melia yang menanyakan siapa pria beruntung itu, tapi Melia hanya membalas dengan emoji tersenyum misterius tanpa penjelasan lebih lanjut.

Anyara menyimpan tangkapan layar itu ke folder rahasianya, menambahkan tanggal dan keterangan singkat: "Foto tangan berpegangan, jam tangan mirip milik Juned, lima bulan lalu."

Siang harinya, ia memutuskan untuk berkonsultasi lebih jauh dengan Hans, kali ini bukan hanya soal apa yang harus dilakukan, melainkan juga soal bagaimana caranya memastikan identitas jam tangan itu benar-benar milik Juned tanpa menimbulkan kecurigaan.

"Pak Hans, saya nemu foto tangan berpegangan di akun Melia. Jam tangannya mirip banget sama punya Mas Juned."

"Mbak yakin itu jam yang sama? Ada ciri khusus yang bisa dipastiin?"

"Ada goresan kecil di bagian kacanya, Pak. Waktu itu Mas Juned pernah cerita jamnya kegores pas lagi motret dokumen kantor. Saya coba perbesar fotonya, kayaknya ada bekas goresan di posisi yang sama."

"Kalau emang bener ada ciri khusus kayak gitu, itu bukti yang cukup kuat, Mbak. Tapi hati-hati juga, jangan sampe kelihatan kalau Mbak lagi nyelidikin diam-diam, biar Mas Juned nggak keburu waspada dan ngilangin jejak lain yang mungkin masih ada."

Anyara mengangguk membaca saran itu, meski hanya lewat pesan teks, ia merasakan ketenangan tersendiri karena ada seseorang yang bisa diajak berpikir jernih di tengah kekacauan yang ia hadapi.

"Makasih, Pak. Saya bakal lebih hati-hati. Rencananya saya mau kumpulin semua bukti ini dulu sampe cukup lengkap, baru nanti saya rencanain langkah selanjutnya bareng pengacara kayak yang Bapak tawarin kemarin."

"Siap, Mbak. Kapan aja Mbak butuh, saya siap bantu carikan kontaknya."

Sore harinya, saat Anyara sedang menjemur pakaian di halaman belakang, Ratih mendekat dengan wajah yang tampak ingin membicarakan sesuatu yang serius.

"Anyara, boleh Ibu tanya sesuatu? Tapi kamu jangan marah dulu ya."

"Boleh, Bu. Ada apa?"

"Kemarin waktu kamu tanya soal Melia ke Juned, Ibu perhatiin, tangannya Juned langsung gemeteran pegang remote. Ibu jadi curiga, jangan-jangan emang bener ada yang lain lagi selain yang udah ketauan kemarin."

Anyara menatap mertuanya, mempertimbangkan apakah saatnya sudah tepat untuk berbagi sebagian dari apa yang ia temukan. Ia memutuskan untuk memberi sedikit informasi, tanpa membuka semua kartu yang ia miliki.

"Bu, jujur aja, saya juga curiga hal yang sama. Tapi saya belum yakin sepenuhnya, makanya saya belum mau buru-buru ngomong ke Mas Juned."

Ratih terdiam sesaat, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. "Ya Allah, kalau bener kayak gitu, berarti Juned emang udah keterlaluan banget. Ibu udah nggak tau lagi harus gimana ngadepin anak Ibu sendiri."

"Bu, saya ngerti ini berat buat Ibu. Tapi saya juga butuh waktu buat mastiin semuanya sebelum bikin keputusan besar."

"Ibu dukung apa pun keputusan kamu, Nak. Tapi kalau boleh Ibu minta satu hal—kalau memang bener nanti kejadiannya separah itu, tolong jangan pernah ragu buat cerita ke Ibu. Ibu udah capek dibohongin, dan Ibu nggak mau jadi orang terakhir yang tau kebenarannya."

Anyara mengangguk, merasa haru dengan perubahan sikap Ratih yang semakin hari semakin menunjukkan keberpihakan yang tulus, jauh berbeda dari sosok mertua cerewet yang selama ini selalu membela anaknya tanpa syarat.

Malam itu, ketegangan yang tersembunyi di dalam rumah itu semakin terasa nyata ketika Juned pulang dengan wajah yang tampak gelisah, berbeda dari biasanya.

"Ra, ada yang mau aku omongin," ucapnya, duduk di kursi ruang tengah dengan raut muka yang sulit diartikan.

Anyara menatapnya, hatinya berdebar, menebak-nebak apa yang akan diungkapkan suaminya kali ini.

"Ada apa, Mas?"

"Tadi di kantor, ada masalah. Salah satu klien komplain soal proyek yang aku pegang, katanya ada kesalahan data yang cukup fatal. Aku takut ini bakal ngaruh ke posisi aku di kantor."

Anyara sedikit lega mendengar itu bukan pengakuan lain soal perselingkuhan, meski tetap merasa prihatin dengan kekhawatiran suaminya. "Terus gimana, Mas? Ada solusinya?"

"Aku harus lembur beberapa hari ke depan buat benerin datanya. Mungkin pulang lebih malem dari biasanya."

Kalimat itu langsung membuat kewaspadaan Anyara kembali menguat. "Lembur di kantor beneran, Mas? Atau..."

Juned menatapnya tajam, seperti tersinggung dengan pertanyaan itu. "Ra, aku ngerti kamu masih curiga sama aku, tapi ini beneran masalah kerjaan. Kamu bisa cek sendiri kalau nggak percaya, telepon kantor aku."

Anyara terdiam, tidak melanjutkan kecurigaannya secara terang-terangan, meski dalam hati ia mencatat baik-baik jadwal "lembur" itu untuk dicocokkan nanti dengan bukti-bukti lain yang mungkin muncul.

"Ya udah, Mas. Semoga cepet selesai masalahnya," jawabnya akhirnya, memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan malam itu.

Keesokan harinya, saat Juned benar-benar pulang larut malam dengan alasan lembur, Anyara memanfaatkan waktu itu untuk kembali menelusuri akun media sosial Melia. Ia menemukan unggahan baru, diunggah hanya beberapa jam sebelumnya—foto sepiring makanan di sebuah restoran, dengan lokasi yang di-tag persis di daerah dekat kantor Juned.

Keterangannya singkat: "Makan malam ditemenin orang baik hati. #grateful"

Jantung Anyara berdegup kencang. Ia membandingkan waktu unggahan itu dengan waktu Juned biasanya pulang lembur—cocok, hampir bersamaan.

Ia menyimpan tangkapan layar itu, menambahkannya ke kumpulan bukti yang sudah semakin menumpuk. Malam itu, ketika Juned akhirnya pulang sekitar pukul sebelas malam dengan wajah kelelahan yang tampak dibuat-buat, Anyara sudah menunggu di ruang tengah, pura-pura menonton televisi.

"Ra, kok belum tidur?" tanya Juned, terkejut melihat istrinya masih terjaga.

"Nunggu Mas pulang aja, Mas. Gimana lemburnya, kelar?"

"Belum sepenuhnya, tapi lumayan udah kelar sebagian besar," jawab Juned, langsung menuju kamar mandi tanpa banyak bicara lagi.

Anyara menatap punggung suaminya menjauh, merasakan campuran emosi yang semakin rumit—marah, sedih, tapi juga sebuah ketenangan aneh karena semakin banyak bukti yang ia kumpulkan, semakin dekat pula ia dengan momen di mana ia akan benar-benar bisa mengambil keputusan tanpa keraguan lagi.

Ia membuka ponselnya sekali lagi sebelum tidur, mengetik pesan singkat ke Hans.

"Pak Hans, saya makin yakin sekarang. Buktinya udah cukup banyak."

"Mbak yakin siap buat langkah selanjutnya?"

"Belum sepenuhnya, Pak. Tapi rasanya nggak akan lama lagi."

"Saya di sini kapan pun Mbak siap. Nggak perlu buru-buru, yang penting Mbak yakin dulu sama diri sendiri."

Anyara mengunci ponselnya, menatap langit-langit kamar dalam gelap, di sampingnya Juned sudah tertidur dengan napas teratur, sama sekali tidak menyadari bahwa dunia yang selama ini ia bangun dengan kebohongan, perlahan tapi pasti, sudah mulai runtuh tanpa bisa ia cegah lagi.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!