Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA KELAS IX - PERKELAHIAN DI BATAS KAMPUNG
Hari pertama Arya Arsyad Sikumbang masuk Kelas IX A itu seharusnya menjadi hari paling membanggakan dalam hidupnya yang baru 11 tahun.
Pagi itu ia berangkat diapit oleh Ibrahim Sulaiman Chaniago yang 13 tahun dan Faizal Tanjuang yang 14 tahun, naik ke lantai dua gedung SMP Negeri Pande Sikek yang papan kayunya berderak. Dua puluh pasang mata anak umur 15 tahun yang sudah kumis tipis menatapnya dengan heran. Siang itu ia pulang dengan dada sedikit membusung karena untuk pertama kalinya ia bisa mengerjakan soal Matematika Kelas IX tentang akar kuadrat tanpa melihat catatan lidi dan butir cengkeh.
Tapi ia tidak tahu, di luar pagar sekolah yang terbuat dari bambu dan kawat berduri itu, sudah ada yang menunggunya sejak jam dua belas siang.
Mereka adalah kelompok anak nakal Kelas IX dari desa lain, dari SMP yang sama tapi dari jurusan sore. Jumlahnya sepuluh orang. Semua masih ada hubungan darah jauh dengan keluarga Sikumbang, tapi dari marga lain yang sudah berpisah lama: ada yang Marga Piliang, ada yang Marga Coto, ada yang Marga Jambak. Nama-nama mereka sudah terkenal nakal di seluruh Kecamatan X Koto karena suka memalak anak-anak kecil yang baru naik.
Nama mereka adalah Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril. Umur mereka rata-rata 15 sampai 16 tahun, badan mereka sudah besar-besar karena sering membantu orang tua mengangkut kayu di hutan, dan mereka sudah tidak takut lagi pada guru.
Kemarin, sehari sebelum Arya resmi naik ke Kelas IX, mereka sudah berkonfrontasi dengan Ibrahim Sulaiman Chaniago dan Faizal Tanjuang di warung kopi dekat simpang Pande Sikek. Masalahnya sepele tapi bagi mereka itu harga diri.
"Kalian mau bawa anak bayi 3 bulan yang dulu ingusan itu naik ke Kelas IX kami?" kata Yusman, yang dianggap ketua, sambil menyeringai. Yusman adalah yang paling besar, Marga Piliang, rambutnya gondrong dan sering tidak pakai sepatu. "Anak karung goni itu, Arya Arsyad Sikumbang, kalau mau masuk Kelas IX harus bayar uang masuk dulu. Bawakan kami rokok Gudang Garam dan kopi hitam. Kalau tidak, jangan harap bisa pulang dengan sepatu Bata mengkilap itu masih utuh."
Ibrahim yang dulu naik Si Baluang dengan ingus naik turun itu tidak terima sepupunya dihina. Darah Sikumbang-nya naik.
"Arya itu adik sepupu ambo, masih bayi 3 bulan dulu ambo yang gendong waktu naik Si Baluang. Jangan coba-coba palak dia. Kalau mau palak, palak ambo dulu," jawab Ibrahim dengan suara keras.
Faizal Tanjuang yang 14 tahun yang lebih tenang menahan Ibrahim. "Jangan di sini, di kampung orang. Malu kita dilihat orang Pande Sikek."
Tapi Yusman dan kawan-kawannya sudah terlanjur dendam. Mereka menganggap Ibrahim dan Faizal yang 13 dan 14 tahun itu sok jago karena berani menjaga anak kecil 11 tahun yang loncat ke Kelas IX.
Maka hari pertama itu, mereka sepakat menunggu di batas kampung.
Jalan pulang dari SMP Negeri Pande Sikek ke Pande Sikek harus melewati sebuah jembatan bambu kecil di atas sungai kecil yang airnya jernih, di bawah pohon beringin besar yang akarnya menggantung. Di sanalah, tempat yang jauh dari rumah warga dan jauh dari sekolah, mereka menunggu.
Arya, Ibrahim dan Faizal berjalan bertiga dengan tas karung goni dan tas kulit yang sudah sobek di pundak. Baru saja mereka turun dari jalan aspal ke jalan setapak tanah yang licin karena hujan kemarin, dari balik pohon beringin itu sepuluh anak itu keluar dan menghadang.
Yusman berdiri di tengah dengan tangan disilangkan di dada.
"Nah, ini dia anak ajaib yang baru naik Kelas Tiga umur 11 tahun. Mana uang masuknya?" kata Yusman sambil tertawa, diikuti tawa Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril.
Arya yang 11 tahun yang tadi pagi berani menatap 20 anak Kelas IX, kini wajahnya pucat. Ia ingat pesan Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang: jangan cari musuh, tapi kalau musuh datang jangan lari.
Ibrahim langsung maju selangkah, menutupi Arya di belakangnya.
"Yusman, jangan macam-macam. Ini masih sepupu jauh kita juga, Marga Piliang, Coto, Jambak masih satu nenek dengan Sikumbang. Jangan buat malu keluarga di luar kampung," kata Ibrahim.
Tapi Ramli yang Marga Coto, yang paling pendek tapi paling galak, langsung mendorong dada Ibrahim dengan keras.
"Sepupu-sepupu apa? Kalian yang di Pande Sikek sok pintar karena bisa tenun dan ukir kayu surian. Kami di sini yang jaga kampung."
Dorongan itu membuat Ibrahim terhuyung. Faizal yang 14 tahun yang tadinya menahan, kini tidak bisa menahan lagi. Darah mudanya naik.
Saat itulah, dari arah belakang, dari jalan setapak yang sama, terdengar suara teriakan.
"Ya! Ibrahim! Faizal!"
Ternyata Arlan Rasyad Sikumbang dan Darlin Aminuddin Chaniago yang seumuran 12 tahun, yang hari itu baru naik ke Kelas VIII, sengaja menunggu di warung ibunya Siti Aminah Sikumbang karena khawatir adiknya pulang terlambat. Melihat Arya, Ibrahim dan Faizal tidak kunjung lewat, mereka berdua menyusul dengan berlari, masih memakai seragam putih biru SMP yang masih kebesaran.
Arlan dan Darlin yang 12 tahun itu melihat adiknya Arya yang 11 tahun dikepung oleh sepuluh anak besar dari marga Piliang, Coto, Jambak itu. Tanpa pikir panjang, mereka langsung masuk ke dalam lingkaran.
Sekarang jumlahnya menjadi lima melawan sepuluh. Arya 11 tahun, Arlan 12 tahun, Darlin 12 tahun, Ibrahim 13 tahun, Faizal 14 tahun, melawan Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril yang 15-16 tahun.
Yusman tertawa lebih keras.
"Wah, lengkap. Kakak beradik Sikumbang dan sepupu-sepupu Chaniago yang bayi 3 bulan dulu itu kumpul semua. Bagus, biar sekalian kami ajari."
Di luar kampung, di batas desa yang sepi, di bawah pohon beringin besar yang rindang, akhirnya terjadi perkelahian yang tidak bisa dihindari lagi.
Perkelahian itu bukan perkelahian seperti anak kota yang hanya tarik-tarikan baju. Ini perkelahian anak gunung yang sudah terbiasa jatuh di pematang sawah.
Ibrahim dan Faizal yang sudah dilatih Silek Tuo Harimau oleh Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang di Pos Satu sejak kecil, langsung mengambil kuda-kuda rendah. Kuda-kuda harimau mengintai. Kaki mereka yang sudah dilatih lari 5 kali putaran pematang sawah pusako yang licin itu kokoh menancap di tanah, tidak mudah didorong.
Yusman yang besar mencoba memukul Ibrahim dengan pukulan lurus, tapi Ibrahim menangkis dengan tangkisan bawah yang diajarkan Mamak Usman, geseran kaki menyeret lembut tanpa suara di atas daun kering. Faizal yang 14 tahun menghadapi Ramli dan Rusli sekaligus, dua anak Marga Coto yang terkenal kuat.
Arya yang 11 tahun, yang tangannya masih merah karena latihan guci besi berminyak dengan ujung jari, tidak lari. Ia ingat tiga perintah maut Mamak Usman. Ia yang paling kecil, tapi ia yang paling tenang. Ketika Marzuki dan Muchtar mencoba menarik tas karung goninya, ia mencengkeram lengan mereka dengan cengkeraman jari yang sudah dilatih mengangkat guci besi licin itu. Cengkeramannya kuat seperti baja, membuat Marzuki meringis kesakitan.
Arlan dan Darlin yang seumuran 12 tahun, yang juga dilatih terompah kayu di lereng bawah, tidak kalah. Arlan yang tekun seperti ayahnya Abdullah Bin Rais Payobadar, tidak banyak memukul, ia lebih banyak menahan dan mendorong dengan bahu, seperti mendorong gerobak cengkeh. Darlin yang dulu juga naik Si Baluang dengan ingus naik turun bersama Ibrahim, kini sudah 12 tahun dan paling lincah. Ia bergerak cepat, menghindar dan memancing musuh agar terpeleset di tanah licin dekat sungai.
Perkelahian itu berlangsung sekitar sepuluh menit yang terasa seperti satu jam. Tidak ada yang membawa kayu atau batu, semua hanya pakai tangan kosong, sesuai aturan silek. Ada yang jatuh ke tanah, ada yang bajunya sobek, ada yang hidungnya berdarah karena terpeleset. Suara teriakan, suara tangisan kecil, dan suara air sungai yang mengalir bercampur menjadi satu.
Arya, walau paling kecil, justru yang paling tidak terluka karena ia selalu menjaga jarak dan mengatur napas dari dada seperti yang diajarkan Mamak Usman saat lari di pematang. Ia tidak menyerang, ia hanya bertahan dan menangkis.
Sampai akhirnya, dari arah jalan aspal, terdengar suara klakson sepeda motor Honda 70.
Ternyata beberapa guru SMP Negeri Pande Sikek yang pulang belakangan, yaitu Bapak Asril guru Fisika SMA dan Ibu Rina guru IPA, melihat kerumunan di bawah pohon beringin dari jauh. Mereka mengenali seragam putih biru yang sobek-sobek itu.
"Berhenti! Berhenti semua!" teriak Bapak Asril dengan suara beratnya yang terkenal galak.
Sepuluh anak nakal dari Marga Piliang, Coto, Jambak itu langsung kocar-kacir mau lari, tapi Bapak Asril dan Ibu Rina sudah turun dan menahan mereka. Melihat guru datang, Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril langsung terdiam, menundukkan kepala, napas mereka memburu.
Lima anak Pande Sikek, Arya 11 tahun, Arlan 13 tahun, Darlin 13 tahun, Ibrahim 14,5 tahun dan Faizal 15 tahun juga berdiri dengan baju penuh tanah dan lumpur, sepatu Bata Arya yang mengkilap tadi pagi kini penuh lumpur sawah.
"Kalian semua ikut ke kantor sekolah sekarang juga! Tidak ada yang boleh pulang!" perintah Ibu Rina dengan wajah merah karena marah dan cemas.
Maka sore itu, pemandangan aneh terjadi di jalan setapak Pande Sikek. Lima belas anak SMP berjalan beriringan dengan tertunduk lesu di depan, dikawal dua guru di belakang dengan sepeda motor didorong pelan. Arya yang paling kecil berjalan di tengah, diapit Arlan dan Darlin yang seumuran 12 tahun yang memegangi tangannya, sementara Ibrahim dan Faizal berjalan di depan sebagai pelindung. Di belakang mereka, sepuluh anak nakal dari Marga Piliang, Coto, Jambak, Yusman, Ramli, Rusli, Marzuki, Muchtar, Burhan, Anwar, Idris, Yamin dan Dasril berjalan dengan kepala tertunduk, baju mereka juga sobek-sobek.
Mereka semua langsung dibawa balik ke kantor sekolah menemui Kepala Sekolah Bapak Drs. Syafrianto yang belum pulang karena masih memeriksa rapot kenaikan kelas di ruangannya yang sudah pakai listrik diesel.
Begitu pintu kantor dibuka dan Bapak Syafrianto melihat lima belas anak dengan baju penuh lumpur dan tanah itu, kacamatanya hampir jatuh.
"Astaghfirullah... Apa yang terjadi ini? Ibrahim? Faizal? Arya? Arlan? Darlin? Kenapa kalian berkelahi di luar kampung? Dan kalian... Yusman, Ramli... bukankah kalian juga sepupu jauh mereka dari Marga Piliang, Coto, Jambak? Kenapa kalian palak adik kalian sendiri yang baru naik Kelas Tiga umur 11 tahun?"
Di dalam kantor sekolah yang lampunya sudah mulai redup karena diesel mau dimatikan, lima belas anak itu duduk melingkar di lantai semen yang dingin, menundukkan kepala, sementara Bapak Syafrianto berdiri di tengah dengan kedua tangan di pinggang, menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang sangat kecewa, jauh lebih menakutkan daripada saat ia menguji Arya dengan soal SMA.
Hari pertama masuk Kelas IX yang seharusnya menjadi hari paling membanggakan, berakhir di kantor Kepala Sekolah dengan baju penuh lumpur dan dengan pelajaran paling keras tentang arti dunsanak dan harga diri di tanah Minang.