Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Menjelang sore, mobil yang dikemudikan Mia tiba di depan rumahnya.
Suara mesin yang sejak tadi mengantarnya pulang akhirnya berhenti, setelah Mia mematikannya. Mia membuka pintu pengemudi, lalu berputar ke pintu belakang. Di bangku penumpang, Kayla terlelap dengan kepala sedikit miring, napasnya teratur. Mia menggendong putrinya dengan hati-hati, menyesuaikan posisi agar anak itu tidak terbangun.
Bugh....
Pintu mobil tertutup sempurna. Mia menghela napas pelan, lalu melangkah menuju pintu rumahnya dengan hati-hati. Langkahnya pelan, berusaha tidak mengguncang tubuh kecil di pelukannya. Ia membuka pintu.
Ceklek......
Pintu terbuka.
Tak...
Baru selangkah Mia masuk ke dalam rumah, kakinya sudah menginjak sesuatu yang keras. Bunyi plastik berderak di bawah telapak sepatunya.
Ia menunduk. Mainan mobil-mobilan milik Kayla tergeletak di lantai, tepat di depan pintu. Mia langsung tahu, mainan itu pasti dimainkan oleh Janu, anak adik iparnya. Kayla selalu merapikan mainannya sebelum tidur, tapi sekarang semuanya berantakan.
Mia menghela napas sabar. Ia menggeser mainan itu dengan ujung sepatunya, lalu melanjutkan langkah menuju kamar. Namun baru beberapa langkah, suaranya dihentikan oleh nada sinis yang sudah sangat ia kenali.
“Sopan kau seperti itu? Keluar masuk rumah sesuka hatinya,” sindir Rukmini dari ruang tengah. Wanita itu duduk di sofa dengan tangan bersedekap, menatap menantunya dari ujung kepala sampai kakinya.
Mia tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Dengan tenang ia terus melangkah masuk ke kamar utamanya, meletakkan Kayla di ranjang dengan lembut, lalu menarik selimut tipis hingga menutupi bahu putrinya. Setelah memastikan anak itu tetap tertidur, Mia keluar kembali.
Ia berdiri di ambang pintu kamar yang sudah tertutup, menatap ibu mertuanya langsung.
“Siapa yang tidak sopan?” tanya Mia, suaranya datar tapi penuh tantangan. Matanya tidak berkedip.
Rukmini terkejut. Ia tidak menyangka menantunya berani membalas dengan nada seperti itu. Selama ini Mia selalu diam, selalu mengalah, selalu menunduk ketika disindir. Tapi sejak kemarin, ada sesuatu yang berbeda di wajahnya, ketegasan yang dingin dan tidak lagi takut.
Suasana ruangan itu tiba-tiba menjadi tegang. Dari kamar belakang, Sonya mengintip pelan sambil menggendong Janu. Lukman yang sedang duduk di kursi hanya mengangkat alisnya.
Mia masih berdiri tegak, menunggu jawaban. Napasnya teratur, tapi dadanya terasa panas. Ia sudah lelah menjadi sasaran sindiran. Ia sudah lelah dianggap tidak sopan hanya karena pulang ke rumahnya sendiri.
“Ini rumahku, ini tempat tinggalku. Bebas aku mau melakukan apa saja,” ucapnya dengan suara jelas dan tanpa rasa takut. “Justru yang tidak sopan itu kalian. Numpang tidur dan makan di rumah orang, memakai fasilitas orang, lalu berani menyuruh-nyuruh dan menyindir seenaknya. Sudah berminggu-minggu tinggal di sini tanpa kontribusi apa-apa, sekarang masih berani bilang aku tidak sopan?”
Rukmini langsung berdiri dari sofa. Wajahnya memerah, urat di lehernya menonjol. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Mia dengan jari gemetar.
“Kau berani menghina Ibu, hah?! Berani sekali mulutmu sekarang! Nanti aku adukan Rian, baru kau tahu rasa! Ini memang rumahmu, tapi Rian anakku sudah menikah denganmu. Itu artinya rumah ini juga milik kami! Kami keluarga besarnya! Kau pikir bisa mengusir kami seenaknya?!”
Mia menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ada orang yang bisa berbicara setidak malu itu di depan matanya. Ia menatap ibu mertuanya lama, lalu tertawa kecil, tertawa yang sinis dan penuh kekecewaan.
“Milik kalian?” ulangnya pelan, seolah memastikan. “Bu, rumah ini aku beli secara cash sebelum menikah dengan Rian. Uangku sendiri. Keringatku sendiri. Dan sebelum menikah, aku sudah membuat perjanjian pranikah. Rumah ini, mobil itu, semuanya tercatat atas nama saya. Tidak masuk harta gono-gini. Jadi jangan bilang rumah ini milik kalian hanya karena Rian menikah denganku.”
Rukmini terbelalak. Ia tidak menyangka menantunya tahu soal hukum dan berani mengungkit perjanjian pranikah.
“Kau… kau berani bicara seperti itu pada Ibu?!” suaranya semakin tinggi, hampir berteriak. “Tidak tahu diri! Sudah ditolong tinggal serumah, sudah dibantu mengurus cucu, malah berani mengusir kami! Rian pasti akan membela Ibu! Kau tunggu saja!” serunya tidak terima. Pada kenyataannya Rukmini tidak pernah mengasuh Kayla.
Mia tidak mundur. Justru ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Tolong?” katanya dingin. “Siapa yang menolong siapa, Bu? Selama ini aku yang masak, aku yang mencuci, aku yang belanja, aku yang mengalah terus. Kalian yang tinggal gratis, makan gratis, pakai kamar anakku, pakai susu anakku. Sekarang aku pulang ke rumahku sendiri saja sudah dibilang tidak sopan. Kalau memang merasa berhak, silakan adukan ke Rian. Aku tidak takut.” tantang Mia, dia sudah siap dengan segala resikonya.
Suasana ruang tamu semakin panas. Sonya yang sejak tadi mengintip dari pintu kamar kini menarik Janu masuk, takut suasana semakin rusuh. Lukman hanya duduk diam di sudut, dengan wajah jelas tidak nyaman.
Napas Rukmini memburu. Ia tidak terbiasa dilawan. Selama ini semua orang di rumah tunduk padanya, terutama Rian dan Mia. Tapi hari ini, menantunya berdiri seperti tembok yang tidak bisa digoyahkan.
“Kau akan menyesal!” ancam Rukmini dengan suara bergetar. “Rian pasti memihak Ibu! Kau tunggu saja sampai dia pulang!”
Mia hanya tersenyum tipis, tatapannya tetap tajam.
“Silakan tunggu, Bu. Aku juga menunggu. Kita lihat saja nanti siapa yang benar-benar di pihak kebenaran.”
"Kau tunggu saja. Rian pasti akan mengusirmu dari rumah ini" ancam Rukmini.
Mia tersenyum miring, "Yang ada kalianlah, yang akan aku usir dari rumah ini" balas Mia.
Plak.....
Tiba-tiba sebuah tamparan meluncur ke pipi Mia yang di lakukan oleh Lukman.
"Aku perhatikan sejak tadi kau nyerocos terus, melawan ibuku" ucap Lukman dengan rahang mengeras.
Mia menatap tajam Lukman sambil memegang pipinya. Ujung ekor matanya melihat kedatangan sang suami. Rian melihat adiknya menampar dirinya, tapi suaminya hanya diam saja menyaksikan semuanya.
Dengan perasaan kecewa, Mia berbalik, masuk kedalam kamar, lalu menutup pintu dengan kasar.
Di belakang pintu itu, tangis Mia pecah. Kayla yang sedang tidur pun terbangun karena mendengar suara pintu yang di tutup keras.
"Mama nangis" ucap Kayla.
Mia menoleh, lalu menunduk memeluk putrinya sambil menangis tersedu-sedu.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.