NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. DITEMUKAN

Aura ketegangan di gedung pusat Mahendra Group di Jakarta mencapai puncaknya malam itu. Di ruang rapat utama lantai empat puluh, Abiyasa berdiri tegak di depan dinding kaca besar yang menghadap kerlap-kerlip gemerlap ibu kota. Jas hitamnya terikat rapi, rahangnya mengetat keras, dan pendar mata cokelat gelapnya memancarkan amarah dingin yang sanggup membekukan ruangan.

Di balik meja konferensi, tiga pengacara senior dari tim hukum Mahendra Group bersama dua ahli cyber security bekerja dengan jemari yang menari cepat di atas keyboard. Hendra berdiri kaku di samping Abiyasa, mandi keringat dingin meski pendingin udara dipasang maksimal.

"Sudah ketemu, Pak Abiyasa," potong Kepala Tim IT dengan nada cepat dan tegas.

Abiyasa memutarkan tubuhnya perlahan, melangkah mendekati meja. Langkah kakinya berat dan bergema. "Bicara."

"Alamat IP yang mengunggah artikel fitnah di forum mahasiswa UG* itu berhasil diurai. Pengunggahnya adalah seorang mahasiswa semester lima jurusan Manajemen UG* bernama Dito," terang Tim IT seraya menampilkan data pribadi pelaku di layar proyektor. "Namun, berdasarkan penelusuran aliran dana dan jejak digital obrolannya, dia tidak bergerak sendiri."

Abiyasa menyipitkan matanya, suaranya keluar rendah dan penuh bahaya. "Siapa yang membayar dia?"

Hendra melangkah maju satu tapak, menyodorkan sebuah dokumen cetak. "Pak Suryawan... dan putrinya, Vanya."

SRET!

Abiyasa mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu dan sakit hati Vanya karena penolakan Abiyasa di acara Borobudur pekan lalu ternyata berbuntut nekat. Pria paruh baya dan putrinya itu memanfaatkan mahasiswa lokal untuk menyebarkan berita miring, berniat menghancurkan mental Nadira agar gadis itu menyerah dan memilih berpisah dari Abiyasa.

"Mereka pikir kekuasaan dan uang mereka di Jogja bisa menyentuh istri saya?" bisik Abiyasa dengan senyuman paling dingin yang pernah ada di wajahnya.

Ia menoleh menatap Kepala Tim Hukumnya. "Eksekusi malam ini juga. Cabut seluruh suntikan dana dan fasilitas kredit Bank Suryawan dari konsorsium Mahendra Group. Layangkan surat gugatan pidana atas pencemaran nama baik, perundungan siber, dan kejahatan terencana. Pastikan nama Vanya dan Dito masuk ke dalam daftar hitam seluruh instansi bisnis di negeri ini."

"Baik, Pak Abiyasa! Semua berkas sudah siap dilimpahkan ke Kepolisian Daerah D.I. Yogyakarta malam ini!" tegas Ketua Tim Hukum.

Abiyasa berbalik menatap Hendra. "Siapkan helikopter menuju bandara. Saya harus ada di Kaliurang sebelum subuh."

Sementara itu, di vila Kaliurang, keheningan malam terasa begitu menyiksa bagi Nadira.

Gadis itu duduk meringkuk di atas sofa studio lantai dua, memeluk kedua lututnya erat-erat. Air matanya sudah mengering, namun rasa sesak dan trauma akan penilaian buruk orang-orang masih meremas dadanya. Komentar-komentar kejam di forum kampus yang menyudutkan namanya terus berputar-putar di kepalanya.

TIN! TIN!

Suara deru mesin mobil yang kencang dan decitan rem yang tajam menggelegar di pelataran vila tepat pukul dua dini hari.

Nadira terperanjat dari sofa, berlari kecil menuju balkon studio dan melongok ke bawah. Awan kabut tipis terbelah oleh sorot lampu mobil sedan hitam yang baru saja berhenti darurat di depan pintu utama.

Pintu mobil terdorong terbuka lebar. Sosok pria tinggi tegap dengan kemeja putih yang lengannya tergulung kaku dan jas terlempat di dalam mobil berlari cepat masuk ke dalam rumah.

"Mas Abi..." cicit Nadira, dadanya berdebar liar.

Nadira berlari turun menyusuri tangga kayu. Belum sempat kakinya menyentuh anak tangga terakhir, pintu utama vila terdorong keras.

Abiyasa Mahendra berdiri di sana.

Wajah sang CEO tampak sangat letih setelah menempuh perjalanan darurat udara dan darat tanpa henti. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan napasnya memburu pelan. Namun, begitu iris mata cokelat gelapnya menangkap figur mungil istrinya yang berdiri gemetar di bawah tangga, seluruh ketegangan di raut wajah Abiyasa menguap seketika, digantikan oleh rasa lega dan ketulusan cinta yang membuncah.

"Nadira..." panggil Abiyasa dengan suara baritonnya yang sangat dalam dan serak.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Abiyasa melangkah lebar memangkas jarak di antara mereka. Pria itu langsung menyambar tubuh mungil Nadira, membopong dan merengkuh gadis itu rapat-rapat ke dalam dekapan hangatnya.

"Mas Abiii!" jerit Nadira pecah, tangisannya kembali meledak di bahu tegap suaminya. Both lengannya melingkar erat-erat di leher Abiyasa, menyembunyikan wajah mewahnya yang basah di ceruk leher pria itu.

Abiyasa mengepalkan tangannya di punggung Nadira, merengkuh tubuh istrinya begitu kuat seolah takut gadis itu akan sirnah. Pria itu menenggelamkan wajahnya di rambut halus Nadira, mengecupi pelipis, puncak kepala, dan leher istrinya berulang kali dengan rasa bersalah dan cinta yang melimpah.

"Saya di sini, Sayang... Saya di sini," bisik Abiyasa berulang kali di telinga Nadira, suaranya sendiri bergetar menahan emosi. "Maafkan saya... Maafkan saya terlambat memelukmu."

"Aku takut, Mas... Hiks... Mereka jahat banget..." adu Nadira sesenggukan dalam dekapan erat suaminya.

Abiyasa menarik tubuhnya sedikit mundur, menangkup kedua pipi Nadira dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Pria itu mengusap air mata yang membasahi pipi mulus istrinya menggunakan ibu jarinya, menatap lurus ke dalam iris mata bening Nadira dengan pendar keyakinan mutlak.

"Dengarkan saya, Nadira," tutur Abiyasa dengan suara yang begitu teduh dan tegas. "Semua bajingan yang membuat berita itu sudah ditangkap. Pelakunya adalah Vanya dan ayahnya. Malam ini juga, karier, bisnis, dan nama baik keluarga mereka sudah saya hancurkan sampai tak berbekas."

Nadira membelalakkan matanya kaget di antara isakannya. "M-Mbak Vanya...?"

"Ya. Mereka membayar mahasiswa untuk menyebarkan fitnah itu karena iri dan dendam," pangkas Abiyasa tajam. "Besok pagi, Pihak Rektorat UG* dan Kepolisian akan merilis klarifikasi resmi dan pembersihan nama baikmu di seluruh media kampus. Tidak akan ada satu pun orang di UG* yang berani memandangmu sebelah mata lagi."

Nadira menatap pria bertubuh tegap di hadapannya. Rasa haru yang luar biasa dahsyat menghantam dadanya. Pria ini—sang CEO yang rela menerjang malam, membatalkan seluruh agenda bisnis triliunan rupiah, dan mengerahkan seluruh kekuasaannya hanya demi menghapus air mata di pipinya.

"Mas Abi... makasih..." bisik Nadira tulus, suaranya parau.

Abiyasa menyunggingkan senyum hangat yang paling menawan, lalu mendekatkan wajahnya dan menyapu bibir manis Nadira dalam sebuah ciuman yang sangat dalam, hangat, dan sarat akan kepemilikan yang mutlak.

Kecupan itu menghapus seluruh ketakutan, rasa dingin, dan rasa kerdil di dalam dada Nadira. Nadira memejamkan mata rapat-rapat, membalas perlakuan manis suaminya dengan kepolosan cintanya yang murni, menyusupkan jemari kecilnya di rambut belakang Abiyasa.

Ketika pautan bibir mereka terpisah perlahan, Abiyasa menggendong Nadira secara bridal style, membawanya menaiki tangga menuju kamar utama mereka yang hangat.

Di atas tempat tidur, Abiyasa berbaring di samping Nadira, menarik selimut tebal menutupi mereka berdua. Pria itu merangkul tubuh mungil istrinya rapat-rapat ke dalam dadanya, menjadikan lengan tegapnya sebagai bantal bagi Nadira.

Nadira menyandarkan kepalanya di dada bidang Abiyasa, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama stabil dan menenangkan.

"Mas Abi capek ya?" tanya Nadira pelan, jemari kecilnya mengelus rahang tegap Abiyasa.

Abiyasa mengecup puncak kepala Nadira dengan lembut. "Rasa lelah saya menguap begitu memelukmu, Nadira. Tidurlah. Mulai besok dan seterusnya, kamu bisa kuliah dengan tenang sebagai Nyonya Abiyasa Mahendra."

Nadira tersenyum sangat lebar dan bahagia di dalam dekapan suaminya. Di bawah naungan dinginnya malam dan di balik badai fitnah yang baru saja dihancurkan, Nadira tahu bahwa ia telah menemukan perlindungan tertinggi dalam hidupnya—sebuah cinta sejati dari seorang Abiyasa Mahendra yang tak akan pernah goyah oleh rintangan apa pun di dunia.

1
Ariany Sudjana
bagus Nadira, kamu harus bisa menghadapi pelacur murahan itu, buktikan kamu pantas jadi istrinya abiyasa
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!