Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi di Bibir Jurang
Ketegangan di balkon VIP itu begitu pekat hingga terasa bisa diiris dengan pisau. Di bawah mereka, suara gemuruh penonton menyemangati dua petarung yang saling memutilasi di atas pasir berdarah, namun bagi Kaelen, suara itu seolah memudar menjadi latar belakang.
Fokusnya terkunci pada ksatria Ignis yang berlutut dengan wajah hancur. Ksatria itu mengangkat kepalanya yang berlumuran darah, matanya melebar saat mengenali Kaelen.
"Kau..." desis ksatria itu, meludahkan darah bercampur gigi ke karpet mahal Rexor. "Sang Anomali... Gara-gara kau... kami dikirim ke lubang kotor ini..."
Rexor tertawa. Tawa yang berat dan menggema dari dalam dada bidangnya. Pria raksasa itu menjentikkan jarinya, dan salah satu pengawalnya langsung menendang rahang ksatria itu hingga ia tersungkur tak berdaya.
"Pamanmu, Varian, membuat kesalahan besar," ucap Rexor, menuangkan kembali anggur ke dalam gelasnya. "Dia mengirim anjing-anjing apinya mengendus-endus di wilayahku tanpa permisi. Distrik Bawah punya aturannya sendiri. Dan siapa pun yang melanggarnya, bahkan bangsawan dari atas, harus membayar pajak."
Rexor bangkit dari sofanya, melangkah mendekati Kaelen. Tubuh besarnya menjulang, menghalangi cahaya neon dari arena. Bau cerutu murah dan darah menguar dari pakaiannya.
"Dan sekarang, buronan utama mereka datang menyerahkan diri kepadaku," Rexor menunduk, menatap wajah pucat Kaelen yang masih menahan sakit. "Pamanmu menawarkan lima puluh ribu keping emas untuk kepalamu. Utuh atau terpenggal. Kenapa aku tidak memenggalmu sekarang saja dan mengambil uangnya?"
Lyra menggeser kakinya sedikit, tangannya diam-diam merayap ke gagang belati di balik punggungnya. Silas menahan napas.
Namun Kaelen tidak berkedip. Ia menatap lurus ke dalam mata Rexor.
"Karena kau bukan anjing suruhan Varian," jawab Kaelen dingin. "Lima puluh ribu emas memang banyak, tapi itu tidak akan menghentikan Varian untuk terus mengirim pasukannya ke mari. Malam ini mereka mencari buronan. Besok, mereka akan mengambil alih kasinomu, pabrikmu, dan seluruh Sektor Empat. Kau tahu klan Adiwangsa tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki."
Mata Rexor menyipit. Seringainya perlahan memudar. Kaelen tahu ia telah menyentuh titik lemah sang bos mafia: wilayah dan kekuasaannya.
"Dan apa yang bisa ditawarkan oleh seorang bangsawan buangan yang bahkan tidak bisa berdiri tegak?" tantang Rexor, suaranya merendah menjadi geraman mengancam.
"Aku bisa menjadi senjatamu," ucap Kaelen mantap. "Kau melihat apa yang terjadi pada lengan ksatria itu? Aku yang melakukannya."
Rexor melirik sekilas ke arah ksatria Ignis yang tangannya hangus menghitam, bukan karena api, melainkan karena seluruh mana di dalam jaringan ototnya telah disedot paksa hingga jaringannya mati.
"Aku butuh sebuah Jangkar Mana dari koleksimu," lanjut Kaelen tanpa membuang waktu. "Jika kau memberikannya, aku akan menstabilkan kekuatanku. Sebagai bayarannya, aku akan menghancurkan setiap pasukan Ignis yang berani menginjakkan kaki di Sektor Empat. Aku akan menelan sihir mereka sampai Varian memohon untuk bernegosiasi denganmu."
Hening sejenak. Hanya terdengar raungan penonton dari arena di bawah.
Rexor menatap Kaelen lekat-lekat, menilai apakah pemuda di depannya ini seorang jenius gila atau sekadar orang bodoh yang putus asa. Sang bos kriminal kemudian tertawa lagi, kali ini lebih keras.
"Bicara memang murah, Tuan Muda!" Rexor menunjuk ke arah arena di bawah. Pertarungan baru saja selesai, menyisakan satu pemenang yang berdiri di atas genangan darah musuhnya. "Kau ingin Jangkar Mana? Barang itu adalah artefak kuno yang sangat langka. Aku tidak memberikannya hanya karena janji manis dari seorang anak yang tulang rusuknya baru saja ditambal."
Rexor melangkah ke pagar balkon, merentangkan tangannya ke arah arena.
"Buktikan nilaimu, Anomali! Turun ke The Pit," perintah Rexor, suaranya kini dipenuhi antisipasi kejam. "Aku punya seekor peliharaan baru. Seekor Chimera rawa yang sudah seminggu tidak kuberi makan. Ia memiliki sihir racun korosif. Jika kau bisa membunuhnya malam ini, Jangkar Mana itu milikmu. Jika kau mati, aku akan mengirim kepalamu ke pamanmu dan mengambil emasku."
"Kaelen, jangan gila," bisik Lyra dari belakangnya, suaranya bergetar tegang. "Bahkan dengan kekuatan penuh, ksatria elit butuh satu regu untuk menumbangkan seekor Chimera. Tubuhmu akan hancur sebelum kau sempat memakan sihirnya!"
Dokter Silas mengangguk pucat. "Batas waktumu, Nak. Detak jantung yang dipaksa berpacu di arena akan membuat penumpukan mana di dadamu meledak lebih cepat. Kau mungkin tidak punya waktu tiga hari lagi. Kau hanya punya tiga puluh menit."
Kaelen menatap arena berpasir di bawah sana. Ia bisa merasakan denyutan nyeri yang menusuk-nusuk dari dalam dadanya—energi api biru yang tertahan mulai menggerogoti organ dalamnya. Silas benar. Waktunya menipis.
Tapi ini satu-satunya jalan. Ia tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup. Kaelen melepaskan ikatan jubah lusuhnya, membiarkannya jatuh ke lantai balkon, memperlihatkan perban putih yang melilit dadanya.
Ia menoleh ke arah Rexor dengan tatapan mematikan.
"Siapkan Jangkar Mana itu, Rexor. Dan pastikan ukurannya pas."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Kaelen berbalik dan melangkah menuju tangga yang mengarah langsung ke gerbang arena. Malam ini, di dasar Distrik Bawah, sang pewaris yang terbuang akan membuktikan bahwa ia bukanlah mangsa. Ia adalah sang pemangsa.