Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAJA KEEMPAT SINGHASARI
Matahari tepat berada di puncak kepala saat Alun-alun Keraton Singhasari dipadati oleh ribuan rakyat, pejabat, dan perwira kerajaan. Di tengah lapangan, sebuah panggung eksekusi kayu telah berdiri kokoh. Tohjaya diseret maju dengan tangan terantai besi, sementara Ken Umang dihadirkan di sisinya dengan pengawalan ketat.
Aku berdiri di samping kanan tahta Anusapati dengan zirah baja hitam, memegang gulungan titah raja.
Anusapati berdiri dari kursi kebesarannya, suaranya yang dialiri tenaga dalam bergema memenuhi seluruh penjuru alun-alun:
"Hari ini kita berkumpul di sini untuk menyaksikan eksekusi dari orang yang mencoba membunuh raja kita! Bukan hanya itu, dari laporan yang kami dapatkan, dia juga memeras rakyat Kediri dengan memfitnah namaku demi membiayai ambisinya! Kejahatan demi kejahatan yang dilakukannya sudah sepantasnya dibayar dengan eksekusi hukuman mati!"
Suara gemuruh persetujuan rakyat membumbung tinggi. Namun, Ken Umang yang mendengar hal itu langsung berlutut histeris. Air matanya meleleh, menatap Anusapati dengan raut memohon yang memilukan.
"Anusapati! Ku terapkan padamu, jangan bunuh putraku!" jerit Ken Umang pasrah. "Ampuni Tohjaya! Aku akan melakukan apa pun... bersimpuh di kakimu, menyerahkan apa pun! Asalkan kau biarkan putraku tetap hidup!"
Anusapati menatapnya dingin tanpa goyah. "Ini adalah hukum kerajaan, Bunda. Aku pun tidak bisa mengubah apa pun."
Ken Umang mendongak, matanya berkilat penuh amarah yang putus asa. "Kenapa?! Apakah karena dia bukan saudaramu, jadi kau tega membunuhnya?!"
Ucapan Ken Umang bagaikan petir di siang bolong. Bisik-bisik kebingungan dan kasak-kusuk keraguan langsung merebak di antara ribuan rakyat dan pejabat yang hadir. Mereka saling pandang, mempertanyakan rahasia besar di balik silsilah istana.
Anusapati menghela napas panjang, lalu melangkah ke depan panggung. Wajahnya tenang, menguasai panggung sepenuhnya untuk meluruskan sejarah.
"Memang itu salah satunya," ujar Anusapati nyaring, membungkam seluruh riuh di alun-alun. "Aku memang bukan anak Ken Arok! Aku adalah putra dari Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes! Dulu ayahku dibunuh secara licik oleh Ken Arok, lalu ibuku dipaksa untuk menjadi istrinya demi memantapkan posisinya di atas tahta. Tidak cukup dengan ibuku, dia mengambil beberapa wanita lagi, salah satunya dirimu, Umang! Sekarang tidak ada lagi rahasia di antara kita semua!"
Rakyat dan para pejabat tercengang. Kebenaran sejarah yang tersimpan belasan tahun akhirnya terbongkar luas di depan publik.
Anusapati lalu menoleh padaku, mengarahkan tangannya ke posisiku berdiri.
"Dan ini... Sena," lanjut Anusapati dengan nada penuh kebanggaan. "Dia adalah saudaraku. Saat ayahku dulu disergap dalam pemberontakan Tugaran, beliau diselamatkan dan dirawat oleh seorang wanita desa beserta warganya. Sebagai bentuk rasa terima kasih dan ikatan takdir, ayahku menikahi ibunya. Dari hubungan itulah lahir Sena satu-satunya saudara kandungku yang seayah!"
Mendengar pengumuman itu, suasana di barisan prajurit veteran yang berdiri di antara rakyat biasa mendadak bergetar.
Beberapa prajurit tua yang dulu pernah berjuang langsung di bawah komando Akuwu Tunggul Ametung menatapku dengan **tatapan takzim, haru, dan takjub yang mendalam**. Mata mereka berbinar berkaca-kaca, memancarkan rasa hormat mutlak begitu menyadari bahwa sosok penolong kerajaan yang selama ini bertarung gagah berani di hadapan mereka adalah titisan darah asli dari tuannya di masa lalu.
Anusapati menatap Ranggawuni yang telah berdiri di samping panggung dengan pedang terhunus, siap menyelesaikan tugas sejarah ini.
Anusapati menatap Ken Umang dengan raut kasihan. Ken Dedes yang berdiri tak jauh dari tahta pun ikut mengusap air matanya, melangkah mendekat dan memegang lengan Anusapati, memohon agar putranya mengurungkan niat eksekusi demi menjaga agar tidak ada lagi darah keluarga yang tercurah.
Anusapati terdiam sejenak, menatap kerumunan rakyat, perwira, dan pejabat yang menanti keputusannya dengan napas tertahan. Hingga akhirnya, ia mengambil keputusan mengejutkan yang memukul mundur semua dugaan orang di sana.
"Saat ini... aku mengundurkan diri sebagai Raja Singhasari," ucap Anusapati mantap.
Gelombang keterkejutan mendadak melanda seluruh alun-alun. Tanpa ragu, Anusapati mengangkat kedua tangannya, melepaskan mahkota kebesaran dari kepalanya. Ia melangkah perlahan mendekati Tohjaya yang masih bersimpuh dalam rantai besi.
"Inikah yang sangat kau inginkan, Tohjaya?" bisik Anusapati pelan namun terdengar jelas oleh orang-orang di sekitarnya. "Baiklah, aku berikan kepadamu sekarang."
Dengan gerakan tenang, Anusapati memakaikan mahkota kebesaran itu tepat di atas kepala Tohjaya.
Ia berbalik menghadap rakyatnya, lalu berseru nyaring: "Mulai saat ini, Raja ketiga Singhasari adalah adikku, Tohjaya! Sejarah akan mencatatnya begitu!"
Seluruh orang yang hadir terpaku kaku, tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Tohjaya sendiri membelalakkan mata, menatap Anusapati dengan guncangan batin yang luar biasa di bawah bobot mahkota yang kini berada di kepalanya.
Anusapati lalu berjalan mendekati Ranggawuni. Ia mengeluarkan keris pusaka legendaris milik Mpu Gandring yang beracun dan telah memakan begitu banyak korban darah penguasa. Ia menyerahkan hulu keris itu ke genggaman jemari kecil Ranggawuni.
"Sekaranglah saatnya," bisik Anusapati pada putranya.
Aku dan Ranggawuni melangkah maju mendekati Tohjaya. Aku menekan bahu Tohjaya, memaksa Sang 'Raja Baru' itu tetap berlutut kaku tak berdaya. Ranggawuni melangkah tanpa ragu, mengangkat keris beracun di tangannya, dan dengan ekspresi wajah yang sangat dingin—jauh melebihi usianya—ia menghujamkan bilah keris itu tepat ke dada Tohjaya!
*CRASH!*
Tohjaya mengembuskan napas terakhirnya di atas tanah alun-alun, tewas seketika sebagai Raja ketiga Singhasari yang baru saja dilantik beberapa detik lalu. Takdir keris Mpu Gandring telah menuntut korbannya sekali lagi.
Suasana alun-alun hening mencekam, mencekam oleh tindakan politik yang begitu cerdik, kejam, dan rapi.
Aku mengulurkan tangan, mengambil kembali mahkota kebesaran yang masih berada di kepala mayat Tohjaya. Kemudian memakaikan mahkota emas itu ke kepala keponakanku.
Aku membalikkan badan Ranggawuni menghadap ribuan rakyat yang masih terpana, lalu berseru membelah keheningan:
"Dialah raja baru kalian! Dan tenang saja, meskipun beliau masih muda, Paman-pamannya dan Ayahnya akan terus mendampingi serta membantunya untuk tumbuh menjadi raja yang hebat!"
Sorak-sorai kepatuhan dan ketakjuban perlahan pecah membumi di seluruh penjuru Singhasari. Dalam satu langkah catur politik yang licik dan sempurna, noda pembunuhan saudara dihapuskan dari nama Anusapati, takdir keris Mpu Gandring dituntaskan pada Tohjaya, dan takhta Singhasari resmi berpindah ke tangan Ranggawuni!
Gema sorak-sorai rakyat di Alun-alun Keraton Singhasari membumbung tinggi menembus langit siang, walau di balik kibaran panji-panji dan gemuruh tepuk tangan, raut kebingungan masih tersisa di wajah banyak orang.
Bagaimana tidak? Hanya dalam hitungan menit, mereka menyaksikan pengakuan silsilah kelam istana, penyerahan mahkota yang tak terduga kepada Tohjaya, eksekusi kilat sang pengkhianat di tangan seorang anak berumur di bawah sepuluh tahun, hingga penobatan raja baru yang berada di bawah pengawalan ketat Sena dan Anusapati. Peristiwa politik yang begitu padat dan berdarah berjalan sangat cepat, melampaui daya nalar rakyat biasa.
Namun, di tengah benak yang berkecamuk, kepemimpinan baru telah berdiri tegak.
"Hidup Sang Raja! Hidup Yang Mulia Ranggawuni!" teriakan dari barisan prajurit veteran Tunggul Ametung bergema, disusul oleh ribuan rakyat yang serentak membungkuk hormat.
"Hidup Yang Mulia Ranggawuni!"
Ranggawuni berdiri di depan panggung dengan mahkota emas yang sedikit agak besar di kepalanya, memegang hulu keris yang masih berbekas darah. Ekspresinya tenang, menyimpan dingin yang mulai terpatri sejak perbincangannya malam tadi.
Di sisinya, Anusapati menatap lautan rakyat dengan senyum tipis yang sarat akan kedamaian. Di mata rakyat dan para tetua negeri yang menyaksikan seluruh kejadian hari itu, tindakan Anusapati justru makin mengukuhkan namanya sebagai sosok penguasa yang sangat welas asih dan berjiwa agung.
Bagi mereka, Anusapati adalah raja yang tak rela membiarkan tangannya ternoda oleh darah saudara, seseorang yang rela melepaskan tahta kebesarannya demi menuntaskan takdir Tohjaya, serta penguasa yang bijak karena bersedia membagi wilayah demi meredam gejolak saat pertama kali naik tahta dulu. Pembukaan rahasia pahit mengenai asal-usul dirinya dan kekejaman masa lalu Ken Arok tidak membuat rakyat membencinya, melainkan justru makin menaruh rasa hormat dan empati yang mendalam atas beban sejarah yang selama ini ia pikul seorang diri.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!