Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKU DARI JALU
“Masuk saja,” kata Ibu dari pintu.
Jalu melihat lumpur di sandalnya, lalu melihat lantai bambu rumah kami. “Di sini saja.”
Nira yang mendengar suaranya keluar dari dalam. Selimutnya masih menutup bahu. Ketika melihat buku di tangan Jalu, langkahnya menjadi lebih cepat, tetapi Ibu langsung memegang lengannya.
“Pelan.”
Jalu menyodorkan buku itu melewati pagar. Sampulnya bergambar seekor rusa di hutan. Sudut-sudutnya sudah tumpul, tetapi jauh lebih bagus daripada buku cerita mana pun yang kami punya.
“Ini buku kakakku,” katanya. “Sudah enggak dipakai.”
Nira menerima dengan dua tangan. “Boleh buat aku?”
“Kalau enggak mau, ya sudah.”
“Mau.”
Jalu mengangguk cepat, seolah urusannya selesai. Ia berbalik sebelum aku sempat berkata apa-apa.
“Tunggu,” panggilku.
Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.
Aku sudah membayangkan saat ini sejak ia berdiri di luar pagar. Aku ingin mendengar ia meminta maaf karena menendang sepatuku, menirukan bunyinya, dan membuat anak-anak lain tertawa. Kalimatnya sudah kusiapkan dalam kepala. Kamu datang untuk bilang apa lagi?
Namun, ketika Jalu menoleh, wajahnya tidak tampak seperti anak yang siap mengaku salah. Dagunya terangkat sedikit. Tangannya menggenggam tali tas.
“Kenapa?” katanya.
Aku melihat buku di tangan Nira. “Kakakmu sudah selesai baca?”
“Sudah lama.”
“Kenapa dikasih ke Nira?”
Jalu mengangkat bahu. “Daripada dimakan rayap.”
Nira membuka halaman pertama. “Ada gambarnya.”
“Ya buku cerita memang ada gambar.”
“Ada rusa.”
“Aku bisa lihat.”
Nira tidak peduli pada nada suaranya. Ia membalik halaman demi halaman sambil berdiri. Ibu menyuruhnya duduk di anak tangga.
Jalu memandang sepatuku yang dijemur dekat pagar. Bagian depannya diikat rafia. Sepatu Nira berada di sampingnya, dengan tali merah menggantung.
“Di toko Bapak ada sepatu murah,” katanya.
Aku menatapnya. “Terus?”
“Ya... murah.”
“Memangnya gratis?”
“Enggak.”
“Kalau begitu buat apa bilang?”
Jalu menggeser kaki. “Cuma bilang. Kadang ada yang bekas pajangan.”
“Bekas pajangan juga harus dibayar.”
“Bisa kurang.”
Nada suaranya terdengar seperti ia sedang menjelaskan bahwa keluarganya punya barang dan kami tidak. Aku merasakan tanganku mengepal.
Nira menutup buku. “Berapa murahnya?”
“Nira,” kataku.
“Apa? Aku cuma tanya.”
Jalu menyebut jumlah yang masih jauh lebih besar daripada isi kaleng susu kami. Nira menghitung dengan menggerakkan bibir. Setelah itu ia mengangguk seolah jumlah itu mungkin dicapai besok.
“Kalau ada ukuran kecil, bilang aku,” katanya.
Jalu menatapku sebentar. “Ada.”
Ia pergi tanpa meminta maaf. Sandalnya membuat bekas bersih di lumpur karena telapaknya masih tebal. Aku berdiri di pagar sampai ia menghilang di tikungan.
Nira duduk di anak tangga dan meniup debu pada sampul buku. Di halaman kedua ada gambar hutan dengan batang-batang pohon tinggi. Ia meraba gambar rusa dengan ujung jari.
“Jangan ditekuk,” kataku.
“Aku enggak menekuk.”
“Pegangnya terlalu dekat ujung.”
Nira memindahkan tangannya ke tengah. “Kakak marah karena bukunya atau karena orangnya?”
“Aku enggak marah.”
“Kalau enggak marah, alismu enggak begitu.”
Aku mengambil sepatu dari jemuran dan membawanya ke dekat tungku. Nira mengikuti sambil tetap membaca gambar.
“Dia baik, ya,” kata Nira.
Aku meletakkan sepatu dekat tungku. “Dia cuma kasih buku bekas.”
“Bukunya bagus.”
“Bukan berarti dia baik.”
“Bukan berarti dia jahat terus.”
Aku menoleh. Nira sudah membuka buku lagi.
Ibu duduk di sampingnya. “Hari ini dia memberi buku. Soal yang lain belum selesai.”
Aku menunggu penjelasan lain, tetapi Ibu hanya menyuruhku mengambil kayu bakar sebelum hujan turun.
Malamnya, kami menyalakan lampu belajar dari Bu Satya. Baterainya mulai lemah sehingga cahaya berkedip. Nira berbaring tengkurap, buku rusa terbuka di depannya. Ia membaca keras-keras meski beberapa kata terlalu sulit.
“Rusa itu ber... ke-li-a-ran,” katanya.
“Berkeliaran.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa salah?”
“Lidahku terpeleset.”
Aku melempar gulungan kain kecil kepadanya. Ia tertawa dan menutup kepala dengan buku.
Ayah pulang lebih awal malam itu. Debu batu masih menempel di alisnya. Nira langsung menunjukkan buku.
“Dari Jalu,” katanya.
Ayah membalik sampulnya. “Kamu bilang terima kasih?”
“Sudah.”
“Dia masuk rumah?”
“Enggak mau. Takut lantainya makan sandal,” kataku.
Ibu menatapku dari dekat tungku. Aku pura-pura memeriksa lampu.
Ayah tidak bertanya tentang Jalu lagi. Ia duduk bersandar di tiang dan mendengarkan Nira membaca. Setiap kali Nira salah, ia tidak membetulkan. Mungkin karena lelah, mungkin karena ia sendiri tidak tahu beberapa kata. Ketika cerita sampai pada bagian rusa tersesat, Ayah sudah tertidur dengan kepala menunduk.
Nira menurunkan suaranya. “Kak, ini punya nama.”
Di bagian dalam sampul tertulis nama kakak Jalu dengan tinta biru. Di bawahnya ada tahun yang sudah lewat lima tahun.
“Ya, tadi dia bilang punya kakaknya.”
“Kalau aku tulis namaku juga boleh?”
“Jangan. Belum tentu benar-benar dikasih.”
“Dia bilang buat aku.”
“Bisa saja besok diminta lagi.”
Nira mengerutkan hidung. “Kakak suka curiga.”
Aku tidak menjawab. Ia melanjutkan membaca sampai halaman tengah. Saat membalik lembar yang agak tebal, sesuatu jatuh ke tikar.
Selembar uang berwarna abu-abu terlipat dua.
Nira mengambilnya lebih dulu. “Uang.”
Aku meraih dari tangannya. Dua ribu rupiah. Uang itu cukup untuk membeli beberapa buku tulis atau menambah tabungan sepatu. Aku memeriksa sela halaman lain. Tidak ada apa-apa.
“Punya kakaknya mungkin,” kata Nira.
“Diselipkan Jalu.”
“Kok tahu?”
“Dia tadi bicara sepatu.”
“Berarti buat sepatu.”
“Belum tentu.”
“Tapi bisa ditaruh di kaleng.”
Aku melipat uang itu seperti semula. “Besok dikembalikan.”
Nira langsung duduk. “Kenapa?”
“Karena bukan punya kita.”
“Dia kasih.”
“Dia enggak bilang.”
“Mungkin malu.”
“Kalau mau kasih, ngomong.”
Nira memegang buku itu ke dada. “Kalau dikembalikan, dia bisa ambil bukunya juga.”
“Itu beda.”
“Enggak beda. Dua-duanya dia kasih.”
Aku memasukkan uang ke saku seragam yang tergantung di dinding. “Besok kita tanya.”
“Kita?”
“Kamu di rumah.”
“Aku ikut.”
“Kamu belum boleh jalan jauh.”
Nira menatap Ibu, mencari dukungan. Ibu sedang mengaduk bubur jagung dan tidak langsung menjawab.
“Aku bisa sampai rumah Jalu,” kata Nira. “Jalannya enggak sejauh sekolah.”
“Masih jauh.”
“Aku pakai tongkat.”
Aku menggeleng.
Nira merebut kembali uang dari sakuku, lalu meletakkannya di dalam buku. “Kalau aku enggak ikut, uangnya enggak boleh dibawa.”
“Ini bukan permainan.”
“Aku yang dikasih buku.”
Kami saling menatap sampai Ibu meletakkan sendok kayu.
“Besok setelah hujan reda,” katanya. “Kalian pergi bersama. Pelan. Kalau Nira lelah, pulang.”
Aku ingin membantah, tetapi Ibu sudah kembali mengaduk bubur.
Nira menyelipkan uang di halaman yang sama. Setelah itu ia menutup buku dan meletakkannya di bawah bantal, seperti takut dua ribu rupiah itu bisa berjalan sendiri pada malam hari.
Aku jadi kangen bapakku.