NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 – Ruang Pertemuan

Robot kecil itu terus berjalan di depan.

Lorong yang mereka lalui lebih lebar daripada sebelumnya.

Di kedua sisi dinding terdapat panel-panel transparan yang sebagian besar telah padam.

Sesekali sebuah lampu menyala redup, lalu mati kembali.

"Tempat ini masih mendapat pasokan energi," kata Kael.

Lyra mengangguk.

"Dan energinya cukup stabil."

Reza tetap memperhatikan setiap sudut.

"Justru itu yang membuatku semakin waspada."

---

Di ESS Horizon, Rina mulai memindai dokumen yang dikirim Kael.

"Leo, bantu aku."

Leo mendekat.

"Ada apa?"

"Tulisan tangan di halaman terakhir berbeda."

Leo memperbesar hasil pindai.

"Benar."

"Empat puluh halaman pertama ditulis oleh orang yang sama."

"Lalu halaman terakhir?"

"Tulisan orang lain."

Rina membaca isi halaman itu.

"'Jika ada yang menemukan catatan ini, jangan percaya semua yang kalian lihat.'"

Leo mengangkat alis.

"Kalimat yang cukup buruk untuk dibaca saat kita berada di tempat seperti ini."

---

Empat orang itu akhirnya tiba di depan sebuah pintu besar.

Robot kecil berhenti.

Pintu perlahan terbuka tanpa suara.

Ruangan di baliknya berbentuk lingkaran.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar dengan empat kursi.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

"Empat kursi," gumam Kael.

"Seolah-olah memang disiapkan untuk kita," jawab Lyra.

Kapten Idris melangkah masuk lebih dulu.

Tidak terjadi apa-apa.

Kael, Lyra, dan Reza mengikutinya.

Begitu orang keempat memasuki ruangan...

pintu di belakang mereka menutup.

Reza langsung menoleh.

"Pintunya terkunci."

"AURA?" panggil Kael.

"Komunikasi masih tersambung."

Jawaban AI terdengar jelas.

Semua sedikit lega.

---

Di tengah meja bundar terdapat sebuah perangkat berbentuk silinder.

Tingginya sekitar tiga puluh sentimeter.

Permukaannya halus tanpa tombol.

Kapten Idris mendekat.

Belum sempat ia menyentuhnya...

silinder itu menyala.

Cahaya biru memenuhi ruangan.

Semua refleks mundur selangkah.

Dari cahaya tersebut perlahan terbentuk sosok manusia.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.

Rambutnya mulai memutih.

Ia mengenakan seragam yang tidak dikenal.

Namun di bagian lengannya terdapat lambang PPM.

"AURA," bisik Kael.

"Identifikasi wajah."

Beberapa detik berlalu.

"Tidak ditemukan dalam basis data publik."

Rina segera mencoba mengakses arsip rahasia dari kapal.

"Hasilnya sama."

---

Sosok hologram itu membuka mata.

Tatapannya menyapu keempat tamu di hadapannya.

Lalu ia berkata dengan suara tenang.

"Selamat datang di Pos Observasi Tujuh."

"Aku adalah Direktur Elias Voss."

"Jika kalian melihat rekaman ini..."

"...berarti protokol penerus telah aktif."

Kael saling berpandangan dengan Idris.

"Hologram rekaman," kata Lyra pelan.

"Bukan komunikasi langsung."

Hologram melanjutkan.

"Maaf karena aku tidak bisa menyambut kalian secara langsung."

"Jika protokol ini berjalan sesuai rencana..."

"...maka aku sudah lama tidak ada."

---

Di ESS Horizon, Darius memandang Rina.

"Bukankah arsip tadi mengatakan tidak ada yang meninggal?"

Rina mengangguk.

"Itulah yang aneh."

---

Hologram Elias Voss kembali berbicara.

"Pos Observasi Tujuh dibangun untuk satu tujuan."

"Mengamati sumber sinyal."

"Bukan mencarinya."

"Bukan mendekatinya."

"Hanya mengamatinya."

Lyra mencatat setiap kalimat.

"Kami melanggar aturan itu."

"Dan kami membayar harganya."

Ruangan kembali sunyi.

---

Kael mencoba berbicara.

"Tuan Voss."

Tidak ada reaksi.

Hologram tetap melanjutkan pesannya.

"Selama tiga tahun pertama..."

"...semuanya berjalan normal."

"Kemudian sinyal mulai berubah."

"Sinyal itu tidak lagi hanya dapat didengar oleh antena."

"Tetapi..."

Hologram berhenti beberapa detik.

"...oleh manusia."

Lyra menarik napas pelan.

Kalimat itu sama dengan isi laporan yang mereka temukan.

---

"Beberapa personel mulai mendengar suara."

"Awalnya hanya saat tidur."

"Kemudian saat bekerja."

"Dan akhirnya..."

"...setiap saat."

Reza menggenggam senjata kejutnya lebih erat.

"Tidak semua orang mendengarnya."

"Hanya sebagian."

"Mereka yang mendengar mulai mengalami perubahan perilaku."

"Sebagian menjadi sangat pendiam."

"Sebagian lagi menjadi sangat agresif."

"Tidak ada penyebab biologis yang kami temukan."

Lyra langsung menyela pelan.

"Berarti mereka sudah memeriksanya."

---

Hologram mengangkat kepalanya.

"Jika kalian datang ke tempat ini..."

"...jangan mengulangi kesalahan kami."

"Lakukan satu hal."

Di layar belakang hologram muncul sebuah peta.

Sebuah titik merah berkedip jauh di luar Pos Observasi Tujuh.

"Titik itu..."

"...adalah lokasi terakhir sumber sinyal yang berhasil kami lacak."

Kael memperhatikan koordinat tersebut.

Niko dari kapal segera memasukkannya ke sistem navigasi.

Beberapa detik kemudian ia melapor.

"Koordinat itu..."

"...mengarah ke Galaksi Asterion."

Tidak seorang pun terkejut.

Namun sebelum hologram menghilang, Elias Voss mengucapkan satu kalimat terakhir.

"Kalian masih punya kesempatan."

"Berhentilah di sini."

Cahaya biru perlahan memudar.

Ruangan kembali gelap.

Keempat orang itu terdiam.

Mereka datang ke Pos Observasi Tujuh untuk mencari jawaban.

Namun yang mereka dapat justru sebuah peringatan...

agar tidak melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!